Griya Yatim & Dhuafa

Marah dalam Islam, dan Cara Mengendalikannya

Donasiberkah.id- Orang mungkin pernah merasakan emosi dan marah. Perasaan ini normal terjadi apalagi ketika seseorang dihadapkan dengan persoalan hidup yang kompleks dan berat. Namun yang terpenting adalah bukan soal masalah yang dihadapi, tapi bagaimana sikap kita dalam menanggapi persoalan tersebut. Lalu bagaimana sih cara mengatasi marah dalam Islam?

Marah adalah salah satu emosi normal yang ada di dalam diri manusia. Sama seperti cemas, stres, marah juga sebenarnya bisa dikendalikan agar output-nya tidak menimbulkan dampak buruk. Oleh karena itu, jangan anggap remeh soal bagaimana caranya mengatasi marah dalam Islam.

Emosi atau marah bisa juga diartikan sebagai ketegangan jiwa yang muncul akibat penolakan terhadap apa yang tidak diinginkan. Secara psikologis, marah bisa berdampak negatif pada jantung karena meningkatnya hormon adrenalin yang akan memengaruhi kecepatan detak jantung dan menambah penggunaan oksigen.

Bahkan, menurut hasil penelitian modern, emosi atau marah yang berulang-ulang bisa memperpendek umur karena diserang berbagai penyakit kejiwaan dan penyakit jasmani.

Berbicara marah dalam Islam, seorang muslim pasti akan mencari contoh terbaik dalam melakukannya. Siapa lagi yang patut menjadi tauladan umat Islam kalau bukan Rasulullah ﷺ. Bagaimana cara beliau ﷺ mengatur emosi disebutkan dalam sebuah kisah. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang berjalan bersama Anas ra, tiba-tiba ada seorang Badui mengejar dan serta merta menarik serbannya dengan keras.

Anas berkata, “Aku melihat bekas tarikan serban kasar itu pada leher Rasul.” Lalu Badui berkata, “Wahai Muhammad, berilah aku dari harta Allah yang ada padamu.”

Baca Juga : Kesabaran Nabi ﷺ yang Didoakan Orang Badui 

Bukannya marah, Rasulullah ﷺ hanya menoleh sambil tersenyum lalu memerintahkan sahabat agar memberikan harta cukup banyak kepada orang badui tersebut. Sikap Rasulullah ﷺ ini menggambarkan betapa hebatnya kemampuan beliau dalam mengendalikan emosi. Beliau disakiti, dihinakan di depan orang, dan dimintai sedekah secara paksa, tetapi beliau tidak marah. Inilah seharusnya bagaimana cara mengatasi marah dalam Islam.

Secara medis, kebiasaan menanggapi sesuatu dengan marah adalah bisa dampak negatif untuk kesehatan. Ada beberapa penyakit yang bisa menjangkit orang yang gemar marah.

Dampak Buruk Sering Marah

Cute angry cat - 9GAG

Dampak buruk marah dalam Islam yang pertama adalah  bisa menyebabkan seseorang mudah jatuh sakit. Mengapa demikian?

Para ilmuwan di Universitas Harvard menemukan pada orang sehat, bahwa hanya meminta mereka untuk mengingat pengalaman marah dari masa lalu, dapat menyebabkan penurunan selama enam jam dalam kadar antibodi imunoglobulin A, yaitu garis pertahanan pertama sel melawan infeksi.

Memperburuk Kecemasan

Portrait of troubled devasted young male who lost job, holding hands on head and frowning, feeling worried and anxious while seeing terrible accident Free Photo

Gangguan kecemasan berbanding lurus dengan sikap marah. Studi tahun 2012 yang diterbitkan dalam jurnal Cognitive Behavior Therapy menemukan, emosi marah dapat memperburuk gejala gangguan kecemasan umum, suatu kondisi yang ditandai dengan kekhawatiran berlebihan dan tidak terkendali yang mengganggu kehidupan sehari-hari pengidapnya.

Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Grey haired displeased bearded old man has sudden painful spasm in chest closes eyes and presses hands to heart poses against beige wall Free Photo

Marah juga berhubungan langsung dengan salah satu organ tubuh yang paling penting. Ya, marah-marah dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung!

Marah-marah dapat memicu perubahan fisiologis yang memengaruhi darah, sehingga dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau masalah terkait untuk sementara.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, penelitian menunjukkan bahwa dalam dua jam setelah ledakan amarah, seseorang berisiko lebih tinggi mengalami nyeri dada (angina), serangan jantung, atau risiko irama jantung.

Penyebabnya adalah keluarnya hormon stres seperti adrenalin yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan tekanan darah naik. Kemarahan juga membuat darah kamu lebih mungkin menggumpal, yang sangat berbahaya bila arteri kamu menyempit oleh plak yang mengandung kolesterol.

Meningkatkan Risiko Stroke

HD wallpaper: grayscale photography of wheel chair on road, wheelchair, lonely | Wallpaper Flare

Penyakit serius akibat kebiasaan marah-marah lainnya adalah stroke. Ledakan amarah menyebabkan bekuan darah ke otak atau pendarahan di dalam otak naik menjadi lebih tinggi. Bagi orang yang sudah memiliki aneurisma di salah satu arteri otak, risiko aneurisma untuk pecah menjadi enam kali lebih tinggi setelah ledakan amarah.

Menyebabkan Depresi

How to Manage & Cope with Depression and Anxiety

Orang yang mengalami depresi sering menunjukkan kemarahan pasif, yaitu cenderung menyimpan amarah mereka daripada mengambil tindakan. Orang seperti ini dianjurkan untuk menyibukkan diri dan berhenti berpikir terlalu banyak. Banyak aktivitas yang bisa menjadi obat untuk mengatasi kemarahan seperti joging, bersepeda, main bola, menulis.

Mengendalikan Marah dalam Islam

Berwudu

Wudhu : Pengertian, Dalil, Rukun, Sunnah, Tata Cara Dan Yang Membatalkan Wudhu

Allah SWT menyukai orang-orang yang dapat menahan amarahnya. Dengan demikian maka kita haruslah dapat menahan amarah. Tips pertama menahan marah dalam Islam yaitu dengan berwudu.

Air wudhu pun dapat menenangkan dan memadamkan api kemarahan di hati agar tidak meledak dan melukai diri sendiri maupun orang lain.

“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Perbanyak zikir dan mohon perlindungan Allah 

Manfaat Dzikir, Detoksifikasi hingga Menjauhkan dari Maksiat - News+ on RCTI+

Tips menahan marah dalam Islam selanjutnya adalah dengan memperbanyak zikir kepada Allah SWT seperti membaca istighfar, takbir, tahmid, dll. Zikir bukan hanya dibaca selepas shalat saja. Zikir juga bisa dibaca di keadaan-keadaan tertentu seperti saat seseorang marah.

Sumber terjadinya marah dalam Islam yaitu disebabkan oleh setan maka dengan begitu mohon perlindungan Allah SWT agar terhindar dari godaan setan, caranya yaitu dengan banyak membaca Ta’awwudz.

Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata,

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “

“Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi ﷺ sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, no. 3282)

Jangan Bicara (Diam)

Solusi selanjutnya menahan marah dalam Islam adalah dengan diam, atau tidak bicara. Hal ini bisa menjadi solusi untuk mengontrol emosi yang efektif. Saat ingin marah, tahanlah dan berhenti berbicara. Jangan biarkan satu buah kata keluar dari mulut kamu. Dengan diam berarti kamu sedang memberi waktu otak berpikir kembali untuk marah dan membantu meredakan amarah.

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi)

Ganti Posisi

Horizontal shot of unemployed young male wearing white t-shirt and beige jeans sitting barefooted on sofa work portable computer having sad frustrated facial expression, searching for job online Free Photo

Jika diam saja tidak cukup untuk meredakan amarah di dalam diri, maka cobalah untuk berganti posisi. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Hadits tersebut berbunyi:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula, maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud)

Menjauh sejenak dari sekeliling

Silhouette Man Lake - Free photo on Pixabay

Tips menghindari marah dalam Islam lainnya adala usahakan jangan berada di lingkungan dengan banyak orang. Selain akan semakin memperparah rasa stres akibat amarah yang terjadi, juga akan membuat kalian jadi melampiaskan kemarahan pada orang-orang di sekitar.

Sebaiknya hindari kerumunan dan menyendiri ke suatu tempat untuk sementara demi menenangkan diri yang sedang emosi. Hal ini agar hati merasa rileks. Jangan lupa untuk selalu berzikir dan memohon ampun Allah SWT.

