Griya Yatim & Dhuafa

Keberkahan Dalam Zakat

Donasiberkah.id – Zakat memiliki 3 makna yang berhubungan dengan makna keberkahan. Berikut makna-makna zakat yang mengandung banyak keberkahan bagi siapa yang menunaikannya.

At-Thohuru

Waterfall on the Mountain Stream located in Misty Forest Waterfall on the Mountain Stream in the Forest ~60Mpix Pano River stock pictures, royalty-free photos & images

Yang pertama ialah At-Thohuru, yang artinya membersihkan atau mensucikan. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan Zakat karena Allah SWT dan bukan karena ingin dipuji manusia.

Allah SWT akan membersihkan dan mensucikan baik hartanya maupun jiwanya. Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Al-Barakah

Growing plants stock photo

Makna Kedua, zakat bermakna Al-Barakatu, yang artinya berkah. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahkan keberkahan oleh Allah SWT. keberkahan harta ini akan berdampak kepada keberkahan hidup.

Keberkahan ini lahir karena harta yang kita gunakan adalah harta yang suci dan bersih. sebab harta kita telah dibersihkan dari kotoran dengan menunaikan zakat yag hakikatnya zakat itu sendiri berfungsi untuk membersihkan dan mensucika.

Baca Juga : Apakah Harta yang Tak Dizakati Hukumnya Bisa Haram?

An-Numuw

Tree in spring stock photo

Ketiga, zakat bermakna An-Numuw, yang artinya tumbuh dan berkembang. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya (dengan izin Allah SWT) akan selalu terus tumbuh dan berkembang. Hal ini disebabkan oleh kesucian dan keberkahan harta yang telah ditunaikan kewajiban zakatnya.

Selama ini orang menunaikan zakat, ikhlas karena Allah SWT, tidak pernah banyak ada masalah dalam harta ataupun usahanya. Sebaliknya orang yang menunaikan zakat ikhlas karena Allah SWT, jumlah yang dikeluarkan akan semakin bertambah besar. Itulah bukti bahwa zakat sebenarnya tidak mengurangi harta kita akan tetapi sebaliknya, akan membesarkan harta kita.

Secara logika berpikirnya manusia, dengan membayar zakat maka harta kita akan berkurang, namun beda dengan perhitungannya Allah SWT. Menurut ilmu Allah SWT yang Maha Pemberi rizki, zakat yang kita keluarkan tidak mengurangi harta kita bahkan menambah harta kita dengan berlipat ganda. Menurut Al-Qur’an surat Ar Rum ayat 39 yang berbunyi:

وَمَآ اٰتَيْتُمْ مِّنْ رِّبًا لِّيَرْبُوَا۟ فِيْٓ اَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُوْا عِنْدَ اللّٰهِ ۚوَمَآ اٰتَيْتُمْ مِّنْ زَكٰوةٍ تُرِيْدُوْنَ وَجْهَ اللّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُضْعِفُوْنَ

Artinya: “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah SWT. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah SWT, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.

Wallahu ‘alamu bis showab.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Apakah Harta yang Tak Dizakati Hukumnya Bisa Haram?

 

 

Donasiberkah.id – Islam datang mewajibkan kepada orang-orang yang telah memenuhi syarat untuk menunaikan zakat dan mewajibkan zakat sebagai salah satu rukun Islam. Kemudian mengancam dengan siksaan yang berat bagi orang yang tidak menunaikannya.

Dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Dr Erwandi Tarmizi,  sungguh kezaliman yang sangat besar jika kaum fakir tersebut tidur dengan perut lapar dan badan tidak terbalut kain, sedangkan rezeki mereka telah ditentukan Allah ﷻ pada harta orang-orang kaya di sekeliling mereka. Namun orang-orang kaya tersebut tidak memberikannya. Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَى أَغْنِيَاءِ الْمُسْلِمِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ قَدْرَ الَّذِي يَسَعُ فُقَرَاءَهُمْ , وَلَنْ تُجْهَدَ الْفُقَرَاءُ إِلَّا إِذَا جَاعُوا وَعُرُّوا مِمَّا يَصْنَعُ أَغْنِيَاؤُهُمْ , أَلَا وَإِنَّ اللَّهَ مُحَاسِبُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِسَابًا شَدِيدًا , وَمُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا نُكْرًا

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan pada setiap harta orang-orang muslim yang kaya (zakat) yang mencukupi untuk menutupi kebutuhan orang-orang Muslim yang fakir. Dan tidaklah mereka kelaparan dan tubuh mereka tidak berbalut pakaian melainkan karena orang-orang kaya tidak mengeluarkan zakat. Ketahuilah! Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung-jawaban mereka (orang kaya yang tidak berzakat) dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.” (HR Tabrani, disahihkan Al Haitami).

Baca Juga : Mutiara Hikmah Dari Samudera Syariat : Zakat, Infaq dan Sedekah

Demi menjaga martabat dan harga diri kaum dhuafa, Allah tidak memerintahkan mereka untuk datang meminta-minta atau dengan cara paksa mengambil hak mereka yang berada di tangan orang yang wajib zakat.

Calon Kepala Daerah Harus Paham Penanganan Fakir Miskin - Info Terlengkap

Akan tetapi Allah ﷻ memerintahkan pihak yang berkuasa (pemerintah) untuk mengambil hak para kaum dhuafa dari harta orang kaya dan menyerahkannya kepada mereka. Allah ﷻ berfirman:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS At Taubah ayat 103).

Perintah untuk menarik zakat dalam ayat di atas ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ yang juga pemimpin pemerintahan Islam kala itu.

Bila orang yang wajib zakat menunda menunaikan rezki fakir miskin ini maka Islam menjatuhkan sanksi kepadanya dengan memerintahkan pihak berwenang untuk menarik zakat dan menyita setengah hartanya.

Penerapan sanksi ini merupakan qaul qadim Imam Syafii dan Mazhab Hanbali, sedangkan jumhur ulama tidak menerapkan sanksi ini. Nabi Muhammad  ﷺ bersabda:

ومن منعها فإنا آخذوها منه وشطر إبله عزمة من عزمات ربنا جل وعز لا يحل لآل محمد منها شيء

“Barang siapa yang enggan menunaikannya (zakat), maka akan kami tarik zakatnya dan menyita setengah hartanya, hal ini merupakan ketetapan Rabb kami.” (HR. Abu Daud. Sanad hadis ini hasan).

 

Dari keterangan di atas sangat jelas bahwa zakat yang tidak ditunaikan merupakan harta haram, karena harta zakat itu telah ditentukan Allah ﷻ sebagai hak fakir miskin.

