Griya Yatim & Dhuafa

English EN Indonesian ID

Saat Utsman bin Affan Membeli ‘Sumur Yahudi’ untuk Umat Islam

Donasiberkah.id- Utsman bin Affan ra. adalah salah satu sahabat Nabi yang kaya dan juga dermawan. Ia banyak menyumbangkan harta bendanya untuk tegaknya panji-panji Islam. misalnya pada saat Perang Tabuk melawan Romawi, Ustman menyediakan 300 ekor unta dan 1000 dinar dari kantong pribadinya untuk bekal perang.

Pun untuk kemaslahatan umat Islam. Utsman ra. juga tidak segan mengeluarkan hartanya untuk kebaikan umat Islam. Banyak cerita tentang hal ini. Salah satunya adalah ketika Utsman bin Affan ra. membeli sebuah sumur milik orang Yahudi di Madinah untuk umat Islam.

Dalam buku Usman bin Affan (Muhammad Husein Haikal, 2002), pada saat itu di Madinah hanya ada satu sumur yang mengeluarkan air. Dan sumur tersebut dimiliki seorang Yahudi. Seorang Yahudi tersebut menjual airnya kepada umat Islam dengan harga yang cukup tinggi. Tentu saja umat Islam menjadi resah dengan persoalan ini.

Baca Juga:  Ketika Rasulullah Berkisah Bertaubatnya Seorang Pembunuh

Kabar ini akhirnya sampai kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah lantas menyeru kepada para sahabatnya untuk menyelesaikan persoalan air dan sumur tersebut. Beliau menjanjikan siapapun yang  membeli sumur miliki Yahudi itu dan mewakafkannya untuk umat Islam, maka kelak ia akan mendapatkan minuman di surga, sebanyak air dalam sumur tersebut.

JASA SUMUR GALI JOGJA TERBAIK & TERPERCAYA - PENGEBORAN JOGJA

Utsman bin Affan ra. langsung mendatangi seorang Yahudi pemilik sumur tersebut usai mendengar seruan Rasulullah itu. Ia langsung mendatangi orang Yahudi pemilik sumur dan bernegosiasi dengannya. Setelah terjadi diskusi yang alot, Yahudi masih bersi keras untuk mempertahankan sumur itu, karena dengan sumur itu dia bisa memonopoli suplai air dan bisa meraih uang yang banyak dari penjualan air sumur kepada umat muslim.

 

Namun dengan cerdik Utsman membeli sumurnya dengan setengah kepemilikan, maksudnya kepemilikan sumur bergantian; sehari miliki Utsman ra. sehingga umat Islam bebas mengambil air pada hari itu, sementara hari berikutnya untuk Yahudi itu. Pihak Yahudi bersedia menjual sumurnya dengan harga 12.000 dirham.

Dan begitu dengan hari-hari selanjutnya.  Kondisi seperti itu berjalan beberapa saat. Hingga akhirnya seorang Yahudi pemilik sumur tersebut menawarkan kepada Utsman ra. untuk membeli secara penuh. Kenapa?.

Ini yang dimaksud kecerdikan Utsman ra. Di awal, saat hari dimana sumur adalah milik Utsman, Utsman menyeru kepada seluruh umat Muslim untuk mengambil air sebanyak-banyaknya bahkan kalau bisa menyetok untuk hari esok.

Dan betul saja, keesokan harinya saat sumur milik Yahudi, tidak ada satupun umat Muslim yang membeli air sumurnya sebagaimana biasanya. 

Orang Yahudi itu pun menawari Utsman 8.000 dirham untuk membeli kepemilikan sumur sepenuhnya. Dengan demikian, sumur sudah dimiliki Utsman ra. secara penuh. Sumur ini lantas diwakafkan sehingga umat Islam bebas mengambil air kapan pun mereka butuh.

Di Balik Pasar Muamalah Depok yang Jual-Beli dengan Dinar & Dirham

Sumur tersebut dikenal dengan nama sumur Raumah. Sampai hari ini, sumur wakaf Utsman ra. itu masih mengalir. Dan itu menjadi satu-satunya sumur pada zaman Rasulullah yang masih mengeluarkan air hingga hari ini, selain sumur zamzam tentunya. Kini, sumur Raumah dimanfaatkan Kementerian dimanfaatkan oleh Kementerian Arab Saudi untuk mengairi perkebunan dan ladang kurma yang ada di sekitarnya.

Sumur Yahudi Yang Dibeli Utsman Bin Affan - Islampos

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Ketika Rasulullah ﷺ Umrah Dan Si Badui Yang Menghisab Allah

 

Donsiberkah.id- Seorang lelaki Badui telah memeluk Islam, tetapi karena keadaan ekonominya yang terbatas dan tempat tinggalnya yang sangat jauh dari Madinah, ia belum pernah menghadap dan bertemu langsung dengan Nabi ﷺ. Ia hanya berbai’at memeluk Islam dan belajar tentang peribadatan dari para pemuka kabilahnya yang pernah mendapat pengajaran Nabi ﷺ. Tetapi dengan segala keterbatasannya itu, ia mampu menjadi seorang mukmin yang sebenarnya, bahkan sangat mencintai Rasulullah ﷺ. 

the mosque in the world: Gallery Foto Masjidil Haram Jaman Dulu Biaya Umroh Travel Umroh

Suatu ketika ia mengikuti rombongan kabilahnya melaksanakan ibadah umrah ke Makkah. Sambil thawaf sendirian, terpisah dari orang-orang lainnya, si badui ini selalu berdzikir berulang-ulang dengan asma Allah, “Ya Kariim, ya Kariim…..”

 

Ia memang bukan orang yang cerdas, sehingga tidak mampu menghafal dengan tepat doa atau dzikir yang idealnya dibaca ketika thawaf, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ, Karena itu ia hanya membaca berulang-ulang asma Allah yang satu itu. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengikuti berjalan di belakangnya sambil mengucap juga, “Ya Kariim, ya Kariim!”.

