Griya Yatim & Dhuafa

Kisah Keajaiban Sedekah Zaman Nabi Musa: Suami Istri Mendadak Kaya Karena Sedekah

Donasiberkah.id- Ada satu kisah penuh hikmah tentang sepasang suami istri yang senantiasa kaya di zaman Nabi Musa. Meskipun senantiasa dipakai untuk bersedekah.

Dikisahkan, pada zaman Nabi Musa hiduplah sepasang suami istri yang serba kekurangan selama bertahun-tahun. Kehidupan mereka tergolong sangat miskin namun mereka tetap sabar dan berupaya keluar dari belenggu kemiskinan.

Suatu hari saat mereka beristirahat di tempat tidur, sang istri berkata kepada suaminya, “Bukankah Musa itu Nabi Allah dan bisa berbicara dengan-Nya?.”

Sang suami menjawab: “Ya, benar.”

Sang istri berkata lagi: 

“Kalau begitu kenapa kita tidak pergi mendatanginya dan mengadukan keadaan kita kepadanya. Kita meminta padanya agar berbicara kepada Rabbnya tentang keadaan kita dan memintakan agar kita diberi kekayaan, agar kita bisa hidup senang dan berkecukupan selama menjalani sisa hidup kita.”

Fotografi Siluet Gunung

Esok harinya, keduanya mendatangi Nabi Musa dan menyampaikan keinginan tersebut. Nabi Musa pun bermunajat menghadap Allah dan menyampaikan keinginan keluarga tersebut. Sedangkan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, tidak ada sesuatu pun di langit dan bumi ini yang tersembunyi dari-Nya.

Allah menjawab permohonan Nabi Musa. Allah berfirman:

“Wahai Musa, sampaikan kepada mereka bahwa Aku telah mengabulkan permintaan mereka dan Aku akan memberi mereka kekayaan, tetapi selama satu tahun saja. dan setelah satu tahun, Aku akan kembalikan mereka menjadi orang miskin.”

Mendengar kabar dari Nabi Musa itu, pasangan suami istri ini sangat gembira luar biasa. Benar saja, beberapa hari kemudian, rezeki datang dari arah yang tidak mereka ketahui hingga menjadikan mereka kaya raya di tengah masyarakat.

Pria Yang Duduk Di Atas Gedung Sambil Melihat Sekilas

Kehidupan mereka pun berubah dan mereka hidup senang dan bahagia. Sang istri pun berkata kepada suaminya,

“Wahai suamiku, ingatlah kita diberi kekayaan ini hanya satu tahun dan setelah itu kita akan jatuh miskin lagi seperti sedia kala.”

Suami menjawab, “Ya, saya tahu”.

Sang istri berkata:

“Kalau begitu, kita gunakan saja kekayaan ini untuk membantu banyak orang. Selama setahun ini kita akan memberi makan orang-orang fakir dan menyantuni anak yatim mumpung kita masih punya.”

Jejak Kaki Manusia Berusia 120.000 Tahun Ditemukan di Arab Saudi - Tribun  Travel

Sang suami pun setuju dengan gagasan itu lalu mereka membangun rumah singgah untuk membantu para musafir. Rumah itu dibangun dengan tujuh pintu, masing-masing pintu menghadap ke jalan yang berjumlah tujuh persimpangan.

Keluarga ini pun mulai menyambut setiap musafir yang datang dan memberi mereka makan dan tempat singgah gratis, siang dan malam. Mereka terus sibuk melayani selama berbulan-bulan.

Baca Juga : Kisah Istri Nabi ﷺ Zainab Binti Jahsy “Panjang Tangan Suka Bersedekah”

Setahun berlalu sepasang suami istri ini tetap sibuk membantu para musafir dan memuliakan tamu yang berdatangan. Dan taukah apa yang terjadi pada mereka setela satu tahun?.

The Giving Tree Oil Painting By Abed Alem | absolutearts.com

 

Kehidupan mereka pun tetap kaya. Mereka lupa dengan tenggat waktu yang ditetapkan Allah tersebut.

Melihat itu, Nabi Musa pun heran, lalu bertanya kepada Allah seraya berkata: “Wahai Rabb, Engkau telah menetapkan syarat kepada mereka hanya satu tahun. Sekarang, sudah lewat satu tahun tetapi mereka tetap hidup kaya?.”

Allah berfirman:

“Wahai Musa, Aku membuka satu pintu di antara pintu-pintu rezeki kepada keluarga tersebut, lalu mereka membuka tujuh pintu untuk membantu hamba-hamba-Ku. Wahai Musa! Aku merasa malu kepada mereka. Wahai Musa! Apakah mungkin hamba-Ku lebih dermawan dari-Ku?.”

Surreal Door Installations by Nicole Evans and Pat Farrell | Colossal

Kemudian Nabi Musa menjawab:

“Maha Suci Engkau Ya Allah, betapa Maha Mulia urusan-Mu dan Maha Tinggi kedudukan-Mu.”

Dari kisah di atas dapat kita petik pelajaran berharga betapa dahsyatnya keutamaan bersedekah.

Dalam satu Hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada satu hari pun yang seorang hamba memasuki waktu pagi padanya, kecuali ada dua Malaikat yang turun dari langit dan salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah ganti untuk orang yang berinfak.’ Dan Malaikat yang lain berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan untuk orang yang menahan diri tidak berinfak dan mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita untuk bersedekah dan senang membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Aaamiin!

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Sahabat Rasul, Sya’ban R.A. yang Menyesal Saat Sakaratul Maut

Donasiberkah.id- Seorang sahabat Rasulullah ﷺ, Sya’ban r.a. memiliki kebiasaan unik. Dia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok masjid pada setiapa shalat berjamaah dan I’tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid karena ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah sendiri.