Concept of zakat in Islam religion. Selective focus of money, rice, Koran and prayer beads on wooden background. zakat stock pictures, royalty-free photos & images

Dan harta haram ini akan mengotori bahkan memusnahkan harta yang bercampur dengan zakat yang tidak ditunaikan.  Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَدَّى زَكَاةَ مَالِهِ ، فَقَدْ ذَهَبَ عَنْهُ شَرُّهُ

“Barang siapa yang telah menunaikan zakatnya, niscaya hilang kotoran dari hartanya.” (HR  Thabrani, sanad hasan).

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

 

Sejarah Baitul Maal dari Masa ke Masa (3)

Donasiberkah.id – Dalam dunia Islam terdapat satu lembaga atau instansi penaggulangan harta kaum muslimin yang disebut Baitul Maal, dari sana para mustahik menerima manfaat yang begitu berarti. Dengan adanya Baitul Maal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kepeduliaan ekonomi masyarakatnya. Apa saja yang bisa kita ambil dari Baitul Mall dalam Islam; Yuk kita pelajari bagia dari mozaik Islam ini.

Baca Juga : Sejarah Baitul Maal dari Masa ke Masa (1)

4. Masa Khalifah Utsman bin Affan (23-35 H/644-656 M)

Taj Mahal Taj Mahal. mosque stock illustrations

Kondisi yang sama juga berlaku pada masa Utsman bin Affan. Namun, karena pengaruh yang besar dan keluarganya, tindakan Ustman banyak mendapatkan protes dari umat dalam pengelolaan Baitul Mal.

Dalam hal ini, lbnu Saad menukilkan ucapan Ibnu Syihab Az Zuhri (51-123 H/670-742 M), seorang yang sangat besar jasanya dalam mengumpulkan hadits, yang menyatakan,

“Ustman telah mengangkat sanak kerabat dan keluarganya dalam jabatan-jabatan tertentu pada enam tahun terakhir dari masa pemerintahannya. Ia memberikan khumus (seperlima ghanimah) kepada Marwan yang kelak menjadi Khalifah ke-4 Bani Umayyah, memerintah antara 684-685 M dari penghasilan Mesir serta memberikan harta yang banyak sekali kepada kerabatnya dan ia (Ustman) menafsirkan tindakannya itu sebagai suatu bentuk silaturahmi yang diperintahkan oleh Allah SWT. Ia juga menggunakan harta dan meminjamnya dari Baitul Maal sambil berkata, “Abu Bakar dan Umar tidak mengambil hak mereka dari Baitul Maal, sedangkan aku telah mengambilnya dan membagi-bagikannya kepada sementara sanak kerabatku.” Itulah sebab rakyat memprotesnya.

5. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib (35-40 H/656-661 M)

Desert town silhouette landscape flat color vector background. Muslim buildings, sands and blue sky. Islamic turkish architecture cartoon backdrop. Mosque and fortified wall, minaret illustration Desert town silhouette night scenery flat color vector background. Muslim buildings and sky with moon. Islamic architecture cartoon backdrop. Mosque and fortified wall, minaret illustration mosque stock illustrations

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Talib, kondisi Baitul Maal ditempatkan kembali pada posisi yang sebelumnya. Ali, yang juga mendapat santunan dari Baitul Maal, seperti disebutkan oleh lbnu Katsir, mendapatkan jatah pakaian yang hanya bisa menutupi tubuh sampai separuh kakinya, dan sering bajunya itu penuh dengan tambalan.

Ketika berkobar peperangan antara Ali bin Abi Talib dan Muawiyah bin Abu Sufyan (khalifah pertama Bani Umayyah), orang-orang yang dekat di sekitar Ali menyarankan Ali agar mengambil dana dari Baitul Mal sebagai hadiah bagi orang-orang yang membantunya.

Tujuannya untuk mempertahankan diri Ali sendiri dan kaum muslimin. Mendengar ucapan itu, Ali sangat marah dan berkata, “Apakah kalian memerintahkan aku untuk mencari kemenangan dengan kezaliman. Demi Allah, aku tidak akan melakukannya selama matahari masih terbit dan selama masih ada bintang di langit.”

Baca Juga : Sejarah Baitul Maal dari Masa ke Masa (2) Baitul Maal di Masa Abu Bakar & Umar

6. Masa Khalifah-Khalifah Sesudahnya

Starry sky. Magic night in the East. Fairytale Arabic landscape with traditional mud houses and ancient temple or Mosque. Muslim Cityscape. Building Religion. Cartoon Wallpaper. Fabulous background. mosque stock illustrations

Ketika Dunia Islam berada di bawah kepemimpinan Khilafah Bani Umayyah, kondisi Baitul Maal berubah. Al Maududi menyebutkan, jika pada masa sebelumnya Baitul Maal dikelola dengan penuh kehati-hatian sebagai amanat Allah SWT dan amanat rakyat, maka pada masa pemerintahan Bani Umayyah Baitul Maal berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Khalifah tanpa dapat dipertanyakan atau dikritik oleh rakyat.

Keadaan di atas berlangsung sampai datangnya Khalifah ke-8 Bani Umayyah, yakni Umar bin Abdul Aziz (memerintah 717-720 M). Umar berupaya untuk membersihkan Baitul Maal dari pemasukan harta yang tidak halal dan berusaha mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya.

Umar membuat perhitungan dengan para Amir bawahannya agar mereka mengembalikan harta yang sebelumnya bersumber dari sesuatu yang tidak sah. Di samping itu, Umar sendiri mengembalikan milik pribadinya sendiri, yang waktu itu berjumlah sekitar 40.000 dinar setahun, ke Baitul Maal.

Harta tersebut diperoleh dan warisan ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan. Di antara harta itu terdapat perkampungan Fadak, desa di sebelah utara Mekah, yang sejak Nabi ﷺ wafat dijadikan rnilik negara. Namun, Marwan bin Hakam (khalifah ke-4 Bani Umayah, memerintah 684-685 M) telah memasukkan harta tersebut sebagai milik pribadinya dan mewariskannya kepada anak-anaknya.

Akan tetapi, kondisi Baitul Maal yang telah dikembalikan oleh Umar bin Abdul Aziz kepada posisi yang sebenarnya itu tidak dapat bertahan lama.

