Griya Yatim & Dhuafa

5 Peristiwa Besar yang Mengiringi Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ

Donasibekah.id- Sejarah mencatat ada sejumlah peristiwa-peristiwa besar yang mengiringi kelahiran Baginda Rasulullah. Diantaranya, ada lima peristiwa besar yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad ﷺ Satu peristiwa besar itu terjadi sebelum Rasulullah lahir dan empat peristiwa besar lainnya terjadi setelah Rasulullah lahir.

Berikut lima peristiwa besar yang mengiringi kelahiran Baginda Rasulullah ﷺ yang dikutip dari laman umma.id :

1. Hancurnya Pasukan Gajah

Kisah Abrahah Menyerang Kabah dengan Pasukan Bergajah - Hasuna Tour 🕋

Rasulullah dilahirkan pada tahun Gajah. Disebut tahun Gajah karena saat itu Abrahah membawa pasukan bergajah menyerang Ka’bah.

Abrahah adalah penguasa di Yaman. Ia membangun gereja besar di Kota Shan’a dengan maksud agar orang-orang berkunjung ke sana dan mendatangkan pemasukan besar bagi Yaman. Ia ingin menggeser kedudukan Ka’bah yang selalu ramai didatangi orang dari seluruh penjuru Arab.

Namun, bangunan yang megah dan indah itu tak kunjung ramai. Abrarah kemudian menyiapkan pasukan dalam jumlah besar. Sebagian mengendarai gajah. Orang-orang Makkah yang mendengar kabar itu merasakan ancaman besar. Pasukan bergajah itu bukan tandingan mereka.

Bahkan Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad ﷺ sebagai pemimpin Makkah pun tak bisa berbuat banyak. Ia menyerahkan perlindungan Ka’bah sepenuhnya kepada Allah.

Namun belum sampai di Makkah, datang burung berbondong-bondong membawa batu-batu panas dan menjatuhkannya ke pasukan Abrahah. Mereka pun jatuh bergelimpangan. Tewas mengenaskan.

Baca Juga: Kesabaran Nabi ﷺ yang Didoakan Orang Badui 

2. Keluar cahaya saat kelahiran Nabi Muhammad

Maulid Nabi, Mimpi Cahaya sebagai Tanda Bakal Lahirnya Rasulullah SAW : Okezone Muslim

Peristiwa yang tak kalah ajaib adalah keluarnya cahaya saat kelahiran Nabi Muhammad. Cahaya itu keluar dan menerangi ke arah istana-istana di Syam.

Jika peristiwa gajah diabadikan Allah dalam Surat Al Fil, keluarnya cahaya ini diriwayatkan Ibnu Sa’ad dan Imam Ahmad.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Aminah ibunda Rasulullah berkata,
“Setelah bayiku lahir, aku melihat ada cahaya yang keluar dari jalan lahirnya, menyinari istana-istana di Syam.”

Peristiwa ini memberikan isyarat bahwa kelak agama Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ akan sampai ke Syam yang saat itu masih di bawah kekuasaan Romawi.

Dan kita kemudian bisa melihat sejarah, Syam menjadi negeri muslim. Baitul Maqdis dibebaskan pada masa khalifah Umar bin Khattab. Bahkan Damaskus menjadi ibu kota khilafah Bani Umayyah.

3. Runtuhnya 14 Balkon Istana Kisra

Goncangnya Kerajaan Kisra & Persi saat Kelahiran Nabi Akhir Zaman | Tebuireng Online

Runtuhnya 14 balkon istana Kisra saat kelahiran Nabi Muhammad ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Seakan memberi isyarat bahwa nantinya Persia akan jatuh.

Dan ternyata benar, Persia akhirnya jatuh. Peperangan terakhir yang kemudian disusul dengan jatuhnya Persia adalah perang qadisiyah.

4. Padamnya Api yang Disembah Kaum Majusi

Subhanallah, Inilah 12 Peristiwa Penting Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad - Halaman 2 - Sripoku.com

Di kemudian hari, banyak orang majusi masuk Islam. Salah satunya yang paling terkenal adalah Salman Al Farisi.

5. Runtuhnya Gereja di Buhairah

Inilah Foto-Foto Biara Pendeta Buhaira

Runtuhnya gereja di Buhairah setelah ambles ke tanah ini juga diriwayatkan Al Baihaqi sebagaimana dua peristiwa sebelumnya.

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri mencantumkannya di Ar Rakhiqul Makhtum. Namun riwayat ini diperselisihkan.

Berbeda dengan peristiwa pasukan gajah dan keluarnya cahaya saat kelahiran Nabi Muhammad, yang keduanya disepakati para ulama. Wallahu A’lamu Bis Shawab.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Kesabaran Nabi ﷺ yang Didoakan Orang Badui 

Donasiberkah.id- Suatu hari, di Masjid Nabawi, Rasulullah dan para sahabatnya sedang berkumpul dalam halaqah, majelis ilmu, membahas sesuatu. Masjid Nabi, lantainya masih pasir, tak ada ubin, apalagi sajadah. Dan mereka duduk, shalat, ruku’ dan sujud di atasnya.

