Griya Yatim & Dhuafa

Kisah Abu Dujanah yang Membuat Rasulullah Menangis

Donasiberkah.id – Di dalam kitab I’anatuth-Thalibin Bab Luqatah karya Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati, diceritakan sebuah kisah sahabat yang membuat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meneteskan air mata.

Adalah Abu Dujanah Radhiallahu’anhu sahabat Nabi dari kabilah Khazraj yang membuat Rasulullah menangis. Selain dikenal pemberani di medan perang, Abu Dujanah juga seorang yang sangat menjaga diri dan keluarganya dari perkara haram. Suatu hari, usai salat subuh berjamaah bersama Rasulullah, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa mengikuti doa ba’da shalat yang dipanjatkan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah mencoba mencari tahu penyebab kebiasaan Abu Dujanah itu.

“Wahai Abu Dujanah, apakah engkau tidak memiliki permintaan yang perlu engkau panjatkan ke hadirat Allah sehingga engkau sering meninggalkan masjid sebelum aku selesai berdoa?” tanya beliau.

Abu Dujanah menjawab, “Begini Rasulullah,” kata Abu Dujanah memulai ceritanya.

“Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku itu saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”

Date palm grove in desert oasis Douz / Tunisia / Africa  date palm stock pictures, royalty-free photos & images

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan. Saat anak-anak kami bangun, apapun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.”

Abu Dujanah lantas menceritakan, pernah suatu ketika anaknya kedapatan memakan kurma yang jatuh dari pohon tetangganya itu. Maka, ia pun berupaya sekuat tenaga untuk mengeluarkan kurma yang terlanjur dimakan tadi dari mulut anaknya.

“Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.” Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.

Wahai Rasulullah ﷺ, kami katakan kembali kepada anakku itu, “Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”

Baca Juga : Kisah Rasulullah ﷺ dan Kuli Batu “Keutamaan Mencari Nafkah”

Mendengar cerita itu, mata Rasulullah ﷺ berkaca-kaca, butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah itu.

Abu Dujanah pun mengatakan bahwa pohon kurma itu milik seorang laki-laki munafik.

Rasulullah langsung mendatangi pemilik pohon kurma yang diceritakan oleh Abu Dujanah. Rasul lalu mengatakan,

“Apa bisa engkau menjual pohon kurma itu? Aku akan membelinya dengan pohon senilai 10 kali lipat. Pohon itu terbuat dari batu zamrud berwarna biru, disirami emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” kata Rasulullah menawarkan.

Laki-laki munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tidak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan ingin dibayar saat ini juga.”

Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milikmu yang jenisnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).”

arabic man praying in the desert  arab men stock pictures, royalty-free photos & images

Si munafik pun kegirangan sembari berujar: “Ya sudah, aku jual.”

Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar langsung menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah.

Rasulullah kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi itu, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berjalan mendatangi istrinya. Lalu menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.”

Salesman facing his own devil shadow  think evil stock pictures, royalty-free photos & images

Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon itu tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, saat ini rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara.

Demikian kisah sahabat dan pohon kurma yang membuat Rasulullah menangis. Hikmah yang kita petik dari kisah ini adalah kehati-hatian para sahabat menjaga diri dan keluarganya dari makanan yang haram.

Kemudian pohon kurma yang berpindah posisi itu adalah salah satu mukjizat Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam yang langsung dirasakan oleh sahabat Abu Dujanah.

Kisah Keislaman Hamzah

Donasiberkah.id – Nama sebenarnya Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, seorang paman Nabi dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian, Ia Ikut Hijrah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan ikut dalam perang Badar, dan meninggal pada saat perang Uhud, Rasulullah menjulukinya dengan “Asadullah” (Singa Allah) dan menamainya sebagai “Sayidus Syuhada”.

Hamzah Menerima Dakwah Nabi

A narrow street in a traditional Arab mud brick village, Al Majmaah, Saudi Arabia The restored streets in the Munikh Castle suburbs old arab stock pictures, royalty-free photos & images

Ibnu Ishaq berkata, “Seseorang dari kabilah Aslam telah bercerita kepadaku, ia memiliki ingatan kuat, bahwa Abu Jahal berpapasan dengan Rasulullah ﷺ di bukit Shafa. Lantas ia menyakiti dan mencaci maki beliau. Ia juga menjelek-jelekkan agama beliau dan meremehkan misi yang beliau bawa.

