Griya Yatim & Dhuafa

Fatimah dan Wanita Penghuni Surga

Donasiberkah.id- Wanita Pertama Penghuni Surga bukanlah putri seorang nabi, melainkan Dialah Mutiah. Mengapa bisa demikian? Siti Fatimah Putri Rasul pun sangat penasaran dibutanya.

Suatu hari putri Nabi Fatimah Az Zahra ra bertanya kepada Rasulullah siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelah Ummahatul Mukminin setelah istri-istri Nabi

Rasulullah bersabda : “Dialah Mutiah.”

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Empat Alasan Mengapa Madinah Dipilih sebagai Tempat Hijrah Rasulullah | NU  Online

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.

“Assalaamualaikum ya ahlil bait”. Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, “Waalaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad ﷺ.”

Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”

Modern Art in the Arab World | Apollo Magazine

Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi kepada Mutiah dari balik pintu.

“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”

 

Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”

488 Muslim Arabic Little Cute Boy Photos - Free & Royalty-Free Stock Photos  from Dreamstime

Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah ﷺ. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

 

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.

 Baca juga : Kekhawatiran Fatimah dan Sejarah digunakannya Keranda oleh Umat Muslim

Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.

Semakin takjub hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah dan begitu tunduk dan tawaddu kepada suaminya.

Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu

Doasiberkah.id- Alkisah, tanah Arab tengah dilanda paceklik. Musim kemarau berjalan cukup panjang, membuat tanah-tanah di sana menjadi tandus.

Khalifah Umar bin Khattab kala itu tengah memimpin umat Islam menjalani tahun yang disebut Tahun Abu. 

Menjadi kebiasaan Khalifah Umar bin Khattab setiap harinya berkeliling kota Madinah, untuk melihat situasi rakyatnya. Namun beliau sempat sakit selama tiga hari, sehingga Khalifah Umar berdiam di rumah dan tidak berkeliling sebagaimana biasanya.

Suatu malam, ketika Khalifah Umar telah sembuh dari sakitnya, ia mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah.

3 Gurun Pasir yang Siap Bikin Lupa Keramaian Kota... Halaman all -  Kompas.com

Langkah Khalifah Umar terhenti di dekat sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil mengusik perhatiannya. Khalifah Umar lantas mengajak Aslam mendekati tenda itu dan memastikan apakah penghuninya butuh bantuan.

Setelah mendekat, Khalifah Umar mendapati seorang wanita dewasa tengah duduk di depan perapian. Wanita itu terlihat mengaduk-aduk bejana.

Setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat. Usai diperbolehkan oleh wanita itu, Khalifah Umar duduk mendekat dan mulai bertanya tentang apa yang terjadi.

” Siapa yang menangis di dalam itu?” tanya Khalifah Umar.

” Anakku,” jawab wanita itu dengan agak ketus.

” Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah dia sakit?” tanya Khalifah selanjutnya.

” Tidak, mereka lapar,” balas wanita itu.

Jawaban itu membuat Khalifah Umar dan Aslam tertegun. Keduanya masih terduduk di tempat semula cukup lama, sementara gadis di dalam tenda masih saja menangis dan ibunya terus saja mengaduk bejana.

Perbuatan wanita itu membuat Khalifah Umar penasaran. ” Apa yang kau masak, hai ibu? Mengapa tidak juga matang masakanmu itu?” tanya Khalifah.

 

” Kau lihatlah sendiri!” jawab wanita itu.

Khalifah Umar dan Aslam segera melihat isi bejana tersebut. Seketika mereka kaget melihat isi bejana itu.

” Apakah kau memasak batu?” tanya Khalifah Umar dengan tercengang.

Merebus Batu: Bagaimana Kami Membuat Sup Panas Tanpa Kompor?

” Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum,” kata wanita itu.

” Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan,” ucap wanita itu.

916 World Hunger Illustrations & Clip Art - iStock

” Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya,” lanjut wanita itu.

Wanita itu tidak tahu yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar bin Khattab. Aslam sempat hendak menegur wanita itu. Tetapi, Khalifah Umar mencegahnya. Khalifah lantas menitikkan air mata dan segera bangkit dari tempat duduknya.

Segeralah diajaknya Aslam pergi cepat-cepat kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, Khalifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum.

Tanpa mempedulikan rasa lelah, Khalifah Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut di punggungnya. Aslam segera mencegah.

” Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu,” kata Aslam.

Kalimat Aslam tidak mampu membuat Umar tenang. Wajahnya merah padam mendengar perkataan Aslam.

Siapa Umar bin Khattab, Siapa Jae?

“Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?” kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke tenda tempat tinggal wanita itu.

Sesampai di sana, Khalifah Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan. Khalifah sendiri yang memasak makanan yang akan disantap oleh wanita itu dan anak-anaknya.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang.

Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya.

” Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu,” kata Khalifah Umar.

Baca Juga : Kisah Kekuatan Cinta Zainab dan Abul Ash ibn Rabi’

Keesokan harinya, wanita itu pergi menemui Amirul Mukminin. Betapa kagetnya si wanita itu melihat sosok Amirul Mukminin, yang tidak lain adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.

” Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum,” kata wanita itu.

Ini Dia 4 Kehebatan Umar Bin Khattab Sebagai Pemimpin! - Islampos

” Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu,” kata Khalifah Umar.

Pelajaran apakah yang bisa kita petik dari kisah luar biasa ini, sudah berapa perut yang kelaparan yang telah kita tolong, jika kita adalah orang yang mampu dan membiarkan itu terjadi, maka cemaslah sebagaimana khalifah Umar cemas, karena semua yang kita miliki akan ditanya untuk apa? Dipakai untuk membantu sesamakah? Karena di dalam harta kita, terdapat hak-hak mereka. Wallahu ‘alamu bis showab.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Rasulullah ﷺ dan Kuli Batu “Keutamaan Mencari Nafkah”

Donasiberkah.id- Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah ﷺ baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Antara Yastrib dan Madinah: Awalnya Umat Nabi Nuh Tinggal di Sini

Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”.

Si tukang batu menjawab, ”Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Tangan Tukang Pemecah Batu Dicium Rasulullah - Islami[dot]co

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,

”Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.

Rasulullah tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.

 Gambar-gambar Menarik Ucapan Selamat Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 H,  Download Lalu Update di Medsos - Tribunjabar.id

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah, kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)

 

Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.

Nature Wallpaper for Android - APK Download

”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10).

”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS. Nuh19-20)

 Baca Juga : Kisah Rasulullah dan Pengemis, Pendidikan Rasulullah Bagi yang Malas Bekerja

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas).

 

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas).

 

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari).

 

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari).

 

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijalan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad).

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Sulitnya Mencari Orang Miskin di Zaman Umar bin Abdul Aziz

Donasiberkah.id- Suatu hari, di era kepemimpinan  Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, Khalifah dari Dinasti Umayyah, mengutus seorang petugas pengumpul zakat, Yahya bin Said untuk memungut zakat ke Afrika. 