Keserakahan para penguasa telah meruntuhkan sendi-sendi Baitul Maal, dan keadaan demikian berkepanjangan sampai masa Kekhilafahan Bani Abbasiyah. Dalam keadaan demikian, tidak sedikit kritik yang datang dan ulama, namun semuanya diabaikan, atau ulama itu sendiri yang diintimidasi agar tutup mulut. lmam Abu Hanifah, pendiri Madzhab Hanafi, mengecam tindakan Abu Jafar Al Mansur (khalifah ke-2 Bani Abbasiyah, memerintah 754-775 M), yang dipandangnya berbuat zalim dalam pemerintahannya dan berlaku curang dalam pengelolaan Baitul Maal dengan memberikan hadiah kepada banyak orang yang dekat dengannya.

lmam Abu Hanifah menolak bingkisan dan Khalifah Al Mansur. Tentang sikapnya itu Imam Abu Hanifah menjelaskan,

“Amirul Mukminin tidak memberiku dari hartanya sendiri. Ia memberiku dari Baitul Maal, milik kaum muslimin, sedangkan aku tidak memiliki hak darinya. Oleh sebab itu, aku menolaknya. Sekiranya Ia memberiku dari hartanya sendiri, niscaya aku akan menerimanya.” (sumber: disarikan dari berbagai sumber).

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Sejarah Baitul Maal dari Masa ke Masa (2) Baitul Maal di Masa Abu Bakar & Umar

Donasiberkah.id – Dalam dunia Islam terdapat satu lembaga atau instansi penaggulangan harta kaum muslimin yang disebut Baitul Maal, dari sana para mustahik menerima manfaat yang begitu berarti. Dengan adanya Baitul Maal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kepeduliaan ekonomi masyarakatnya. Apa saja yang bisa kita ambil dari Baitul Mall dalam Islam; Yuk kita pelajari bagia dari mozaik Islam ini.

2. Masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H/632-634 M)

Middle Eastern cityscape scene vector flat illustration. Man smoking hookah, camel. Desert landscape Middle Eastern cityscape scene vector flat illustration. Traditional Arabian houses with towers, brick stone fence wall with gates. Street life. Man smoking hookah, lead camel. Desert landscape arabic house stock illustrations

Keadaan seperti di atas terus berlangsung sepanjang masa Rasulullah ﷺ. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, keadaan Baitul Maal masih berlangsung seperti itu di tahun pertama kekhilafahannya (11 H/632 M).

Jika datang harta kepadanya dari wilayah-wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah, Abu Bakar membawa harta itu ke Masjid Nabawi dan membagi-bagikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Untuk urusan ini, Khalifah Abu Bakar telah mewakilkan kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah.

Hal ini diketahui dari pernyataan Abu Ubaidah bin Al Jarrah saat Abu Bakar dibaiat sebagai Khalifah. Abu Ubaidah saat itu berkata kepadanya, ‘Saya akan membantumu dalam urusan pengelolaan harta umat.’ (Zallum, 1983).

Kemudian pada tahun kedua kekhilafahannya (12 H/633 M), Abu Bakar merintis embrio Baitul Maal dalam arti yang lebih luas. Baitul Maal bukan sekedar berarti pihak (al- jihat) yang menangani harta umat, namun juga berarti suatu tempat (al-makan) untuk menyimpan harta negara.

Abu Bakar menyiapkan tempat khusus di rumahnya berupa karung atau kantung (ghirarah) untuk menyimpan harta yang dikirimkan ke Madinah. Hal ini berlangsung sampai kewafatan beliau pada tahun 13 H/634 M.

Baca Juga : Sahabat Abu Bakar dan Jubah Tua  

Abu Bakar dikenal sebagai Khalifah yang sangat wara (hati-hati) dalam masalah harta. Bahkan pada hari kedua setelah beliau dibaiat sebagai Khalifah, beliau tetap berdagang dan tidak mau mengambil harta umat dari Baitul Maal untuk keperluan diri dan keluarganya. Diriwayatkan oleh lbnu Saad (w. 230 H/844 M), penulis biografi para tokoh muslim, bahwa Abu Bakar yang sebelumnya berprofesi sebagai pedagang, membawa barang-barang dagangannya yang berupa bahan pakaian di pundaknya dan pergi ke pasar untuk menjualnya.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khaththab. Umar bertanya,

“Anda mau kemana, hai Khalifah?”

Abu Bakar menjawab, “Ke pasar.”

Umar berkata, “Bagaimana mungkin Anda melakukannya, padahal Anda telah memegang jabatan sebagai pemimpin kaum muslimin?”

Abu Bakar menjawab, “Lalu dari mana aku akan memberikan nafkah untuk keluargaku?”

Umar berkata, “Pergilah kepada Abu Ubaidah (pengelola Baitul Maal), agar ia menetapkan sesuatu untukmu.”

Keduanya pun pergi menemui Abu Ubaidah, yang segera menetapkan santunan (tawidh) yang cukup untuk Khalifah Abu Bakar, sesuai dengan kebutuhan seseorang secara sederhana, yakni 4000 dirham setahun yang diambil dari Baitul Maal.

Menjelang ajalnya tiba, karena khawatir terhadap santunan yang diterimanya dari Baitul Maal, Abu Bakar berpesan kepada keluarganya untuk mengembalikan santunan yang pernah diterimanya dari Baitul Mal sejumlah 8000 dirham.

Ketika keluarga Abu Bakar mengembalikan uang tersebut setelah beliau meninggal, Umar berkomentar,

“Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Ia telah benar-benar membuat payah orang-orang yang datang setelahnya.”

Artinya, sikap Abu Bakar yang mengembalikan uang tersebut merupakan sikap yang berat untuk diikuti dan dilaksanakan oleh para Khalifah generasi sesudahnya (Dahlan, 1999).

3. Masa Khalifah Umar bin Khatthab (13-23 H/634-644 M)

Marrakech cityscape, city in Morocco, flat vector illustration Marrakech cityscape, city in Morocco, flat vector illustration arabic house stock illustrations

Setelah Abu Bakar wafat dan Umar bin Khatthab menjadi Khalifah, beliau mengumpulkan para bendaharawan kemudian masuk ke rumah Abu Bakar dan membuka Baitul Maal. Ternyata Umar hanya mendapatkan satu dinar saja, yang terjatuh dari kantungnya.

Akan tetapi setelah penaklukan-penaklukan (futuhat) terhadap negara lain semakin banyak terjadi pada masa Umar dan kaum muslimin berhasil menaklukan negeri Kisra (Persia) dan Qaishar (Romawi), semakin banyaklah harta yang mengalir ke kota Madinah.

Oleh karena itu, Umar lalu membangun sebuah rumah khusus untuk menyimpan harta, membentuk diwan-diwannya (kantor-kantornya), mengangkat para penulisnya, menetapkan gaji-gaji dari harta Baitul Mal, serta membangun angkatan perang.

Kadang-kadang ia menyimpan seperlima bagian dari harta ghanimah di masjid dan segera membagi-bagikannya.