Namun Rasulullah ﷺ tidak meladeninya. Sementara itu, seorang wanita bekas budak Abdullah bin Jad’ah yang berada di dalam rumahnya mendengar kata-kata kasar Abu Jahal itu.”

Baca Juga : Sa’ad Bin Abi Waqash Antara Ibu dan Aqidah

Selanjutnya, Ibnu Ishaq menyebutkan kisah ketika wanita ini menemui Hamzah –yang baru pulang dari berburu– untuk memberitahukan apa yang telah terjadi pada keponakannya.

Maka fanatisme kekeluargaannya muncul sehingga ia langsung menuju ke tempat Abu Jahal dan melukai wajahnya. Kemudian Hamzah berkata, ‘Beraninya engkau mencaci maki Muhammad, sedangkan aku telah menganut agamanya. Aku mengatakan apa yang ia katakan.”

Sementara itu, Syaikh Al-Albani tidak memperjelas status kisah ini dalam komentarnya terhadap kitab Fiqhus Sirah, Hal. 116, dan ia tidak menyebutkannya dalam kitab Shahihus Sirah.

Dr. Akram Umar mengatakan, “Hamzah masuk Islam pada masa Quraisy semakin kurang ajar terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi kronologi keislamannya tidak terbukti diriwayatkan melalui jalan yang shahih.”

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Nasihat Rasulullah ﷺ Untuk Muslim di Masa Tua

Donasiberkah.id – Usia makin bertambah dan tiba masanya jika umur kita panjang akan menghadapi usia tua. Saat dimana tubuh sudah tidak kuat lagi sebagaimana saat kita muda, saat ingatan juga sudah mulai hilang satu demi satu hingga akan tiba saat dimana ajal pun akan menjemput. Tetapi saat kita menjadi tua bukanlah menjadi akhir untuk tidak melaksanakan amal ibadah kepada Allah SWT sebagaimana tuntunan dari Rasulullah ﷺ.

Ada sebuah kisah  tentang sosok sahabat bernama Qubaishah yang usianya memang sudah lanjut usia. Dikisahkan, bagaimana dengan susah payah sang sahabat mendatangi Rasulullah ﷺ pada suatu waktu. Lalu Qubaishah mengungkapkan sebuah pertanyaan kepada Rasulullah ﷺ yang membuat beliau terkesan dengan apa yang ditanyakan sehingga memintanya untuk mengulangi kembali pertanyaan tersebut.

Baca Juga : Keajaiban di Shubuh Hari Kisah Ali dan Orangtua

“Wahai Rasulullah! Aku datang pada saat aku nyaris tak dapat menemuimu. Usiaku sudah tua, tulangku rapuh, kekuatanku melemah hingga membutuhkan pertolongan orang lain dan ajalku pun telah dekat. Aku datang supaya kamu mengajariku sesuatu yang dengannya Allah memberiku manfaat didunia dan akhirat. Jangan banyak-banyak, karena aku sudah tua hingga banyak lupa,” tanya Qubaishah kepada Rasulullah yang diulanginya lagi sebagimana permintaan Rasulullah ﷺ.

“Demi Dzat yang telah mengutusku dengan membawa kebenaran. Tidaklah pepohonan dan tanah yang ada disekitarmu melainkan menangis lantaran kasihan kepadamu. Kemukakan keperluanmu,” tanya kembali Rasulullah ﷺ.

“Aku datang agar kamu mengajariku sesuatu dengannya Allah memberiku manfaat didunia dan akhirat. Jangan banyak-banyak, karena aku sudah tua hingga banyak lupa,” ucap Qubaishah.

Fotografi Siluet Gunung

“Wahai Qubaishah, apabila memasuki waktu subuh, maka bacalahSubhaanallaahil adhiim wa bihamdih walaa haula walaa quwwata illaa billaah (Maha Suci Allah yang Agung, dan segala puji bagi-Nya. Tiada daya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah) sebanyak empat kali. Maka Allah akan memberimu empat perkara bagi kepentingan dunia. Keempat perkara tersebut adalah bahwa kamu akan terpelihara dari penyakit gila, pikun, kusta dan lumpuh,” jawab Rasulullah ﷺ.

“Adapun untuk urusan akhiratmu, bacalah Allahummahdini min ‘indika, wa afidh ‘alayya min fadhlik, wansyur ‘alayya rahmataka, wa anzil ‘alayya min barakaatik (Ya Allah, berilah aku petunjuk dari sisi-MU, limpahkanlah kepadaku sebagaian karunia-MU, sebarkanlah kepadaku sebagian rahmat-MU dan turunkanlah kepadaku sebagian berkah-MU).” Lanjut Rasulullah tentang amalan yang berkaitan dengan akhirat kepada Qubhaisah.