Baca Juga: Biografi Khadijah Binti Khuwailid Wanita Pertama dalam Islam

Si Badui ini berpindah dan menjauh dari tempat dan orang tersebut sambil meneruskan dzikirnya, karena ia menyangka lelaki yang mengikutinya itu hanya memperolok dirinya. Tetapi kemanapun ia berpindah dan menjauh, lelaki itu tetap mengikutinya dan mengucapkan dzikir yang sama. Akhirnya si Badui berpaling menghadapi lelaki itu dan berkata,

“Wahai orang yang berwajah cerah dan berbadan indah, apakah anda memperolok-olokkan aku? Demi Allah, kalau tidak karena wajahmu yang cerah dan badanmu yang indah, tentu aku sudah mengadukan kamu kepada kekasihku…”.

Jual Lukisan Kabah - Kab. Bandung - Indoakart art shop | Tokopedia

Lelaki itu berkata, “Siapakah kekasihmu itu?”

Si Badui berkata, “Nabiku, Muhammad Rasulullah ﷺ !”

Lelaki itu tampak tersenyum mendengar penuturannya, kemudian berkata, 

“Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, wahai saudaraku Badui?”

“Belum..!!” Kata si Badui.

Lelaki itu berkata lagi, “Bagaimana mungkin engkau mencintainya jika engkau belum mengenalnya? Bagaimana pula dengan keimananmu kepadanya?”

Si Badui berkata, “Aku beriman atas kenabiannya walau aku belum pernah melihatnya, aku membenarkan kerasulannya walau aku belum pernah bertemu dengannya !”

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum dan berkata, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat !”

Inspirasi! Setelah Bermimpi Bertemu Nabi Muhammad SAW, Pria Yahudi Ini Masuk Islam | Paragram.id

Memang, lelaki yang mengikuti si Badui itu tidak lain adalah Rasulullah ﷺ, yang juga sedang beribadah umrah. Sengaja beliau mengikuti perilaku si Badui karena beliau melihatnya begitu polos dan ‘unik’, menyendiri dari orang-orang lainnya, tetapi tampak jelas begitu khusyu’ menghadap Allah dalam thawafnya itu.

Si Badui tersebut memandang Nabi ﷺ seakan tak percaya, matanya berkaca-kaca. Ia mendekat kepada beliau sambil merendah dan akan mencium tangan beliau. Tetapi Nabi ﷺ memegang pundaknya dan berkata, 

“Wahai saudaraku, jangan perlakukan aku sebagaimana orang-orang asing memperlakukan raja-rajanya, karena sesungguhnya Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dia mengutusku dengan kebenaran, sebagai pemberi kabar gembira (yakni akan kenikmatan di surga) dan pemberi peringatan (akan pedihnya siksa api neraka) …”

9,000+ Free Water Drops & Water Images

Si Badui masih berdiri termangu, tetapi jelas tampak kegembiraan di matanya karena bertemu dengan Nabi ﷺ. Tiba-tiba Malaikat Jibril turun kepada Nabi ﷺ, menyampaikan salam dan penghormatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada beliau, dan Allah memerintahkan beliau menyampaikan beberapa kalimat kepada orang Badui tersebut, yakni :

“Hai Badui, sesungguhnya Kelembutan dan Kemuliaan Allah (yakni makna asma Allah : Al Karim) bisa memperdayakan, dan Allah akan menghisab (memperhitungkan)-nya dalam segala hal, yang sedikit ataupun yang banyak, yang besar ataupun yang kecil…..”

Portrait of an Arab Man Weekender Tote Bag for Sale by Horace Vernet

Nabi ﷺ menyampaikan kalimat dari Allah tersebut kepada si Badui, dan si Badui berkata, “Apakah Allah akan menghisabku, ya Rasulullah??”

“Benar, Dia akan menghisabmu jika Dia menghendaki…” Kata Nabi ﷺ.

Tiba-tiba si Badui mengucapkan sesuatu yang tidak disangka-sangka,

“Demi Kebesaran dan Keagungan-Nya, jika Dia menghisabku, aku juga akan menghisab-Nya….!”.

Sekali lagi Nabi ﷺ tersenyum mendengar pernyataan si badui, dan bersabda, “Dalam hal apa engkau akan menghisab Tuhanmu, wahai saudaraku Badui?”

Si Badui berkata, “Jika Rabbku menghisabku atas dosaku, aku akan menghisab-Nya dengan maghfirah-Nya, jika Dia menghisabku atas kemaksiatanku, aku akan menghisab-Nya dengan Afwan (pemaafan)-Nya, dan jika Dia menghisabku atas kekikiranku, aku akan menghisab-Nya dengan kedermawanan-Nya….”

Nabi ﷺ sangat terharu dengan jawaban si Badui itu sampai memangis meneteskan air mata yang membasahi jenggot beliau. Jawaban sederhana, tetapi mencerminkan betapa “akrabnya” si Badui tersebut dengan Tuhannya, betapa tinggi tingkat ma’rifatnya kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapat didikan langsung dari Nabi ﷺ. Sekali lagi Malaikat Jibril A.S turun kepada Nabi ﷺ dan berkata, 

95+ Kaligrafi Allah dan Muhammad dengan Gambar dan Tulisan Arab yang Indah, Hitam Putih, Menyala

“Wahai Muhammad, Rabbmu, Allah As-Salam mengirim salam kepadamu dan berfirman : Kurangilah tangismu, karena hal itu melalaikan malaikat-malaikat pemikul Arsy menjadi lalai dalam tasbihnya. Katakan kepada saudaramu, si Badui, ia tidak usah menghisab Kami dan Kami tidak akan menghisab dirinya, karena ia adalah (salah satu) pendampingmu kelak di surga !”.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat di link kebaikan di bawah ini:

 Ketika Rasulullah Berkisah Bertaubatnya Seorang Pembunuh

Donasiberkah.id- Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang cukup panjang. Isinya menceritakan kisah seorang pembunuh berdarah dingin. 