Pada suatu pagi, saat shalat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah ﷺ merasa heran karena tidak mendapati Sya’ban r.a. pada posisi seperti biasanya. Rasulullah pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada seorang pun yang melihat Sya’ban r.a.

Shalat Subuh pun sengaja ditunda sejenak, untuk menunggu kehadiran Sya’ban. Namun yang ditunggu belum datang juga. Karena khawatir shalat Subuh kesiangan, Rasulullah pun memutuskan untuk segera melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Hingga shalat Subuh selesai pun Sya’ban belum datang juga.

10 Padang Gurun Pasir Paling Populer di Dunia

Selesai shalat Subuh Rasulullah pun bertanya lagi “Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Rasulullah pun bertanya lagi “Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban?” Seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia tahu persis dimana rumah Sya’ban. 

Rasulullah ﷺ sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap sahabatnya tersebut, memimnta diantarkan ke rumah Sya’ban.  Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu lama terlebih mereka menempuh dengan berjalan kaki.

Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat sampai di rumah Sya’ban pada waktu shalat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah Sya’ban, beliau mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.

Asyiknya Meluncur di Lima Gurun Terkeren Sedunia

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Tanya Rasulullah.

“Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” jawab wanita tersebut.

“Bolekah kami menemui Sya’ban, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?” ucap Rasul.

Dengan berlinangan air mata, istri Sya’ban ra menjawab “Beliau telah meninggal tadi pagi”.

“Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.

Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian, istri Sya’ban r.a. bertanya,

“Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia bertetiak tiga kali dengan masing-masing teriakan di sertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah.

“Di masing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” jawab istri Sya’ban.

Rasulullah ﷺ pun melantunkan ayat yang terdapat Al-Qur’an Surah Qaaf ayat 22:

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, Maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

“Saat Sya’ban r.a. dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain.

Kesaksian Hidup Menjelang Ajal - Pondok Pesantren Daarut Tauhiid

Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban r.a. melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjamaah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban r.a. diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,” ujar Rasulullah ﷺ.

Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh”. timbul penyesalan dalam diri Sya’ban r.a., mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah.

Beautiful Paradise Wallpapers - Top Free Beautiful Paradise Backgrounds -  WallpaperAccess

Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban r.a. melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju liuar dan shalat dengan baju yang lebih bagus.

Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.

Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya’ban r.a. pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi,

“Aduh! Kenapa tidak yang baru.”

Timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban r.a. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Orta Autumn Winter '13/14 Denim Collection | Denim inspiration, Denim  fashion, Denim workwear

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu.

Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukurang roti Arab (sekitar tiga kali ukuran  rata-rata roti Indonesia). ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan.

Melihat hal itu, Sya’ban r.a. merasa iba. Ia kemudian membagi dua rotu tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudain memperlihatkan Sya’ban ra dengan surga yang indah.

Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua !.”

Sya’ban r.a. kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis  tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. MasyaAllah, Sya’ban bukan menyesali perbuatanya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

Two halves of a strucia bread on marble background. high quality photo Free Photo

Seseungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda.

Bahkan ada yang memiunta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? “Kenapa tidak saat ini?.” Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Rasulullah ﷺ Bercerita Tiga Orang yang Tertutup Batu dalam Goa

Donasiberkah.Id- Ada kisah menarik yang ingin kami bagikan kepada Sahabat, kisah yang berasal dari Hadits yang cukup panjang yang dikisahkan oleh Rasulullah ﷺ, mengenai tiga orang di masa sebelum Islam yang pernah tertutup dalam goa karena ada batu besar yang jatuh menutupi goa tersebut. Berikut kisahnya.

Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, katanya: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu goa kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan baik mereka.”

Serba Serbi Cave Disease yang Picu Berbagai Penyakit

Salah seorang dari mereka berkata, 

“Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku).

Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Shubuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku.

Milk in glass and jug on wooden table Free Photo

Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar  mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.

Kisah Rasulullah ﷺ dan Kuli Batu “Keutamaan Mencari Nafkah”

“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang yang lain pun berdo’a,

“Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku (sepupu) yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias: berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya,

“Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).”

Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.

Woman at the Well Reproduction For Sale | 1st Art Gallery

Baca Juga : Kisah Umar Bin Abdul Aziz dan Lampu Negara

“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang ketiga berdo’a, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah.

Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?.”

Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak.

Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.”

Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas goa yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)

Ramai Uang Koin Rp1.000 Kelapa Sawit, Ini 8 Duit Logam Paling Mahal di  Dunia, Ada Dinar Umayyah Juga

Beberapa pelajaran yang bis kita ambil dari hadits di atas:

1- Disyari’atkan berdo’a dengan menyebutkan amalan sholih dan ini termasuk bentuk tawassul (mengambil perantara dalam do’a) yang dibolehkan.

2- Keutamaan berbakti pada orang tua, di antaranya bakti pada orang tua menyebabkan seseorang selamat dari musibah.

3- Keutamaan mendahulukan bakti pada orang tua daripada istri, anak dan budak.

4- Diperintahkan banyak berdo’a pada Allah dalam keadaan sulit dengan bertawassul pada Allah melalui amalan sholih.

5- Keutamaan menjaga diri dari terjerumus dalam perkara yang diharamkan semisal zina.

6- Keutamaan bagi orang yang bisa menyelamatkan dirinya dari zina dengan segera menikah.

7- Keutamaan orang yang meninggal zina karena takut pada Allah.