Akhirnya sang kakek pun pergi dengan perasaan yang plong di dada dan berusaha sekuat tenaga mengamalkan apa yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Very old Turkish muslim man doing Salah prayer at his home on his prayer rug Very old bearded Turkish muslim male at his 80's wearing a prayer cap doing Salah prayer at his home on his prayer rug in Ramadan month old man muslim  pray stock pictures, royalty-free photos & images

“Demi Dzat yang jiwau berada ditanganNYA. Jika dia membawa keempatnya pada hari kiamat maka tidaklah dia mengucapklannya melainkan dibukakan keempat pintu surga. Dia dapat masuk melalui pintu yang dikehendakinya,” sabda Rasulullah ﷺ.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Ummu Ruman, Ibunda Ummul Mukminin Aisyah

Donasiberkah.id – Di antara wanita istimewa di masa awal Islam adalah Ummu Ruman radhiallahu ‘anha. Ia merupakan istri dari manusia terbaik setelah para nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Dan ibu dari wanita yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha.

Nasabnya

Nasabnya adalah Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdusy Symas bin ‘Itab. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan tentang nasabnya. Namun mereka sepakat bahwa ia berasal dari Bani Ghanam bin Malik bin Kinanah (Tadzhib al-Kamal: Juz 35, Hal: 359).

Memeluk Islam

Ummu Ruman memeluk Islam saat di Mekah. Ia termasuk kelompok awal yang memeluk Islam (ath-Thabaqat al-Kubra: Juz 8, Hal: 276).

Ummu Ruman tumbuh besar di sebuah daerah di Jazirah Arab. Tepatnya di daerah as-Sarrah. Sejak zaman jahiliyah, ia dikenal sebagai seorang wanita yang memiliki adab mulia dan fasih bahasanya. Sebelum menikah dengan Abu Bakar, ia menikah dengan seorang pemuda yang mulia. Bahkan tokoh di tengah kaumnya. Namanya al-Harits bin Sakhirah al-Azdi. Darinya ia melahirakan seorang anak yang bernama ath-Thufail. Suaminya sangat ingin tinggal di Mekah. Ibu kota bangsa Arab. Dan kota suci yang telah dikenal sejak zaman nenek moyang mereka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Mereka pun memutuskan untuk mukim di kota mulia itu.

ArtStation - OLD KAABA, Tarık Tatlıdil

Saat di Mekah, al-Harits bin Sakhirah menjalin kedekatan dengan Abu Bakar. Dan Abu Bakar menjadi sekutunya di sana. Tak lama setelah al-Harits wafat, Abu Bakar menikahi Ummu Ruman sebagai bentuk penghormatan terhadap sahabatnya itu. Karena dengan pernikahan itulah, istri sahabatnya ini ada yang menanggung dan melindungi.

Di masa Kota Mekah kental dengan jahiliyah dan kesyirikan, saat itulah dakwah Islam yang mengajarkan monotheisme muncul. Dakwah itu dibawa oleh seseorang yang merupakan sahabat Abu Bakar. Seorang pemuda bangsawan yang dikenal dengan akhlak yang mulia. Dialah Muhammad bin Abdullah ﷺ.

karena kedekatannya dengan Muhammad bin Abdullah, tak menunggu lama bagi Abu Bakar untuk menerima dakwahnya. Ketika sang suami menerima dakwah tauhid ini, sang istri, Ummu Ruman, pun mengikuti suaminya. Ia segera mengucapkan syahadat setelah sang suami. Kemudian Ummu Ruman berbaiat kepada Nabi dan turut berhijrah ke Madinah.

Dari pernikahannya dengan Abu Bakar ash-Shiddiq, Ummu Ruman melahirkan dua orang anak. Seorang perempuan dan seorang laki-laki. Yang perempuan dinamai Aisyah dan yang laki-laki diberi nama Abdurrahman.

Ummu Ruman patut berbangga dengan keluarganya ini. Selain sang putri yang menjadi istri Rasulullah. Sang suami pun adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah. Kedekatan tersebut terlihat dari kebiasaan Rasulullah yang sering berkunjung ke rumah Abu Bakar. Setiap hari pasti Nabi berkunjung ke rumahnya. Di pagi atau di sore hari.