‘’Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun,’’ ujar Yahya.

Pertemuan Kakek Dan Nenek Umar Bin Abdul Aziz - Islampos

Pada era itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan. Semua rakyatnya hidup berkecukupan. 

‘’Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli budak lalu memerdekakannya,’’ kisah Yahya bin Said. Kemakmuran umat, ketika itu,  tak hanya terjadi  di Afrika, tetapi juga merata di seluruh penjuru wilayah kekuasaan Islam, seperti Irak dan Basrah.

Abu Ubaid mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak, agar membayar semua gaji dan hak rutin di provinsi itu. ‘’Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun, di Baitul Mal masih terdapat banyak uang,’’ tutur sang gubernur dalam surat balasannya.

Baca Juga : Rasulullah ﷺ dan Kisah Haru Anak Yatim

Khalifah Umar lalu memerintahkan, 

‘’Carilah orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah dia uang untuk melunasi utangnya!’’ Abdul Hamid kembali menyurati Khalifah Umar, 

Kenapa Khalifah Umar bin Abdul Aziz Dijuluki Umar II? | Ebook Anak

‘’Saya sudah membayarkan utang mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang.’’

Khalifah lalu memerintahkan lagi, 

‘’Kalau begitu bila ada seorang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya!’’ Abdul Hamid kembali menyurati Khalifah, ’’Saya sudah menikahkan semua yang ingin nikah.’’ Namun, di Baitul Mal ternyata dana yang tersimpan masih banyak.

cropped-menikah-ilustrasi-_160405174225-542.jpg – Ruang Keluarga

Khalifah Umar lalu memberi pengarahan, ‘’Carilah orang yang biasa membayar jizyah dan kharaj. Kalau ada yang kekurangan modal, berilah mereka pinjaman agar mampu mengolah tanahnya. Kita tidak menuntut pengembaliannya kecuali setelah dua tahun atau lebih.’’

Sejatinya,  Baitul Mal secara resmi berdiri pada zaman kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab. Namun, cikal bakalnya sudah mulai dikenal sejak zaman Rasulullah Ketika Nabi Muhammad memimpin pemerintahan di Madinah, Baitul Mal belum terlembaga.

Umar Ibn Khattab Juga Piawai Dalam Ekonomi - Islampos

Rasulullah ﷺ secara adil mengalokasikan pemasukan yang diterima untuk pos-pos yang telah ditetapkan. Pelembagaan baitulmal juga masih belum ditetapkan pada masa kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq. Pengelolaan dana yang diterapkan khalifah pertama masih mengikuti pola yang diterapkan Nabi Muhammad .

Seiring bertambah luasnya wilayah kekuasaan Islam, pengelolaan keuangan pun bertambah kompleks. Atas dasar pertimbangan itulah, Khalifah Umar bin Khattab memutuskan untuk melembagakan Baitul Mal menjadi lembaga formal. Terlebih, pada masa Umar, wilayah kekuasaan Islam sudah melampaui semenanjung Arab.

Ini Sosok di Balik Naiknya Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Rasulullah dan Pengemis, Pendidikan Rasulullah Bagi yang Malas Bekerja

Donasiberkah.id- Dalam banyak riwayat Hadis disebutkan bahwa bekerja dan mencari nafkah merupakan perbuatan sangat mulia. Nabi Muhammad   memberikan motivasi sekaligus pelajaran berharga tentang pentingnya bekerja.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menceritakan, suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Nabi ﷺ. Lalu Nabi bertanya kepada pengemis itu, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu pun menjawab: “Tentu, aku mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir”.

cangkir

Mendengar jawaban pengemis itu, Nabi meminta pengemis itu mengambil pakaian dan cangkirnya tersebut. Tanpa menunggu lama pengemis itu pulang kerumahnya, dan kembali ke hadapan Nabi dengan membawa barang-barangnya. Nabi lalu menawarkannya kepada para sahabat: “Adakah di antara kalian yang ingin membeli barang ini?”. tanya Nabi.

Seorang sahabat menyahut, “Aku beli dengan harga satu dirham”.

Jangan Disepelekan, 9 Kondisi Tangan Ini Bisa Menunjukkan Masalah  Kesehatanmu - Tribunnewsbogor.com

Nabi lalu menawarkannya kembali kepada para sahabat, lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Nabi lalu memberikan kain serta cangkir itu kepada sahabat yang mengajukan penawaran tertinggi dan mengambil uang darinya.

Kemudian Nabi memberikannya kepada pengemis dan berkata: “Ini uangmu, satu dirham untuk membeli makanan untukmu dan keluargamu. Sisanya untuk membeli kapak, carilah kayu bakar kemudian juallah. Aku tidak ingin melihatmu lagi selama lima belas hari,” kata Nabi.

Wood industry raw material and production samples flat set with tree trunk logs planks door Free Vector

Lalu pengemis itu pergi dan menjalankan perintah Nabi . Lima belas hari kemudian ia datang lagi dan telah memiliki sepuluh dirham. Lima dirham dia belanjakan untuk membeli pakaian dan selebihnya untuk makanan bagi keluarganya.

Pengemis itu telah berubah dari pribadi yang meminta berbelas kasih orang lain, menjadi pribadi yang giat bekerja, MasyaAllah, begitu epik Nabi mendidik pengemis menjadi pekerja dalam waktu 15 hari.

Gambar kartun islami Muslimah Bercadar Romantis Lucu Terbaru Lengkap

Rasulullah bersabda: “Hal ini lebih baik bagimu karena mengemis hanya akan menyebabkan noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seorang mengemis kecuali dalam tiga hal: (1) Fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu (2) Utang yang tidak bisa dibayar (3) dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha”. (HR Abu Dawud).

Di hadis lain, Beliau bersabda: “Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Baca Juga : Cintanya Nabi Kepada Umat

Nabi juga bersabda: “Tidaklah makan seseorang lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR Al-Bukhari)

Bandung Dapat Predikat Kota dengan Makanan Tradisional Terbaik di Dunia 2020

Dari Abu Abdullah Az-Zubair bin Al-‘Awwam ia berkata, Rasulullah bersabda: 

“Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya. Kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi ataupun tidak.” (HR. Al-Bukhari).

Di riwayat lain, Nabi bersabda: “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah Ta’ala”. (HR Ahmad dan Ibnu Asakir).

Rasulullah pernah ditanya, pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau menjawab, pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perjualbelian yang dianggap baik. (HR Ahmad dan Al-Baihaqi).