Nabi Muhammad bersabda, “Di antara (umat) sebelum kalian, terdapat seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang.”

Pemancungan - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Suatu ketika, terbersit di hati pria tersebut akan azab Sang Pencipta. Dia berpikir, alangkah baiknya bila dia memohon ampunan-Nya sebelum ajal tiba. Namun, apakah taubat orang yang telah membunuh puluhan nyawa tak bersalah akan diterima?.

Baca Juga: Kisah di Qishasnya Nabi ﷺ oleh ‘Ukasyah r.a.

Pertanyaan itu sungguh-sungguh membebaninya. “Dia kemudian menanyakan kepada orang-orang tentang siapa (di antara mereka) yang paling berilmu. Kemudian, dia diarahkan kepada seorang rahib. Dia pun mendatangi (rumah) rahib itu, untuk kemudian bertanya kepadanya. Dia telah membunuh 99 orang, apakah masih terbuka (pintu) taubat baginya?.

Rahib itu pun menjawab, “Tidak ada.” Seketika, pria itu membunuh rahib tersebut, sehingga genap jumlah korbannya seratus orang,” sabda Nabi .

Kisah Teladan (2) Rahib yang Mengguncang Arsy Karena Siksa Raja - Beta News

Kisahnya tidak berhenti sampai di situ. Sang pembunuh lantas menemui tokoh lain. Kali ini, dia diterima serorang alim ulama. Setelah menceritakan keadaannya, dia pun bertanya, apakah masih tersedia taubat baginya?

“Orang alim itu menjawab, ‘Ya. Siapa pula yang menghalang-halangi untuk bertaubat!? Pergilah dari kota ini dan (bergegaslah menuju) kota itu. Karena di sana ada kaum yang taat beribadah kepada Allah. Beribadahlah bersama mereka, jangan kembali ke negerimu. Sebab, negerimu itu telah menjadi negeri yang buruk,” Nabi melanjutkan sabdanya.

Oil Paintings of 5far0002D13 classic figure Arabian Arabic Art for sale by Artists

 “Dia (sang pembunuh 100 jiwa) pun berangkat. Saat tiba di persimpangan jalan, ajal datang menjemputnya. Lalu (datanglah) Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab; (keduanya) memperebutkannya.

Malaikat Rahmat berkata, ‘Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah.’ Sementara, Malaikat Azab berkata, ‘Dia belum melakukan satu kebaikan pun.’

Akhirnya, turun sesosok malaikat yang berwujud manusia. Kemudian, keduanya (Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab) sepakat untuk menjadikannya penengah. Dia berkata, ‘Ukurlah jarak di antara tanah (tempat kematian sang pembunuh). Lalu perhatikan, ke arah mana dia lebih dekat. Maka berarti dia termasuk penghuni tempat itu.’

One of my last year #drawing // #charcoal #dark #light #ghost #hope #shadows #carolinevitelli stock photo 0ca79b76-07e0-4dca-9f0e-b21f88e44dae

Masing-masing pun mengukurnya. Ternyata, pria tersebut lebih dekat ke arah (negeri) yang hendak dia tuju. Maka Malaikat Rahmat kemudian menemani jiwanya.”

Menurut Umar Sulaiman al-Asyqar dalam bukunya, Shahihul Qashash an-Nabawi, kisah tersebut membuka pintu harapan bagi siapapun orang beriman yang hendak meraih ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ingat kembali surah az-Zumar ayat ke-53. Artinya, 

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah melarang kita untuk berputus asa dan meyakinkan kita betapa ampunan-Nya amat luas. Lihatlah, pria yang telah membunuh seratus nyawa. Atas izin Allah, langkah kakinya digerakkan dalam hijrah menuju kehidupan yang lebih islami. Walaupun dia sudah meninggal sebelum mencapai negeri tujuan, ternyata taubatnya sudah diterima Allah.

Taubat - Muslimah.Or.Id

 

Demikian pula. Menurut Syekh Umar Sulaiman, dari kisah ini dapatlah dipetik suatu hikmah. Betapa rahib yang menjadi korban ke-100 merupakan orang yang pandai beribadah, tetapi belum tentu berilmu. Kata-katanya yang menghakimi–bahwa taubat sang pembunuh tidak mungkin diterima–terbukti keliru.

Rahib tersebut kurang bijak bila dibandingkan dengan ulama yang menasihati sang pembunuh agar hijrah dari negeri asalnya. Ulama tersebut menilai, siapapun hamba Allah berkesempatan mendapatkan naungan dan ampunan-Nya. Dengan begitu, terbukalah jalan menuju pintu taubat; tertutuplah celah kembali kepada kemaksiatan.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Nazar Abdul Muthallib Kakek Nabi ﷺ

Dinasiberkah.id- Ketika Abdullah bin Abdul Muthallib belum dilahirkan, Abdul Muthallib pernah bernazar kepada berhalanya bahwa jika anaknya laki-laki sudah ada sepuluh orang, salah seorang dari mereka akan dijadikan kurban di muka berhala yang ada di sisi Kabah yang biasa dipuja oleh para bangsawan Quraisy.

Berhala-berhala di Zaman Jahiliyah

Oleh sebab itu, setelah istri Abdul Muthallib melahirkan anak laki-laki, genaplah mereka memiliki sepuluh orang anak. Anak laki-laki yang kesepuluh ini tidaklah diberi nama dengan nama-nama yang biasa, tapi diberi nama dengan nama yang arti dan maksudnya berlainan sekali, yaitu dengan nama Abdullah, yang artinya ‘Hamba Allah’, padahal anak laki-laki dari Abdul Muthallib yang sebelumnya ada yang bernama Abdul Uzza (Hamba berhala Uzza), Abdu Manaf (hamba berhala Manaf) dan sebagainya.