Mengenai mulai banyaknya harta umat ini, Ibnu Abbas pernah mengisahkan :
‘Umar pernah memanggilku, ternyata di hadapannya ada setumpuk emas terhampar di hadapannya. Umar lalu berkata,
‘Kemarilah kalian, aku akan membagikan ini kepada kaum muslimin. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui mengapa emas ini ditahan-Nya dari Nabi-Nya dan Abu Bakar, lalu diberikannya kepadaku. Allah pula yang lebih mengetahui apakah dengan emas ini Allah menghendaki kebaikan atau keburukan’.

Selama memerintah, Umar bin Khattab tetap memelihara Baitul Maal secara hati-hati, menerima pemasukan dan sesuatu yang halal sesuai dengan aturan syariat dan mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya.

Baca Juga : Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu

Vector flat style illustration of treasure chest. vector art illustration

Dalam salah satu pidatonya, yang dicatat oleh lbnu Kasir (700-774 H/1300-1373 M), penulis sejarah dan mufasir, tentang hak seorang Khalifah dalam Baitul Mal, Umar berkat,

“Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik Allah ini melainkan dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seseorang di antara orang-orang Quraisy biasa, dan aku adalah seorang biasa seperti kebanyakan kaum muslimin.” (Dahlan, 1999).

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Sejarah Baitul Maal dari Masa ke Masa (1)

 

Donasiberkah.id – Dalam dunia Islam terdapat satu lembaga atau instansi penaggulangan harta kaum muslimin yang disebut Baitul Maal, dari sana para mustahik menerima manfaat yang begitu berarti. Dengan adanya Baitul Maal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kepeduliaan ekonomi masyarakatnya. Apa saja yang bisa kita ambil dari Baitul Mall dalam Islam; Yuk kita pelajari bagia dari mozaik Islam ini.

A. Pengertian Baitul Maal

D.I.N.A.R: Kisah Kebangkitan Duit Emas Tamadun Islam Yang Dilupakan – Nabil Aiman

Baitul maal berasal dari bahasa Arab (bayt al-mal) yang bermaksud “rumah harta”. Dalam sejarah Islam, baitul maal merupakan institusi keuangan yang bertanggungjawab mentadbir cukai. Baitul maal berfungsi sebagai perbendaharaan khalifah dan sultan yang mengurus kewenangan pribadi dan perbelanjaan kerajaan. Ia juga mengurus pengagihan zakat untuk rakyat awam. Pakar ekonomi Islam moden menganggap rangka institusi baitul maal merupakan cara yang sesuai untuk masyarakat Islam sekarang.

Pengertian Baitul Maal menurut para Ulama ialah “Pihak yang mengelola keuangan Negara, mulai dari menghimpun, memungut, mengembangkan, memelihara hingga menyalurkannya”.

Definisi tersebut ditegaskan oleh Imam Mawardi dalam kitab Ahkam Sulthoniyyah dengan mendefinisikannya sebagai “Tempat/wadah untuk memelihara/ menjaga hak-hak keuangan Negara. Baitul Maal juga diartikan petugas yang berwenang dalam mengatur keuangan Negara tersebut.”

B. Sejarah Baitul Maal

JABAR Archives | News Satu

Baitul Maal pertama sekali dirumuskan dan didirikan oleh Rasulullah ﷺ dengan sangat simpel, hal tersebut dibuktikan dengan riwayat-riwayat yang menyebutkan pendelegasian tugas Baitul Maal oleh Rasulullah ﷺkepada beberapa orang sahabat tertentu, seperti tugas pencatatan, tugas penghimpunan zakat hasil pertanian, tugas pemeliharaan zakat hasil ternak dan juga pendistribusian. Hal tersebut menjadi landasan yang kuat bahwa Baitul Maal sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ sekalipun belum dalam bentuk institusi yang baku. Selanjutnya dimasa kekhalifahan Abu Bakar tidak terlalu ada perubahan yang besar berkaitan dengan Baitul Maal.

Perubahan yang besar terjadi pada masa kekhalifahan umar bin Khattab dengan dioperasikannya system administrasi pencatatan dengan system “Ad Diwaan”. Selanjutnya Baitul Maal semakin berkembang dimasa-masa berikutnya sampai Baitul Maal telah terbentuk sebagai lembaga ekonomi atas usulan seorang ahli fikh Walid bin Hisyam. Sejak masa itu dan masa-masa selanjutnya (dinasti Abasiyah dan Umayah) Baitul Maal telah menjadi lembaga penting bagi Negara (mulai dari penarikan zakat (juga pajak), ghonimah, kharaj, sampai membangun jalan, menggaji tentara dan juga pejabat Negara serta membangun sarana sosial).

Dilihat dari konteks masa sekarang Baitul Maal dimasa itu menjalankan fungsi sebagai Departemen Keuangan, Departemen Sosial dll. Namun pengertian Baitul Maal dalam konteks istilah BMT kini lebih menyempit maknanya. Baitul Maal dalam konteks BMT hanya menjalankan fungsi sosial yang lepas dari kaitan politik Negara.

Baitul Maal dalam kaitan BMT mempunyai kegiatan yang menyempit yaitu hanya menerima dan menyalurkan zakat, infak, shodaqoh (ZIS) yang tidak bersifat komersial. Penyalurannya difokuskan kepada mustahiknya yaitu delapan asnaf yang telah ditentukan dalam aturan syariah dengan prioritas utama untuk fakir miskin. Baitul Maal dalam kaitannya dengan BMT ialah menyalurkan dana Qordhul Hasan yang tidak berorientasi komersial untuk keperluan kesejahteraan dan pengembangan ekonomi ummat.

 

Dalam perkembangannya kedepan pengelolaan dana ZIS ini telah diakomodir dengan pemberlakuan UU no 38 tahun 1998 tentang pengelolaan zakat. Namun BMT masih signifikan sebagai lembaga yang bersinggungan langsung dengan akar rumput kaum dhuafa yang dengan demikian memiliki kesempatan besar sebagai mitra kerja Lembaga Pengelola Zakat, baik berfungsi sebagai unit penghimpun ZIS maupun sebagai mitra menyalurkan ZIS.

Jadi, baitul maal merupakan lembaga atau pihak (Arab: al jihat) yang mempunyai tugas khusus menangani segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran negara, sejarah keberadaannya ternyata cukup menarik untuk disimak, berikut ini sejarah ringkas baitul maal tersebut dari sejak jaman nabi hingga jaman kekhalifaan yang terakhir.

1. Masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam (1-11 H/622-632 M)

Prinsip-Prinsip Yang Menjadi Landasan Kebijakan Pemerintahan Amirul Mukminin Umar Bin Khattab | baraNews

Baitul Mal dalam arti terminologisnya seperti diuraikan di atas, sesungguhnya sudah ada sejak masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, yaitu ketika kaum muslimin mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) pada Perang Badar (Zallum, 1983). Saat itu para shahabat berselisih paham mengenai cara pembagian ghanimah tersebut sehingga turun firman Allah SWT yang menjelaskan hal tersebut:
‘Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, Harta rampasan perang itu adalah milik Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.‘ (QS Al Anfaal : 1)

Baca Juga : Ada Pasar Surga di Hari Jumat  Ini Kabar Rasulullah ﷺ

Dengan ayat ini, Allah menjelaskan hukum tentang pembagian harta rampasan perang dan menetapkannya sebagai hak bagi seluruh kaum muslimin. Selain itu, Allah juga memberikan wewenang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk membagikannya sesuai pertimbangan beliau mengenai kemaslahatan kaum muslimin. Dengan demikian, ghanimah Perang Badar ini menjadi hak bagi Baitul Maal, di mana pengelolaannya dilakukan oleh Waliyyul Amri kaum muslimin yang pada saat itu adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sendiri sesuai dengan pendapatnya untuk merealisasikan kemaslahatan kaum muslimin (Zallum, 1983).

Pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ini, Baitul Maal lebih mempunyai pengertian sebagai pihak (al-jihat) yang menangani setiap harta benda kaum muslimin, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran. Saat itu Baitul Maal belum mempunyai tempat khusus untuk menyimpan harta, karena saat itu harta yang diperoleh belum begitu banyak.

Kalaupun ada, harta yang diperoleh hampir selalu habis dibagi-bagikan kepada kaum muslimin serta dibelanjakan untuk pemeliharaan urusan mereka. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam senantiasa membagikan ghanimah dan seperlima bagian darinya (al-akhmas) setelah usainya peperangan, tanpa menunda-nundanya lagi. Dengan kata lain, beliau segera menginfakkannya sesuai peruntukannya masing-masing.

Seorang shahabat bernama Hanzhalah bin Shaifi yang menjadi penulis (katib) Rasulullah ﷺ menyatakan : ‘Rasulullah menugaskan aku dan mengingatkan aku (untuk membagi-bagikan harta) atas segala sesuatu (harta yang diperoleh) pada hari ketiganya : Tidaklah datang harta atau makanan kepadaku selama tiga hari, kecuali Rasulullah  mengingatkannya (agar segera didistribusikan). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak suka melalui suatu malam sementara ada harta (umat) di sisi beliau. (Zallum, 1983).

Pada umumnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam membagi-bagikan harta pada hari diperolehnya harta itu. Hasan bin Muhammad menyatakan :‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah menyimpan harta baik siang maupun malamnya…‘

Dengan kata lain, bila harta itu datang pagi-pagi, akan segera dibagi sebelum tengah hari tiba. Demikian juga jika harta itu datang siang hari, akan segera dibagi sebelum malam hari tiba. Oleh karena itu, saat itu belum ada atau belum banyak harta tersimpan yang mengharuskan adanya tempat atau arsip tertentu bagi pengelolaannya (Zallum, 1983).

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Musibah dan Muhasabah

Donasiberkah.id – Dalam memaknai musibah tergantung kondisi keimanan manusia yang ditimpanya.

Istilah “musibah” dari kata ashaaba-yushiibu, artinya yang menimpa, bisa berupa penyakit dalam tubuh manusia ataupun bencana alam.

Allah SWT berfirman:

“Tidak ada bencana apapun yang menimpa di bumi dan tidak pula menimpa dirimu kecuali telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya.” (QS al-Hadid: 22).

Artinya, musibah itu tidak terjadi kecuali sesuai dengan ketetapan-Nya di al-lauhul mahfuzh.

Namun, dalam memaknai musibah tersebut tergantung kondisi keimanan manusia yang ditimpanya. Bila yang tertimpa adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan selalu dalam kemaksiatan, maka musibah tersebut merupakan azab.

Hurricane season House destroyed by the passage of a hurricane in Florida calamity stock pictures, royalty-free photos & images

Seperti itulah Allah SWT mengazab kaum Aad, Tsamud, Fir’aun, dan kaum Nabi Luth. Dalam surah al-Fajr ayat 6-14, Allah menyebutkan sebab ditimpakannya azab kepada umat terdahulu, pertama, mereka menyimpang dari ajaran-Nya, “alladziina thaghau fil bilaadi”.

Kedua, mereka membuat kerusakan di muka bumi, “fa aktsaruu fiihal fasaad”.

Baca Juga : Pesan Umar bin Khattab Ketika Menghadapi Musibah

Ketiga, mereka melakukan dosa yang mengundang murka Allah sehingga turunlah azab, “fashabba alaihim rabbuka satha adzaab”.

Sebaliknya, jika yang tertimpa musibah adalah orang-orang yang beriman tapi lalai sehingga jatuh dalam maksiat dan dosa-dosa, itu artinya peringatan. Seakan Allah menegur agar jangan dilanjutkan perbuatan bejat tersebut dan segera kembali kepada-Nya, “wa aniibuu ilaa rabbikum.” (QS az-Zumar: 54).

Ini memang cara Allah supaya mereka sadar dan bertobat. Allah SWT berfirman: “Walanudziiqannahum minal ‘adzaabil adnaa duunal ‘adzaabil akbari la’allahum yarj’uun” (Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat di dunia sebelum adzab yang besar di akhirat agar mereka kembali ke jalan yang benar) (QS as-Sajdah: 21).

Fiqih Ibadah Archives - Madaninews.id

Bila yang tertimpa musibah adalah orang-orang saleh, itu tidak lain adalah ujian ibtila, untuk membersihkan dosa-dosa dan mengangkat derajat mereka.

Allah SWT berfirman: ”Alladzii khalaqal mauta wal hayaata luabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa (Dialah Allah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya)’.” Kata liyabluwakum artinya sebagai ujian, dengannya seseorang nampak apakah tetap istiqamah berbuat baik atau malah sebaliknya.

Dalam surah al-Baqarah ayat 155, Allah pastikan bahwa ujian sebuah keniscayaan, berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kematian, dan kekurangan buah-buhan itu untuk menunjukkan siapa yang jujur dan siapa yang pembohong. Lebih dari itu untuk mengantarkan orang-orang yang sabar agar lebih tinggi derajatnya. “Wa basy syirish shaabiriin” (Sampaikan kabar gembira kepada mereka yang sabar).