Ketika kelompok manusia terbaik ini berkumpul dan mempelajari ilmu dan perintah Allah, tiba-tiba datang seorang lelaki Badui, lelaki desa nan udik ke dalam Masjid Nabi. Kita semua mengetahui kisahnya. Sebagian besar kaum Muslimin bahkan telah hapal ujung ceritanya. Tapi mari, sekali lagi kita belajar dari sudut pandang yang sedikit lain.

5 Potret Asli Rumah Nabi Muhammad Saw yang Sangat Bersahaja

Lelaki Badui ini, tak datang untuk bergabung dalam halaqah nan mulia. Lelaki ini terus berjalan, menuju ujung ruangan, di pojok bangunan Masjid Nabi. Di sana, dia tengok kanan dan kiri. Mengangkat kainnya dan berjongkok di ujung ruangan untuk menuntaskan hajatnya. Lelaki Badui ini buang air kecil, buang air kecil!

Leon Bonnat An Arab removing a thorn from his foot painting | framed paintings for sale

Para sahabat yang berada di masjid dan sedang berhalaqah, seketika bergejolak. Mereka hendak berdiri, entah dengan niat melakukan apa di hati masing-masing. Para sahabat marah. Dan kemarahan mereka sangat wajah, ini Masjid Nabi, bukan tempat buang hajat. Para sahabat berhamburan, berdiri, segera berjalan menghampiri lelaki Badui yang sedang menuntaskan hajatnya tadi. Di wajah-wajah mereka, para sahabat mulia itu, nampak kemarahan yang siap meledak.

 Baca Juga : Kekhawatiran Fatimah dan Sejarah digunakannya Keranda oleh Umat Muslim

Tapi Rasulullah memanggil dan menenangkan semua sahabat yang sudah siap mengambil aksi. “Jangan, biarkan dia. Jangan menganggunya. Biarkan dia menyelesaikan kencingnya,” ujar Rasulullah .

Setelah lelaki Badui ini menyelesaikan urusannya, Rasulullah memanggilnya dengan nada lembut. Padahal, para sahabat, semuanya, sudah berada pada titik didih. Lelaki Badui ini datang dan berjalan pelan menghampiri  Rasulullah. Beliau menangkap atmosfer kemarahan yang mengepungnya. Tapi hanya Rasulullah yang ditujunya. 

Dengan halus, ketika lelaki Badui ini berada di depan beliau, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya, masjid ini dibangun bukan untuk itu (maksudnya untuk buang hajat). Masjid ini dibangun untuk shalat dan membaca al Qur’an.”

 Cinta Pertama Nabi Muhammad kepada Seorang Wanita

Hanya itu, tidak kurang, tidak berlebihan. Singkat, tapi tepat sasaran.

 

Lelaki Badui ini paham, dan lalu pergi meninggalkan Masjid Nabi. Tak lama waktu shalat tiba, dan Rasulullah memimpin para sahabat untuk menunaikan shalat. Dan yang menarik, lelaki Badui ini bergabung bersama untuk shalat jamaah. Dan Rasulullah pun memimpin shalat.

Seperti biasa, Rasulullah melakukan shalat. Sampai ketika bangkit ruku’, Rasulullah mengucapkan , “Sami’Allahu liman Hamidah.” Allah mendengar orang yang memuji-Nya.

Para sahabat kemudian menjawab dengan ucapan, “Rabbana walakal Hamdu.” Rabb kami, segala puji hanya untuk-Mu.

Di luar dugaan, lelaki Badui, ya betul, lelaki Badui yang tadi, menambahkan doanya lebih panjang dari para sahabat.  “Rabbana walakal Hamdu. Allahumarhamni wa Muhammadan, wala Tarham ma’ana ahadan.” Tuhan kami, segala puji hanya untuk-Mu. Ya Allah, sayangilah aku dan Muhammad. Dan jangan sayangi orang-orang selain kami berdua.

Tampannya Mushab Bin Umair, Sahabat Nabi Muhammad

Doa ini dibaca dengan lantang, sampai-sampai Rasulullah mendengarnya. Dan tentu saja, para sahabat yang ada juga mendengarnya. Memang lelaki Badui ini, yang seringkali disebut tidak berpendidikan dan memilik karakter unik, telah menyalahi rukun dari bacaan shalat. Tapi pelajarannya yang seringkali kita tidak perhatikan adalah, lihatlah isi doanya. Doa yang mencerminkan, bahwa Rasulullah telah menguasai hatinya. Doa yang memperlihatkan, bahwa dia juga menolak, sekurang-kurangnya tak mau dengan para sahabat yang ada.

 Baca Juga: Kisah Umar Bin Khattab yang Membuat Rasulullah ﷺ Tertawa dan Menangis

Lelaki Badui ini, yang mohon maaf, sekali lagi kelompok ini sering  disebut sebagai kelompok masyarakat yang tidak berpendidikan, telah menempatkan Rasulullah di tempat yang sangat berpengaruh dalam hidupnya, dalam pikirannya, dalam doanya, dalam permintaannya kepada Allah. Sehingga dia berharap hanya Rasulullah dan dirinya saja yang dirahmati Allah. Dan tentu saja, ketika seseorang menempati posisi yang istimewa, maka istimewa pula letak nasihatnya.