8- Berhubungan dengan wanita barulah halal dengan menikah.

9- Bolehnya mengupahi orang lain dalam suatu pekerjaan.

10- Keutamaan memenuhi perjanjian seperti dalam hal menunaikan gaji.

11- Keutamaan menunaikan amanat dan berbuat baik dalam muamalah.

12- Adanya karomah wali Allah.

13- Ikhlas dalam beramal menyebabkan selamat dari kesulitan yang menimpa karena dalam hadits disebutkan “Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar  mengharapkan wajah-Mu”.

Photo Gallery: How to Take Landscape Photos -- National Geographic

14- Diperintahkan berdo’a pada Allah dengan kesungguhan dan ikhlas saat tertimpa kesulitan, ditambah dengan menyebutkan amalan sholih.

15- Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Melakukan ketaatan memudahkan terkabulnya do’a. Oleh karenanya pada kisah tiga orang  yang masuk dan tertutup dalam suatu goa, batu besar yang menutupi mereka menjadi terbuka karena sebab amalan yang mereka sebut. Di mana mereka melakukan amalan tersebut ikhlas karena Allah Ta’ala. Mereka berdo’a pada Allah dengan menyebut amalan sholeh tersebut sehingga doa mereka pun terkabul.” (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 275-276)

16- Allah tidak menyia-nyiakan balasan bagi orang yang berbuat amalan kebaikan.

Semoga kita bisa mengambil teladan dari kisah ini. Hanya Allah yang memberi taufik. Aamiin

Semoga kita bisa mengambil teladan dari kisah ini. Hanya Allah yang memberi taufik. Aamiin

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Keteladanan Khalifah Umar Keadilan Untuk Rakyat, Walaupun Seorang Yahudi

Donasiberkah- Sejak menjadi Gubernur di Mesir, Amr bin ‘Ash menempati sebuah istana megah yang di depannya terdapat sebidang tanah kosong. Di tanah itu hanya ada gubuk reyot yang hampir roboh milik seorang Yahudi tua.

Selaku Gubernur, Amr menginginkan agar di atas tanah tersebut didirikan sebuah masjid yang indah dan megah, seimbang dengan istananya. Ia merasa tidak nyaman dengan adanya gubuk Yahudi tersebut di atas tanah itu. Oleh karenanya, si Yahudi tua pemilik gubuk tersebut dipanggil ke istana.

Old Arabic Painting Images, Stock Photos & Vectors | Shutterstock

“Wahai orang Yahudi, aku berencana membangun sebuah masjid di atas lahan yang saat ini kau tempati. Berapa engkau mau menjual tanah dan gubukmu itu?”

 “Tidak akan kujual, Tuan,” jawab si Yahudi sambil menggelengkan kepalanya.

“Bagaimana kalau kubayar tiga kali lipat dari harga biasa?” goda sang Gubernur.

“Tetap tidak akan kujual,” tegas si Yahudi.

“Jika kubayar lima kali lipat, apakah kau akan menjualnya?”

“Tidak, Tuan! Aku tetap tidak akan menjualnya, karena itulah satu-satunya harta yang kumiliki?”

“Apakah kau tidak akan menyesal nantinya?” ancam sang Gubernur.

“Tidak tuan” tegasnya mantap.

Begitu si Yahudi tua itu pergi dari hadapannya, Amr bin ‘Ash menetapkan kebijakan untuk membongkar gubuk reyot tersebut. Ia meminta supaya didirikan masjid besar di atas tanah itu dengan alasan demi kepentingan bersama dan memperindah pemandangan di tempat itu.

Hut 3 by artist Chandrashekhar P Aher | ArtZolo.com

Si Yahudi pemilik tanah dan gubuk reyot tersebut tidak bisa berbuat banyak atas kebijakan sang Gubernur. Ia hanya bisa menangis dan terus menangis. Namun, ia tidak putus asa, dan bertekad hendak mengadukan perihal itu kepada atasan gubernur, yaitu Khalifah Umar ibn al-Khathab, di Madinah.

Setibanya di Madinah, si Yahudi tersebut bertanya kepada orang-orang di sana, di mana letak istana sang Khalifah. Usai ditunjukkan, ia kaget bukan kepalang karena sang Khalifah tidak punya istana sebagaimana Gubernur Mesir yang punya istana sangat mewah. Bahkan, ia disambut oleh Khalifah di halaman Masjid Nabawi di bawah pohon kurma.

“Apa keperluanmu datang jauh-jauh dari Mesir?” tanya Umar sesudah mengetahui bahwa tamunya itu berasal dari negeri jauh.

Si Yahudi itu pun mengutarakan maksud dan tujuannya menghadap sang Khalifah. Dia membeberkan peristiwa yang menimpa dirinya serta kesewenang-wenangan Gubernur Mesir atas tanah dan gubuk satu-satu miliknya yang sudah reyot.

Bagaimana reaksi Umar? Ia marah besar.

Ketika Umar bin Khattab Tidak Setuju Rasul SAW Berdamai dengan Musuh di  Perjanjian Hudaibiyah - Islami[dot]co

“Kurang ajar si Amr bin ‘Ash! Dia sungguh sudah keterlaluan!” umpat sang Khalifah.

Lantas Umar lalu menyuruh si Yahudi itu untuk mengambil sepotong tulang unta. Tentu saja, si Yahudi itu menjadi bingung dan ragu dengan perintah sang Khalifah yang dianggapnya aneh dan tidak ada hubungannya dengan pengaduannya. Namun, akhirnya ia pun mengambil tulang itu dan kemudian diserahkan kepada Umar.