Teladan Rasulullah ﷺ dalam Mendidik Anak

Donasiberkah.id – Empat belas abad silam, Rasulullah telah mengingatkan kita untuk selalu berlaku lembut dan penuh kasih sayang kepada anak-anak. Abu Hurairah menuturkan, 

“Sesungguhnya, Al-Aqrak bin Haabis pernah melihat Nabi memeluk Hasan.”

“Al-Aqrak lalu berkata, ‘Sungguh, aku memiliki 10 orang anak, tetapi tak pernah seorang pun dari mereka yang kupeluk.’

 Lantas, Rasulullah ﷺ bersabda, 

‘Sesungguhnya, barangsiapa yang tidak menyayangi, niscaya dia tidak akan disayangi'” 

(HR Bukhari-Muslim).

anak muslim belajar bagaimana membuat dua kepada allah - muslim kids potret stok, foto, & gambar bebas royalti

Mendidik dan membesarkan anak memiliki seni tersendiri. Kita sebagai orang tua dituntut untuk memiliki stabilitas emosi dalam membesarkan dan mendidik anak-anak.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, yang artinya, “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. Al-Anfal: 28).

Kunci pertama mendidik anak adalah kelapangan dada, dan kesabaran menjadi dasar selanjutnya ketika mendidik makhluk polos yang menjadi darah daging kita itu. Lalu, keyakinan bahwa semata-mata mendidik anak adalah sebagian kewajiban mengabdi kita kepada Allah SWT.

little Muslim cute girls

Firman Allah dalam Alquran surah al-Munaafiqun ayat 9, artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Cobalah kita lihat contoh konkret dari Nabi Muhammad ketika mendidik anak-anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Jika Fatimah datang mengunjungi ayahnya, Rasulullah bangkit berdiri menyambut dan memberikan ciuman kepada putrinya itu, lalu dipersilakan duduk di sebelah beliau.

ibadah keluarga muslim selama ramadhan - muslim parents potret stok, foto, & gambar bebas royalti

Begitupun kalau Nabi datang mengunjunginya, Fatimah bangkit menyambut ayahnya, diciuminya dengan penuh kasih sayang, seraya dipersilakan ayahnya duduk di sebelahnya.

Anak adalah bagian dari jiwa dan kehidupan kita, sehingga mendidiknya dengan benar dan penuh kasih sayang menjadi kewajiban kita kepadanya. 

Jika pendidikan anak yang dinaungi cinta kasih dan niat ibadah kepada Allah bisa kita mulai dari keluarga kita, maka insya Allah masyarakat kita kelak akan menjadi masyarakat yang bermoral tinggi dan penuh kasih sayang ketika berinteraksi satu sama lain.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Syarat-Syarat Gharim Boleh Menerima Zakat

Donasiberkah.id – Salah satu pihak yang berhak menerima zakat adalah gharimin (orang yang memiliki utang), namun bagimanakah ketentuan bagi gharim yang berhak menerima zakat, ketentuannya sebagai berikut :

1. Beragama Islam

pria muslim asia religius memegang suci al-quran - islam potret stok, foto, & gambar bebas royalti

Ghârim berhak menerima zakat kalau dia beragama Islam, begitu pula penerima zakat lainnya. Ibnu Mundzir rahimahullah mengatakan, “Para Ulama’ telah bersepakat bahwa zakat itu tidak sah bila diberikan kepada seorang ahli dzimmah ( non muslim).” (Al-Ijmâ’, Abu Bakr Muhmmad bin Ibrâhim Ibnu Mundzir an Naisabury).

2. al-Faqr (Miskin)

anak-anak kotor tangan terbuka mengemis untuk uang - poor potret stok, foto, & gambar bebas royalti

Syarat ini berlaku pada ghârim limaslahati nafsihi (untuk kebutuhan pribadi), sedangkan pada ghârim li ishlâhi dzâtil bayyin, syarat ini tidak berlaku. Artinya, dia boleh menerima zakat meskipun dia kaya.

3. Hutang Bukan Karena Untuk Maksiat

kartu (xl) - gambling card potret stok, foto, & gambar bebas royalti

Jika hutang tersebut disebabkan maksiat seperti judi, minum khamr, berbuat tabdzîr dan boros, maka ia tidak diberi uang zakat. Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,

“Saya tidak pernah mendapati satu pendapat ahli ilmu yang membolehkan zakat diberikan kepada orang yang terbelit hutang dalam rangka berbuat maksiat, sebelum ia bertaubat, kecuali pendapat lemah dari sebagian kecil Syâfi’iyyah, seperti al-Hanathi dan ar-Râfi’y, yang memandang mereka boleh diberi karena Ghârim. ( Al-Majmû’ Syarhul Muhadzab li Syairâzi , Imam Nawawi).

Bagaimana Hukum Orang Yang Terbelit Hutang Ribawi?

Riba merupakan dosa besar dan termasuk maksiat yang telah banyak menalan korban. Karena termasuk maksiat, maka yang terlilit hutang ribawi, ia tidak boleh diberi zakat untuk melunasinya, kecuali jika bertaubat. Akan tetapi bagi yang terpaksa berhutang dengan system riba untuk kebutuhan pokok, seperti sandang papan atau pangan, maka baitul mal boleh memberikannya zakat. Hukum darurat ini diukur sesuai kebutuhan. (Abhâtsun fi Qadhâyâz Zakâtil Mu’âshirah).

4. Tidak Mampu Mencari Penghasilan Lagi

dompet kosong tanpa uang di tangan wanita ilustrasi vektor datar - poor ilustrasi stok

Ulama’ berselisih dalam masalah ini. Sebagian Ulama syâfi’iyah dan sebagian hanabilah memperbolehkan pemberian zakat pada orang yang masih mampu bekerja. Menurut penyusun kitab Abhâtsun fi Qadâyâz Zakât, hukum yang benar dalam masalah ini yaitu bila hutangnya banyak dan dia kesulitan sekali untuk melunasinya maka ia boleh menerima zakat walaupun ia masih mampu bekerja. Akan tetapi sebaliknya, jika hutangnya sedikit atau pihak pemberi hutangan memberikan tambahan waktu maka hendaknya ia tidak mengambil zakat dan berusaha untuk melunasinya (sendiri).

5. Bukan Keturunan Bani Hâsyîm (Keturunan Kerabat Rasulullah ﷺ)

Hijrah Rasulullah ke Madinah: Ancaman dan Hikmahnya | NU Online

Rasûlullâh ﷺ bersabda :

إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِىَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لاَ تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلاَ لآلِ مُحَمَّدٍ

“Sesungguhnya sedekah ini adalah kotoran manusia (17), dan ia tidak halal untuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga keluarga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam“. (HR. Muslim, Shahîh Muslim bi Syarh Imam Nawawi).