Olahraga

Free Sports Vectors, 208,000+ Images in AI, EPS format

Perasaan marah juga bisa disalurkan dengan cara yang positif yaitu dengan melakukan olahraga. Selain menyehatkan, berolahraga juga diketahui dapat meningkatkan hormon endorfin yang mampu memicu kebahagiaan sehingga amarah bisa berangsur-angsur mereda.

Dengan berolahraga, kita bisa lebih mudah untuk mengontrol emosi dan amarah, sehingga tidak merugikan diri sendiri juga orang di sekitar kalian. Dan yang paling penting, menghindari marah dalam Islam ternyata bisa mendatangkan pahala yang besar.

Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ

“Barang siapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan)

Tarik Napas yang Dalam dan Lambat

Ketika Anda marah, napas Anda akan lebih pendek-pendek dan cepat. Tarik napaslah yang dalam dan lambat dari hidung dan keluarkan dari mulut untuk beberapa saat. Dengan menarik napas dalam dan lambat, diharapkan kemarahan Anda dapat mereda. Ulangi hal ini hingga dada dan hati merasa baikan sehingga pikiran pun menjadi dingin.

Indian man concentrating and raising hands outdoors with blue sky and green tree branches Free Photo

Tidur

Mungkin cara mengatasi marah dalam Islam yang terakhir ini merupakan cara yang mempunyai dua keutamaan. Selain bisa menghindari amarah, juga bisa membantu tubuh beristirahat. Ketika bangun tidur, perasaan mungkin akan menjadi lebih baik dan badan pun juga menjadi segar, sehingga mood pun bisa lebih baik. Itulah pembahasan seputar marah dalam Islam dan bagaimana cara mengatasinya yang bisa Islampos sampaikan. Semoga bermanfaat. 

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

7 Golongan yang Dinaungi Allah Pada Kiamat

 

Donasiberkah.id- Rasulullah ﷺ bersabda ada tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari kiamat.

Tujuh golongan yang disebut itu berdasar hadis riwayat Muttafaqun alaih itu berbunyi:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ، فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ، اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ، وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاه. (صحيح البخاري)

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah سبحانه وتعالى pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (1) Pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Allah سبحانه وتعالى, (3) Seorang yang hatinya selalu terikat pada masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah سبحانه وتعالى, berkumpul dan berpisah kerana Allah juga, (5) Seorang lelaki yang diajak zina oleh wanita yang kaya dan cantik tapi ia menolaknya sambil berkata ‘Aku takut kepada Allah’, (6) Seseorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta (7) Seorang yang berzikir kepada Allah di kala sendiri hingga basah matanya karena menangis.”

.

1. Pemimpin Yang Adil

Khutbah Terakhir Umar bin Abdul Aziz | Republika Online

Pemimpin di sini termasuk Ketua Negara, Presiden, Gabenor, Ketua Daerah, ketua pejabat, penghulu, ketua rumah tangga (suami) atau ketua pelajar. Kerana setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dipertanggungjawabkan oleh Allah سبحانه وتعالى kelak. Untuk itu, seorang pemimpin perlu bertindak adil sehingga semua orang yang dipimpinya boleh merasakan perkhidmatan yang maksimum dan menegakkan peruntukan undang-undang yang sebenar.

2. Pemuda Yang Tumbuh Dalam Ketaatan (Ibadah)

Baca-buku-anak-anak-muslim - Inspirasi Makassar

Masa muda adalah masa di mana syahwat sedang memuncak sehingga tidak kurang ramai pemuda yang terjerumus dalam kemaksiatan. Hanya pemuda yang mampu mengisi hari-harinya dengan ibadah sahajalah yang terselamat di hari kiamat. Sebagaimana kisah ‘Ashabul Kahfi’ (Para pemuda Kahfi) yang mengelakkan kezaliman penguasa untuk menyelamatkan aqidah mereka.

3. Seorang Yang Hatinya Terikat Dengan Masjid

Orang yang tidak akan terlepas setiap peluang untuk memakmurkan masjid dengan ibadah dan amal-amal soleh secara istiqamah, terutama solat fardhu berjemaah. Hatinya selalu ‘risau dan resah’ apabila jauh dari masjid, dan berasa sedih bila tak boleh mendatanginya di waktu-waktu solat berjemaah dan ketika majlis diadakan.

4. Dua Orang Yang Saling Mencintai Kerana Allah Berkumpul Dan Berpisah Kerana Allah

Bersaudara Karena Allah (1) - Hidayatullah.com

Tingkatan hubungan keimanan tertinggi adalah cinta kerana Allah dan benci kerana Allah. Bila dua orang saling mencintai kerana masing-masing selalu menjaga kecintaannya pada Allah bertemu dalam rangka mengingat Allah dan berpisah dengan tetap dalam zikir pada Allah maka keduanya akan selamat di hari kiamat.

5. Seorang Lelaki Yang Diajak Berzina Oleh Seorang Perempuan Kaya Dan Cantik Tetapi Ia Menolak Dan Berkata, “Aku Takut Pada Allah”

Hijrah Bersama Karena Allah - BimbinganIslam.com

Sebagaimana kisah nabi Yusuf a.s. yang digoda oleh Zulaikha, keduanya saling cenderung sehingga jika bukan kerana petanda dari Allah maka keduanya akan melakukan maksiat sehingga Yusuf a.s. berkata, “Ya Allah! Lebih baik hamba dipenjara daripada melakukan maksiat kepadamu.” Suatu peristiwa yang mungkin pada masa ini sangat jarang berlaku dan sukar ditemui.

6. Seseorang Yang Bersedekah Dengan Sembunyi-Sembunyi Sehingga Tangan Kiri Tidak Tahu Apa Yang Diberikan Oleh Tangan Kanan

7 Aplikasi dan Situs Sedekah Online Tepercaya 2020. Insya Allah Aman!

Amal yang disertai dengan penuh keikhlasan adalah salah satu syarat diterimanya amal kebajikan oleh Allah, keikhlasan adalah melakukan sesuatu mengharapkan

.

7. Seseorang Yang Berzikir Kepada Allah Dalam Kesunyian Sehingga Menitiskan Air Mata.

Karena Menangis adalah Hak Semua Makhluk Hidup, Termasuk Laki-laki! - Orbit  Digital

Zikir bagi orang beriman ibarat nafas bagi setiap makhluk yang hidup. Ketika seseorang tidak leka dan terlepas daripada zikir sama ada di waktu siang mahupun di malam hari, maka ia seolah-olah makhluk hidup yang sentiasa boleh bernafas bebas. Mengingati Allah sehingga menitiskan air mata adalah sesuatu yang amat sukar, kecuali bagi insan-insan yang hatinya telah lembut oleh hidayah Allah. Sebagaimana ciri orang beriman, ketika mendengar kalimat Allah, maka bergetarlah hatinya dan ketika mendengar Al-Quran dan maka bertambah teballah keimanan mereka.

.

Sebagai seorang hamba yang masih dipinjamkan hayat di dunia ini. Semoga kita dapat mengambil ikhtibar dan hikmah dari huraian hadis di atas. Dan diharapkan semoga kita termasuk dan menjadi salah seorang daripada 7 golongan yang mendapat naungan Allah di Hari Kiamat kelak, kerana hanya dengan naungan Allah sahaja yang kita dambakan dan boleh selamatkan diri kita daripada kepedihan hari pembalasan.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:


.

.

Keutamaan Menghafal Sepuluh Ayat Surat Al Kahfi

Donasiberkah.id- Diantara keutamaan surat Al-Kahfi adalah jika sepuluh ayat pertama itu dihafal. Bahkan dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa yang dihafal adalah sepuluh ayat terakhir. Apa keutamaannya?

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

“Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim no. 809).

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama atau terakhir dari surat Al-Kahfi, maka ia terlindungi dari Dajjal.

Cara Menyelamatkan Diri Dari Dajjal Di Akhir Zaman - Islampos

Imam Nawawi berkata, “Ada ulama yang mengatakan bahwa sebab mendapatkan keutamaan seperti itu adalah karena di awal surat Al-Kahfi terdapat hal-hal menakjubkan dan tanda kuasa Allah. Tentu saja siapa yang merenungkannya dengan benar, maka ia tidak akan terpengaruh dengan fitnah Dajjal. Begitu pula akhir surat Al-Kahfi, mulai dari ayat,

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا

“maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Kahfi: 102) (Syarh Shahih Muslim, 6: 84).