Selanjutnya, setelah Abdullah berumur beberapa tahun, sementara itu Abdul Muthalib belum menyempurnakan nazarnya, pada suatu hari dia mendapat tanda-tanda yang tidak tersangka-sangka datangnya, yang menyuruhnya supaya menyempurnakan nazarnya. 

Baca Juga: Abu Bakar Ash Shiddiq Teladan Bahkan Semasa Jahiliyah

Oleh sebab itu, muncullah kejadian salah seorang dari anaknya laki-laki hendak dijadikan kurban (disembelih). Sebelum pengorbanan itu dilaksanakan, dia lebih dulu mengumpulkan semua anak laki-lakinya dan mengadakan undian.

Pada saat itu undian telah jatuh pada diri Abdullah, padahal Abdullah adalah seorang anak yang paling muda, yang paling bagus rupa wajahnya, dan yang paling dicintainya. Tetapi apa boleh buat, undian jatuh kepadanya, dan Abdullah menurut saja apa yang menjadi kehendak ayahnya.

Rangkaian Nama Bayi Laki Laki Islami 3 Kata « KitabNamaBayi.comKumpulan Arti Nama Bayi, 2-3 Kata, Unik Keren

Seketika tersiar kabar di seluruh kota Mekah bahwa Abdul Muthallib hendak mengorbankan anaknya yang paling muda. Ketika terdengar kabar itu, seketika itu juga datanglah seorang kepala agama, penjaga Katrah, kepada Abdul Muthallib dengan maksud menghalang-halangi apa yang hendak diperbuat oleh Abdul Muthalib.

 

Kepala agama itu memperingatkan untuk tidak melakukan perbuatan itu. Jika sampai dilaksanakan, sudah pasti kelak akan dicontoh oleh orang banyak karena Abdul Muthallib itu adalah seorang wali negeri pada masa itu dan dia berpengaruh besar pada segenap penduduk di Mekah. Sebab ihr, apa yang dia kerjakan tentu akan dicontoh oleh orang banyak. Jadi, perbuatan itu tidak boleh dilaksanakan. Kemudian nazarnyaihr ditebus dengan menyembelih seratus ekor unta.

Fungsi Berhala Pada Masa Arab Jahiliyah Pra-Islam - Islami[dot]co

Berhubung kepala agama, atau bisa disebut pendeta penjaga Masjidil Haram, telah memperkenankan bahwa nazar Abdul Muthallib itu cukup ditebus dengan seratus ekor unta, maka disembelihlah oleh Abdul Muththalib seratus ekor unta di muka Ka’bah guna menebus nazarnya itu. Dengan demikian, Abdullah urung untuk jadi kurban.

Dengan peristiwa itu, pada waktu Nabi saw telah beberapa tahun lamanya menjadi nabi utusan Allah, beliau pernah bersabda,

“Aku anak laki-laki dari dua orang yang disembelih.” Maksudnya, Nabi Muhammad itu dari keturunan Nabi Ismail dan dari Abdullah, yang kedua-duanya pernah hendak disembelih oleh ayahnya masing-masing, tetapi tidak jadi disembelih.  Wallahu A’lamu Bis Shawab.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

5 Peristiwa Besar yang Mengiringi Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ

Donasibekah.id- Sejarah mencatat ada sejumlah peristiwa-peristiwa besar yang mengiringi kelahiran Baginda Rasulullah. Diantaranya, ada lima peristiwa besar yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad ﷺ Satu peristiwa besar itu terjadi sebelum Rasulullah lahir dan empat peristiwa besar lainnya terjadi setelah Rasulullah lahir.

Berikut lima peristiwa besar yang mengiringi kelahiran Baginda Rasulullah ﷺ yang dikutip dari laman umma.id :

1. Hancurnya Pasukan Gajah

Kisah Abrahah Menyerang Kabah dengan Pasukan Bergajah - Hasuna Tour 🕋

Rasulullah dilahirkan pada tahun Gajah. Disebut tahun Gajah karena saat itu Abrahah membawa pasukan bergajah menyerang Ka’bah.

Abrahah adalah penguasa di Yaman. Ia membangun gereja besar di Kota Shan’a dengan maksud agar orang-orang berkunjung ke sana dan mendatangkan pemasukan besar bagi Yaman. Ia ingin menggeser kedudukan Ka’bah yang selalu ramai didatangi orang dari seluruh penjuru Arab.

Namun, bangunan yang megah dan indah itu tak kunjung ramai. Abrarah kemudian menyiapkan pasukan dalam jumlah besar. Sebagian mengendarai gajah. Orang-orang Makkah yang mendengar kabar itu merasakan ancaman besar. Pasukan bergajah itu bukan tandingan mereka.

Bahkan Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad ﷺ sebagai pemimpin Makkah pun tak bisa berbuat banyak. Ia menyerahkan perlindungan Ka’bah sepenuhnya kepada Allah.

Namun belum sampai di Makkah, datang burung berbondong-bondong membawa batu-batu panas dan menjatuhkannya ke pasukan Abrahah. Mereka pun jatuh bergelimpangan. Tewas mengenaskan.

Baca Juga: Kesabaran Nabi ﷺ yang Didoakan Orang Badui 

2. Keluar cahaya saat kelahiran Nabi Muhammad

Maulid Nabi, Mimpi Cahaya sebagai Tanda Bakal Lahirnya Rasulullah SAW : Okezone Muslim

Peristiwa yang tak kalah ajaib adalah keluarnya cahaya saat kelahiran Nabi Muhammad. Cahaya itu keluar dan menerangi ke arah istana-istana di Syam.