(17) Disebut kotoran karena dengan mengeluarkan zakat, harta yang dimiliki seseorang menjadi bersih dan suci begitu juga jiwa orang yang mengeluarkannya.

6. Waktu Pelunasan Sudah Jatuh Tempo

kalender putih dengan pin push berwarna memperlihatkan tanggal penting - o'clock potret stok, foto, & gambar bebas royalti

Jatuh tempo merupakan syarat yang diperselisihkan oleh para Ulama’. Ibnu Muflih rahimahullah berpendapat, “Hukum yang nampak dari hadits Qabishah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa gharim boleh mengambil zakat walaupun belum jatuh tempo.” (Darul Kutubil Ilmiyyah).

Namun Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa gharim tidak boleh diberi zakat kecuali setelah jatuh Tempo. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab).

Dr. Sulaiman al-Asqar menguatkan pendapat pertama dengan catatan, baitul mal boleh mengeluarkan zakat untuk ghârim tersebut, apabila jatuh tempo tinggal beberapa bulan atau sudah masuk dalam tahun jatuh tempo. Jika temponya masih beberapa tahun atau lebih dari satu tahun maka tidak berhak menerima zakat untuk melunasi hutang, kecuali kondisi orang yang memberikan hutangan dalam keadaan sakit atau membutuhkan. Wallahu A’lam. (Abhâtsun fi Qadhâyâz Zakâtil Mu’âshirah).

7. Ghârim Bukan Termasuk Dalam Tanggungan Muzakki (Orang Yang Berzakat).

ilustrasi vektor template pohon keluarga - family tree ilustrasi stok

Apabila gharîm berada dalam tanggungan muzakki seperti istri atau kerabat lain, maka zakat yang diberikan kepada orang-orang ini tidak sah. Karena seolah-olah dia membelanjakan harta untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, apa yang dikeluarkan ini tidak bisa dinamakan zakat, namun dianggap sebagai nafkah yang diberikan oleh kepala rumah tangga untuk keluarganya. Orang-orang yang termasuk dalam tanggungan muzakki adalah istri, anak dan keturunannya dan Bapak serta kakek keatas. (al-Fiqhul Islâmy wa Adillatuhu).

Kadar Zakat yang Diberikan Kepada Gharim

penuh dengan sepuluh koin baht thailand dalam gelas dengan latar belakang hitam - give treasure potret stok, foto, & gambar bebas royalti

Harta zakat dari baitul mal yang diberikan kepada ghârim yaitu seukuran hutang yang harus dilunasi. Karena tujuan penyaluran zakat untuk ghârim hanya sebatas untuk tujuan ini. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Ghârim diberi zakat untuk menutup hutangnya walaupun sangat banyak” (Al-Mugni, al-Muwaffaq).

Ibnu Rusyd rahimahullah, penyusun kitab Bidâyatul Mujtahid menyatakan, “Ghârim diberi dari zakat sejumlah hutangnya jika hutangnya bukan karena maksiat” (Bidâyatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid).

Dalam hal ini, sering terkumpul dua sifat yaitu faqir dan ghârim pada seseorang, maka boleh baginya menerima zakat untuk kemiskinannya dan melunasi hutangnya sehingga ia mendapat dua jatah. (Abhâtsun fi Qadhâyâz Zakâtil Mu’âshirah).

Baca Juga : Kriteria Gharimin (Pemilik Utang) Penerima Zakat

Bila kita amati dengan cermat, syariat Islam yang sempurna ini ternyata merupakan solusi terbaik dalam rangka menciptakan stabilitas ekonomi umat, di samping niat yang utama adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dan menjalin ukhuwah Islamiyah di antara kaum Muslimin.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

 

Kriteria Gharimin (Pemilik Utang) Penerima Zakat

Donasiberkah.id- Status ekonomi yang berbeda, merupakan bagian dari realita kehidupan yang tidak bisa dipungkiri. Kondisi ini mestinya tidak mengganggu keharmonisan hubungan antara individu masyarakat yang berbeda status ekonominya, asal masing-masing mengerti hak dan kewajibannya.

Karena mereka sebenarnya saling membutuhkan; si miskin butuh si kaya, begitu sebaliknya. Disamping juga, tidak ada jaminan bahwa kondisi itu akan berlangsung selamanya.

Terkadang bisa berubah seratus delapan puluh derajat, si miskin menjelma menjadi orang kaya sementara si kaya terpuruk menjadi si miskin.Inilah alasan lain, kenapa si miskin dan si kaya selalu saling membutuhkan.

Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang tidak mengerti, pura-pura tidak tahu atau memang tidak mau tahu masalah ini. Akibatnya berbagai macam permasalahan bermunculan.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin mengatur hubungan antara yang kaya dan yang miskin, agar terjalin rasa kasih sayang diantara sesama. Zakat yang Allâh Azza wa Jalla wajibkan atas orang kaya lalu diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, merupakan salah satu dari cara Islam mengatur hubungan antara si kaya dan si miskin.

Dengan ini, si kaya akan menyadari bahwa dalam harta mereka ada bagian untuk orang-orang miskin atau tidak mampu. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (maksudnya orang miskin yang tidak meminta-minta)“. (QS. Adz-Dzariyat 51 Ayat :19).

Diantara yang berhak menerima zakat dari orang kaya adalah al-ghârim (orang yang terlilit hutang). Namun penerima zakat yang satu ini harus memenuhi beberapa kriteria sehingga zakat yang dikeluarkan oleh orang-orang kaya tepat sasaran dan tidak berpotensi menyuburkan ketamakan.

Waduh! BNPB Terlilit Utang Rp 1,45 Triliun - FIN.CO.ID

Dengan demikian, hikmah zakat akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Yang berhak menerima, merasa terbantu dan tidak berpikir untuk melakukan tindakan negatif.

Baca Juga : Bagaimana Jika Menunaikan Zakat Tanpa Amil?

Sementara si kaya merasa tenang dan nyaman karena sudah melaksanakan syari’at dengan benar dan akan mendapatkan limpahan do’a dari si miskin.

Disamping juga, dia terlepas dari rencana negatif sebagian orang yang mungkin dengan dalih terpaksa melakukan kejahatan.

Definisi Al-Gharim (Bangkrut)

Ini cara keluar dari jeratan utang online

Dalam mendefinisikan al-ghârim, para Ulama’ berbeda-beda. Ada yang mengatakan, al-ghârim adalah orang yang terlilit hutang. Ada juga yang menambahkan definisi ini dengan menyertakan penyebabnya.