Kemudian Umar menggores huruf alif dari atas ke bawah, lalu membuat tanda palang di tengah-tengah tulang tersebut dengan pedangnya. Kemudian, tulang itu diserahkan kepada si Yahudi yang masih bengong dan tidak mengerti maksud dari Khalifah. Umar hanya berpesan,

“Bawalah tulang ini dan beritahukan kepada Gubernur Amr bin ‘Ash bahwa ini dariku!”

“Maaf Tuan, terus terang aku masih tidak mengerti. Aku datang jauh-jauh ke sini untuk meminta keadilan dari mu, bukan tulang yang tidak berharga ini,” protes si Yahudi.

Tulang Besar Burung Unta - Foto gratis di Pixabay

Sang Khalifah hanya tersenyum, tidak marah. Ia pun menegaskan,

“Wahai orang yang menuntut keadilan, sesungguhnya pada tulang itulah terletak keadilan yang engkau inginkan.”

Akhirnya, kendati pun hati si yahudi tersebut masih dongkol dan terus mengomel, dia pun pulang ke Mesir membawa tulang pemberian sang Khalifah.

Setibanya di Mesir, ia menyerahkan tulang dari Khalifah tersebut kepada sang Gubernur, Amr bin ‘Ash. Namun, anehnya, begitu sang Gubernur menerima tulang itu, mendadak tubuhnya menjadi menggigil dan wajahnya pucat ketakutan.

Lagi-lagi, si Yahudi tak mengerti terhadap situasi itu. Beberapa saat kemudian, sang Gubernur memerintahkan kepada bawahannya untuk membongkar masjid yang baru rampung dinbangun itu, dan supaya gubuk lelaki Yahudi tersebut dibangun kembali serta diserahkan kembali kepadanya.

Beberapa saat sebelum masjid baru itu akan dirobohkan, si Yahudi berkata,

“Maaf Tuan, tidak perlu dibongkar dulu masjid itu. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu?”

“Silakan, ada perlu apa lagi?” tanya Amr bin ‘Ash.

“Mengapa Tuan sangat ketakutan dan langsung menyuruh membongkar masjid baru itu, padahal Tuan hanya menerima sepotong tulang dari Khalifah Umar?”

“Wahai orang Yahudi, ketahuilah bahwa, tulang itu hanya tulang biasa. Akan tetapi, karena dikirimkan oleh Khalifah, tulang itu pun berubah menjadi peringatan keras bagiku.”  jawab Amr.

“Maksudnya?” potong si Yahudi masih tidak mengerti.

“Ya, tulang itu berisi ancaman dari Khalifah. Seolah-olah beliau berkata,

“Hai Amr bin ‘Ash, Ingatlah! siapa pun kamu sekarang dan betapa pun tinggi pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat nanti kamu pasti akan berubah menjadi tulang yang busuk. Oleh karena itu, bertindaklah adil seperti huruf alif yang lurus, adil ke atas dan juga adil ke bawah. Sebab, apabila kamu tidak bertindak lurus, pedangku nantinya yang akan bertindak dan memenggal lehermu!”

Rahasia Alif, Keheningan Menuju Kesempurnaan Ilahi

Si Yahudi tersebut tertunduk dan begitu terharu mendengar penuturan dari sang Gubernur. Ia sangat kagum atas sikap Khalifah yang tegas dan adil, serta sikap Gubernur yang sangat patuh dan taat kepada atasannya, hanya dengan menerima sepotong tulang unta kering. Sungguh mulia dan mengagumkan.!

Akhirnya, si Yahudi itu menyatakan memeluk Islam, lalu ia menyerahkan tanah dan gubuknya tersebut sebagai wakaf.

Mosque Of Ezbeck, Cairo, Egypt by Aloysius O'kelly Find more on :  https://www.facebook.com/pages/Islamska-arhitektura-i-umj… | Pinturas,  Artistas famosos, Artistas

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Keteladanan Khalifah Umar Bin Khattab  “Kami Mencuri karena Kelaparan”

Donasiberkah.id- Di dalam sebuah sidang peradilan, Umar ibn al-Khathab dihadapkan dengan dua orang pelayan yang masih kecil. Mereka dituduh melakukan pencurian seekor unta milik seorang laki-laki dari Bani Muzayyinah.

Para pelayan cilik tersebut terlihat sangat kurus dan mukanya juga pucat. Tampak sekali penyesalan dan kekhawatiran terbayang dari wajah-wajah lusuh mereka, mengingat hukuman pencurian dalam Islam sangat berat, yaitu potong tangan. Mungkinkah mereka akan kehilangan salah satu tangan, pikir mereka. Padahal, buruh kasar seperti mereka, tangan adalah modal utama dalam mencari penghidupan.

“Kenapa kalian mencuri?” tanya Umar memecahkan suasana.

“Saat ini musim paceklik dan kami sangat kelaparan, wahai Amirul Mukminin,” ujar para pelayan.

Kedermawanan Di Musim Paceklik bagian 1 | Rumahhufazh.or.id | Portal  Alquran Tematik dan Dunia Islam

Umar terdiam sejenak, kemudian mengarahkan pandangannya ke hadirin, “Siapakah majikan dari para pembantu ini?” tanyanya.

Di antara yang hadir tersebut menjawab bahwa majikan mereka adalah Hathib bin Abi Balta’ah. Selanjutnya, Umar meminta agar Hathib di bawa ke persidangan.

Usai menghadap, Umar bertanya kepadanya, “Wahai Hathib, apakah benar engkau adalah majikan para pelayan ini?”

“Iya, benar, wahai Amirul Mukminin,” jawab Hathib agak gugup.