Isi surat Al-Kahfi adalah:

Surat Al Kahfi Ayat 1-10, Tulisan Latin dan Artinya: Inilah Manfaat dan Keutamaannya - Seputar Lampung

  1. Diturunkannya Al-Qur’an sebagai pembimbing pada jalan yang lurus.
  2. Menghibur Nabi ﷺ karena orang kafir yang belum beriman.
  3. Keajaiban dalam kisah Ashabul Kahfi.
  4. Nabi ﷺ diperintahkan sabar menghadapi orang-orang fakir.
  5. Ancaman bagi orang kafir yang akan mendapatkan siksa dan bala’ (musibah).
  6. Janji pada orang beriman bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik.
  7. Permisalan orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi dunia.
  8. Permisalan dunia dengan hujan yang turun dari langit dan tanaman yang tumbuh.
  9. Dunia yang teranggap hanyalah ketaatan pada Allah saja.
  10. Penyebutan kejadian pada hari kiamat.
  11. Pembacaan kitab catatan amal.
  12.  Manusia ditampakkan kebenaran.
  13. Iblis enggan sujud pada Adam.
  14. Keadaan orang kafir ketika masuk neraka.
  15. Orang yang membela kebatilan ketika berdebat dengan orang yang berpegang pada kebenaran.
  16. Cerita tentang umat sebelum kita yang hancur, supaya kita pun takut akan hal itu.
  17. Kisah Nabi Musa dan Khidr.
  18. Kisah Dzulqarnain.Kisah Dzulqarnain, Pemimpin Hebat yang Mampu Jinakkan Yakjuj dan Makjuj
  19. Bangunan yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj.
  20. Rahmat yang akan datang pada hari kiamat.
  21. Sia-sianya amalan orang kafir.
  22. Balasan bagi orang beriman dan yang berbuat baik.
  23. Ilmu Allah tak mungkin habis untuk dicatat.
  24. Perintah untuk ikhlas dalam beribadah dan perintah untuk mengikuti tuntunan Rasul (ittiba’ Rasul) lewat amalan shalih. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 117)

Nabi Adam, Manusia Pertama Yang Diutus Allah - Bewaramulia.com

Namun perlu dicatat keutamaan lainnya dari surat Al-Kahfi tentang keutamaannya dibaca pada hari Jumat. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Imam Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Ashaab berkata disunnahkan membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat dan malam Jumatnya.” (Al-Majmu’, 4: 295).

Baca selengkapnya dalil tentang sunnah membaca surat Al-Kahfi di hari Jumat di sini.

 

Semoga bermanfaat dan bisa jadi amalan bermanfaat untuk persiapan menghadapi hari kiamat.

Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi ﷺ Kitab Bulughul Maram

Donasiberkah.id- Pada kesempatan kali ini, kita akan sama-sama belajar sebuah hikmah nubuah yang dikemas indah dalam satu kitab karangan ulama mashur Ibnu Hajar Rahimahullah, dalam kitab Bulughul Maram Kitab Al-Buyu’ Hadits ke 782. Semoga kita bisa memetik taufik dan ibrah dari untaian kasih sayang Nabi ﷺ yang tertuang dalam haditsnya untuk kita.

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – سُئِلَ: أَيُّ اَلْكَسْبِ أَطْيَبُ? قَالَ: – عَمَلُ اَلرَّجُلِ بِيَدِهِ, وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ – رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ، وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ.

Dari Rifa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai mata pencaharian yang halal? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Amalan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang diberkahi.” (HR. Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim)  

Syarah hadits

  1. Kita disuruh kerja, itulah yang namanya tawakal.
  2. Sahabat Nabi itu sangat semangat mencari kerja yang halal, bukan mencari kerja yang banyak penghasilannya.
  3. Pekerjaan seseorang dengan tangannya adalah pekerjaan yang paling asal, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan pekerjaan dengan tangan, lalu jual beli yang mabrur.
  4. Apa pekerjaan yang paling utama (paling bagus)? Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan katakan bahwa pekerjaan yang paling bagus adalah pekerjaan yang sesuai dengan keadaan setiap orang, dan saling mendukung antara mukmin yang satu dan lainnya.
  5. Bekerja lebih utama dari meminta-minta (mengemis).

 

Pekerjaan dengan tangan sendiri

memikul beban | Painting, Photo, Art works

Yang pertama kali disinggung mengenai pekerjaan terbaik adalah pekerjaan dari hasil kerja tangan sendiri. Dalam hadits lain disebutkan,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu juga makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, no. 2072, dari Al-Miqdad).

Bahkan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, mencari kerja dengan tangan sendiri sudah dicontohkan oleh para nabi seperti Nabi Daud ‘alaihis salam.

Contoh pekerjaan dengan tangan adalah bercocok tanam, kerajinan, mengolah kayu, pandai besi, dan menulis. Lihat Minhah Al-‘Allam, 6:9.

Jual beli yang mabrur

500+ Handshake Pictures [HQ] | Download Free Images on Unsplash

Mata pencaharian yang disebutkan kedua yang terbaik adalah jual beli yang mabrur.

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud jual beli yang mabrur adalah jual beli yang tidak ada sumpah dusta sekadar untuk melariskan dagangan, begitu pula yang selamat dari tindak penipuan. (Subul As-Salam, 5:8)

Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam Minhah Al-‘Allam (6:9) menjelaskan bahwa jual beli yang mabrur adalah jual beli yang memenuhi syarat dan rukun jual beli, terlepas dari jual beli yang bermasalah, dibangun di atas kejujuran, serta menghindarkan diri dari penipuan dan pengelabuan. 

Baca Juga : Manfaat Istighfar Apabila Dilakukan Setiap Hari

Pekerjaan yang paling diberkahi

Model Pembelajaran Mastery Learning

Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Imam Al-Mawardi rahimahullah, salah seorang ulama besar mazhab Syafii berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah bercocok tanam karena tawakalnya lebih tinggi. Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah pekerjaan dengan tangan. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, bercocok tanam itu lebih baik.

Ada tiga alasan yang melatarbelakanginya yaitu bercocok tanam termasuk pekerjaan dengan tangan, tawakal seorang petani itu tinggi, dan kemanfaatannya untuk orang banyak, termasuk pula manfaat untuk binatang dan burung.

Menurut penulis Tawdhihul Ahkam, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ali Bassam, pekerjaan terbaik adalah disesuaikan pada keadaan setiap orang. Yang terpenting adalah setiap pekerjaan haruslah berisi kebaikan, tidak ada penipuan, serta menjalani kewajiban yang mesti diperhatikan ketika bekerja. Lihat Tawdhih Al-Ahkam, 3:101.

Kita diperintahkan untuk terus semangat dalam hal yang manfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat untukmu dan meminta tolonglah kepada Allah, serta janganlah engkau malas.” (HR. Muslim, no. 2664).

Sebenarnya semua pekerjaan sangat dibutuhkan, karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Mukmin yang satu dan lainnya bagaikan bangunan yang mesti menguatkan antara satu bagian dan bagian lainnya.” (HR. Bukhari, no. 2446 dan Muslim, no. 2585, dari Abu Musa).

Semoga kita mendapatkan pekerjaan terbaik yang penuh berkah. Aamiin.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kewajiban Memuliakan Tetangga

Donasiberkah.id- Tetangga memiliki posisi penting dalam Islam yang mesti mendapat perhatian. Baik terhadap tetangga menjadi tolak ukur orang itu beriman.

Dari Abu Syuraih r.a. bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu, Ya Rasulallah?” Jawab Nabi, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari).

Imam Al-Ghazali dalam Ikhtisar Ihya Ulumiddin mengatakan sesungguhnya tetangga memiliki hak yang sama dengan hak kaum Muslimin secara keseluruhan. Namun, hak mereka bertambah sebab menjadi tetangga.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Ada tiga macam tetangga, yaitu tetangga yang memiliki satu hak, tetangga yang memiliki dua hak dan tetangga yang memiliki tiga hak. Adapun tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga Muslim yang memiliki hubungan kekerabatan. Lalu tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga musyrik. Sedangkan tetangga yang memiliki dua hak adalah tetangga Muslim.”

Diakuinya hak seorang musyrik dengan sebab bertetangga. Hak yang diberikan ini menunjukkan betapa pentingnya hak tetangga untuk dipenuhi.

Dari Aisyah r.a. Rasulullah ﷺ bersabda: “Jibril selalu berwasiat kepadaku agar memenuhi hak tetangga sehingga aku mengira tetangga akan menjadi ahli waris.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menghormati tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah).

Begitu pentingya berbuat baik kepada tetangga terutama Muslimah yang sering berinteraksi dengan mereka, seperti halnya kita baik kepada keluarga. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar Muslimah menghormati pemberiannya.

Dari Abu Haurairah r.a. berkata, Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda, “Wahai para wanita muslimah, janganlah ada seorang tetangga yang meremehkan hadiah tetangganya meskipun kikil (kaki) kambing.” (Bukhari dan Muslim).