Mujâhid rahimahullah mengatakan al-ghârim adalah orang yang menanggung hutang karena rumahnya terbakar, atau hartanya terseret banjir, atau untuk memenuhi kebutuhan keluarganya (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wilil Qur’an, Ibnu Jarir at-Thabari).

Ibnu Atsir rahimahullah menambahkan, al-ghârim adalah orang yang menjamin pelunasan hutang orang lain, atau orang yang bangkrut guna mencukupi kebutuhan hidup, tidak untuk berbuat maksiat atau berlaku boros (tabdzir) (Jami’ul Ushul fi ahaditsi Rasul, Ibnu Atsir).

Berdasarkan ini, Ulama’ fiqh menentukan kriteria tertentu bagi al-ghârim yang berhak menerima zakat ditinjau dari faktor penyebab pailit atau terlilit hutang.

Faktor-faktor Terlilit Hutang

Secara garis besar, ada dua jenis penyebab seseorang terlilit hutang atau menjadi al-ghârim:

1. Ghârim limaslahati nafsihi (Terlilit hutang demi kemaslahatan atau kebutuhan dirinya).

2. Ghârim li ishlâhi dzatil bain ( Terlilit hutang karena mendamaikan manusia, qabilah atau suku).

Kedua jenis al-ghârim diatas berhak menerima zakat tetapi dengan syarat tambahan pada ghârim linafsihi yaitu harus dalam keadaan miskin. Sedangkan untuk ghârim li ishlâhi dzatil bain maka boleh diberi zakat meski dia kaya.

 

Gharim Li Maslahati Nafsihi

kurangkan-hutang - Afyan.com

Pada jenis ini ulama mendefinisikan kriteria al-gharîm yang berhak menerima zakat, yaitu mereka yang terjerat hutang untuk maslahat dirinya dan keluarganya, seperti orang yang berhutang untuk makan, pakaian, tempat tinggal atau berobat dan sebagainya.

Al-Ba’li rahimahullah berkata, “Al-ghârim adalah orang yang berhutang untuk menafkahi diri dan keluarganya atau untuk berpakaian.” (Al-Muthli’ ‘Ala Abwâbil Muqni’, Imam abu Abdillah Syamsuddin).

Juga termasuk kategori al-ghârim jenis ini adalah orang yang terkena bencana alam atau musibah lainnya yang mengakibatkan hartanya habis, contohnya : banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran, pencurian dan sebagainya yang mengakibatkan mereka tidak dapat mencukupi kebutuhan pokok. Sehingga mereka termasuk fuqara’ (orang-orang fakir).

Inilah yang disabdakan Rasulullah ﷺ dalam potongan hadits yang panjang dari shahabat Qabishah Radhiyallahu ‘anhu :

وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ

“Dan seorang yang tertimpa bencana sehingga hartanya musnah. Orang ini dihalalkan meminta-minta sampai kembali mendapat harta untuk hidup“. (HR. Muslim).

Kisah Warga Menyelamatkan Diri ke Dalam Kamar Mandi Selama Dua Jam Saat Erupsi  Semeru - Suara Malang
Erupsi Gunung Semeru 5 Desember 2021

 

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kasih Sayang Rasulullah Kepada Anak Yatim 

 

Donasibrkah.id – Rasulullah sangat menyayangi anak-anak yatim. Berikut saya nukilkan sebuah kisah yang insya Allah dapat menggugah kesadaran batin kita.

Ketika Ja’far bin Abu Thalib gugur dalam Mut’ah, Nabi sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah Ja’far dan menjumpai istrinya.

A narrow street in a traditional Arab mud brick village, Al Majmaah, Saudi Arabia The restored streets in the Munikh Castle suburbs old house arabic stock pictures, royalty-free photos & images

Asma bin Umais yang sedang membuat roti, memandikan anak-anak dan memakaikan bajunya.

Asma menuturkan: Ketika Rasulullah menemui kami, aku mendapatkan wajah beliau sangat sedih. Maka timbullah perasaan takut pada diriku, akan tetapi aku tidak berani untuk menanyakannya.

 

Kemudian beliau bersabda, “Suruhlah anak-anak Ja’far kemari. Aku akan mendoakannya,” 

Maka bergegaslah mereka mendekat kepada Rasulullah dan bercengkerama dengan beliau. Rasulullah merangkul mereka, mencium, serta berlinang air matanya. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah , apa yang menjadikan engkau menangis? Apakah ada sesuatu yang menimpa Ja’far?.”

Memuliakan Anak Yatim | Republika Online

Beliau menjawab, “Ya, dia telah gugur sebagai syahid pada hari ini.” Sesaat hilanglah keceriaan yang terdapat pada wajah-wajah mereka, tatkala mendengar tangisan ibunya.

Kemudian Nabi Muhammad kembali kepada keluarganya dan beliau bersabda,

“Janganlah kalian melupakan keluarga Ja’far, buatlah makanan untuk mereka karena sesungguhnya mereka sedang sibuk menghadapi musibah kematian Ja’far.”

Rasulullah bersabda:

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau, serta agak merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari).

Setangkup roti, meski remah-remahnya buat anak-anak yatim bermata teduh adalah lilin ditengah kegelapan dan kemiskinan, tanpa seseorang yang menjadi sandaran hidupnya mereka akan kelaparan dan berada pada semua keterbatasan. 

Whole wheat bread on wooden plate Whole wheat bread on wooden plate bread stock pictures, royalty-free photos & images

Sungguh, Rasulullah yang amat kita cintai telah mencotohkan kepada kita bahwa mengasuh dan merawat anak-anak yatim betapa amat mulia dan ladang pahala tak bekeputusan kelak bagi kita.

Baca Juga : Kisah Muwaffaq – Pahala Membantu Tetangga dan Anak Yatim

Keutamaan yang bisa didapat dengan menyantuni anak yatim adalah memperoleh kedekatan dengan Rasulullah di surga sedekat antara jari telunjuk dengan jari tengah.

Little boy praying alongside his father during Ramadan Little boy praying alongside his father during Ramadan arabic kid stock pictures, royalty-free photos & images

Selain itu, dengan memelihara dengan baik anak-anak yatim akan melembutkan hati kita yang hakikatnya sekeras batu. Hati yang lembut akan membuat kita mengambil jarak dari kondisi yang melingkupi, menajamkan nurani dan pikiran, bahwa di sekitar kita banyak orang yang membutuhkan uluran tangan.

Baca Juga : Keutamaan Menyayangi dan Menyantuni Anak Yatim dalam Islam

Mari ulurkan tangan sahabat kepada ratusan anak-anak yatim dan dhuafa di Griya Yatim dan Dhuafa dengan berdonasi di link kebaikan di bawah ini : 

  

English EN Indonesian ID