Demikian kisah Rasulullah dan seorang pengemis yang penuh hikmah. Nabi memberikan pelajaran berharga kepada pengemis itu sekaligus membebaskannya dari kefakiran. Semoga Allah memberi kita kemampuan dan meluaskan rezeki sehingga terhindar dari kefakiran dan kemiskinan. Allahumma Aamiin.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Rasulullah ﷺ dan Kisah Haru Anak Yatim

Donasiberkah.id- Kata “Yatim”, satu kata dalam Al-Qur’an yang begitu disorot dan amat berarti. Sosok yang bagaimana memperlakukannya menjadi indikator orang yang mendustakan Agama (hari kemudian) atau tidak. “Tahukah kalian siapa yang mendustakan agama?”. Mereka yang yadu’ul-yatim.” (Q.S Al-Ma’un: 3). Frase ayat itu sering diartikan dengan “menghardik anak yatim” sebagaimana dalam Al-Qur’an terjemahan Depag misalnya.

“Yadu’u” yang artinya menghardik itu menurut pandangan Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (h. 107) bermakna “mendorong dengan keras”. Menurut Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir hal itu disandarkan sebagaimana Dalam Surat At-Thuur ayat 13.

Hanya saja, yang perlu digarisbawahi, pengertian “mendorong dengan keras” itu tak terbatas pada dorongan fisik belaka. Namun, bisa menyentuh seluruh aspek lain yang pada intinya mengakibatkan penganiayaan, gangguan, atau sikap tak bersahabat yang menekan psikis mereka.

Baca Juga : Ketika Rasulullah ﷺ Umrah Dan Si Badui Yang Menghisab Allah

Selanjutnya kata yatim atau yatam, bila merujuk Al-Qur’an selalu bersentuhan dengan “anak yatim—seorang yang tidak memiliki ayah.” Yatim nyatanya terambil dari kata yutm yang bermakna “kesendirian” maka lebih lanjut Quraish Shihab mencontohkan sebagai: permata yang sangat indah dan tak memiliki tandingan dinamakan—ad-durrah al-yatimah.

Syahdan, bila merujuk pemaknaan itu, yatim adalah hidup sendirian tanpa ada yang menanggung, dan ia belum—atau—tidak bisa mencari maisyah (penghidupan) yang layak sendiri. Quraish Shihab berpendapat kematian ayah bagi anak yang belum dewasa itulah yang menyebabkan kehilangan sosok pelindung—ia seakan sendirian, sebatang kara, karena itulah dinamakan yatim.

Pemaknaan itu bisa diperluas lagi menjadi anak yang belum dewasa, ditinggal ayah atau bahkan ibunya atau seorang “piatu,” serta para kerabatnya pun tak mampu untuk menghidupi. Lebih lanjut, bahkan bisa juga “yatam” merupakan janda tua yang hidup tak punya sandaran siapa pun kecuali benar-benar berserah diri pada Tuhan. Para yatam itulah yang dinikahi Rasulullah Saw sesuai konteks ayat yang seringkali dipakai legitimasi untuk memadu istri oleh para ustad ‘sunnah’ itu (lihat Surat An-Nisa: 3).

Berkenaan mengenai yatim kadang masyarakat seakan acuh memperhatikan mereka. Namun sontak seketika “dibangunkan” dari tidur panjang dengan momen tertentu: Ramadhan, Muharram dan lain-lain misal—sebagai bulan-bulan yang diyakini memiliki keutamaan bila menyantuni anak yatim. Hanya saja gerakan ini tak memiliki kontinuitas berarti.

 

Selain itu, ditemukan bermunculan gerakan lembaga-lembaga ‘penggalang dana umat’ untuk menyalurkan hak para yatim namun melupakan esensi makna sesungguhnya yadu’u al-yatim. Berbondong-bondong kaum aghniya memberi santunan pada “anak yatim”. Tujuannya demi mendapatkan ganjaran dan berusaha menjauhi ancaman Al-Qur’an sebagai pendusta Agama namun secara psikis tidak memiliki dampak berarti untuk menghibur atau memperbaiki kehidupannya.

 

Rasulullah dan Kisah Haru Anak Yatim

Kisah Mengharukan Nabi Muhammad dan Yatim Terlantar di Hari Raya Idul Fitri

Dalam kitab Durratun Nashihin, suatu hari pada saat ‘Idul Fitri, Rasulullah keluar rumah dan mendapati anak-anak yang sedang bermain, hati beliau pun riang gembira. Tiba-tiba Nabi Melihat di satu sudut tertentu seorang anak kecil sedang menangis. Seketika Rasul menghampiri bocah itu dan bertanya, “Ma yubkika ayyuhas-shoby; apa gerangan yang membuatmu menangis wahai anakku?”.

Bocah itu sepertinya tak mengenali wajah Rasulullah Ia menjawab, “Da’ni ayyuhar-rajul; biarkan aku, Tuan. Karena bapakku wafat dalam peperangan bersama Rasulullah, dan ibuku menikah lagi, lalu mengambil rumahku dan memakai hartaku, maka aku menjadi anak seperti yang tuan lihat inilah aku sekarang. Telanjang, lapar, merintih, lemas dan lunglai. Tatkala hari raya tiba, aku saksikan anak-anak bermain, hatiku bertambah hancur remuk, aku tak kuat menahan tangis.”

Muhammad Kecil Sang Yatim Piatu – NU Online Nganjuk

Rasulullah air matanya berlinang, kemudian bertanya, “Maukah engkau bila aku menjadi bapakmu, Aisyah menjadi ibumu, Fathimah menjadi kakakmu, Ali menjadi pamanmu, dan Hasan juga Husein sebagai saudaramu?”

Bocah itu tersentak, seketika orang di depannya ternyata Rasulullah . “Kaifa la ardha ya Rasulullah; Bagaimana bisa saya tidak mau Rasulullah?”.

 Lalu Rasulullah Saw membawanya ke rumah, diberinya makan sampai kenyang, diberikannya pakaian baru. Lalu diberikan kepadanya pula pelukan hangat satu keluarga surga. Selepas itu, bocah itu berlari ke luar rumah bergabung dengan anak-anak yang sedang bermain.

“Bagaimana bisa engkau begitu gembira sekarang padahal tadi engkau begitu sangat bersedih?” tanya seorang bocah. Anak yang dibawa sebagai putra oleh Rasulullah itu sekarang berkata, “Bagaimana tidak bahagia? Tadi aku telanjang sekarang berpakaian bagus, tadi aku lapar sekarang aku kenyang, tadi aku menangis sekarang gembira, tadi aku tak memiliki Bapak sekarang Rasulullah adalah bapakku, Aisyah adalah ibuku, Fatimah adalah kakakku, Ali adalah pamanku, Hasan dan Husein adalah saudaraku.” Anak-anak yang asyik bermain itu lalu berkata, “Duhai engkau ayah-ayah kami, mereka syahid bersama Rasulullah di medan perang.”