Jadilah Murid KRISTUS Yang Kaya Dalam Kebajikan dan Murah Hati - GKJ Nehemia Pondok Indah

Selepas shalat, Rasulullah berbalik badan. Lalu beliau memanggil lelaki Badui ini dan berkata singkat, “Engkau telah membatasi sesuatu yang sangat luas.” Ya, singkat, sesuai dengan kebutuhan bagi seorang lelaki Badui yang tentu saja tingkat pemahamannya tidak sama dengan sahabat-sahabat utama seperti Abubakar, Umar bin Khattab atau sahabat yang lain. 

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Olahraga Nabi dan Para Sahabat

Donasiberkah.id – Sudah menjadi tabiat manusia untuk menyukai hiburan. Rutinitas dan beban kehidupan menjadi faktor yang mendorong jiwa untuk mengupayakan relaksasi. Karenanya, siapa pun orang yang meneliti satu kelompok masyarakat, kapan pun dan di mana pun, akan menjumpai sarana hiburan dan olahraga sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Terlihat ada kondisi kontras antara usia seseorang dengan kecenderungan terhadap olahraga. Karena itu, olahraga pada generasi muda menempati posisi dan penerimaan tersendiri yang berbeda pada kaum tua. Lantas, bagaimana bentuk olahraga pada generasi muda sahabat?.

Baca Juga: Sejarah Awal Mulanya Diwajibkan Zakat

Mari kita simak penuturan salah seorang dari mereka, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu lari antara kuda-kuda yang belum dikuruskan, jaraknya antara jalanan di lereng bukit hingga masjid Bani Zuraiq. Abdullah bin Umar sendiri biasa beradu lari menggunakan kuda yang belum dikuruskan tersebut.”

Mengenal Sejarah Tentang Kuda Arab - Niatku.com

Generasi muda sahabat yang selalu rindu untuk ikut berjihad menyadari betul bahwa persiapan dan latihan adalah sebuah keniscayaan. Karenanya, mereka mematuhi wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَ لاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّ مْيُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّ ةَ الَّ مْيُ

Ketahuilah, bahwa kekuatan itu ada pada melempar (anak panah). Ketahuilah, bahwa kekuatan itu ada pada melempar (anak panah).”

Kecenderungan mereka pada olahraga nabi juga terlihat pada kisah Salamah ketika ia meriwayatkan perang Dzi Qird,

“Ketika kami berjalan, ada seorang Anshar yang tidak bisa didahului kecepatannya dalam berjalan. Ia berkata, ‘Tidakkah ada orang yang beradu cepat sampai di Madinah denganku? Adakah orang yang bisa mendahuluiku?’ Ia terus mengulangi ucapannya. Mendengar itu, aku berkata, ‘Tidak adakah orang mulia dan terhormat yang kamu segani?’ Ia menjawab, ‘Tidak ada, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ayah-ibuku menjadi tebusannya, biarkan aku beradu cepat dengan orang ini.’ Beliau bersabda, ‘Jika kamu mau.’ Aku berkata, ‘Majulah.’ Aku tekuk kakiku lalu melompat dan berlari. Aku hemat napasku, hingga (ia mendahuluiku) satu atau dua bukit, agar nantinya aku tidak kehabisan napas. Kemudian, aku berlari di belakangnya dengan tetap menghemat napas, hingga (ia mendahuluiku) satu atau dua bukit. Lalu, aku percepat lariku, hingga berhasil menyusulnya tepat di belakang tubuhnya. Akhirnya, aku berhasil mendahuluinya tiba di Madinah.”

Mengenal Klan Yahudi di Madinah Era Nabi Muhammad | Republika Online

Begitulah, olahraga dan program-program hiburan di kalangan generasi muda sahabat berkaitan erat dengan tujuan-tujuan luhur sekaligus menjadi aset dan bekal yang mendorong semangat dan kesungguhan. Bagi mereka, hiburan adalah sesuatu yang bisa menghantarkan kepada tujuan mulia. Mereka mengambil prinsip ini dari sabda Rasulullah Shallallhu’alaihi Wa Sallam,

لاَ سَبَقَ إِ لاَّ فِي نَصْلٍ أَوْ حَا فِرٍأَوْ حُفِّ

Tidak boleh (mengambil harta dari) perlombaan, kecuali dalam (perlombaan) anak panah, binatang berkuku, dan binatang bertapak kaki.”

Manakala olahraga bagi mereka adalah sarana menuju tujuan mulia, maka mungkinkah olah raga tersebut menghalangi mereka dari menunaikan kewajiban atau menjalankan ketaatan?.

Ketika kita kembali mengarahkan pandangan pada masa sekarang dan sedikit membuka lembar kehidupan generasi mudanya, maka kita akan menemukan perbedaan mencolok antara olahraga di kalangan mereka dan di kalangan pendahulu mereka, generasi muda sahabat. Betapa kuatnya sepak bola mengikat hati pada penggilanya. Sepak bola merampas waktu-waktu berharga mereka, dengan menontonnya, menyaksikan tayangan pertandingan, membaca koran sebelum dan sesudah pertandingan, berdebat dan mendiskusikannya, bergantinya emosi antara mendukung dan mencaci, serta menumpahkan semangat untuk sesuatu yang tidak bersemangat. Apalagi, shalat-shalat yang terabaikan serta munculnya perselisihan dan pertengkaran.