Baca Juga : Hak-Hak Anak Yatim Dalam Islam (Bagian Dua)

Banyak cara yang bisa dilakukan seorang muslim untuk memuliakan tetangganya. Berikut di antaranya:

1. Saling Berbagi Kepada Tetangga

Free Photo | Hand giving soup bowl to needy person

Saling berbagi rezeki kepada tetangga merupakan adab yang baik, bahkan Rasulullah ﷺ juga menganjurkan kepada ummatnya untuk tidak kikir dan saling berbagi walau hanya dengan makanan yang sedikit. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadisnya yang berbunyi. “Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur daging kuah maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.” (HR. Muslim).

2. Menjenguk Ketika Sakit

Doa Menjenguk Orang Sakit dan Ketahui Adabnya

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad bahwa salah satu adab dalam bertetangga yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ ialah dengan menjenguk ketika sakit. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya, “Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim yang sedang sakit, maka seakan-akan dia berjalan sambil memetik buah-buahan surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.”

3. Saling Menghormati dan Tidak Mengganggu Tetangga

Ancaman Mengganggu Tetangga | Markaz Imam Malik

Saling menghormati dan tidak berlaku zalim kepada tetangga merupakan perbuatan yang terpuji dan tidak sepantasnya dilakukan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis yang artinya,

“Barangsiapa yang pernah menganiaya saudaranya baik yang berhubungan dengan kehormatan diri maupun sesuatu, maka hendaklah ia minta maaf sekarang juga, sebelum datangnya saat di mana dinar dan dirham tidak berguna, di mana bila mempunyai amal shalih, maka amal itu akan diambil sesuai dengan kadar penganiayaannya. Bila ia tidak mempunyai kebaikan, maka kejahatan orang yang dianiayanya itu diambilnya dan dibebankan kepacithiya.” (HR. Imam Bukhari).

Salah satu aktivitas di rumah kita yang mengganggu tetangga, seperti renovasi rumah, suara-suara aktivitas itu pasti akan terdengar dan kemungkinan menganggu ketentraman tetangga kita, maka wajib bagi kita sebelum itu untuk meminta izin sebelum merenov dan memint maf setelahnya. Pun hal yang serupa jika kita melakukan hajatan dan hal lain yang sekiranya bisa mengganggu sesama.

4. Berbuat Baik Kepada Tetangga

Menunaikan Hak Tetangga Sebagian dari Iman, Bagaimana jika Bertetangga  dengan Non Muslim? - Bincang Muslimah

Di antara bentuk berbuat baik kepada tetangga ialah dengan menyapa tetangga dan juga saling bersedekah saling memberi makanan atau menjenguk mereka ketika sakit, memenuhi undangan, serta mendoakannya.

Memuliakan dan menghormati tamu adalah tanda orang yang beriman kepada Allah dan juga Rasulnya. Tetangga adalah pihak yang paling dekat dalam kehidupan kita. Maka dari itu muliakan tetangga serta jagalah hak-haknya serta berbuat baik kepada mereka merupakan suatu kewajiban yang harus kitalakukan.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Tafsir Surah At-Takasur “Bermegah-megahan”

 

Donasiberkah.id- Surat At Takatsur (التكاثر) adalah surat ke-102 dalam Al Quran. Berikut ini terjemahan, asbabun nuzul, dan tafsir Surat At Takatsur.

Surat ini terdiri dari delapan ayat. Para ulama berselisih pendapat masa turunnya, tetapi mayoritas berpendapat surat ini adalah Makkiyah.

Dinamakan surat At Takatsur yang berarti saling bermegah-megahan. Diambil dari ayat pertama dalam surat ini. Juga dinamakan surat Alhaakum yang juga diambil dari ayat pertama dan al Maqrabah yang diambil dari kata al maqaabir pada ayat kedua.

Berikut Surah At-Takasur, beserta arti, asbabun nuzul dan tafsirnya,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu); dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainulyaqin, kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu)”. (QS. At-Takasur 102 : 1-8).

Asbabun Nuzul

4 Kewajiban Manusia kepada Al-Quran (Draft) – Ransel kehidupan

Surat At Takatsur termasuk surat Makkiyah, menurut pendapat mayoritas ulama termasuk Ibnu Katsir. Sebagian pendapat menyebutkan, ia merupakan surat ke-16 yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Yakni setelah Surah al-Kautsar, sebelum Surah Al-Maun.

Ia diturunkan dengan mengecam orang-orang yang saling berlomba untuk bermegah-megahan serta membangga-banggakan harta. Saling berkompetisi dalam gemerlap duniawi. Mereka lalai dengan nikmat akhirat yang abadi.

Asbabun nuzul lain yang juga dicantumkan Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al Munir, bahwa Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah. Dia mengatakan, “Ayat ini turun berkenaan dengan dua kabilah dari kalangan kaum Anshar. Yakni Bani Haritsah dan Bani Harits. Mereka saling berbangga dan memperbanyak harta.

Satu kabilah mengatakan, “Adakah di antara kalian orang seperti fulan bin fulan bin fulan?” Kabilah satunya juga membalas seperti itu. Mereka saling berbangga dengan menyebut orang-orang yang masih hidup.

Kemudian mereka berkata, “Mari ikutlah kami ke kuburan.” Lantas salah satu dari dua kabilah itu mengatakan, “Adakah di antara kalian orang seperti fulan bin fulan bin fulan?” Mereka berkata saling menunjuk-nunjuk kuburan tersebut. Kabilah satunya juga membalas seperti itu. Lalu Allah menurunkan Surat At Takatsur.

Dua Jenis Lubang Kubur - Ustadz Abu Haidar as Sundawy حفظه الله

Riwayat ini juga menjadi hujjah bagi yang berpendapat surat ini Madaniyah. Namun karena riwayat ini dinilai lemah, pendapat itu banyak ditolak.

Tafsir Surat At Takatsur

1,220 Art Deco Building Stock Illustrations, Cliparts and Royalty Free Art  Deco Building Vectors

Tafsir surat At Takatsur ini kami sarikan dari Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Munir dan Tafsir Al Misbah. Ia bukan tafsir baru melainkan ringkasan kompilasi dari tafsir-tafsir tersebut. Juga ditambah dengan referensi lain seperti Awwal Marrah at-Tadabbar al-Qur’an dan Khawatir Qur’aniyah.

Secara umum, surat ini mengecam mereka yang dilengahkan dengan gemerlap duniawi dan kebanggaan akan materi yang fana. Surat ini kemudian mengingatkan tentang kesudahan manusia.

Surat At Takatsur ayat 1

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,”

Kata alhaakum (الهاكم) berasal dari kata lahaa-yalhaa (لها – يلهى) yang artinya menyibukkan diri dengan sesuatu sehingga mengabaikan hal lain yang lebih penting.

Kata at takaatsur (التكاثر) berasal dari kata katsrah (كثرة) yang artinya banyak. Kata at takatsur menunjukkan adanya dua pihak atau lebih yang bersaing, semua memperbanyak. Sehingga yang satu mengaku memiliki lebih banyak dari yang lain.

Golden crown mascot. Vector illustration isolated on white background. Good  for logos, icons, posters, stickers. Stock Vector | Adobe Stock

Hasan Al Basri menafsirkan, bermegah-megahan dan saling berbangga dalam ayat ini adalah dengan harta dan anak-anak.

Sedangkan Syaikh Wahbah Az Zuhaili menafsirkan, kalian disibukkan oleh berbangga-bangga dengan harta, keturunan dan kawan. Sibuk dengan memperbanyak hal itu memalingkan kalian dari beribadah kepada Allah dan beramal untuk akhirat.

Surat At Takatsur ayat 2

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

 

Kata zurtum (زرتم) seakar dengan kata ziyarah (زيارة) yang artinya kunjungan. Memberikan isyarat yang lembut bahwa hingga mati dan dikuburkannya manusia di dunia ini, tetap saja ia hanyalah ziyarah (kunjungan). Kematian bukanlah akhir, justru ia awal dari kehidupan abadi.

Kata al maqabir (المقابر) semakna dengan maqbarah (مقبرة) yang artinya tempat pemakaman. Sebagian ulama berpendapat kata ini dipilih agar terjadi penyesuaian bunyi akhir ayat. Namun pendapat itu tidak memuaskan karena persesuaian juga bisa terjadi jika digunakan kata qubuur (قبور).

Graves Dug in Siberia for War Veterans Who Are Still Alive

Kata al maqabir hanya digunakan sekali di Al Quran. Hanya di ayat ini. Menurut pakar bahasa Mesir, Bint asy Syaathi’, satu tempat pemakaman disebut qabr (قبر). Bentuk jamaknya adalah qubuur (قبور). Bentuk jamak dari sekumpulan qubuur adalah maqbarah (مقبرة). Di sini ada pelipatgandaan beruntun yang menyesuaikan dengan kecaman memperbanyak yang dikandung dalam ayat pertama, at takatsur.