Jika peristiwa gajah diabadikan Allah dalam Surat Al Fil, keluarnya cahaya ini diriwayatkan Ibnu Sa’ad dan Imam Ahmad.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Aminah ibunda Rasulullah berkata,
“Setelah bayiku lahir, aku melihat ada cahaya yang keluar dari jalan lahirnya, menyinari istana-istana di Syam.”

Peristiwa ini memberikan isyarat bahwa kelak agama Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ akan sampai ke Syam yang saat itu masih di bawah kekuasaan Romawi.

Dan kita kemudian bisa melihat sejarah, Syam menjadi negeri muslim. Baitul Maqdis dibebaskan pada masa khalifah Umar bin Khattab. Bahkan Damaskus menjadi ibu kota khilafah Bani Umayyah.

3. Runtuhnya 14 Balkon Istana Kisra

Goncangnya Kerajaan Kisra & Persi saat Kelahiran Nabi Akhir Zaman | Tebuireng Online

Runtuhnya 14 balkon istana Kisra saat kelahiran Nabi Muhammad ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Seakan memberi isyarat bahwa nantinya Persia akan jatuh.

Dan ternyata benar, Persia akhirnya jatuh. Peperangan terakhir yang kemudian disusul dengan jatuhnya Persia adalah perang qadisiyah.

4. Padamnya Api yang Disembah Kaum Majusi

Subhanallah, Inilah 12 Peristiwa Penting Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad - Halaman 2 - Sripoku.com

Di kemudian hari, banyak orang majusi masuk Islam. Salah satunya yang paling terkenal adalah Salman Al Farisi.

5. Runtuhnya Gereja di Buhairah

Inilah Foto-Foto Biara Pendeta Buhaira

Runtuhnya gereja di Buhairah setelah ambles ke tanah ini juga diriwayatkan Al Baihaqi sebagaimana dua peristiwa sebelumnya.

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri mencantumkannya di Ar Rakhiqul Makhtum. Namun riwayat ini diperselisihkan.

Berbeda dengan peristiwa pasukan gajah dan keluarnya cahaya saat kelahiran Nabi Muhammad, yang keduanya disepakati para ulama. Wallahu A’lamu Bis Shawab.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Kesabaran Nabi ﷺ yang Didoakan Orang Badui 

Donasiberkah.id- Suatu hari, di Masjid Nabawi, Rasulullah dan para sahabatnya sedang berkumpul dalam halaqah, majelis ilmu, membahas sesuatu. Masjid Nabi, lantainya masih pasir, tak ada ubin, apalagi sajadah. Dan mereka duduk, shalat, ruku’ dan sujud di atasnya.

Ketika kelompok manusia terbaik ini berkumpul dan mempelajari ilmu dan perintah Allah, tiba-tiba datang seorang lelaki Badui, lelaki desa nan udik ke dalam Masjid Nabi. Kita semua mengetahui kisahnya. Sebagian besar kaum Muslimin bahkan telah hapal ujung ceritanya. Tapi mari, sekali lagi kita belajar dari sudut pandang yang sedikit lain.

5 Potret Asli Rumah Nabi Muhammad Saw yang Sangat Bersahaja

Lelaki Badui ini, tak datang untuk bergabung dalam halaqah nan mulia. Lelaki ini terus berjalan, menuju ujung ruangan, di pojok bangunan Masjid Nabi. Di sana, dia tengok kanan dan kiri. Mengangkat kainnya dan berjongkok di ujung ruangan untuk menuntaskan hajatnya. Lelaki Badui ini buang air kecil, buang air kecil!

Leon Bonnat An Arab removing a thorn from his foot painting | framed paintings for sale

Para sahabat yang berada di masjid dan sedang berhalaqah, seketika bergejolak. Mereka hendak berdiri, entah dengan niat melakukan apa di hati masing-masing. Para sahabat marah. Dan kemarahan mereka sangat wajah, ini Masjid Nabi, bukan tempat buang hajat. Para sahabat berhamburan, berdiri, segera berjalan menghampiri lelaki Badui yang sedang menuntaskan hajatnya tadi. Di wajah-wajah mereka, para sahabat mulia itu, nampak kemarahan yang siap meledak.

 Baca Juga : Kekhawatiran Fatimah dan Sejarah digunakannya Keranda oleh Umat Muslim

Tapi Rasulullah memanggil dan menenangkan semua sahabat yang sudah siap mengambil aksi. “Jangan, biarkan dia. Jangan menganggunya. Biarkan dia menyelesaikan kencingnya,” ujar Rasulullah .

Setelah lelaki Badui ini menyelesaikan urusannya, Rasulullah memanggilnya dengan nada lembut. Padahal, para sahabat, semuanya, sudah berada pada titik didih. Lelaki Badui ini datang dan berjalan pelan menghampiri  Rasulullah. Beliau menangkap atmosfer kemarahan yang mengepungnya. Tapi hanya Rasulullah yang ditujunya. 

Dengan halus, ketika lelaki Badui ini berada di depan beliau, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya, masjid ini dibangun bukan untuk itu (maksudnya untuk buang hajat). Masjid ini dibangun untuk shalat dan membaca al Qur’an.”

 Cinta Pertama Nabi Muhammad kepada Seorang Wanita

Hanya itu, tidak kurang, tidak berlebihan. Singkat, tapi tepat sasaran.

 

Lelaki Badui ini paham, dan lalu pergi meninggalkan Masjid Nabi. Tak lama waktu shalat tiba, dan Rasulullah memimpin para sahabat untuk menunaikan shalat. Dan yang menarik, lelaki Badui ini bergabung bersama untuk shalat jamaah. Dan Rasulullah pun memimpin shalat.

Seperti biasa, Rasulullah melakukan shalat. Sampai ketika bangkit ruku’, Rasulullah mengucapkan , “Sami’Allahu liman Hamidah.” Allah mendengar orang yang memuji-Nya.