Arab Boy Walking Images, Stock Photos & Vectors | Shutterstock

Cuplikan hadis di atas memaksa diri untuk sama-sama berintrospeksi. Meraba dada dan merenung, apakah perlakuan terhadap anak yatim sudah sedemikian seperti dicontohkan Rasulullah?.

Syahdan, beginilah risalah suci yang dibawa oleh Rasulullah seorang yang sungguh menjadi suri tauladan untuk menyempurnakan akhlak, memiliki jiwa pengasih, pengayom, pemelihara dan pendidik kaum yatam. Sungguh laknat tak terkira bagi orang-orang saat ini yang hanya “memanfaatkan” para yatam untuk tujuan profit atau bahkan hanya sekadar pamer kebajikan. Wallahu A’lam.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Kekuatan Cinta Zainab dan Abul Ash ibn Rabi’

Donasiberkah.id- Nabi Muhammad memiliki seorang putri bernama Zainab binti Muhammad. Ia merupakan putri sulung dari pernikahannya dengan Siti Khadijah.

Zainab binti Muhammad merupakan salah satu tokoh dalam Islam. Sebagai anak yang paling besar, Zainab terbiasa membantu meringankan tugas ibunya, dalam urusan rumah tangga hingga mengasuh adik-adiknya. Dari kebiasaan inilah, Zainab belajar hidup dalam kesabaran dan keteguhan. Bahkan, Fatimah yang merupakan putri bungsu Nabi Muhammad menganggap bahwa Zainab seperti ibu kecilnya.

Dalam Islam, mungkin sebagian muslim hanya mendengar kisah-kisah mengharukan dari kisah percintaan Siti Fatimah yang mencintai dalam diam kepada Ali bin Abu Thalib, atau Siti Aisyah dengan Nabi Muhammad dan lainnya.

Rupanya, tak banyak yang tahu bahwa kisah cinta yang menggugah hati dan memberikan banyak pelajaran juga bisa dipetik dari kisah percintaan Zainab dengan suaminya Abul Ash ibn Rabi’ yang merupakan seorang pemuda Quraisy. Mereka mengalami cinta beda agama atau keyakinan.

Zainab dan Abul Ash ibn Rabi’ memang hidup dalam keharmoniasan. Pernikahan yang mereka jalani penuh dengan kebahagiaan. Namun, perkawinan itu berlangsung sebelum turun wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika Islam datang, Zainab pun tanpa ragu langsung beriman. Akan tetapi, suaminya, Abul Ash ibn Rabi’, enggan untuk meninggalkan agamanya.

Tantangan kaum Quraisy kepada Rasulullah semakin hebat.

Sebagian orang Quraisy bahkan menghasut Abul Ash ibn Rabi’ untuk meninggalkan atau menceraikan Zainab. Namun, karena cintanya kepada Zainab begitu besar, Abul Ash ibn Rabi’ dengan tegas mengatakan untuk tidak akan menceraikan istrinya itu dan tidak ingin menggantinya dengan wanita lain di dunia.

Hingga pada akhirnya, perang besar terjadi antara kaum muslimin dan musyirikn yang dikenal pada saat itu Perang Badar. Suami Zainab, Abul Ash ibn Rabi’, tentu berada di barisan kaum musyrikin. Beruntungnya, Perang Badar tersebut dimenangi oleh kaum Muslim. Zainab pun merasa senang akan kemenangan itu. Tapi, bagaimana dengan nasib suaminya? Abul Ash ibn Rabi’ dikabarkan telah menjadi tawanan kaum muslim.

Baca Juga : Sa’ad Bin Abi Waqash Antara Ibu dan Aqidah

Untuk membebaskan Abul Ash ibn Rabi’, kaum muslimin meminta tebusan yang sangat mahal. Keluarga Abul Ash ibn Rabi’ yang kaya raya ingin menebusnya, tetapi Zainab ingin ia yang membayar tebusan itu untuk suaminya.

Lalu, diutuslah Amr bin Robi, saudara laki-laki Abul Ash ibn Rabi’, ke Ystrib, kota di mana Abul Ash ibn Rabi’ ditawan. Sesampai di sana, ia menemui Rasulullah dan memberikan seuntai kalung.

Amr bin Robi berkata, “Zainab mengutusku untuk mengirimkan ini sebagai tebusan untuk suaminya.”

Melihat kalung yang sangat beliau kenal, Rasulullah merasa tersentuh hatinya, dan beliau berkatam “Maukah kalian membebaskan Abul Ash ibn Rabi’ untuknya (yaitu Zainab) dan mengembalikan tebusannya?”.

Akhirnya, para sahabat menyetujui. Rasulullah membebaskan Abul Ash ibn Rabi’ dengan syarat harus melepaskan Zinab dan mengembalikannya kepada beliau. Abul Ash ibn Rabi’ pun menyetujui persyaratan tersebut.

Image result for kalung emas khadijah

Ketika mengunjungi Zainab, Abul Ash ibn Rabi’ mengatakan apa yang menjadi kesepatakan antara dirinya dengan Nabi Muhammad Mendengar berita tersebut, Zainab sedih dan merasa berat untuk berpisah dengan suaminya. Tetapi, perintah Allah SWT dan Rasul-Nya harus didahulukan dari segalanya, termasuk harus mengorbankan cinta dan perasaan.

Zainab dan Abul Ash ibn Rabi’ akhirnya berpisah. Namun, Zainab tetap berharap semoga Allah dapat mempertemukan mereka kembali.

Mengenal Klan Yahudi di Madinah Era Nabi Muhammad | Republika Online

Setelah berpisah cukup lama, Zainab dan Abul Ash ibn Rabi’ akhirnya bertemu kembali. Tak lama dari pertemuan tersebut, ketika Abul Ash ibn Rabi’ dan sudah memberikan harta-harta yang diamanahkan kepadanya kepada pemiliknya.

Abul Ash ibn Rabi’ berkata, “Jika aku telah mengembalikan hak-hak kalian maka sekarang aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah! Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku untuk masuk Islam sewaktu bersama Muhammad di Madinah kecuali aku takut kalian mengira bahwa aku ingin memakan harta kalian, tetapi setelah aku mengembalikan harta itu kepada kalian, dan sekarang aku telah melepaskan tanggunganku, maka aku masuk Islam.”

Jangan Lupakan Hal Ini Jika Berkunjung ke Jabal Tsur - Umroh.com

Setelah itu, ia kembali dan berkumpul kembali dengan Zainab. Di sana, ia disambut dengan gembira oleh kaum muslimin. Kemudian, Rasulullah pun mengembalikan Zainab kepadanya, dan mereka berkumpul dan bersatu kembali dalam kebahagiaan yang justru lebih baik dari sebelumnya. Sebab, kali ini mereka dikumpulkan dalam agama tauhid. Hanya saja, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Genap setahun Zainab dan Abul Ash ibn Rabi’ kembali bersama, wanita penyabar dan tegar itu kembali menghadap Sang Khalik. Zainab wafat di usia yang relatif muda, yaitu 30 tahun. Meski begitu, dewasanya sikap dan ketabahannya patut diteladani.