Orang yang dikecam Allah terus sibuk berbangga-bangga dan bermegahan hingga ia mati dan masuk ke kubur. Padahal, harta yang diperbanyak dan dibangga-banggakan itu tidak akan dibawa ke alam kubur. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Mayit akan diikuti tiga hal, dua hal kembali dan satu hal tetap bersamanya. Dia akan diikuti oleh keluarga, harta dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Surat At Takatsur ayat 3

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),”

Setelah mengecam perbuatan itu, Allah mengingatkan agar sekali-kali jangan melakukan perbuatan berbangga-bangga dan saling berlomba memperbanyak harta.

 

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, “Berbangga-bangga dan saling bermegahan itu menyebabkan saling tidak menyapa, hasud, benci, menelantarkan amalan akhirat dan umat serta tidak memperbaiki budi pekerti. Kalian akan mengetahui semua itu kelak pada hari kiamat.”

Surat At Takatsur ayat 4

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

Al Hasan mengatakan bahwa dalam ayat ini terkandung pengertian ancaman sesudah ancaman. Jangan sekali-kali melakukan perbuatan berbangga-bangga dan saling berlomba memperbanyak harta. Sebab kelak kalian akan mengetahu akibatnya.

Baca juga: Ayat Kursi

Surat At Takatsur ayat 5

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

Syaikh Adil Muhammad Khalil dalam Awwal Marrah at Tadabbar al Qur’an menjelaskan, ilmul yaqin adalah Anda mendengar sesuatu tapi tidak melihatnya. Sedangkan ainul yaqin adalah Anda melihat sesuatu dengan mata kepada sendiri.

Ibnu Katsir menjelaskan, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang sebenarnya, niscaya kalian tidak akan terlena dengan memperbanyak harta hingga lupa mencari pahala akhirat. Sampai kalian masuk ke kubur.

Surat At Takatsur ayat 6

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

“niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,”

26,018 Hell Illustrations & Clip Art - iStock

Ibnu Katsir menjelaskan, Allah mengancam mereka dengan keadaan saat ahli neraka melihat neraka. Ketika neraka bergolak dengan sekali golak. Maka menyungkurlah semua malaikat terdekat karena takut menyaksikan peristiwa yang sangat mengerikan itu.

Surat At Takatsur ayat 7

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

“dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.”

Ainul yaqin adalah mengetahui secara yakin. Yakni karena telah melihat dengan mata kepala sendiri. Saat seseorang dimasukkan neraka, saat itu ia benar-benar mengetahui secara yakin bahwa neraka yang selama ini dilalaikannya ternyata ada dan siap membakar mereka.

Gambaran Neraka, Nama-nama, Penghuni, dan Azabnya yang Sangat Mengerikan -  Satria Baja Hitam

Neraka bagi orang-orang kafir adalah tempat tinggal selamanya. Sedangkan bagi mukmin yang masuk ke sana, ia hanya tempat tinggal sementara karena ia pasti akan dimasukkan ke dalam surga.

Surat At Takatsur ayat 8

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Kata latus’alunna (لتسألن) berasal dari kata sa’ala (سأل) yang digandengkan dengan huruf lam sebagai sumpah dan huruf nun sebagai penekanan. Sa’ala sendiri berarti meminta, baik materi maupun informasi.

Bahwa semua manusia nanti di akhirat akan ditanya. Akan dimintai pertanggungjawaban. Atas segala kenikmatan yang terangkum dalam kata an na’iim (النعيم).

Hasan Al Basri berkata, “Dahulu para salafus shalih mengategorikan sarapan pagi seseorang dan makan malamnya sebagai kenikmatan.” Lantas bagaimana dengan kita yang makannya tiga kali, memiliki rumah, kendaraan, gadget dan beragam kenikmatan lainnya?

“Kalian benar-benar akan dimintai pertanggungjawaban di hari itu tentang mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kalian,” kata Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini. “Seperti kesehatan, keamanan, rezeki dan lain sebagainya. Apakah kalian bersyukur dan beribadah kepada-Nya?”

Pengadilan Akhirat, Yaumul Hisab - REG 001.12.LSM.D

Bahkan Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan lebih rinci. “Sungguh kalian akan ditanya tentang nikmat-nikmat itu. Dari mana kalian peroleh? Ke mana kalian belanjakan? Apakah kalian peroleh melalui ketaatan dan kalian gunakan untuk ketaatan? Ataukah kalian peroleh melalui kemaksiatan lalu kalian gunakan untuk kemaksiatan pula? Apakah kalian peroleh secara halal dan kalian gunakan untuk yang halal? Atau kalian peroleh secara haram dan kalian gunakan untuk yang haram? Apakah kalian mensyukurinya?  Apakah kalian tunaikan kewajibannya? Apakah kalian gunakan juga untuk kepentingan masyarakat atau kalian nikmati sendiri?”

Penutup Tafsir Surat At Takatsur

Syaikh Amru Khalid dalam Khawatir Qur’aniyah menegaskan, Surat At Takatsur ini memberikan ancaman kepada setiap orang yang hanya hidup untuk kelezatan dan kesenangan fisik semata. Oleh karena itu jangan menjadi seperti mereka.

Setiap yang kita nikmati adalah nikmat dari Allah yang kelak akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban. Mulai dari kesehatan, waktu, harta hingga anak-anak. Jangan sampai nikmat-nikmat itu justru melalaikan dari akhirat. Melalaikan dari beribadah kepada Allah. Karena jika sampai demikian, nerakalah tempatnya.

Demikian Surat At Takatsur mulai dari terjemahan, asbabun nuzul, hingga tafsir. Semoga kita terhindar dari berbangga-bangga dan bermegah-megahan yang melalaikan dari akhirat dan ketaatan. Wallahu a’lam bish shawab.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Di Balik Amalan yang Sedikit Tetapi Berkelanjutan

Donasiberkah.id- Sahabat dermawan, perlu diketahui bahwa ibadah tidak semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu. Seperti ini bukanlah perilaku yang baik. Para ulama pun sampai mengeluarkan kata-kata pedas terhadap orang yang rajin shalat –misalnya- hanya pada bulan Ramadhan saja. Sedangkan pada bulan-bulan lainnya amalan tersebut ditinggalkan. Para ulama kadang mengatakan,  “Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”. Ibadah bukan hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja. Sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan sepanjang tahun.

Rajin Ibadah Janganlah Sesaat

6 Tips Tetap Istiqomah dalam Beribadah, Salah Satunya adalah dengan  Mengkaji Alquran | merdeka.com

Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan, sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Ramadhan saja.

Begitu pula amalan suri tauladan kita –Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam- adalah amalan yang rutin dan bukan musiman pada waktu atau bulan tertentu. Itulah yang beliau contohkan kepada kita. ’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً

”Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu”.

Tanda Diterimanya Suatu Amalan

Nggak Hanya Wajib, Ini Hukum Ibadah Haji yang Perlu Kamu Tahu

Sahabat, perlulah engkau ketahui bahwa tanda diterimanya suatu amalan adalah apabila amalan tersebut membuahkan amalan ketaatan berikutnya. Di antara bentuknya adalah apabila amalan tersebut dilakukan secara kontinu (rutin). Sebaliknya tanda tertolaknya suatu amalan (alias tidak diterima), apabila amalan tersebut malah membuahkan kejelekan setelah itu. Cobalah kita simak ungkapan para ulama yang mendalam ilmunya mengenai hal ini.

Sebagian ulama salaf mengatakan,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah).

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan membawakan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan, namun malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

Baca Juga : Penyaluran Bantuan Perlengkapan Ibadah untuk Yatim & Dhuafa

Pentingnya Beramal Kontinu (Rutin), Walaupun Sedikit

Istiqomah Adalah Kemampuan untuk Konsisten yang Diganjar Pahala, Yuk  Lakukan! | Orami

Di antara keunggulan suatu amalan dari amalan lainnya adalah amalan yang rutin (kontinu) dilakukan. Amalan yang kontinu –walaupun sedikit- itu akan mengungguli amalan yang tidak rutin –meskipun jumlahnya banyak-. Amalan inilah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. Di antara dasar dari hal ini adalah dalil-dalil berikut.

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783).

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”(HR. Muslim no. 782).

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَطِيعُ

”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”(HR. Muslim no. 783).

Di antaranya lagi Nabi ﷺ contohkan dalam amalan shalat malam. Pada amalan yang satu ini, beliau menganjurkan agar mencoba untuk merutinkannya. Dari ’Aisyah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”(HR. Muslim).