Para sahabat kemudian menjawab dengan ucapan, “Rabbana walakal Hamdu.” Rabb kami, segala puji hanya untuk-Mu.

Di luar dugaan, lelaki Badui, ya betul, lelaki Badui yang tadi, menambahkan doanya lebih panjang dari para sahabat.  “Rabbana walakal Hamdu. Allahumarhamni wa Muhammadan, wala Tarham ma’ana ahadan.” Tuhan kami, segala puji hanya untuk-Mu. Ya Allah, sayangilah aku dan Muhammad. Dan jangan sayangi orang-orang selain kami berdua.

Tampannya Mushab Bin Umair, Sahabat Nabi Muhammad

Doa ini dibaca dengan lantang, sampai-sampai Rasulullah mendengarnya. Dan tentu saja, para sahabat yang ada juga mendengarnya. Memang lelaki Badui ini, yang seringkali disebut tidak berpendidikan dan memilik karakter unik, telah menyalahi rukun dari bacaan shalat. Tapi pelajarannya yang seringkali kita tidak perhatikan adalah, lihatlah isi doanya. Doa yang mencerminkan, bahwa Rasulullah telah menguasai hatinya. Doa yang memperlihatkan, bahwa dia juga menolak, sekurang-kurangnya tak mau dengan para sahabat yang ada.

 Baca Juga: Kisah Umar Bin Khattab yang Membuat Rasulullah ﷺ Tertawa dan Menangis

Lelaki Badui ini, yang mohon maaf, sekali lagi kelompok ini sering  disebut sebagai kelompok masyarakat yang tidak berpendidikan, telah menempatkan Rasulullah di tempat yang sangat berpengaruh dalam hidupnya, dalam pikirannya, dalam doanya, dalam permintaannya kepada Allah. Sehingga dia berharap hanya Rasulullah dan dirinya saja yang dirahmati Allah. Dan tentu saja, ketika seseorang menempati posisi yang istimewa, maka istimewa pula letak nasihatnya.

Jadilah Murid KRISTUS Yang Kaya Dalam Kebajikan dan Murah Hati - GKJ Nehemia Pondok Indah

Selepas shalat, Rasulullah berbalik badan. Lalu beliau memanggil lelaki Badui ini dan berkata singkat, “Engkau telah membatasi sesuatu yang sangat luas.” Ya, singkat, sesuai dengan kebutuhan bagi seorang lelaki Badui yang tentu saja tingkat pemahamannya tidak sama dengan sahabat-sahabat utama seperti Abubakar, Umar bin Khattab atau sahabat yang lain. 

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Olahraga Nabi dan Para Sahabat

Donasiberkah.id – Sudah menjadi tabiat manusia untuk menyukai hiburan. Rutinitas dan beban kehidupan menjadi faktor yang mendorong jiwa untuk mengupayakan relaksasi. Karenanya, siapa pun orang yang meneliti satu kelompok masyarakat, kapan pun dan di mana pun, akan menjumpai sarana hiburan dan olahraga sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Terlihat ada kondisi kontras antara usia seseorang dengan kecenderungan terhadap olahraga. Karena itu, olahraga pada generasi muda menempati posisi dan penerimaan tersendiri yang berbeda pada kaum tua. Lantas, bagaimana bentuk olahraga pada generasi muda sahabat?.

Baca Juga: Sejarah Awal Mulanya Diwajibkan Zakat

Mari kita simak penuturan salah seorang dari mereka, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu lari antara kuda-kuda yang belum dikuruskan, jaraknya antara jalanan di lereng bukit hingga masjid Bani Zuraiq. Abdullah bin Umar sendiri biasa beradu lari menggunakan kuda yang belum dikuruskan tersebut.”

Mengenal Sejarah Tentang Kuda Arab - Niatku.com

Generasi muda sahabat yang selalu rindu untuk ikut berjihad menyadari betul bahwa persiapan dan latihan adalah sebuah keniscayaan. Karenanya, mereka mematuhi wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَ لاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّ مْيُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّ ةَ الَّ مْيُ

Ketahuilah, bahwa kekuatan itu ada pada melempar (anak panah). Ketahuilah, bahwa kekuatan itu ada pada melempar (anak panah).”

Kecenderungan mereka pada olahraga nabi juga terlihat pada kisah Salamah ketika ia meriwayatkan perang Dzi Qird,

“Ketika kami berjalan, ada seorang Anshar yang tidak bisa didahului kecepatannya dalam berjalan. Ia berkata, ‘Tidakkah ada orang yang beradu cepat sampai di Madinah denganku? Adakah orang yang bisa mendahuluiku?’ Ia terus mengulangi ucapannya. Mendengar itu, aku berkata, ‘Tidak adakah orang mulia dan terhormat yang kamu segani?’ Ia menjawab, ‘Tidak ada, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ayah-ibuku menjadi tebusannya, biarkan aku beradu cepat dengan orang ini.’ Beliau bersabda, ‘Jika kamu mau.’ Aku berkata, ‘Majulah.’ Aku tekuk kakiku lalu melompat dan berlari. Aku hemat napasku, hingga (ia mendahuluiku) satu atau dua bukit, agar nantinya aku tidak kehabisan napas. Kemudian, aku berlari di belakangnya dengan tetap menghemat napas, hingga (ia mendahuluiku) satu atau dua bukit. Lalu, aku percepat lariku, hingga berhasil menyusulnya tepat di belakang tubuhnya. Akhirnya, aku berhasil mendahuluinya tiba di Madinah.”