Kita juga menjadi mengerti rahasia mengapa para musuh begitu gencar mempromosikan kesibukan ini di kalangan generasi muda. Tujuannya adalah memalingkan mereka dari permasalahan-permasalahan besar. Sudah saatnya generasi muda umat mengkaji ulang biografi pendahulu mereka (salafush shalih).

Mari kita rutinitaskan olahraga Nabi. Akidah kuat, tubuh pun sehat.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Abu Bakar Ash Shiddiq Teladan Bahkan Semasa Jahiliyah

 

Donasiberkah.id – Siapakah Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu?

Dia adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay Al Quraisy At Taimi, Abu Bakar ash Shiddiq bin Abi Quhafah. Dia dilahirkan di Mina, nasabnya bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Murrah.

Di masa Jahiliyyah dia menikah dengan dua wanita: Qutailah binti Abdil Uzza dan Ummu Ruman binti Amir. Dan di masa Islam dia menikah dengan dua wanita: Asma’ binti Umais dan Habibah binti Kharijah bin Zaid.

Teladan Bahkan Semasa Jahiliyah

Pasar Rasulullah untuk Kemandirian Umat - Laman 2 dari 2 - SUARAISLAM.ID

Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah teladan dalam segala bidang –hingga pada masa Jahiliyyah sekalipun- maka jangan heran kalau setelah dia masuk Islam, dia adalah orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Sebaik-baik kalian di masa Jahiliyyah adalah sebaik-baik kalian di masa Islam jika mereka memahami agamanya.” 

Ibnu Ishaq rahimahullah berkata, “Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang disukai dan dicintai oleh kaumnya. Dia adalah orang Quraisy yang paling tahu nasab Quraisy, orang Quraisy yang paling mengenal Quraisy dan paling mengenal kebaikan dan keburukan yang ada pada Quraisy. Dia adalah laki-laki pemilik akhlak yang baik. Para petinggi Quraisy mendatanginya dan menyukainya karena ilmu dan perniagaannya serta kepandaiannya dalam bergaul. Orang-orang dari kaumnya yang dia percaya, yang bergaul dan berkawan dengannya dia ajak kepada Allah dan kepada Islam.” 

Baca Juga: Sahabat-sahabat Rasulullah yang Kaya dan Dermawan

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengharamkan khamr (minuman keras) atas dirinya pada masa Jahiliyyah. Dia tidak meminumnya sekalipun, tidak pada masa Jahiliyyah, apalagi ketika dia masuk Islam. Hal itu karena pada suatu hari dia melewati seorang laki-laki yang sedang mabuk. Orang mabuk itu meletakkan tangannya pada kotoran manusia lalu mendekatkan tangannya ke hidungnya. Jika dia mencium bau busuknya maka dia menjauhkan tangannya dari hidungnya, maka Abu Bakar mengharamkan khamr atas dirinya.

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu Tidak Pernah Sujud Kepada Berhala Sekalipun.

Ayah-Bunda Nabi SAW. Bukan Penyembah Berhala – Sirr al-Asrar

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata di hadapan beberapa orang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku tidak pernah sujud kepada berhala sekalipun. Ketika itu usiaku mendekati baligh. Ayahku Abu Quhafah, membawaku ke sebuah ruangan miliknya, disana ada berhala-berhala miliknya. Dia berkata kepadaku, ‘Ini adalah tuhan-tuhanmu yang tinggi lagi mulia.’ Lalu dia pergi meninggalkanku. Aku mendekat kepada sebuah berhala, lalu aku berkata, ‘Aku lapar, berilah aku makan.’ Berhala itu tidak menjawab. Aku berkata, ‘Aku tidak berpakaian, berilah aku pakaian.’ Berhala itu tetap tidak menjawab. Maka aku mengambil sebuah batu dan menghantamkan batu itu kepadanya dan ia pun tersungkur.” 

Demikian sekilas tentang Sahabat yang paling mulia ini, di depan akan ada banyak sekali teladan yang akan membuat kita mencintai Abu Bakar ini.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

    

Kekhawatiran Fatimah dan Sejarah digunakannya Keranda oleh Umat Muslim

 

Donasiberkah.id- Suatu ketika Fatimah Azzahra putri tercinta Rasulullah , berada di depan rumah beliau, tiba-tiba ada jenazah yang hendak di bawa kekuburan lewat di depan Fatimah Azzahra. Saat itu Fatimah sedang bersama  Asma Binti Khumaisy yang biasa menemani dan menghibur Fatimah setelah kepergian Rasulullah .

Tiba-tiba saat itu Fatimah menangis tersedu-sedu hingga membuat Asma panik lalu bertanya, “wahai putri Rasulullah, kenapa engkau menangis melihat jenazah itu? Ada apa dengan jenazah itu?”. 

Fatimah menjawab, “Setiap orang yang mati akan dibungkus dengan kain kafan yang rapat lalu akan di bawa kelokasi pemakaman dengan di panggul oleh orang-orang yang membawanya?”