Kepergian Zainab meninggalkan Abul Ash ibn Rabi’ seorang diri. Sang ayah, Nabi Muhammad SAW juga merasa kehilangan. Sangat sulit baginya untuk melepaskan kepergian putrinya itu, sama ketika ia sulit melepas kepergian Khadijah dan putri keduanya, Ruqayyah.

Kita, sebagai manusia tidak pernah dilarang untuk mencintai, namun ketika sudah waktunya untuk memilih antara cinta dan Allah. Kita tidak akan punya jawaban lain, selain untuk tetap setiap kepada Dzat yang menciptakan kita, Allah SWT. Muslim yang baik pasti akan menempatkan Allah SWT di mahligai teratas dalam hatinya. Kisah cinta Zinab dengan Abul Ash ibn Rabi’ akan menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Sahabat Said bin Amir  Sang Gubernur yang Miskin

Donasiberkah.id- Gubernur di wilayah Syria dipimpin oleh seorang Gubernur yang hidupnya bersahaja bahkan cenderung miskin. Dia adalah sahabat Rasullullah yang utama. Gajinya sebagai pejabat tinggi sebagian besar dibagi-bagikan kepada rakyatnya yang miskin. 

Said bin Amir memang tidak sepopuler sabahat Nabi lainnya. la memang tak hendak menonjolkan diri. Namun kisahnya terukir indah dalam sejarah para sahabat yang agung. 

Said bin Amir tidak pernah absen dalam semua perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasullullah Dan memang itu memang telah menjadi pola dasar kehidupan semua orang Islam. Tidak selayaknya bagi orang yang beriman akan tinggal berpangku tangan dan tidak hendak turut mengambil bagian dalam apa juga yang dilakukan Nabi, baik di arena damai maupun di kancah peperangan. 

Said bin Amir memeluk Islam tidak lama setelah pembebasan Khaibar. Dan sejak itu ia memeluk Islam dan bai’at kepada Rasullullah Seluruh kehidupannya, segala wujud dan cita-citanya dibaktikan kepada keduanya.

The Handshake Painting by Kelly Mills

Kebesaran tokoh ini lebih mendalam dan berurat akar daripada tersembul di permukaan lahir yang kemilau ia jauh tersembunyi di sana, di balik kesederhanaan dan kesahajaannya. 

Ketika Amirul Mu’minin Umar bin Khathab memecat Mu’awiyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria, ia menoleh kiri dan kanan mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. 

Khalifah Umar sangat hati-hati dalam memilih pemimpin di daerah. Ia sadar bahwa dirinya ikut bertanggung jawab di hadapan Allah SWT tiap kesalahan penguasa yang diangkatnya itu. 

Oleh sebab itu syarat-syarat yang dipergunakannya untuk menilai orang dan memilih para pejabat pemerintahan amat berat dan ketat serta didasarkan atas pertimbangan tajam dan sempurna, setajam penglihatan dan setembus pandangannya.

Syria ketika itu merupakan wilayah yang modern dan besar, sementara kehidupan di sana sebelum datangnya Islam mengikuti peradaban yang silih berganti.

Damaskus, Kota Tertua yang Jadi Saksi Kejayaan Islam - Berita Maluku Utara

Disamping itu Syiria merupakan pusat perdagangan yang penting dan tempat yang cocok untuk bersenang-senang. Daerah ini adalah negeri yang penuh godaan dan rangsangan. 

Maka menurut pendapat Umar, tidak ada yang cocok untuk negeri itu kecuali seorang suci yang tidak dapat diperdaya setan mana pun, seorang zahid yang gemar beribadat, yang tunduk dan patuh serta melindungkan diri kepada Allah.

Tiba-tiba Umar berseru, katanya: “Saya telah menemukannya…! Bawa ke sini Sa’id bin ’Amir…!” 

Tak lama antaranya datanglah Sa’id mendapatkan Amirul Mu’minin yang menawarkan jabatan sebagai wali kota Hems. Tetapi Sa’id menyatakan keberatannya, katanya: “Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah, wahai Amirul Mu’minin …!” 

Dengan nada keras Umar menjawab: “Tidak, demi Allah saya tak hendak melepaskan Anda! 

“Apakah kalian hendak membebankan amanat dan khilafat di atas pundakku , lalu kalian meninggalkan daku …?”. 

Dalam sekejap saat, Sa’id dapat diyakinkan. Dan memang kata-kata yang diucapkan Umar layak untuk mendapatkan hasil yang diharapkan itu. 

Sungguh suatu hal yang tidak adil namanya bila mereka mengalungkan ke lehernya amanat dan jabatan sebagai khalifah, lalu mereka tinggalkan ia sebatang kara”. 

Dan seandainya seorang seperti Sa’id bin’Amir menolak untuk memikul tanggung jawab hukum, maka siapa lagi yang akan membantu Umar dalam memikul tanggung jawab yang amat berat itu?”.

Demikianlah akhirnya Sa’id berangkat ke Homs. Ikut bersamanya isterinya; dan sebetulnya kedua mereka adalah pengantin baru. Semenjak kecil isterinya adalah seorang wanita yang amat cantik berseri-seri. Mereka dibekali Umar secukupnya.

Camel Background Photos, Vectors and PSD Files for Free Download | Pngtree

Kala itu Homs digambarkan sebagai Kufah kedua. Hal itu disebabkan sering terjadinya pembangkangan dan pendurhakaan penduduk terhadap para pembesar yang memegang kekuasaan. Dan karena kota Kufah dianggap sebagai pelopor dalam soal pembangkangan ini, maka kota Homs diberi julukan sebagai kota kedua. Tetapi bagaimanapun gemarnya orang-orang Homs ini menentang pemimpin-pemimpin mereka, terhadap hamba yang saleh sebagai Sa’id, hati mereka dibukakan Allah, hingga mereka cinta dan taat kepadanya. 

Pada suatu hari Umar menyampaikan berita kepada Sa’id: “Orang-orang Syria mencintaimu .. .!”. 

“Mungkin sebabnya karena saya suka menolong dan membantu mereka,” balas Sa’id.

Hanya bagaimana juga cintanya warga kota Homs terhadap Sa’id, namun adanya keluhan dan pengaduan tak dapat dielakkan. Sekurang-kurangnya untuk membuktikan bahwa Homs masih tetap menjadi saingan berat bagi kota Kufah di Irak.

Suatu ketika, tatkala Amirul Mu’minin Umar bin Khattab berkunjung ke Homs, ditanyakannya kepada penduduk yang sedang berkumpul lengkap: “Bagaimana pendapat kalian tentang Sa’id?”. 