Mengenal Klan Yahudi di Madinah Era Nabi Muhammad | Republika Online

Begitulah, olahraga dan program-program hiburan di kalangan generasi muda sahabat berkaitan erat dengan tujuan-tujuan luhur sekaligus menjadi aset dan bekal yang mendorong semangat dan kesungguhan. Bagi mereka, hiburan adalah sesuatu yang bisa menghantarkan kepada tujuan mulia. Mereka mengambil prinsip ini dari sabda Rasulullah Shallallhu’alaihi Wa Sallam,

لاَ سَبَقَ إِ لاَّ فِي نَصْلٍ أَوْ حَا فِرٍأَوْ حُفِّ

Tidak boleh (mengambil harta dari) perlombaan, kecuali dalam (perlombaan) anak panah, binatang berkuku, dan binatang bertapak kaki.”

Manakala olahraga bagi mereka adalah sarana menuju tujuan mulia, maka mungkinkah olah raga tersebut menghalangi mereka dari menunaikan kewajiban atau menjalankan ketaatan?.

Ketika kita kembali mengarahkan pandangan pada masa sekarang dan sedikit membuka lembar kehidupan generasi mudanya, maka kita akan menemukan perbedaan mencolok antara olahraga di kalangan mereka dan di kalangan pendahulu mereka, generasi muda sahabat. Betapa kuatnya sepak bola mengikat hati pada penggilanya. Sepak bola merampas waktu-waktu berharga mereka, dengan menontonnya, menyaksikan tayangan pertandingan, membaca koran sebelum dan sesudah pertandingan, berdebat dan mendiskusikannya, bergantinya emosi antara mendukung dan mencaci, serta menumpahkan semangat untuk sesuatu yang tidak bersemangat. Apalagi, shalat-shalat yang terabaikan serta munculnya perselisihan dan pertengkaran.

Kita juga menjadi mengerti rahasia mengapa para musuh begitu gencar mempromosikan kesibukan ini di kalangan generasi muda. Tujuannya adalah memalingkan mereka dari permasalahan-permasalahan besar. Sudah saatnya generasi muda umat mengkaji ulang biografi pendahulu mereka (salafush shalih).

Mari kita rutinitaskan olahraga Nabi. Akidah kuat, tubuh pun sehat.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Abu Bakar Ash Shiddiq Teladan Bahkan Semasa Jahiliyah

 

Donasiberkah.id – Siapakah Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu?

Dia adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay Al Quraisy At Taimi, Abu Bakar ash Shiddiq bin Abi Quhafah. Dia dilahirkan di Mina, nasabnya bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Murrah.

Di masa Jahiliyyah dia menikah dengan dua wanita: Qutailah binti Abdil Uzza dan Ummu Ruman binti Amir. Dan di masa Islam dia menikah dengan dua wanita: Asma’ binti Umais dan Habibah binti Kharijah bin Zaid.

Teladan Bahkan Semasa Jahiliyah

Pasar Rasulullah untuk Kemandirian Umat - Laman 2 dari 2 - SUARAISLAM.ID

Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah teladan dalam segala bidang –hingga pada masa Jahiliyyah sekalipun- maka jangan heran kalau setelah dia masuk Islam, dia adalah orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Sebaik-baik kalian di masa Jahiliyyah adalah sebaik-baik kalian di masa Islam jika mereka memahami agamanya.” 

Ibnu Ishaq rahimahullah berkata, “Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang disukai dan dicintai oleh kaumnya. Dia adalah orang Quraisy yang paling tahu nasab Quraisy, orang Quraisy yang paling mengenal Quraisy dan paling mengenal kebaikan dan keburukan yang ada pada Quraisy. Dia adalah laki-laki pemilik akhlak yang baik. Para petinggi Quraisy mendatanginya dan menyukainya karena ilmu dan perniagaannya serta kepandaiannya dalam bergaul. Orang-orang dari kaumnya yang dia percaya, yang bergaul dan berkawan dengannya dia ajak kepada Allah dan kepada Islam.” 

Baca Juga: Sahabat-sahabat Rasulullah yang Kaya dan Dermawan

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengharamkan khamr (minuman keras) atas dirinya pada masa Jahiliyyah. Dia tidak meminumnya sekalipun, tidak pada masa Jahiliyyah, apalagi ketika dia masuk Islam. Hal itu karena pada suatu hari dia melewati seorang laki-laki yang sedang mabuk. Orang mabuk itu meletakkan tangannya pada kotoran manusia lalu mendekatkan tangannya ke hidungnya. Jika dia mencium bau busuknya maka dia menjauhkan tangannya dari hidungnya, maka Abu Bakar mengharamkan khamr atas dirinya.

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu Tidak Pernah Sujud Kepada Berhala Sekalipun.

Ayah-Bunda Nabi SAW. Bukan Penyembah Berhala – Sirr al-Asrar

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata di hadapan beberapa orang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku tidak pernah sujud kepada berhala sekalipun. Ketika itu usiaku mendekati baligh. Ayahku Abu Quhafah, membawaku ke sebuah ruangan miliknya, disana ada berhala-berhala miliknya. Dia berkata kepadaku, ‘Ini adalah tuhan-tuhanmu yang tinggi lagi mulia.’ Lalu dia pergi meninggalkanku. Aku mendekat kepada sebuah berhala, lalu aku berkata, ‘Aku lapar, berilah aku makan.’ Berhala itu tidak menjawab. Aku berkata, ‘Aku tidak berpakaian, berilah aku pakaian.’ Berhala itu tetap tidak menjawab. Maka aku mengambil sebuah batu dan menghantamkan batu itu kepadanya dan ia pun tersungkur.” 

Demikian sekilas tentang Sahabat yang paling mulia ini, di depan akan ada banyak sekali teladan yang akan membuat kita mencintai Abu Bakar ini.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

    

Kekhawatiran Fatimah dan Sejarah digunakannya Keranda oleh Umat Muslim

 

Donasiberkah.id- Suatu ketika Fatimah Azzahra putri tercinta Rasulullah , berada di depan rumah beliau, tiba-tiba ada jenazah yang hendak di bawa kekuburan lewat di depan Fatimah Azzahra. Saat itu Fatimah sedang bersama  Asma Binti Khumaisy yang biasa menemani dan menghibur Fatimah setelah kepergian Rasulullah .