 

Keterangan Ulama Mengenai Amalan yang Kontinu

BAHAYA MEMUSUHI DAN MENYAKITI ULAMA | Mandailing Online

Mengenai hadits-hadits yang kami kemukakan di atas telah dijelaskan maksudnya oleh ahli ilmu sebagai berikut.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, ”Yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam melakukan amalan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun itu sedikit.”

Beliau pun menjelaskan, ”Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang terus menerus dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ’Abdullah bin ’Umar.”(Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84, Asy Syamilah).

Yaitu Ibnu ’Umar dicela karena meninggalkan amalan shalat malam.

Tata Cara Sholat Tahajud dan Witir, Berapa Jumlah Rakaat Sholat Tahajud  Yang Dianjurkan?

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari no. 1152).

Para salaf pun mencontohkan dalam beramal agar bisa dikontinukan.

Al Hasan Al Bashri  mengatakan, ”Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya.”

Beliau rahimahullah juga mengatakan, ”Jika syaithon melihatmu kontinu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan semakin tamak untuk menggodamu.”(Al Mahjah fii Sayrid Duljah, Ibnu Rajab, hal. 71).

Maka dari penjelasan ini menunjukkan dianjurkannya merutinkan amalan yang biasa dilakukan, jangan  sampai ditinggalkan begitu saja dan menunjukkan pula dilarangnya memutuskan suatu amalan meskipun itu amalan yang hukumnya sunnah.

Hikmah Mengapa Mesti Merutinkan Amalan

Pertama, melakukan amalan yang sedikit namun kontinu akan membuat amalan tersebut langgeng, artinya akan terus tetap ada.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun rutin dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala. Amalan sedikit yang rutin dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”[Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 3/133, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah].

Kedua, amalan yang kontinu akan terus mendapat pahala. Berbeda dengan amalan yang dilakukan sesekali saja –meskipun jumlahnya banyak-, maka ganjarannya akan terhenti pada waktu dia beramal. Bayangkan jika amalan tersebut dilakukan terus menerus, maka pahalanya akan terus ada walaupun amalan yang dilakukan sedikit.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, ”Sesungguhnya seorang hamba hanyalah akan diberi balasan sesuai amalan yang ia lakukan. Barangsiapa meninggalkan suatu amalan -bukan karena udzur syar’i seperti sakit, bersafar, atau dalam keadaan lemah di usia senja-, maka akan terputus darinya pahala dan ganjaran jika ia meninggalkan amalan tersebut.”

Namun perlu diketahui bahwa apabila seseorang meninggalkan amalan sholih yang biasa dia rutinkan karena alasan sakit, sudah tidak mampu lagi melakukannya, dalam keadaan bersafar atau udzur syar’i lainnya, maka dia akan tetap memperoleh ganjarannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.”(HR. Bukhari no. 2996).

Ketiga, amalan yang sedikit tetapi kontinu akan mencegah masuknya virus ”futur” (jenuh untuk beramal). Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya jika seseorang beramal sedikit namun ajeg (terus menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk beramal yang penting kontinu walaupun jumlahnya sedikit. Kadang kita memang mengalami masa semangat dan kadang pula futur (malas) beramal. Sehingga agar amalan kita terus menerus ada pada masa-masa tersebut, maka dianjurkanlah kita beramal yang rutin walaupun itu sedikit.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

وَلِكُلِّ عَمِلٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ يَكُنْ فَتْرَتُهُ إِلَى السُّنَّةِ ، فَقَدِ اهْتَدَى ، وَمَنْ يَكُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ ، فَقَدْ ضَلَّ

”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.”(HR. Thobroni).

Apabila seorang hamba berhenti dari amalan rutinnya, malaikat pun akan berhenti membangunkan baginya bangunan di surga disebabkan amalan yang cuma sesaat.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Sesungguhnya bangunan di surga dibangun oleh para Malaikat disebabkan amalan dzikir yang terus dilakukan. Apabila seorang hamba mengalami rasa jenuh untuk berdzikir, maka malaikat pun akan berhenti dari pekerjaannya tadi. Lantas malaikat pun mengatakan, ”Apa yang terjadi padamu, wahai fulan?” Sebab malaikat bisa menghentikan pekerjaan mereka karena orang yang berdzikir tadi mengalami kefuturan (kemalasan) dalam beramal.”

Oleh karena itu, ingatlah perkataan Ibnu Rajab Al Hambali, ”Sesungguhnya Allah lebih mencintai amalan yang dilakukan secara kontinu (terus menerus). Allah akan memberi ganjaran pada amalan yang dilakukan secara kontinu berbeda halnya dengan orang yang melakukan amalan sesekali saja.”[Fathul Bari].

Apakah Kontinuitas Perlu Ada dalam Setiap Amalan?

7 Inovasi Teknologi Ini Dapat Mempermudah Ibadah Umat Islam, Kreatif!

Syaikh Ibrahim Ar Ruhailiy hafizhohullah mengatakan, ”Tidak semua amalan mesti dilakukan secara rutin, perlu kiranya kita melihat pada ajaran dan petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam hal ini.”[Tajridul Ittiba’].

Untuk mengetahui manakah amalan yang mesti dirutinkan, dapat kita lihat pada tiga jenis amalan berikut.

Pertama, amalan yang bisa dirutinkan ketika mukim (tidak bepergian) dan ketika bersafar.

Contohnya adalah puasa pada ayyamul biid (13, 14, 15 H), shalat sunnah qobliyah shubuh (shalat sunnah fajar), shalat malam (tahajud), dan shalat witir. Amalan-amalan seperti ini tidaklah ditinggalkan meskipun dalam keadaan bersafar.

Hukum Puasa bagi Ibu Menyusui dalam Islam | Popmama.com

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berpuasa pada ayyamul biid (13, 14, 15 H) baik dalam keadaan mukim (tidak bersafar) maupun dalam keadaan bersafar.”[Diriwayatkan oleh An-Nasa-i].

Ibnul Qayyim mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqoshor shalat fardhu dan tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.”[Zaadul Ma’ad].

Ibnul Qayyim juga mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan qiyamul lail (shalat malam) baik ketika mukim maupun ketika bersafar.”[Zaadul Ma’ad]

Kedua, amalan yang dirutinkan ketika mukim (tidak bepergian), bukan ketika safar.

Melaksanakan Ibadah Shalat Sunnah Secara Bersamaan Dengan Dua Niat Berbeda  - Wahdah Islamiyah

Contohnya adalah shalat sunnah rawatib selain shalat sunnah qobliyah shubuh sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim pada perkataan yang telah lewat.

Ketiga, amalan yang kadang dikerjakan pada suatu waktu dan kadang pula ditinggalkan.

Contohnya adalah puasa selain hari Senin dan Kamis. Puasa pada selain dua hari tadi boleh dilakukan kadang-kadang, misalnya saja berpuasa pada hari selasa atau rabu.

Initinya, tidak semua amalan mesti dilakukan secara rutin, itu semua melihat pada ajaran dan petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam.

Penutup

Ketika ajal menjemput, barulah amalan seseorang berakhir.Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

”Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).

Ibnu ’Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa ”al yaqin” adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan, makna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah selamanya, sepanjang hidup.

Ibadah seharusnya tidak ditinggalkan ketika dalam keadaan lapang karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعَرَّفْ إِلَي اللهِ فِى الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِى الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalimu ketika susah.” (HR. Hakim).

Semoga Allah menganugerahi kita amalan-amalan yang selalu dicintai oleh-Nya. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya setiap kebaikan menjadi sempurna.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Manfaat Istighfar Apabila Dilakukan Setiap Hari

Donasiberkah.id- Dalam kehidupan seorang Muslim, yang terpenting adalah mendapatkan keridhaan Allah. Di antara hal-hal yang menghentikan kita dari mendapatkan keridhaan Allah adalah dosa. Dan di situlah fungsi istighfar.

Istighfar (atau mencari pengampunan), adalah hadiah bagi kita sebagai Muslim. Ini adalah cara kita untuk kembali kepada Allah setiap kali kita melangkah keluar dari batasan yang telah Dia tetapkan bagi kita.

Istighfar (Astaghfirullah) adalah pintu gerbang kelegaan dan kebahagiaan. Setiap kali Anda dalam kesulitan mulai membacanya dan Insya Allah itu akan membawa Anda keluar dari kecemasan Anda dan akan menempatkan Anda dalam situasi damai dan akan memberi Anda kebahagiaan.

Membawa Kita Lebih Dekat dengan Allah ta’ala

Kisah Pemuda Ahli Ibadah yang Bertaubat dari Godaan Zina

Rasa takut dan malu yang kita rasakan setiap kali kita melakukan dosa adalah hal yang baik. Ini adalah tanda bahwa Anda sadar akan Allah (ta’ala) meskipun Anda telah berbuat salah.