 Khadijah dan Asiyah, Dua Muslimah Inspirasi Wanita

(Dahulu sebelum adanya keranda mayat, jika ada orang meninggal maka di saat dibawa ke kubur jenazah dipanggul di atas pundak orang-orang yang membawanya). Asma menjawab, “ Tentu wahai putri Rasulullah?”.

Kemudian Fatimah melanjutkan,”Dan aku pun kelak akan di bawa ke kubur seperti itu?” Asma menjawab “ Benar wahai putri Rasulullah”.

 

Lalu Fatimah melanjutkan ”Itulah yang menjadikan aku menangis, sungguh aku sangat malu jika nanti aku meninggal , kemudian di bungkus kain kafan dengan rapat lalu di angkat di atas punggung orang-orang yang membawaku ke kubur, sementara orang yang mengiring jenazah akan melihatku, sungguh aku sangat malu karena saat itu mereka akan melihat lekuk-lekuk tubuhku”.

 

Mendengar ungkapan Fatimah ini Asma berkata,

”wahai putri Rasulullah, disaat aku ke negeri Habasyah aku melihat jenazah yang dibawa ke kubur, jenazah diletakkan di sebuah tempat yang disebut keranda, aku pikir itu bisa menutupi pandangan orang dari melihat lekuk tubuh jenazah yang dibawa”.

 

Keranda Images, Stock Photos & Vectors | Shutterstock

Mendengar cerita Asma ini tiba-tiba tangis Fatimah terhenti, dan wajah beliau berubah berseri-seri sambil berkata ”wahai Asma sungguh aku berwasiat, jika aku mati nanti tolong buatkan aku keranda mayat seperti yang engkau ceritakan agar lekuk tubuhku tidak terlihat saat di bawa kekuburan”. Dan benar setelah Sayyidah Fatimah meninggal, maka dibuatlah keranda mayat untuknya.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Sosok Umar bin Khattab Tegas, tapi Diam Kala Dimarahi Istri

Donasiberkah.id– Sikap tegas Umar bin Khattab sangat kental. Beliau dikenal sebagai satu-satunya sahabat Rasulullah ﷺ yang paling memiliki jiwa keras nan tegas. Namun di balik ketegasannya tersebut, ada fakta menarik yaitu tentang bagaimana beliau dimarahi istrinya.

Umar bin Khattab dikenal sebagai assadullah (singanya Allah), begitu julukan beliau bagi kaum Muslim.

Ketegasannya dalam menegakkan syariat Islam tak perlu dipertanyakan lagi. Beliau merupakan seorang hamba yang tidak akan bertoleransi terhadap kemungkaran sedikit pun. Tapi ketika Umar bin Khattab dimarahi istrinya, nggak satu pun beliau nyaut-nyautin (beradu argumen) dengan istrinya. Beliau diam, mendengarkan, nunduk. Bayangkan, ini amirul Mukminin.

Menarik, Ini Kisah Waria yang Masuk Rumah Nabi Muhammad Saw

Suatu ketika ada sepasang suami-istri yang bertengkar hebat di masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Sang suami kemudian berniat mengadukan permasalahan rumah tangganya kepada Umar sambil ingin mengeluh tentang istrinya yang kerap marah-marah.

Setibanya di teras rumah Umar, si suami tadi berhenti dan mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Dia menghentikan langkahnya di teras rumah lantaran mendengar Sayyidina Umar dimarahi istrinya tanpa menjawab sepatah pun kata.

Keesokannya, si suami itu datang kembali kepada Umar dan menceritakan perihal niatnya untuk berkeluh kesah. “Lantas mengapa tidak jadi ke rumahku untuk bercerita?” kata Umar. Si suami itu pun menjawab: “Sebab aku mendengar engkau sedang dimarahi istrimu, wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau tak menjawabi istrimu ketika dimarahi?”.

Mendengar hal ini, Umar pun menjawab:

“Istriku adalah sumber kebahagiaan yang diberikan Allah kepadaku. Darinya, aku diberikan keturunan. Dari rahimnya, dia mengandung anakku. Ia lahirkan anakku, ia susui anakku. Ia layani aku, ia bahagiakan aku dengan segala kebutuhan yang aku perlukan. Pantaskah aku memarahinya? Pantaskah aku beradu argumen dengannya? Bagiku tidak.”

Peran Istri yang Dimuliakan Umar

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Arab woman coming to mosque building muslim religion ramadan kareem holy month Premium Vector

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Muslimah, Kau Mulia Jika Kembali Pada Fitrah - Islampos

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya.

Baca Juga : Kisah Istri Nabi ﷺ Zainab Binti Jahsy “Panjang Tangan Suka Bersedekah”

Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Rack of clothes in store Free Photo

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek.

Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

4. Pengasuh Anak-anak

Cute mother and daughter moslem celebrating eid mubarak cartoon vector icon illustration. people religion icon concept isolated premium vector. flat cartoon style Free Vector

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.?

Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

A mother cooking and prepares foods at kitchen Premium Vector

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Baca Juga: Berbakti Kepada Orang Tua

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

Demikianlah kemuliaan yang dimiliki oleh seorang muslimah, semoga kita bisa memuliakan seorang istri atau ibu yang telah merawat kita.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa dengan berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Umar Bin Khattab yang Membuat Rasulullah ﷺ Tertawa dan Menangis

Donasiberkah.id – Suatu ketika Rasulullah berkumpul dengan para Sahabatnya, beliau bertanya kepada para sahabatnya,

“Siapa diantara kalian yang bisa membuat aku tertawa “? 