Sebagian hadirin tampil ke depan mengadukannya. Tetapi rupanya pengaduan itu mengandung berkah, karena dengan demikian terungkaplah dari satu segi kebesaran pribadi tokoh kita ini, kebesaran yang amat menakjubkan serta mengesankan.

Dari kelompok yang mengadukan itu Umar meminta agar mereka mengemukakan titik-titik kelemahannya satu demi satu. Maka atas nama kelompok tersebut majulah pembicara yang mengatakan: 

“Ada empat hal yang hendak kami kemukakan: Pertama, ia baru keluar mendapatkan kami setelah siang hari. Kedua, tak hendak melayani seseorang di waktu malam hari. Ketiga, setiap bulan ada dua hari di mana ia tak hendak keluar mendapatkan kami hingga kami tak dapat menemuinya. Keempat, dan ada satu lagi yang sebetulnya bukan merupakan kesalahannya tapi mengganggu kami, yaitu bahwa sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.” 

Umar bin Khattab tunduk sebentar dan berbisik memohon kepada Allah, katanya: “Ya Allah, hamba tahu bahwa ia adalah hamba-Mu terbaik, maka hamba harap firasat hamba terhadap dirinya tidak meleset.”

Pria Badui Ragukan Anaknya Sendiri, Ini Cara Rasulullah Menyadarkannya

Selanjutnya Khalifah Umar, mempersilakan Said membela diri. Said pun tampil dan berkata: “Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tak hendak keluar sebelum siang hari, maka demi Allah, sebetulnya saya tak hendak menyebutkannya. Keluarga kami tak punya pembantu atau pelayan, maka sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram, lalu saya membuat roti dan kemudian wudhu untuk shalat dhuha. Setelah itu barulah saya keluar untuk mendapatkan mereka.!” 

Wajah Umar berseri-seri, dan katanya: “Alhamdulillah, dan mengenai yang kedua?” 

Maka Sa’id pun melanjutkan pembicaraannya: “Adapun tuduhan mereka bahwa saya tidak mau melayani mereka di waktu malam, maka demi Allah saya benci menyebutkan penyebabnya. Saya telah menyediakan siang hari bagi mereka, dan malam hari bagi Allah Ta’ala!”.

“Sedangkan ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan di mana saya tidak menemui mereka , maka sebabnya sebagaimana saya katakan tadi, saya tidak mempunyai khadam untuk mencuci pakaian, sedangkan pakaianku tidaklah banya untuk dipergantikan. Jadi terpaksalah saya mencucinya dan menunggunya sampai kering, hingga baru dapat keluar di waktu petang.” 

“Kemudian tentang keluhan mereka bahwa saya sewaktu-waktu jatuh pingsan, karena ketika di Mekkah dulu saya telah menyaksikan jatuh tersungkurnya Khubaib al-Anshari. Dagingnya dipotong-potong oleh orang Quraisy dan mereka bawa ia dengan tandu sambil mereka menanyakan kepadanya: ‘Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sehat wal’afiat? Jawab Khubaib: Demi Allah saya tak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi oleh kesenangan dan keselamatan dunia, sementara Rasullullah ditimpa bencana, walau hanya oleh tusukan duri sekalipun.”

Kisah Sahabat Nabi: Khubaib bin Adi, Syahid di Tiang Salib | Republika  Online

“Maka setiap terkenang akan peristiwa yang saya saksikan itu, dan ketika itu saya masih dalam keadaan musyrik, lalu teringat bahwa saya berpangku tangan dan tak hendak mengulurkan pertolongan kepada Khubaib, tubuh saya pun gemetar karena takut akan siksa Allah, hingga ditimpa penyakit yang mereka katakan itu.” 

Sampai di sana berakhirlah kata-kata Sa’id, ia membiarkan kedua bibirnya basah oleh air mata yang suci, mengalir dari jiwanya yang saleh.

Mendengar itu Umar tak dapat lagi menahan diri dan rasa harunya, maka berseru karena amat gembira: “Alhamdulillah, karena dengan taufiq-Nya firasatku tidak meleset adanya!” 

Lalu dirangkul dan dipeluknya Sa’id, serta diciumlah keningnya yang mulia dan bersinar cahaya. 

Gaji dan tunjangan Sa’id bin ‘Amir tentu saja lumayan besar. Tetapi yang diambilnya hanyalah sekadar keperluan diri dan istrinya, sedang selebihnya dibagi-bagikan kepada rumah-rumah dan keluarga-keluarga lain yang membutuhkannya. 

Suatu ketika ada yang menasihatkan kepadanya: “Berikanlah kelebihan harta ini untuk melapangkan keluarga dan famili istri anda!”. 

Maka ujarnya: “Kenapa keluarga dan ipar besanku saja yang harus lebih kuperhatikan? Demi Allah, tidak! Saya tak hendak menjual keridlaan Allah dengan kaum kerabatku!”. 

Memang telah lama dianjurkan orang kepadanya: “Janganlah ditahan-tahan nafkah untuk diri pribadi dan keluarga Anda, dan ambillah kesempatan untuk menikmati hidup!”. 

Tetapi jawaban yang keluar hanyalah kata-kata yang senantiasa diulang-ulangnya: “Saya tak hendak ketinggalan dari rombongan pertama, yakni setelah saya dengar Rasulullah bersabda:

“Allah Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadaphan ke pengadilan, maha datanglah orang-orang miskin yang beriman, berdesak-desakan maju ke depan tak ubahnya bagai kawanan burung merpati. Lalu ada yang berseru kepada mereka: Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan! Ujar mereka: Kami tak punya apa-apa untuh dihisab. Maka Allah pun berfirman: Benarlah hamba-hamba-Ku itu! Lalu masuklah mereka ke dalam surga sebelum orang-orang lain masuk.” 

Dan pada tahun 20 Hijriyah dengan lembaran yang paling bersih, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang, Sa’id bin Amir pun menemui Allah.

Baca Juga : Kisah di Qishasnya Nabi ﷺ oleh ‘Ukasyah r.a.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Mushab bin Umair : Duta Da’wah Rasulullah  yang Mengislamkan Madinah

Donasiberkah.id- Kota Madinah merupakan kota tujuan Nabi Muhammad untuk hijrah dari Mekah sekaligus sebagai pusat kepemimpinan Islam. Meski Islam tidak lahir dari Madinah, kota ini mudah menerima Islam sebagai bagian dari peradaban mereka.

Mayoritas penduduk Kota Madinah telah memeluk Islam meskipun Rasulullah belum menginjakkan kakinya untuk berdakwah di sana.

Baca Juga: Mush‘ab bin Umair (bagian satu) Semangat Muda Membersamai Islam

Hal tersebut berkat kehebatan dakwah seorang sahabat Nabi, Mushab bin Umair. Dialah orang yang diutus langsung oleh Rasulullah untuk berangkat ke kota Madinah (saat itu bernama Yatsrib) jauh sebelum Rasulullah diperintahkan hijrah ke sana.