Tiba-tiba saat itu Fatimah menangis tersedu-sedu hingga membuat Asma panik lalu bertanya, “wahai putri Rasulullah, kenapa engkau menangis melihat jenazah itu? Ada apa dengan jenazah itu?”. 

Fatimah menjawab, “Setiap orang yang mati akan dibungkus dengan kain kafan yang rapat lalu akan di bawa kelokasi pemakaman dengan di panggul oleh orang-orang yang membawanya?”

 Khadijah dan Asiyah, Dua Muslimah Inspirasi Wanita

(Dahulu sebelum adanya keranda mayat, jika ada orang meninggal maka di saat dibawa ke kubur jenazah dipanggul di atas pundak orang-orang yang membawanya). Asma menjawab, “ Tentu wahai putri Rasulullah?”.

Kemudian Fatimah melanjutkan,”Dan aku pun kelak akan di bawa ke kubur seperti itu?” Asma menjawab “ Benar wahai putri Rasulullah”.

 

Lalu Fatimah melanjutkan ”Itulah yang menjadikan aku menangis, sungguh aku sangat malu jika nanti aku meninggal , kemudian di bungkus kain kafan dengan rapat lalu di angkat di atas punggung orang-orang yang membawaku ke kubur, sementara orang yang mengiring jenazah akan melihatku, sungguh aku sangat malu karena saat itu mereka akan melihat lekuk-lekuk tubuhku”.

 

Mendengar ungkapan Fatimah ini Asma berkata,

”wahai putri Rasulullah, disaat aku ke negeri Habasyah aku melihat jenazah yang dibawa ke kubur, jenazah diletakkan di sebuah tempat yang disebut keranda, aku pikir itu bisa menutupi pandangan orang dari melihat lekuk tubuh jenazah yang dibawa”.

 

Keranda Images, Stock Photos & Vectors | Shutterstock

Mendengar cerita Asma ini tiba-tiba tangis Fatimah terhenti, dan wajah beliau berubah berseri-seri sambil berkata ”wahai Asma sungguh aku berwasiat, jika aku mati nanti tolong buatkan aku keranda mayat seperti yang engkau ceritakan agar lekuk tubuhku tidak terlihat saat di bawa kekuburan”. Dan benar setelah Sayyidah Fatimah meninggal, maka dibuatlah keranda mayat untuknya.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Sosok Umar bin Khattab Tegas, tapi Diam Kala Dimarahi Istri

Donasiberkah.id– Sikap tegas Umar bin Khattab sangat kental. Beliau dikenal sebagai satu-satunya sahabat Rasulullah ﷺ yang paling memiliki jiwa keras nan tegas. Namun di balik ketegasannya tersebut, ada fakta menarik yaitu tentang bagaimana beliau dimarahi istrinya.

Umar bin Khattab dikenal sebagai assadullah (singanya Allah), begitu julukan beliau bagi kaum Muslim.

Ketegasannya dalam menegakkan syariat Islam tak perlu dipertanyakan lagi. Beliau merupakan seorang hamba yang tidak akan bertoleransi terhadap kemungkaran sedikit pun. Tapi ketika Umar bin Khattab dimarahi istrinya, nggak satu pun beliau nyaut-nyautin (beradu argumen) dengan istrinya. Beliau diam, mendengarkan, nunduk. Bayangkan, ini amirul Mukminin.

Menarik, Ini Kisah Waria yang Masuk Rumah Nabi Muhammad Saw

Suatu ketika ada sepasang suami-istri yang bertengkar hebat di masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Sang suami kemudian berniat mengadukan permasalahan rumah tangganya kepada Umar sambil ingin mengeluh tentang istrinya yang kerap marah-marah.

Setibanya di teras rumah Umar, si suami tadi berhenti dan mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Dia menghentikan langkahnya di teras rumah lantaran mendengar Sayyidina Umar dimarahi istrinya tanpa menjawab sepatah pun kata.

Keesokannya, si suami itu datang kembali kepada Umar dan menceritakan perihal niatnya untuk berkeluh kesah. “Lantas mengapa tidak jadi ke rumahku untuk bercerita?” kata Umar. Si suami itu pun menjawab: “Sebab aku mendengar engkau sedang dimarahi istrimu, wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau tak menjawabi istrimu ketika dimarahi?”.

Mendengar hal ini, Umar pun menjawab:

“Istriku adalah sumber kebahagiaan yang diberikan Allah kepadaku. Darinya, aku diberikan keturunan. Dari rahimnya, dia mengandung anakku. Ia lahirkan anakku, ia susui anakku. Ia layani aku, ia bahagiakan aku dengan segala kebutuhan yang aku perlukan. Pantaskah aku memarahinya? Pantaskah aku beradu argumen dengannya? Bagiku tidak.”

Peran Istri yang Dimuliakan Umar

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Arab woman coming to mosque building muslim religion ramadan kareem holy month Premium Vector

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Muslimah, Kau Mulia Jika Kembali Pada Fitrah - Islampos

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya.

Baca Juga : Kisah Istri Nabi ﷺ Zainab Binti Jahsy “Panjang Tangan Suka Bersedekah”

Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Rack of clothes in store Free Photo

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek.

Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

4. Pengasuh Anak-anak

Cute mother and daughter moslem celebrating eid mubarak cartoon vector icon illustration. people religion icon concept isolated premium vector. flat cartoon style Free Vector

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.?

Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

A mother cooking and prepares foods at kitchen Premium Vector

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Baca Juga: Berbakti Kepada Orang Tua

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

Demikianlah kemuliaan yang dimiliki oleh seorang muslimah, semoga kita bisa memuliakan seorang istri atau ibu yang telah merawat kita.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa dengan berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

English EN Indonesian ID