Baca Juga : Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu

Umar kemudian melanjutkan,

“Hampir saja aku menimpakan hukuman kepada mereka, kalau saja aku tidak dapat kabar bahwasanya engkaulah yang telah mempekerjakan mereka, tetapi engkau membiarkan mereka begitu saja dalam keadaan kelaparan sehingga mereka terpaksa mencuri. Dan, aku tidak akan menimpakan hukuman kecuali untukmu.”

Selanjutnya, Umar menoleh ke arah pemilik unta seraya bertanya,

“Berapa harga untamu?”

Pemilik unta tersebut menjawab,

“Empat ratus dirham.”

Umar kemudian kembali menatap tajam kea rah Hathib, seolah-olah ia hendak menghunjam dalam hati majikan mereka. Hathib hanya menunduk. Selanjutnya, Umar mengeluarkan keputusan yang sangat bijaksana,

Wallpaper : unta seperti mamalia, fauna, unta Arab, pemandangan, langit,  savana, ekoregion, margasatwa, stock photography, visual arts 1695x1069 - -  904961 - HD Wallpapers - WallHere

“Pergi dan berikanlah kepada pemilik unta tersebut delapan ratus dirham, dua kali lipat dari harga yang semestinya.”

Umar selanjutnya juga memberi keputusan kepada para pelayan tersebut.

“Kalian pergilah, dan jangan mengulangi lagi perbuatan yang seperti ini!”

Mendengar keputusan vonis tersebut, tentu saja para pelayan sangat senang  dan menarik napas lega. Mereka menganggap bahwa keputusan seperti itu sangat bijaksana bagi mereka.

Continuous one line drawing two young Arab male workers fly paper plane  from top of mountain. Success business managers minimalist metaphor  concept. Single line draw design vector graphic illustration 3511405 Vector  Art

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Sahabat Tentang Keajaiban Sedekah Melalui Ladang Pertanian

Donasiberkah.id- Kisah keajaiban sedekah ini datang yang Rasulullah ﷺ sampaikan dan ditulis dalam kitab Riyadhus Shalihin.

Dalam kisah tersebut terdapat seorang petani kurma di Madinah, dilahan petani tersebut aliran air sangat kurang, sehingga kesuburan dari tanah tersebut kurang dan buah – buahannya tidak muncul dengan baik.

Ia khawatir, jika terus menerus terjadi seperti itu, panen tidak bisa maksimal dan kebutuhan diri dan keluarganya akan kurang.

353159 Barren, Desert, Naked Tree, Sand 4k wallpaper - Mocah HD Wallpapers

Kemudian ia menengadah ke langit. Kedua tangan diangkat setinggi mungkin sambil berdoa.

Tak lama setelah itu, Allah mengirimkan awan lebat yang ada di atas kebunnya. Sang petani tersenyum kegirangan.

Dalam hatinya ia berkata “ Allah telah mengabulkan doa yang kupanjatkan tadi “.

Awan Hujan Kertas Rintik - Gambar gratis di Pixabay

Namun sebaliknya, yang terjadi tidak sesuai dengan pikiranya, terdengar suara yang berasal dari langit dan berbunyi “Wahai awan, pergilah ke tanah si fulan”.

Maka berjalanlah awan tersebut ke arah lain, ke tempat kebun yang suaranya tadi terdengar.

Sang petani merasa kesal dalam batin sang petani : “ Mengapa hujan tidak jadi turun di tanahku ? ”

Sang petani pun penasaran. Ia ikuti ke arah awan itu berjalan dan menurunkan air yang dikandungnya untuk diturunkan ke tanah.

Sang petani sampai di kebun dengan daun tanaman yang rimbun, airnya melimpah. Sang petani keheranan melihat petani lain yang sedang sujud bersyukur karena awan tersebut menurunkan air yang ada di dalamnya di tanah yang subur miliknya.

7 Oase Paling Cantik di Seluruh Dunia, Jadi Pengin Langsung Nyebur

Saat itu petani memanggil si pemilik tanah, si pemilik tanah merasa keheranan lalu bertanya “ Saudara,   dari mana Anda tahu namaku ?

Si petani menjawab, itulah saudaraku, aku sendiri ingin bertanya sebaliknya.  Amalan  apa yang membuat usahamu begitu berkah hingga namamu ku dengar dari atas langit yang memerintahkan awan  untuk menurunkan hujan ditanahmu .

Subhanallah apakah ini sebuah prestasi hebat sehingga nama seseorang disebut dari langit?

Pemilik tanah lalu menjawab pertanyaan  dari petani .

“ Saudara, belum  ada orang yang aku beritahu tentang rahasia amalan  yang aku kerjakan sehingga menghasilkan yang sedemikian.

Namun  karena engkau tahu sebagian rahasia ini dan  juga karena engkau telah menanyakannya,  maka tak layak bagiku untuk merahasiakannya lagi “

Petani berkata “ceritakanlah padaku wahai saudara”

Fakta Buah Kurma, Buah yang Diistimewakan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW

Pemilik tanah lalu menceritakannya “   Rahasianya mungkin adalah setiap kali kebun dan tanah ini member hasil, hanya sepertiga yang aku pakai makan. Sepertiganya lagi aku kembalikan untuk modal selanjutnya. Dan sepertiganya lagi aku berikan kepada Allah sebagai bentuk infakku di jalannya. Itulah amalan yang aku berikan, sehingga membawa ke hasil yang seperti ini”.

Kesimpulan

Kebun Kurma Madinah - Baaca.id

Dari kisah diatas, sedekah sejatinya tidak akan membuat harta yang kita miliki akan habis begitu saja. Memang benar secara logika harta yang di berikan akan berkurang. Namun jika disedekahkan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, akan ada balasan yang diterima.