Sering kali, ketika perasaan ini menyertai dosa, itu bisa mendorong kita untuk mencari pengampunan. Anda merasa sangat buruk dengan apa pun yang telah Anda lakukan sehingga Anda mengarahkan wajah Anda kepada Allah (ta’ala) dan meminta Dia untuk memaafkan Anda.

Baca Juga : Mengenal Istidraj

Proses meminta pengampunan adalah apa yang membawa Anda lebih dekat kepada Allah (ta’ala). Ini membantu Anda untuk mengenali Supremasi-Nya dan Anda merasa perlu untuk mencari pengampunan-Nya.

Sering kali, orang juga mendapatkan dorongan untuk melakukan perbuatan baik setelah mereka melakukan sesuatu yang buruk. Ini membantu untuk membawa Anda lebih dekat kepada Allah (ta’ala).

Dengan Istighfar, ada kemungkinan Anda akan merasa lebih baik. Ada kemungkinan bahwa setelah meminta pengampunan, setidaknya Anda sudah berusaha untuk memperbaiki kesalahan Anda pada Allah (ta’ala).

Sering Mengucap Istighfar, Akan Membuka Pintu Rezeki •

Diketahui bahwa Rasulullah ﷺ sering mengucapkan Istighfar. Dia meminta maaf setidaknya tujuh puluh kali sehari.

Bagi kita semua, ini adalah model perilaku dan inilah doa yang dapat kita jadikan bagian dari hidup kita.

‘Abdullah bin’ Amr meriwayatkan dari Abu Bakar As-Siddiq bahwa ia berkata:

“Wahai Rasulullah, ajari aku permohonan yang bisa saya doakan dalam Shalat.” Dia Muhammad ﷺ berkata: 

“Katakan: ‘Ya Allah, aku telah banyak berbuat salah pada diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Jadi maafkan aku dengan pengampunan dari-Mu, dan kasihanilah aku, sesungguhnya, Engkaulah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Allāhumma innī ẓalamtu nafsī ẓulman kathīran wa lā yaghfirudh-dhunūba illā anta faghfirlī maghfiratan min ‘indika warḥam-ra m rāmḥ ra.)”

“Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul-‘afwa, fa’fu’ anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau mencintai pengampunan; jadi maafkan aku).” ( Riyad us-Saliheen )

Rukun Sholat dan Hukumnya dalam Sholat Fardhu

Ada banyak doa yang bisa kita buat untuk meminta pengampunan, bahkan sesuatu yang ringan di lidah seperti mengatakan “astaghfiruLlah” adalah cara yang bagus untuk mencari pengampunan.

Yang paling penting adalah bahwa sebagai Muslim, kita mengerti bahwa kita mungkin berdosa dan bahwa kita telah diberikan karunia Istighfar sebagai cara untuk kembali kepada Tuhan kita.

Tidak Menenggelamkan Kita dalam Dosa

Siluet orang yang setengah tenggelam dalam air poster digital, ruang,  sungai, Wallpaper HD | Wallpaperbetter

Dosa menggerogoti perbuatan baik kita, dan semakin berat mereka pada skala perbuatan kita, semakin tinggi peluang seseorang untuk dihukum di akhirat.

Menambah Kekuatan Kita

40 Kata-Kata Keren yang Menginspirasi Hidup, Sumber Suntikan Semangat -  Ragam Bola.com

Al-Qur’an mengatakan, “ . . . meminta pengampunan Rabbmu dan kemudian bertobat kepada-Nya. Dia akan mengirim [hujan dari] langit ke atasmu saat hujan dan menambah kekuatanmu [menambahkan] pada kekuatanmu. ” (QS. Hud 11 ayat: 52).

Mendapatkan Kebahagiaan dan Limpahan Rezeki

Menciptakan Kebahagiaan dari Hal Sederhana Halaman 2 - Kompasiana.com

Muslim yang selalu melakukan Istighfar akan bahagia dalam hidupnya karena ada kesenangan dan rizq yang akan datang kepadanya.

Hidup akan menjadi lebih mudah dan dia akan menyambut setiap hari dengan kebahagiaan. Istighfar membuka pintu rezeki. Nabi ﷺ bersabda,

“Siapa pun yang selalu dalam keadaan bertobat, maka Allah akan memberikan sukacita kesedihan, dan kelapangan kesempitannya dan memberinya rizq dari arah yang tidak terduga.” (Ibnu Majah).

Bagian dari apa yang membalikkan keseimbangan ini dalam skala adalah pertobatan yang tulus kepada Allah (ta’ala). Itu adalah pengakuan atas kesalahan kita dan janji yang tulus untuk berusaha menjauhi dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah, Yang Mahabesar, telah berkata: ‘Wahai putra Adam, aku memaafkanmu selama kamu berdoa kepada-Ku dan berharap untuk pengampunan-Ku, dosa apa pun yang telah kamu lakukan. Wahai putra Adam, aku tidak peduli jika dosamu mencapai puncak langit, maka kamu memohon pengampunanku, aku akan memaafkanmu.” ( Tirmidzi ).

Seringkali, Shaytaan mencoba meyakinkan kita bahwa dosa kita begitu besar sehingga tidak bisa diampuni. Jadi, dia akan mencoba membuat Anda tenggelam dalam dosa.

Jangan jatuh untuk ini. Ingat bahwa yang harus Anda lakukan adalah dengan tulus melakukan istighfar dan jika Allah menghendaki, Anda akan bebas dari dosa.

 

Nabi ﷺ berkata: ” Kabar gembira kepada mereka yang menemukan banyak mencari pengampunan dalam catatan perbuatan mereka.” ( Sunan Ibn Majah ).

COVID-19 Pandemic: 6 Long-Term Lessons - IslamiCity

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

“maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Rabbmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. Nuh 71 Ayat: 10-12).

 

Diberikan Solusi dari Segala Permasalahan

Wall mural Cave, light and sky Nr.nus_10574, wallpapers digital printing -  Uwalls.com

Setiap manusia pasti akan dihinggapi dengan rentetan masalah dan ujian, mulai dari masalah kegalauan, kesedihan, peliknya problematika hidup, himpitan ekonomi, tenang, kamu tda sendiri, bahkan penulis pun tak luput dari masalah-masalah di atas.

Namun ternyata solusinya begitu mudah dan ringan yang ditawarkan oleh Rasulullah ﷺ, dengan beristighfar, bertaubat dan kembali kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad).

Yakinlah dari setiap masalah yang kita hadapi terasa begitu besar, akan tetapi bagi Allah masalah kita itu seperti butiran pasir, sangat mudah bagi Allah untuk melerai masalah pada hambaNya. Allah Mahabesar, dan masalah kita begitu kecil, kembalilah kepada yang Mahabesar, maka masalah-masalahmu, akan dibantu dengan kebesaranNya. Mari perbanyak beristighfar.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Pengertian Serakah & Kikir  dan Cara Menghindarinya

Donasiberkah.id- Di antara akhlak tercela yang harus dihindari umat Islam adalah sifat serakah dan kikir. Jika serakah adalah keinginan untuk menimbun harta, maka sifat kikir adalah enggan mengeluarkan harta tersebut untuk disedekahkan.

Dalam Islam, perkara harta adalah urusan muamalah dengan lingkungan sekitar. Jika seorang muslim memiliki harta berlebih, maka pada harta itu, ada sebagian hak para fakir dan miskin.

Karena itulah, Allah SWT memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat, sedekah, infak, dan lain sebagainya. Salah satu tujuan perintah tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran sosial orang Islam untuk saling tolong menolong, menghindari sifat serakah, kikir, dan bakhil. Selain itu, jika harta ditahan dan tidak dikeluarkan, maka harta itulah yang akan menjadi sebab dari azab Allah SWT di akhirat.

Mari Giat Berbagi Antar Sesama - Kompasiana.com

 Hal ini tergambar dalam firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 180: 

“Janganlah sekali-kali orang-orang menjadi kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya. Mereka mengira bahwa [kikir] itu baik bagi mereka, padahal [kikir] itu buruk bagi mereka. Maka [harta] yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan [di leher] pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan [apa yang ada] di langit dan di bumi. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan,” (QS. Ali Imran [3]: 180). 

Apa pengertian sifat serakah dan kikir dalam Islam, serta bagaimana cara menghindarinya?.

Berikut ini penjelasan mengenai definisi dan cara menghindari dua akhlak tercela tersebut, sebagaimana dikutip dari buku Akidah Akhlak (2020) yang ditulis oleh Mahdum. 