See the source image

“Rasulullah menunjuk Mushab untuk mengemban tugas yang paling berat pada saat itu. Ia menjadi duta ke Madinah untuk mengajarkan agama kepada kaum Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di Bukut Aqabah, mengajak selain mereka untuk masuk Islam, serta menyiapkan Madinah untuk menyambut hijrah yang agung,” tulis Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya Biografi 60 Sahabat Rasulullah tentang Mushab bin Umair, Duta Islam yang Pertama.

Sosok Mushab berwajah rupawan, berpostur tegap, serta memiliki sifat lemah lembut. Ia rela meninggalkan seluruh harta dan perniagaannya di kota Mekah demi tugas mulia untuk berdakwah di Madinah.

Mulanya, ia berdakwah kepada banyak kalangan budak, pekerja, serta rakyat miskin di Kota Madinah. Mereka masuk Islam karena tertarik dengan sikap Islam yang menyejajarkan setiap manusia sebagai entitas yang setara di hadapan Allah tanpa memandang asal dan latar belakang.

Perjalanan dakwah Mushab pun dilaluinya dengan tidak mudah. Ia harus menghadapi ancaman tombak dan sumpah serapah kaum yang belum mengenal dan memeluk agama Allah.

Meski demikian, Mushab bin Umair tetap menjelaskan ajaran Islam dengan tenang, lembut, sembari memperdengarkan suara indah lantunan ayat suci Alquran.

Misteri Umar bin Khattab Saat Ikut Hijrah ke Madinah

Dalam Cahaya Abadi Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia karya Muhammad Fethullah Gulen dituliskan ketika di Yastrib, murid Rasulullah itu langsung berdakwah. Tak ada satupun pintu rumah yang tidak diketuknya. Pada saat itulah terbukti bahwa keikhlasan Mush’ab dalam berdakwah membuat ucapannya dapat merasuk ke dalam hati orang-orang yang mendengarnya. Lewat dakwah yang dilakukan Mush’ab itulah banyak penduduk Yastrib yang bersedia memeluk agama Islam.

Bahkan karena sedemikian hebatnya dakwah Mush’ab pada saat itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kedatangan Mush’ab di Yastrib adalah laksana gelombang besar yang dahsyat. Mush’ab seakan menjadi sumber cahaya jernih yang memancar ke seantero Yastrib untuk menaklukan hati penduduknya.

Baca Juga: Kisah Umar Bin Khattab yang Membuat Rasulullah ﷺ Tertawa dan Menangis

Tak ada seorang tokoh di Yastrib yang tidak mendatangi Mush’ab untuk mendengar dakwahnya. Bahkan orang-orang yang semula sempat menghentikan dakwah Mush’ab pun luluh ketika mendengarnya berdakwah. Salah satu di antara mereka adalah Sa’d bin Mu’adz. Ketika mendatangi Mushab, pembesar Yastrib itu berniat untuk mengusir Mush’ab yang dianggap telah mengganggu ketentraman penduduk.

Rupanya Sa’d termakan hasutan beberapa orang yang mengatakan bahwa dakwah yang dilakukan Mush’ab telah menimbulkan keresahan di Yastrib. Ketika baru memasuki kediaman Mush’ab, Sa’d langsung mendengar suara Mush’ab yang empuk dan menyejukan. Namun karena amarah telah menguasai dirinya, Sa’d pun melontarkan cacian kepada Mushab.

Mendengar makian itu Mushab tetap tenang dan kemudian berkata kepada Sa’d. “Bagaimana jika tuan duduk dan mendengarkan. Jika ternyata tuan senang mendengar apa yang kuutarakan, silakan tuan menerimanya. Tapi jika tuan tidak suka, aku akan berhenti menyampaikan apa yang tuan benci itu,”

See the source image

Saa’d tiba-tiba luluh dan mau duduk mendengarkan Mushab. Dalam waktu singkat Saa’d merasakan dirinya telah berpindah ke sebuah dunia lain. Sebuah dimensi yang belum pernah dimasukinya seumur hidup. Sebuah tempat di mana para malaikat mengepakan sayapnya. Dan sebelum pertemuan itu berakhir, Sa’d telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan diri bergabung dengan barisan umat Islam.

 

Keesokan harinya kota Yastrib pun gempar oleh berita Sa’d bin Muadz yang masuk Islam. Sebab seperti halnya reputasi Umar bin Khaththab di Makkah, nama Sa’d bin Mu’adz di Yastrib pun ternyata begitu berpengaruh. Bahkan berita ke-Islaman Sad itu kemudian menyebar sampai ke suku-suku yang mendiami kawasan di sekitar Yastrib.

Berkat keteguhannya, Mushab berhasil menundukkan hati masyarakat Madinah dan mengislamkan mereka, seraya berkata, “Mandilah, bersihkan badan dan pakaianmu kemudian bacalah dua kalimat syahadat serta dirikanlah salat.”

Semenjak itu, agama Islam semakin banyak dipeluk oleh mayoritas penduduk Kota Madinah tanpa ada sedikit pun darah yang menetes. Dari kisah Mushab-lah, kita mengenal Islam yang damai, yang tidak disyiarkan lewat pedang dan pertumpahan darah.

Peran Hebat Mush'ab Bin Umair - Islampos

“Dengan kecerdasan dan kesungguhan usahanya, Mushab telah membuktikan bahwa Rasulullah tidak salah pilih. Ia tahu bahwa dirinya adalah penyeru kepada Allah dan pembawa kabar agama-Nya yang mengajak manusia ke dalam hidayah dan jalan yang lurus,” tulis Khalid.

Keimanan tulus yang ditunjukkan penduduk kota Madinah adalah hasil dari dakwah sahabat Mushab bin Umair yang begitu indah dan lembut.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Sa’ad Bin Abi Waqash Antara Ibu dan Aqidah

 

Donasiberkah.id- Sebuah ayat “..dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman : 14-15).

Ayat-ayat   yang   mulia   ini   mempunyai   latar   belakang   kisah   tersendiri   dan   mengejutkan; menyebabkan   satu   golongan   diantara   dua   g olongan   yang   bertentangan   jatuh   terbanting, berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut. Akhirnya kemenangan berada di pihak yang baik dan beriman.

See the source image

Tokoh kisah ini adalah seorang pemuda Makkah dari keturunan terhormat, dan dari ibu bapak yang mulia. Nama pemuda itu Sa’ad bin Abi Waqash.

Tatkala   cahaya   kenabian   memancar   di   kota   Makkah,   Sa’ad   masih   muda   belia,   penuh   perasaan   belas   kasih,   banyak   bakti   kepada   ibu   bapak,   dan   sangat   mencintai   ibunya.