Maka dari itu kita harus mulai menyadari bahwa harta yang kita punya hanyalah titipan semata. Ada hak orang lain didalamnya.

Selain itu Allah telah berjanji bahwa rezeki akan diberikan kepada siapapun terlebih kepada orang yang rajin bersedekah.

Itulah kumpulan kisah keajaiban sedekah yang bisa kita ambil hikmahnya.

Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Muwaffaq – Pahala Membantu Tetangga dan Anak Yatim

Donasiberkah.id- Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, ia tertidur di Masjidil Haram. Dia telah bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit lalu yang satu berkata kepada yang malaikat yang lain, “Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?.”

Malaikat yang satunya menjawab, “Enam ratus ribu.”

Lalu ia bertanya lagi, “Berapa banyak yang diterima ?.”

Islamic Art and Quotes — Old Drawing of Masjid al-Haram (Makkah, Saudi...

Jawabnya, “Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun ini diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq.”

 

Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq itu sehingga ia sampailah ke rumahnya.

Baca Juga : Kisah Salman yang Menegur Ibadah Abu Darda’ 

Dan ketika diketuk pintunya sambil memberi salam, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya namanya.

Jawab orang itu, “Muwaffaq.”

 

 

 

 

 

Abdullah bin Mubarak pun menceritakan perihal percakapan dua malaikat dalam mimpinya di Masjidil Haram pada Muffaq.

Lantaran penasaran dan takjub terhadap mimpinya, lalu Abdullah bin Mubarak bertanya padanya, 

“Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai derajat yang sedemikian itu?.”

Muwaffaq bercerita, 

“Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak dapat karena keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat uang tiga ratus dirham dari pekerjaanku membuat dan menambal sepatu, lalu aku berniat untuk haji pada tahun ini sedangkan istriku sedang hamil, maka suatu hari istriku mencium bau makanan dari rumah tetanggaku dan ingin makanan itu, maka aku pergi ke rumah tetanggaku dan menyampaikan tujuan ku kepada wanita tetanggaku itu.

Jawab tetanggaku, “Aku terpaksa membuka rahasiaku, sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tidak mendapat makanan, karena itu aku keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba aku menemukan bangkai himar di suatu tempat, lalu aku potong sebagian dan ku bawa pulang untuk aku masak, maka makanan ini halal bagi kami dan haram makanan ini untuk kamu.”

Hungry Child Painting by Vinayak Deshmukh

Ketika aku mendengar jawaban itu, aku segera kembali ke rumah dan mengambil uang tiga ratus dirham dan kuserahkan kepada tetanggaku tadi dan menyuruhnya membelanjakan uang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam penjagaannya itu.

Abdullah bin Mubarak takjub mendengar kisah Muwaffaq.

Kata Muwaffaq lagi. “Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku.” 

Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahwa membantu tetangga yang dalam kelaparan, amat besar pahalanya apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim.

Dari Abu Syuraih r.a. bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu, Ya Rasulallah?” Jawab Nabi, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR Bukhari).

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kehidupan Abu Darda yang Membuat Umar Menangis  

Donasiberkah.id- Uwaimir bin Malik Al Khazraji atau lebih dikenal dengan panggilan Abu Darda merupakan seorang pedagang parfum dan ulama zuhud yang hidup di zaman Nabi Muhammad ﷺ. Dia bersahabat dengan Khalifah Umar bin Khattab.

Dalam buku “Abu Darda: Pedagang dan Ulama Besar“ Fajar Dinar menceritakan, Khalifah Umar bin Khattab pernah mengunjungi rumah Abu Darda di Syam. Umar mendatanginya untuk mengetahui kondisi kehidupan Abu Darda di daerah tersebut.

Setelah sampai, ternyata rumah Abu Darda tidak dikunci. Kemudian Khalifah Umar masuk dan keadaan di dalam sangat gelap. Mendengar suara  Umar, Abu Darda bangkit dan menyahut salam tamunya.

Old Wooden Door Free Stock Photo - Public Domain Pictures

Umar pun merasa terharu dan prihatin menyaksikan keadaan sahabatnya itu. Namun, ia menyadari bahwa Abu Darda hidup dalam kezuhudannya. Ia telah hampir sepenuhnya meninggalkan dunia dan kemewahan hidup.

Mereka pun terlibat dalam pembicaraan yang serius. Mereka berbincang tentang persoalan agama, tata negara, dan sebagainya. Banyak yang ditanyakan Umar kepada Abu Darda, yang ilmunya bagaikan air di dalam samudera yang luas.

Karena keadaan di dalam rumah gelap, keduanya tak bisa melihat permukaannya. Hanya suara mereka yang terdengar. Dalam keadaan itu, Umar pun penasaran dan kemudian meraba alas duduk Abu Darda. 

Kiranya hanya pelana kuda yang keras. Diraba pula kasur tempat Abu Darda tidur, yang kiranya isi Kasur tersebut hanya pasir belaka.

Selain itu, Umar juga meraba selimut sahabatnya itu, dan ternyata hanya terbuat dari bahan-bahan tipis yang tak mencukupi untuk dipakai di musim dingin. Umar pun menarik nafas karena kagum terhadap kehidupan Abu Darda. Ia benar-benar Muslim saleh yang sudah tak membutuhkan dunia ini.

Free Clean Fabric Texture Texture - L+T

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu. Maukah Engkau aku bantu? Maukah Engkau aku kirimi sesuatu untuk melapangkan kehidupanmu ?” Kata Umar.

Abu Darda kemudian tersenyum sambil menjawab, “Ingatkah Anda Umar sebuah hadits yang disampaikan Rasulullah kepada kita?.”