Pengertian Sifat Serakah

See the source image

Serakah adalah keinginan mempunyai harta secara berlebihan. Orang yang serakah tidak pernah puas, merasa kurang, dan ingin menguasai sesuatu lebih dari yang ia miliki. Sifat serakah adalah bagian dari tabiat mendasar manusia yang harus ditekan.

Hal ini digambarkan oleh Rasulullah sebagai berikut: “Jika anak Adam itu diberikan satu lembah emas, dia akan mencari yang kedua, dan jika dia diberikan yang kedua niscaya dia akan mencari lembah ketiga, dan tidak ada yang menutupi mulut anak Adam melainkan tanah, dan Allah Subhanahu Wa ta’ala akan menerima taubat siapa saja yang bertaubat,” (HR.Bukhari dan Muslim).

See the source image

Orang yang serakah tidak pernah merasa cukup dengan harta yang dimilikinya, rakus terhadap harta, dan menginginkan kekayaan berlebihan. Selain itu, orang serakah juga lebih mementingkan kepentingan pribadi, kalau perlu mengorbankan kepentingan orang lain. Cara Menghindari Sifat Serakah Jika seorang muslim ingin menghindari sifat serakah, ia harus menanamkan sikap kanaah, yaitu merasa cukup atas karunia dan kenikmatan Allah SWT. 

Selain itu, Islam menganjurkan hidup sederhana. Artinya, tidak berlebihan dan menjauhi hidup bermewah-mewahan. Islam juga mengimbau umatnya agar tidak boros, apalagi menghabiskan harta untuk perkara sia-sia. Dengan menyadari bahwa harta yang ia miliki merupakan amanah Allah, maka seorang muslim semestinya sudah terlepas dari sifat serakah.

Di akhirat, harta yang diamanahi itu akan diminta pertanggungjawabannya di sisi Allah SWT. Untuk menghindari sifat serakah, seorang muslim mesti mengingat ancaman dan azab Allah terhadap orang-orang serakah.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Humazah: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah [neraka],” (QS. Al-Humazah [104]: 1-4).

Baca Juga : Zakat dan Kesehatan Jiwa 

Pengertian Sifat Kikir 

See the source image

Sebagaimana serakah yang merupakan tabiat dasar manusia, demikian juga sifat kikir. Sifat kikir dan bakhil adalah keengganan mengeluarkan harta yang seharusnya disedekahkan. Sifat ini merupakan akhlak tercela yang harus dihindari dalam Islam.

Secara implisit, sifat kikir ini merupakan bentuk perebutan harta orang lain. Bagaimanapun juga, terdapat hak fakir dan miskin pada sebagian harta orang-orang berlebih. Hak-hak itulah yang harus dikeluarkan dalam bentuk zakat, sedekah, infak, hibah, dan lain sebagainya. 

Orang yang kikir diancam Allah SWT dalam Al-Quran Surah Al-Lail sebagai berikut:

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, mereka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa,”

(QS. Al-Lail [92]: 8-11)

Cara Menghindari Sifat Kikir Orang Islam yang ingin menghindari sifat kikir harus menyadari bahwa harta kekayaan adalah anugerah dari Allah SWT. Karena itulah, jika Allah memerintahkan untuk mengeluarkan zakat atau sedekah, maka ia mesti taat pada perintah Allah tersebut. Selain itu, harta kekayaan tidaklah kekal, serta tidak dibawa mati.

Seorang muslim mesti mengetahui bahwasanya Allah SWT malah mengancam orang yang kikir. Harta yang ia sayangi dan pertahankan di dunia akan menjadi belenggu di akhirat nantinya. Artinya, jika tidak dikeluarkan zakat dan sedekahnya, maka harta itulah yang akan menghalanginya masuk surga.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Empat Jenis Pernikahan Zaman Arab Jahiliyah

Donasiberkah.id- Islam hadir untuk menyempurnakan ajaran-ajaran umat sebelumnya sekaligus menghapus tradisi-tradisi buruk mereka. Salah satunya tradisi buruk dalam pernikahan masyarakat jahiliyah.

Lalu seperti apakah tradisi dan praktik pernikahan di zaman arab jahiliyah jelang Nabi Muhammad diutus?. 

Dalam al-Hawi al-Kabir, al-Mawardi menuturkan, ada empat bentuk pernikahan pada zaman arab jahiliyah yakni:

(1) pernikahan al-wilâdah, (2) pernikahan al-istibdhâ‘, (3) pernikahan al-rahth, dan (4) pernikahan al-râyah (sumber: al-Mawardi, al-Hâwî al-Kabîr, jilid 9, hal. 6). Keempat jenis pernikahan ini berdasarkan hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahîh-nya.

 أَنَّ النِّكَاحَ فِي الجَاهِلِيَّةِ كَانَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْحَاءٍ: فَنِكَاحٌ مِنْهَا نِكَاحُ النَّاسِ اليَوْمَ 

Artinya, “Sesungguhnya pernikahan pada zaman jahiliyah ada empat bentuk. Satu bentuk di antaranya adalah pernikahan seperti orang-orang sekarang,” (HR al-Bukhari). 

1. Pernikahan al-wilâdah

Apakah Sifat Pasangan Dapat Berubah Setelah Menikah?

Pernikahan al-wilâdah merupakan pernikahan di mana seorang laki-laki atau seorang pemuda datang kepada orangtua sang gadis untuk melamarnya. Kemudian ia menikahinya disertai dengan maharnya. Ini merupakan pernikahan yang dibenarkan karena bertujuan untuk mendapatkan keturunan.

Dan pernikahan ini pula yang pernah disebutkan Rasulullah dalam salah satu haditsnya, “Aku dilahirkan dari sebuah pernikahan (yang dibenarkan), bukan dari perzinaan.” 

Karena memang Allah senantiasa mengantarkan bakal nabi-Nya dari tulang rusuk yang cerdas kepada rahim yang bersih (lihat: al-Mawardi, al-Hâwî al-Kabîr, jilid 9, hal. 6). 

2. Pernikahan al-istibdhâ‘ 

blognya Aa Gus: Arab Pra Islam

Dalam pernikahan ini, seorang suami meminta istrinya pergi kepada laki-laki terpandang

“Pergilah kepada si Fulan, kemudian mintalah untuk digaulinya”, 

Setelah itu, si suami menjauhinya dan tidak menyentuhnya lagi hingga terlihat hamil oleh laki-laki tersebut. Hal itu dilakukan semata karena menginginkan keturunan yang bagus dan cerdas.

3. Pernikahan al-rahth

Bangsa Arab Sebelum (Pra) Islam - Blog Aang

Dalam pernikahan ini, sekelompok laki-laki kurang dari sepuluh orang, bersama-sama menikahi satu orang perempuan dan mencampurinya. Setelah hamil dan melahirkan, si perempuan mengirim utusan kepada mereka. Tak ada satu pun di antara mereka yang boleh menolak datang dan berkumpul.

Baca Juga : Hakikat Kejahiliyahan Bangsa Arab Yang Cerdas

Di hadapan mereka, si perempuan mengatakan, “Kalian tahu apa yang terjadi di antara kalian denganku. Kini aku telah melahirkan. Dan ini adalah anakmu, hai fulan (sambil menyebut namanya).” Si perempuan menasabkan anaknya kepada seorang laki-laki dan laki-laki itu tidak bisa menolaknya.

4. Pernikahan al-râyah

Red Flags Pictures | Download Free Images on Unsplash

Dalam pernikahan ini, sejumlah laki-laki datang ke tempat para perempuan sundal. Sebagai tandanya, perempuan-perempuan itu menancapkan bendera (al-râyah) di depan pintu rumah mereka sehingga, siapa pun laki-laki yang melintas dan menginginkannya, tinggal masuk ke dalam rumah.

Jika salah seorang perempuan itu hamil dan melahirkan, para laki-laki tadi akan dikumpulkan. Mereka akan membiarkan seorang qa’if, seorang yang pandai mengamati tanda-tanda anak (dari turunan siapa).

Setelah itu, sang qa’if akan menasabkan anak tersebut kepada seorang laki-laki yang juga disetujui si perempuan. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bisa menolak anak tersebut.

Pemerintah Saudi hidupkan tradisi Arab kuno melalui Souq Okaz Festival -  ANTARA News

Di penghujung hadits itu, ‘Aisyah menyatakan:

 فَلَمَّا بُعِثَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالحَقِّ، هَدَمَ نِكَاحَ الجَاهِلِيَّةِ كُلَّهُ إِلَّا نِكَاحَ النَّاسِ اليَوْمَ 

Artinya, “Ketika diutus membawa kebenaran, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membatalkan semua pernikahan jahiliyah itu kecuali pernikahan seperti yang dilakukan orang-orang sekarang.”

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

English EN Indonesian ID