“Saya Ya Rasul !”. Jawab Umar bin Khattab. 

Kemudian Sahabat Umar pun memulai ceritanya.” Dahulu sebelum aku mengenal Islam ,aku pernah membuat Patung berhala dari Manisan (sejenis makanan seperti kue bolu), sewaktu aku merasa lapar dan tidak aku temui makanan, karena rasa lapar yang sangat amat, aku terpaksa memakan berhala tersebut mulai dari kepalanya, terus tangannya hingga habis tak tersisa.”

Kabut Fiksi~: YANG MEMAKAN TUHANNYA SENDIRI .

 

Mendengar cerita Umar, Rasulullah tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya.

Beliau Pun bersabda ”Dimana akal kalian waktu Itu ?”. 

Umar Menjawab “Akal kami memang Jenius, tapi waktu itu yang menciptakan alam menyesatkan kami”.

Baca Juga: Kisah Istri Nabi ﷺ Zainab Binti Jahsy “Panjang Tangan Suka Bersedekah”

Lalu Rasulullah berkata kepada Umar ”Ceritakan kepadaku Hal yang membuat aku menangis?”

Umar pun memulai ceritanya,

”Dahulu aku punya seorang anak perempuan, kemudian aku ajak anak perempuanku ke suatu tempat, tiba di tempat yang aku tuju, aku mulai menggali sebuah lubang, setiap kali tanah yang aku gali mengenai bajuku, maka anak perempuanku membersihkannya. Padahal dia tidak mengetahuinya, sesungguhnya lubang yang aku gali adalah untuk menguburnya hidup-hidup untuk persembahan berhala. Setelah selesai menggali lubang aku kubur anak perempuanku hidup-hidup”.

Benarkah Tanah Kuburan Bisa Jadi Magnet Pemanggil Makhluk Halus? | kumparan.com

Mendengar cerita itu Meneteslah air mata Rasulullah  dan para Sahabat, begitupun dengan Umar menyesali perbuatan Jahiliyah-nya sebelum dia mengenal Islam, bahkan penyesalan itu selalu teringat saat beliau menjadi khalifah.

Di masa jahiliyah, orang Arab cenderung tidak menyukai anak perempuan, jika istri mereka melahirkan anak perempuan, mukanya memerah, dan kebanyakan akan menguburnya hidup-hidup dengan dalih “persembahan kepada berhala”.

Maka dari itu, untuk menghilangkan stigma jahiliyah ini Rasulullah memberikan sabda kepada para sahabat:

“Siapa yang memiliki anak perempuan, dia tidak membunuhnya dengan dikubur hidup-hidup, tidak menghinanya, dan tidak lebih mengutamakan anak laki-laki, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Abu Daud).

30+ Trend Terbaru Foto Bayi Perempuan Pakai Hijab - My Red Gummi Bear

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa dengan berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Istri Nabi ﷺ Zainab Binti Jahsy “Panjang Tangan Suka Bersedekah”

Donasiberkah.id – Salah satu istri Nabi Muhammad yang meninggalkan teladan baik adalah Zainab binti Jahsy. Sikap penyayang serta dermawannya merupakan teladan yang harum hingga masa kini.

Dalam berbagai literatur Islam, Zainab binti Jahsy dikenal sebagai Muslimah yang sangat pro dengan dakwah Rasulullah . Nama panjang beliau yakni Zainab binti Jahsy bin Ri’ab al-Asadiyyah, dan beliau dilahirkan di Makkah pada tahun 33 sebelum Hijriah dan wafat di Madinah pada tahun ke-20 Hijriah.

Zainab binti Jahsy juga merupakan sepupu Rasulullah ﷺ. Beliau telah masuk Islam sejak masa Makkah dan ikut hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin lainnya. Pernikahan beliau dengan Rasulullah pun merupakan perintah langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Zainab diketahui merupakan mantan istri dari anak angkat Rasulullah, Zaid bin Haritsah. Namun sayangnya, pernikahan Zainab dengan Zaid ini tak diiringi dengan keharmonisan sehingga Zaid kerap berkonsultasi ke Rasulullah untuk menceraikan istrinya.

Baca Juga: Efek Sedekah Bagi Psikologi Seseorang 

Meski Rasulullah sempat melarang itu, namun akhirnya Rasulullah mengizinkan Zaid menceraikannya setelah turun wahyu Allah atas perceraian sekaligus sah bagi seorang ayah angkat mengambil istri dari mantan istri anaknya.

Setelah bercerai dengan Zaid, Rasulullah kemudian memerintahkan Zaid untuk melamar Zainab untuk dirinya. Maka, pernikahan atas perintah Allah itu pun berlangsung dengan pemberian sedekah dari Rasulullah kepada Zainab sebesar 400 dirham.

Perbedaan Handmade (Jahit Tangan) dengan Jahit Mesin pada Produk Kulit | by Benno Yuliyanto | Medium

Dalam aktivitas sehari-hari, Zainab merupakan seorang yang pandai dalam memproduksi sesuatu. Seperti menyamak kulit atau melakukan produksi di bidang kerajinan tangan. Dari hasil produksi tangannya, beliau mendapatkan rezeki dan kemudian kerap menyisihkan rezekinya tersebut kepada fakir miskin.