“Hadits apa?.” Tanya Umar.

Abu Darda menjawab, “Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Hendaklah puncak salah seorang kamu tentang dunia, seperti perbekalan seorang pengembara (yaitu secukupnya dan seadanya).”

NgeInfo: MUSAFIR CERDAS

“Ya, saya ingat,”kata Umar.

“Nah, apa kini yang telah kita perbuat sepeninggal beliau?” tanya Abu Darda kepada Umar yang tengah menundukkan kepalanya.

Ucapan Abu Darda benar-benar sangat menyentuh hati Umar. Terbayang kembali bagaimana kehidupan Rasulullah ﷺ pada saat beliau masih hidup di tengah kaum Muslimin. Kemiskinan hidupnya hampir tak ada yang menyamainya. Semua tindakan Nabi terbayang kembali dengan jelas di pelupuk matanya.

Akhirnya Umar tak kuasa lagi menahan gejolak jiwanya malam itu. Ia menangis tersedu-sedu diikuti Abu Darda.

Maka, kedua sahabat tersebut menangis penuh kesedihan. Jiwanya hancur luluh tak terkirakan lagi. Semakin teringat kepada Rasulullah, makin pedih hatinya. Keduanya menangis sampai subuh. Dunia yang mereka pijak bagaikan tak terasa lagi.    

Menangis dan Tertawa Sendiri, Khalifah Umar Sempat Dianggap Gila

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Salman yang Menegur Ibadah Abu Darda’ 

Donasiberkah.id- Saat kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah, untuk mempererat persaudaraan antara kaum Muhajirin (kelompok pendatang) dan kaum Anshor (penduduk asli Madinah), Nabi memiliki kebijakan untuk mempersaudarakan (al-ikha’) setiap orang.

Salman Al-Farisi dengan nama barunya ini pun tidak luput dari kebijakan tersebut. Di Madinah, Salman diikat persaudaraan dengan Abu Darda’, seorang penduduk asli yang sangat rajin beribadah.

Bahkan dalam riwayat Imam al-Bukhari (Hadist no. 1867 dari riwayat Juhaifah RA) disebutkan bahwa ibadah Abu Darda’ masuk pada kategori ekstrem. Padahal, pemahaman dan perilaku agama yang ekstrem tidak dianjurkan.

Rasulullah ﷺ pernah menegur sahabat Mu’adz bin Jabal ketika menjadi imam salat karena berlama-lama dengan bacaan surat yang begitu panjang. Hal yang menunjukkan bahwa pada tataran kecil saja, Nabi begitu memerhatikan aspek keseharian para Sahabatnya.

Hal yang sama terjadi dengan Abu Darda’, sahabat yang terla dan bertamulu giat dalam ibadah. Salman baru mengetahui hal itu saat mengunjungi kediaman Abu Darda’.

Salman heran melihat kelakuan dan penampilan Ummu Darda’, istri Abu Darda’, yang murung dengan pakaian kumal tidak terawat.

Khadijah: Kisah Cinta Rasulullah, Salam dari Allah, dan Sorban Malaikat  Jibril Halaman 1 - Kompasiana.com

Salman pun bertanya kepada Ummu Darda’. “Apa yang terjadi padamu?.”

“Lihatlah itu saudaramu,” kata Ummu Darda’, “dia tidak lagi membutuhkan dunia. Lalu untuk apa aku perlu memperhatikan diriku di hadapannya?”

Abu Darda’ adalah salah satu sahabat Nabi yang selalu berpuasa setiap hari, shalat sepanjang malam, sampai keluarganya tidak pernah diperhatikan.

Melihat perilaku istri Abu Darda’, Salman berkesimpulan Abu Darda’ tidak peduli dengan keluarganya sendiri dan lebih memilih untuk selalu beribadah.

Tak berselang lama Abu Darda’ datang membawa makanan dan mempersilakan saudaranya ini makan. 

“Makanlah, aku sedang berpuasa,” kata Abu Darda’ sedikit acuh.

12 Makanan Khas Arab Saudi yang Terkenal Lezat

Mendengar itu, Salman sedikit terkejut. Jika Abu Darda’ selalu berpuasa, bagaimana ia memenuhi kebutuhan lahir-batin istrinya?.

Akhirnya Salman pun berkata. 

“Aku tidak akan makan kecuali kamu ikut makan,” kata Salman.

Karena tidak enak dengan kunjungan saudaranya, dan setiap Muslim harus memuliakan tamunya, maka Abu Darda’ akhirnya makan memilih makan dan membatalkan puasanya.

Baca Juga : Sa’ad bin Ubadah Sahabat yang Gemar Sedekah

Hal ini terus berlangsung setiap kali Salman mengunjungi kediaman Abu Darda’. Bahkan pada suatu malam, Abu Darda’ dengan entengnya meninggalkan pertemuan dengan Salman di rumahnya.

“Engkau pasti lelah, tidurlah di ruang ini.”

Ia beranjak sembari mengenakan pakaian untuk salat sunnah dan berdzikir sepanjang malam. 

Salman pun menegur. “Tidurlah Abu Darda’.”

Tentu saja teguran ini didasari setelah memperhatikan bahwa Abu Darda’ sebenarnya sudah sangat letih. Abu Darda’ pun tidur.

Karena takut bahwa saudaranya akan bangun lagi dan akan melaksanakan salat lagi, Salman memilih tidak pulang. Benar saja, tidak berselang lama Abu Darda’ terbangun dan ingin melakukan salat lagi.

Baru akan bangun dari tempat tidurnya, Salman langsung menegur kembali, “Tidurlah.” Abu Darda’ lalu tidur kembali.