Walaupun Sa’ad baru menjelang usia 17 tahun, namun dia telah memiliki kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak. Dia tidak tertarik kepada aneka macam permainan yang menjadi kegemaran   pemuda-pemuda   sebayanya.   Bahkan   dia   mengarahkan   perhatiannya   untuk bekerja membuat panah, memperbaiki busur, dan berlatih memanah, seolah-olah dia sedang menyiapkan   diri   untuk   suatu   pekerjaan   besar.

See the source image

Dia   juga   tidak   puas   dengan kepercayaan/agama sesat yang dianut bangsanya, serta kerusakan masyarakat, seolah-olah dia sedang menunggu uluran tangan yang kokoh kuat, penuh kasih sayang, untuk mengubah keadaan gelap gulita menjadi terang benderang.

Sementara   itu,  Allah   SWT   menghendaki   akan   menaikkan   harkat   kemanusiaan   yang   telah merosot, secara keseluruhan dan merata, melalui pribadi yang belas kasih itu, yaitu melalui penghulu segala makhluk, Muhammad bin Abdullah. Dalam genggamannya memancar sinar petunjuk ketuhanan yang tidak tercela, yaitu Kitabullah.

Sa’ad segera memenuhi panggilan yang berisi petunjuk yang haq ini (agama Islam), sehingga dia tercatat sebagai orang ketiga atau keempat yang masuk Islam. Bahkan dia sering berucap dengan   penuh   kebanggaan:   “Setelah   aku   renungkan   selama   seminggu,   maka   aku   masuk Islam sebagai orang ketiga.”

Rasulullah    sangat   bersuka   cita   dengan   Islamnya   Sa’ad.   Karena   beliau   melihat   pada  pribadi   Sa’ad   terdapat   ciri-ciri   kecerdasan   dan   kepahlawanan   yang   menggembirakan. Seandainya   kini   dia   ibarat   bulan   sabit,   maka   dalam   tempo   singkat   dia akan menjadi bulan purnama yang sempurna.

Keturunan dan status   sosialnya   yang   mulia   dan   murni,   melapangkan   jalan   baginya   untuk mengajak   pemuda-pemuda   Makkah   mengikuti   langkahnya   masuk   Islam   seperti   dia. Di samping   itu,   sesungguhnya   Sa’ad   termasuk   paman   Nabi     juga.   Karena   dia   adalah keluarga Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah , Rasulullah  sangat membanggakan  pamannya.

 

Pernah  diceritakan,  pada  suatu  ketika  beliau sedang  duduk-duduk bersama  beberapa orang shahabat. Tiba-tiba beliau melihat  Sa’ad  bin Abi Waqash datang. Lalu beliau berkata kepada para shahabat yang hadir, “Inilah pamanku. Coba tunjukkan kepadaku, siapa yang punya teman seperti pamanku!”.

Tetapi, Islamnya Sa’ad tidak langsung memberikan kemudahan yang mengenakkan baginya.

Baca Juga: Mush‘ab bin Umair (bagian satu) Semangat Muda Membersamai Islam

Sebagai   pemuda   muslim,   dia   ditantang   dengan   berbagai   tantangan,   ujian,   serta   cobaan-cobaan   berat   dan   keras.   Ketika   cobaan-cobaan   itu   telah   sampai   di puncaknya,  Allah   SWT menurunkan wahyu mengenai peristiwa yang dialaminya. Marilah kita dengarkan kisahnya.

Kata Sa’ad bercerita: Tiga malam sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi, seolah-olah aku tenggelam   dalam   kegelapan   yang   tindih   menindih.   Ketika aku sedang mengalami puncak kegelapan itu, tiba-tiba kulihat bulan memancarkan cahaya sepenuhnya, lalu kuikuti bulan itu. Aku   melihat   tiga   orang   telah   lebih   dahulu   berada   di   hadapanku   mengikuti   bulan   tersebut.

See the source image

Mereka   itu   ialah   Zaid   bin   Haritsh,  Ali   bin  Abu   Thalib,  Abu   Bakar  Ash-Shidiq.  Aku   bertanya kepada mereka: Sejak kapan Anda bertiga di sini? Belum lama, jawab mereka. Setelah   hari   siang,   aku   mendapat   kabar,   Rasulullah     mengajak   orang-orang   kepada Islam secara diam-diam. Yakinlah aku, sesungguhnya Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diriku, dan dengan Islam Allah akan mengeluarkanku dari kegelapan kepada cahaya terang.

Aku   segera   mencari   beliau, sehingga   bertemu   dengannya   pada   suatu   tempat   ketika   dia sedang   shalat  Ashar.  Aku   menyatakan   masuk   Islam   di  hadapan   beliau.   Belum   ada   orang mendahuluiku masuk Islam, selain mereka bertiga seperti yang terlihat dalam mimpiku.

Sa’ad   melanjutkan   kisahnya   masuk   Islam.   Ketika   ibuku   mengetahui   aku  masuk   Islam,   dia marah bukan kepalang. Padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu memanggilku dan   berkata: “Hai   Sa’ad!   Agama   apa   yang   engkau   anut,   sehingga   engkau   meninggalkan agama ibu bapakmu? Demi Allah! Engkau harus meninggalkan agama barumu itu! atau aku mogok makan minum sampai mati…! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan  mencelamu   selama-lamanya.”

Jawabku: “Jangan   lakukan   itu,   Bu!   Tetapi   aku   tidak   akan   meninggalkan   agamaku   biar bagaimanapun.”

Ibu   tegas   dan   keras   melaksanakan   ucapannya. Beliau   benar-benar   mogok   makan   minum. Sehingga tubuh dan tulang-belulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama sekali. Terakhir, aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan minum walaupun agak sedikit. Tetapi ibu memang  keras.   Beliau   tetap   menolak   dan   bersumpah   akan   tetap   mogok makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku, Islam.

Bikin Kaget, Ternyata Segini Harga Piring Mewah Sisca Kohl - GuideKu.com

Aku berkata kepada ibu: “Ibu! Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi  Allah! Seandainya ibu memiliki seribu jiwa,lalu jiwa itu keluar dari tubuh ibu satu persatu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku tidak meninggalkan agamaku karenanya.”

Tatkala   ibu   melihatku   bersungguh-sungguh   dengan   ucapanku,   dia   pun   mengalah. Lalu   dia menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa.

Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad :

“Dan jika   keduanya   memaksamu   untuk   mempersekutukan   dengan  Aku   sesuatu   yang   tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,”.

Saad Bin Abi Waqqas designs, themes, templates and downloadable graphic  elements on Dribbble

Demikianlah keteguhan Sa’ad dalam mempertahankan aqidahnya, saat diuji oleh sosok yang dicintainya yang menuntut untuk meninggalkan aqidahnya, tanpa ragu ia memilih Allah dan RasulNya, lantas kalau kita berada di posisi Sa’ad, bisa kah kita melakukan apa yang ia lakukan?.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

English EN Indonesian ID