Bersama Rasulullah ﷺ dan Aisyah

Empat Alasan Mengapa Madinah Dipilih sebagai Tempat Hijrah Rasulullah | NU  Online

Ummu Ruman radhiallahu ‘anha adalah wanita yang paling berbahagia. Bagaimana tidak, manusia terbaik dalam sejarah manusia meminang putrinya. Rasul paling utama dari semua rasul menjadi menantunya. Namanya tercatat dalam kisah pernikahan Nabi dengan Aisyah.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

“Nabi menikahiku saat aku berusia enam tahun. Lalu kami hijrah ke Madinah. Kami tinggal di tengah Bani al-Harits bin Khazraj. Saat itu tubuhku telah gempal. Rambutku telah pecah. Dan telah cukup usia. Ibuku, Ummu Ruman, menemuiku. Sungguh saat itu aku masih belia sekali. Aku sedang bermain bersama teman-temanku. Lalu ibuku memanggilku. Aku pun menemuinya dan aku tidak tahu apa yang ia inginkan dariku. Ia gandeng tanganku. Dan membawaku ke depan pintu hingga nafasku terengah-engah.

Saat tubuhku tak tenang (tak lagi terguncang karena tarikan nafas), ia ambil air dan basukan di wajahku dan kepalaku. Lalu ia membawaku masuk ke dalam rumah. Saat masuk, ternyata kudapati banyak wanita Anshar di dalamnya. Mereka berkata, ‘Semoga dalam kebaikan dan keberkahan. Semoga dalam kebaikan yang langgeng’. Lalu ibu menyerahkanku pada mereka. Mereka mendandaniku. Lalu mereka menyerahkanku kepada Rasulullah. Saat itu usiaku sembilan tahun (Shahih al-Bukhari: Juz 3, Hal: 1414).

 

Di antara peristiwa besar yang terjadi pada Aisyah adalah fitnah bahwa dirinya selingkuh dan berzina. Dalam sirah nabi, peristiwa ini dikenal dengan haditsul ifki. Fitnah besar ini sempat membuat rumah tangga Rasulullah dengan Aisyah geger. Dan Aisyah sangat terpukul dengan fitnah ini.

Di saat-saat berat seperti itu, sang ibu, Ummu Ruman, hadir menyertai putrinya. Ummu Ruman radhiallahu ‘anha bercerita tentang kisah fitnah tersebut. Katanya, “Saat aku sedang duduk bersama Aisyah, tiba-tiba seorang wanita Anshar masuk menemui kami. Ia berkata, ‘Semoga Allah melakukan demikian dan demikian terhadap si Fulan’. Aku berkata, ‘Kenapa memangnya’? Ia menjawab, ‘Ia menceritakan suatu kejadian’. ‘Kejadian apa’? tanya Aisyah. Wanita itupun menceritakannya. Aisyah menanggapi ceritanya dengan bertanya, ‘Apakah Abu Bakar dan Rasulullah telah mendengar berita itu’? ‘Iya’, jawabnya. Aisyah pun pingsan. Dan saat bangun ia dalam kondisi demam dan wajahnya pucat.

Lalu Rasulullah datang. Beliau bertanya, ‘Ada apa dengannya’? ‘Ia demam karena mendengar berita yang beredar’, jawabku. Aisyah duduk dan berkata, ‘Demi Allah, seandainya aku bersumpah dia tak akan membenarkanku. Kalau aku memberikan alasan, tentu ia tak akan menerimanya. Kondisiku saat itu sama seperti kondisi Ya’qub dengan anak-anaknya. Hanyalah Allah tempat mengadu atas apa yang mereka tuduhkan.

Setelah berlalu beberapa hari. Allah menurunkan firman-Nya untuk membela Aisyah. Nabi mengabarkan tentang ayat Alquran yang turun tersebut kepada Aisyah. Aisyah berkata, ‘Segala puji hanya untuk Allah. Tidak untuk siapapun (Shahih al-Bukhari: Juz 3, Hal: 1239).

Inilah kisah sang ibu yang menemani dan merekam kejadian-kejadian berat saat putrinya tertimpa ujian besar. Ia berada di sampingnya. Walaupun tak berucap banyak karena tak berani mendahului Allah dan Rasul-Nya. Tapi ia memberi kesan hadir pada putrinya. Agar sang putri yang tengah bersedih karena ujian berat, tengah galau dan bingung, merasakan ibunya tetap berada di sisinya. Hingga jalan keluar itu turun dari langit.