“Apa Maksud Panjang Tangan Suka Bersedekah ?”

Dalam suatu riwayat Aisyah r.a pernah berkisah, bahwa suatu waktu setelah kematian Nabi , para istrinya berkumpul pada suatu rumah salah satu diantaranya. Lalu mereka mengukur tangan-tangan mereka di tembok untuk mencari tangan mana yang terpanjang. Aktivitas ini sering dilakukan mereka, sampai meninggalnya Zainab binti Jahsy.

 

Apa sebab hal ini dilakukan oleh para istri Nabi iyu? Ternyata, suatu waktu Rasulullah  pernah bersabda seperti diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

 

”Bahwa yang paling cepat menyusul diriku dari kalian (istri-istriku) adalah yang paling panjang tangannya.”

Yang paling cepat menyusul Rasulullah adalah Zainab binti Jahsy. Sementara Zainab memiliki tangan yang pendek dan bukan yang terpanjang bila dibandingkan dengan istri Nabi lainnya.

 

Mengapa Zainab? Menurut Aisyah dinukil dari hadits yang sama, karena Zainab bekerja dengan tangannya sendiri dan selalu bersedekah. Bahkan pada suatu riwayat yang dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath disebutkan bahwa Zainab radhiallahu ‘anha merajut pakaian kemudian memberikannya kepada pasukan Nabi ﷺ. Para pasukan Nabi menjahit serta memanfaatkannya pada saat peperangan.

 

Akhirnya para istri Nabi pun mengetahui maksud Nabi mengenai apa yang disebutnya dengan ”panjang tangan”, yakni suka bersedekah. Dan Zainab-lah ang dimaksud dalam hadits tersebut.

Wallahu’alam.

Sepeninggal Nabi

Pin on hijabi

Pada masa pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab misalnya, Zainab binti Jahsy mendapatkan jatah dari Baitul Mal yang dikelola oleh pemerintahan Khalifah Umar. Namun tak seperti kebanyakan manusia pada umumnya, Zainab rupanya memiliki sikap zuhud dari harta dan kerap menjadikan hartanya sebagai ladang amal untuk berbagi.

Sikap dermawan dari Zainab ini juga kerap diceritakan oleh para kerabat dan perempuan yang ada di sekelilingnya. Barzah binti Rafi bercerita, ketika jatah pembagian harta keluar, Sayyidina Umar mengirimkan harta tersebut kepada Zainab binti Jahsy yang menjadi haknya.

Namun, beliau justru mengira bahwa istri-istri Rasulullah yang lain lah yang berhak menerima harta tersebut. Namun demikian, para utusan Sayyidina Umar bin Khattab tetap memaksanya untuk mengambil harta yang merupakan haknya tersebut.

Akhirnya, Zainab mengambil secarik kain dan mengantongi harta miliknya itu dan memberikannya kepada Barzah binti Rafi sekantung dirham.

Beliau kemudian memerintahkan Barzah binti Rafi untuk membagikan harta tersebut kepada para kerabatnya, anak-anak yatim, serta kalangan dhuafa yang ada di sekitar wilayah tempat tinggalnya.

Tak hanya harta untuk kaum dhuafa dan anak-anak yatim, Barzah binti Rafi pun tak luput dari pemberian harta milik Zainab. Sikap dermawan Zainab yang enggan menerima hak dari harta hasil jerih payahnya ini pun didengar oleh Khalifah Umar bin Khattab dan beliau mendoakannya.

A Thread from @sayidmachmoed: "Kisah Cinta Sayyidah Zainab binti Muhammad ﷺ dan Abul Ash bin Rabi' Sebelum Nabi Muhammad ﷺ diangkat [...]"

Tak hanya itu, saking dermawannya Zainab binti Jahsy, semasa hidup Rasulullah memberikan julukan bagi istrinya itu sebagai orang yang Panjang Tangan. Artinya, tangan dan hatinya sangat mudah tergerak untuk memberi.

Zainab binti Jahsy wafat di Madinah saat usia 53 tahun. Beliau merupakan istri Rasulullah yang paling pertama wafat setelah kematian Nabi Muhammad Zainab binti Jahsy dimakamkan di Jannatul Baqi.

Yuk kita ‘panjangkan tangan’ kita dengan berdonasi melalui link kebaikan di bawah ini:

.

Kisah di Qishasnya Nabi ﷺ oleh ‘Ukasyah r.a.

 

Donasiberkah.id – Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya adzan. Memanggil manusia untuk sholat berjama’ah. Maka berkumpulah kaum Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah .

 

Setelah selesai shalat dua raka’at yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kemudian beliau membacakan khutbahnya yang sangat berkesan, yang membuat hati para  terharu dan menangis mencucurkan air mata.

Raudhah, Taman Surga yang Ada di Masjid Nabawi - MOESLIM.ID

Beliau berkata antara lain :

”Sesungguhnya aku ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan bapak yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishash kepadaku sebelum ia melakukannya di hari Kiamat nanti”.

Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan pada ketiga kalinya barulah berdiri seorang laki-laki bernama ‘Ukasyah Ibnu Muhsin’.

 

Ia berdiri di hadapan Nabi sambil berkata :

“Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasulullah. Kalau bukan karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenalkannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga unta ku berdampingan sekali dengan unta mu, maka aku pun turun dari atas unta ku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul lambung-sampingku, aku tidak tahu apakah itu dilakukan engkau dengan sengaja atau tidak, ya Rasulullah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak melecut untamu sendiri ?”.

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah, ”Supaya Fatimah memberikan kepadaku cambukku ” kata beliau.

Baca Juga: Kisah Uwais Al-Qarni, Pemuda yang Viral di Langit

Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkannya di atas kepalanya. Ia heran dan tak habis pikir, “Inilah Rasulullah memberikan kesempatan mengambil qishas terhadap dirinya!”.

Napak Tilas Rumah Nabi Muhammad SAW Sebelum Menjadi Masjid Nabawi | Rumah123.com

Diketuknya pintu rumah Fatimah, lalu menyahut dari dalam : “Siapakah diluar?”, “Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasulullah”. jawab Bilal.

 

”Duhai Bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?”. Tanya Fatimah kepada Bilal.

“Ya Fatimah ! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya”. Bilal menegaskan.

“Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati hendak mengqishas Rasulullah?”. Tukas Fatimah keheranan. “Biarlah hamba saja yang menjadi ganti untuk dicambuk”.

Kisah Nabi Ayub Cambuk Istrinya 100 Kali - Islampos

Namun Bilal pun pergi sambil mengambil cambuk itu dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan ‘Ukasyah.

 

Suasana mulai tegang. Semua sahabat bergerak. Semua berdiri. Jangankan dicambuk, dicolek saja, ia akan berhadapan dengan kami. Mungkin begitu mereka bicara dalam hati. Semua mata melotot memandang Ukasyah dan sebilah cambuk.

Daftar Lima Sahabat Nabi yang Super Tajir! : Okezone Muslim

Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, “Hai ‘Ukasyah ! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qisas-lah kami berdua, dan jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah !”.

 

Mungkin saat itu Umar pun meraba pedangnya. Seandainya saja, diizinkan akan aku penggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah.

 

Rasulullah menahan dua sahabatnya itu. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini : “Duhai sahabatku, Duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!”.

 

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Thalib sambil berkata. Kali ini lebih garang dari sahabat Abu Bakar : ”Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi ﷺ. Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishash memukul Rasulullah. Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!”.

Masjid Nabawi Zaman Rasulullah - Nusagates

Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya untuk sosok yang. Ia tak rela sang Rasul tersakiti. Ia merelakan punggungnya untuk menggantikan qishash itu.

 

Nabi pun menahan. ” Allah Subhanahu Wa Ta’ala  telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali !”.

 

Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. ”Hai Ukasyah !  Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishash kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri !”

 

Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata “Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku!”.

 

Dan akhirnya Nabi berkata : “Hai ‘Ukasyah ! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishash!”.

 

“Ya Rasul Allah ! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak melekatkan kain di badanku”. Kata Ukasyah. kembali suasana semakin panas dan tegang. Semua orang berpikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, ia malah meminta Rasul membuka baju. “Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya ini orang…”.

 

Tanpa bicara. Tanpa kata. Rasulullah membuka bajunya. Semua yang hadir menahan napas. Banyak yang berteriak sambil menangis. Tak terkecuali. Termasuk Ukasyah. Ada yang tertahan di dadanya. Ia segera maju melangkah, melepas cambuknya, kemudian..

Ini Alasan Perempuan Suka Melihat Pria Menangis - Citizen6 Liputan6.com

Kejadian selanjutnya tatkala ‘Ukasyah melihat putih tubuh Rasulullah dan tanda kenabian di punggungnya, ia segera mendekap tubuh Nabi sepuas-puasnya sambil berkata : “Tebusanmu adalah Rohku ya Rasulallah, siapakah yang tega sampai hatinya untuk mengambil kesempatan mengqishas engkau ya Rasulallah ? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka”.

 

Akhirnya berkatalah Nabi “Ketahuilah wahai para sahabat ! barangsiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah kepada pribadi laki-laki ini!”.

 

Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium ‘Ukasyah di antara kedua matanya. Rasa curiga berubah cinta. Buruk sangka berubah bangga. Berkatalah mereka : “Berbahagialah engkau yang telah mencapai derajat yang tinggi dan menjadi teman Rasulullah di surga kelak!”.

3D air terjun air wallpaper kustom hd indah lotus wallpaper untuk ruang tamu stiker non woven wallpaper gulungan|lotus wallpaper|wallpapers for living roomwater wallpaper - AliExpress

Demikian Kisah di Qishasnya Nabi ﷺ oleh ‘Ukasyah r.a. Dala kisah ini kita bisa melihat betapa cintanya para sahabat kepada Nabi, maka sudah sepatutnya kita yang mengaku sebagai ummat Nabi untuk mencintai dan mengikuti langkah-langkah beliau.

Yuk Jadi bagian dari “GYD” (Generasi Yang Dermawan) dengan meng-klik link kebaikan di bawah ini:

 

English EN Indonesian ID