Ketika sudah sepertiga malam, Salman yang semalaman menunggu tidur Abu Darda’ pun membangunkannya. “Nah, sekarang bangunlah,” kata Salman sambil mengajak salat bersama.

Bacaan Niat Sholat Tahajud Terlengkap - Ayo Surabaya

Ketika shalat malam selesai, Salman pun menegur saudaranya ini.

“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu yang harus kau tunaikan, dan dirimu punya hak atasmu yang harus kau tunaikan, badan dan matamu memiliki hak untuk istirahat, dan keluargamu punya hak atasmu yang harus kau tunaikan,” kata Salman. 

Salman melanjutkan, “Tunaikanlah hak-hak tersebut kepada setiap pemiliknya.” mengakhiri pembicaraan malam itu.

Beberapa hari kemudian akhirnya Abu Darda’ mengadu kepada Rasulullah ﷺ prihal Salman yang membuat agendanya hariannya (puasa batal dan shalat jadi berkurang).

57+ Gambar Kaligrafi Islam, Bagus Keren Wallpaper

Namun hal yang disampaikan Salman dibenarkan Rasulullah ﷺ. Hal yang menunjukkan bahwa ibadah yang melebihi batas merupakan tindakan yang tidak diperkenankan. Karena saat menegur Mu’adz, sahabat yang suka berlama-lama dalam salat seperti kisah sebelumnya, Rasulullah ﷺ pernah berpesan. “Permudahlah dan jangan mempersulit, kabarkanlah kegembiraan dan jangan memberitakan ancaman, bersepahamlah dan jangan berselisih.”

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Umar Bin Abdul Aziz dan Lampu Negara

Donasiberkah.id- Peradaban Islam telah menghasilkan sejumlah pemimpin yang meniru budi pekerti Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah Umar bin Abdul Aziz. Walau pemerintahannya cukup singkat, khalifah Dinasti Umayyah ini telah berperan besar dalam sejarah.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan ketinggian budi pekerti kakek dan nenek Umar bin Abdul Aziz; sifat yang akhirnya menurun kepada sang cucu. Kisah berikut yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab disampaikan sahabat Abdullah bin Zubair.

Pada suatu malam, Khalifah Umar Bin Khottob dengan ditemani Abdullah sedang melakukan patroli keliling Madinah. Karena merasa lelah, sang amirul mukminin pun bersandar pada dinding sebuah rumah. Keadaan saat itu cukup gelap gulita.

Premium Vector | Panorama of ancient arab city with houses and the mosque  at night blue city in cartoon style

Dari arah jendela rumah tersebut, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berkata kepada putrinya, “Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.”

“Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin?” tanya si anak gadis.

“Memang apa maklumatnya?”

“Tadi siang di pasar, petugas Amirul Mukminin mengumumkan, hendaknya pedagang tidak mencampur susu dengan air.”

“Tidak apa-apa, putriku, campur saja susu itu dengan air. Sekarang kita di rumah. Tidak mungkin Umar atau petugas mengetahui,” kata si ibu.

“Benar, Bu, Amirul Mukminin tidak melihat kita. Namun, Tuhannya Amirul Mukminin Maha Melihat,” timpal putrinya.

Umar menyimak perbincangan ibu dan anak itu. Sebelum pulang, ia meminta Abdullah untuk menandai rumah tersebut. Begitu kembali kepada keluarganya, Umar memanggil putra-putranya.

“Adakah di antara kalian yang ingin menikah?”

“Saya belum beristri, wahai Ayah. Nikahkanlah aku,” jawab Ashim bin Umar.

Keesokan harinya, Umar berkata kepada Ashim. “Pergilah kamu ke suatu tempat di daerah ini. Engkau akan bertemu dengan seorang gadis. Temui ibunya. Persuntinglah gadis itu agar menjadi istrimu. Semoga Allah memberimu keturunan yang baik darinya.”

Arabic Narrow Images, Stock Photos & Vectors | Shutterstock

Akhirnya, Ashim bin Umar menikah dengan gadis penjual susu itu. Pasangan ini dikaruniai anak-anak yang berbudi pekerti luhur. Salah satunya adalah Laila, yang lantas dipersunting oleh seorang gubernur yang saleh, Abdul Aziz bin Marwan. Dari pernikahan ini, lahirlah sang mujadid abad pertama Hijriah.

Karakteristik kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz adalah amanah dan warak, jauh dari kesan semena-mena. Selayaknya orang yang memahami ilmu-ilmu agama, ia memahami adanya tanggung jawab, baik di dunia maupun akhirat kelak. Bahkan, dirinya pun semakin takut akan pengadilan Hari Akhir dan perjumpaan dengan Tuhannya. 

Lampu Ini Milik Negara

37,579 Arabic Lamp Stock Photos, Pictures & Royalty-Free Images - iStock

Masuk ke cerita utama artikel ini, suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tak dinyana, putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu.

”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.

”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.

Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.

”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.

”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam.

”Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah.”

Arab Hold Lantern Images, Stock Photos & Vectors | Shutterstock

Begitulah perangai pejabat sejati. Ternyata, puncak kejayaan di berbagai bidang tak lantas membuat Umar bin Abdul Aziz terperdaya. Meski prestasinya banyak dipuji, pemimpin berjuluk ”khalifah kelima” ini tetap bersahaja, amanah, dan sangat hati-hati mengelola aset negara.

Semoga kelak banyak yang akan lahir di masa kini dan masa depan pemimpin yang seperti Umar Bin Abdul Aziz, yang jujur dan zuhud yang peduli pada negaranya. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini: 

English EN Indonesian ID