Ummu Ruman tercatat dalam peristiwa paling Bahagia putrinya. Yaitu dinikahi Rasulullah. Dan hadir pula tatkala putrinya mengalami ujian sangat berat dalam rumah tangganya.

Baca Juga : Kisah Ummu Sulaim yang Begitu Penyabar

Wafatnya

Green Floating Leaves Flying Leaves Green Leaf Dancing,  Air Purifier Atmosphere Simple Main Picture  falling leaves stock pictures, royalty-free photos & images

Sejarawan berbeda pendapat tentang kapan wafatnya Ummu Ruman. Ada yang menyatakan ia wafat tahun 6 H. Nabi ﷺ sendiri yang memakamkannya dan memohonkan ampunan untuknya. Belia bersabda, “Siapa yang ingin melihat salah seorang bidadari surga, maka lihatlah Ummu Ruman.”

Pendapat lain menyatakan, Ummu Ruman wafat setelah tahun 6 H. Di antara mereka yang berpendapat demikian adalah Imam al-Bukhari. Dasar dari pendapat mereka cukup kuat. Yaitu:

Pertama: Terdapat sebuah hadits dari Masruq (seorang tabi’in). Di riwayat itu Masruq bertanya kepada Ummu Ruman.

Kedua: Hadits tentang Nabi memberi tawaran kepada istri-istrinya untuk bersabar hidup sederhana bersamanya atau bercerai. Dalam hadits tersebut, Nabi mengatakan kepada Aisyah untuk mendiskusikan tawaran itu kepada kedua orang tuanya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 9 H.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Nasihat al-Hasan al-Bashri Kepada Umar bin Abdul Aziz

Donasiberkah.id – Berikut ini adalah nasihat al-Hasan al-Bashri kepada Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah yang shaleh dari Bani Umayyah. Al-Hasan menasihati beliau tentang hakikat dunia, karena bisa jadi seseorang yang shaleh pun tergelicir ketika memegang kekuasaan tertinggi dan dia membutuhkan nasihat yang mengingatkannya.

Apalagi jabatan yang dipegang oleh Umar adalah jabatan yang sangat besar, karena ia adalah salah satu raja yang memegang wilayah terbesar di dunia. Godaan, ambisi, fitnah dunia, dan keinginan untuk menikmatinya bisa saja muncul kala itu.

Sousse city Sousse city, Tunisia arabic house stock pictures, royalty-free photos & images

Al-Hasan al-Bashri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, isi surat tersebut menjelaskan tentang hakikat dunia. Teks surat tersebut adalah sebagai berikut:

Amma ba’du.. Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dunia adalah rumah persinggahan dan perpindahan bukan rumah tinggal selamanya.

Adam diturunkan ke dunia dari surga sebagai hukuman atasnya, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya orang yang berhasrat kepada dunia akan meninggalkannya, orang yang kaya di dunia adalah orang yang miskin (dibanding akhirat), penduduk dunia yang berbahagia adalah orang yang tidak berlebih-lebihan di dalamnya.

Jika orang yang berakal lagi cerdik mencermatinya, maka dia melihatnya menghinakan orang yang memuliakannya, mencerai-beraikan orang yang mengumpulkannya. Dunia layaknya racun, siapa yang tidak mengetahuinya akan memakannya, siapa yang tidak mengetahuinya akan berambisi kepadanya, padahal, demi Allah itulah letak kebinasaannya.

Wahai Amirul Mukminin, jadilah seperti orang yang tengah mengobati lukanya, dia menahan pedih sesaat karena dia tidak ingin memikul penderitaan panjang. Bersabar di atas penderitaan dunia lebih ringan daripada memikul ujiannya. Orang yang cerdas adalah orang yang berhati-hati terhadap godaan dunia. Dunia seperti pengantin, mata-mata melihat kepadanya, hati terjerat dengannya, pada dia, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, adalah pembunuh bagi siapa yang menikahinya.

Earth and galaxy. elements of this image furnished by nasa. Free Photo

Wahai Amirul Mukminin, berhati-hatilah terhadap perangkap kebinasaannya, waspadailah keburukannya. Kemakmurannya bersambung dengan kesengsaraan dan penderitaan, kelanggengan membawa kepada kebinasaan dan kefanaan.

Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, bahwa angan-angannya palsu, harapannya batil, kejernihannya keruh, kehidupannya penderitaan, orang yang meninggalkannya adalah orang yang dibimbing taufik, dan orang yang berpegang padanya adalaah celaka lago tenggelam. Orang yang cerdik lagi pandai adalah orang yang takut kepada apa yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menimbulkan rasa takut, mewaspadai apa yang Allah telah peringatkan, berlari meninggalkan rumah fana kepada rumah yang abadi, keyakinan ini akan sangat terasa ketika kematian menjelang.

Finding the light A shot of someone finding an exit from a dark tunnel - ALL design on this image is created from scratch by Yuri Arcurs'  team of professionals for this particular photo shoot afterlife stock pictures, royalty-free photos & images

Dunia wahai Amirul Mukminin, adalah rumah hukuman, siapa yang tidak berakal mengumpulkan untuknya, siapa yang tidak berilmu tentangnya akan terkecoh, sementara orang yang tegas lagi berakal adalah orang yang hidup di dunia seperti orang yang mengobati sakitnya, dia menahan diri dari pahitnya obat karena dia berharap kesembuhan, dia takut kepada buruknya akibat di akhirat.

Dunia wahai Amirul Mukminin, demi Allah hanya mimpi, sedangkan akhirat adalah nyata, di antara keduanya adalah kematian. Para hamba berada dalam mimpi yang melenakan, sesungguhnya aku berkata kepadamu wahai Amirul Mukminin apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki bijak,

Natural wonders, paradise, illustration. Free Photo

‘Jika kamu selamat, maka kamu selamat dari huru-hara besar itu. Jika tidak, maka aku tidak mengira dirimu akan selamat’.

Ketika surat al-Hasan al-Bashri ini sampai ke tangan Umar bin Abdul Aziz, beliau menangis sesenggukan sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya.

Umar mengatakan, “Semoga Allah merahmati al-Hasan al-Bashri, beliau terus membangunkan kami dari tidur dan mengingatkan kami dari kelalaian. Sungguh sangat mengagumkan, beliau adalah laki-laki yang penuh kasih terhadap kami (pemimpin), beliau begitu tulus kepada kami. Beliau adalah seorang pemberi nasihat yang sangat jujur dan sangat fasih bahasanya.”

Ink pen on burnt paper sheets Free Photo

Umar bin Abdul Aziz membalas surat al-Hasan dengan mengatakan:

“Nasihat-nasihat Anda yang berharga telah sampai kepadaku, aku pun mengobati diriku dengan nasihat tersebut. Anda menjelaskan dunia dengan sifat-sifatnya yang hakiki, orang yang pintar adalah orang yang selalu berhati-hati terhadap dunia, seolah-olah penduduknya yang telah ditetapkan kematian sudah mati. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”

Ketika balasan Umar sampai di tangan al-Hasan, beliau berkata, “Amirul Mukminin benar-benar mengagumkan, seorang laki-laki yang berkata benar dan menerima nasihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengagungkan nikmat dengan kepemimpinannya, merahmati umat dengan kekuasaannya, menjadikannya rahmat dan berkah.”

Al-Hasan al-Bashri menulis sedikit lagi pesan kepada Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan:

“Amma ba’du, sesungguhnya ketakutan besar dan perkara yang dicari ada di depanmu, dan engkau pasti akan menyaksikannya, selamat atau celak.” (Az-Zuhd, al-Hasan al-Bashri, Hal.169).

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kasih Sayang Umar Terhadap Rakyatnya

Donasiberkah.id – Menyebut nama Umar bin al-Khattab, nalar kita begitu reflek membayangkan sosok pemimpin yang tegas, adil, dan karismatik. Ditambah perawakan Umar yang tinggi-besar dan bersuara lantang. Menjadikan figurnya seolah-olah pemimpin di kisah-kisah dongeng yang begitu ideal. Ya, Umar memang seorang yang adil. Dia juga tegas. Dan dia berhasil memakmurkan rakyatnya.

Aahh.. kiranya Umar hadir di zaman sekarang.. seluruh sebagian orang sebagai keluh dan keputusasaan akan sosok pemimpin idaman.

Kita bersyukur banyak kaum muslimin mencintai sosok Umar. Mereka mencintai sahabat Nabi ﷺ yang mulia. Nomor dua kedudukannya jika dirunut bersama Abu Bakar, radhiallahu ‘anhuma. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata,

“Aku mencintai Nabi ﷺ, mencintai Abu Bakar, dan mencintai Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka (di hari kiamat) lantaran kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari, No. 3688).

Selain dikenal tegas, Umar juga memiliki sifat lembut dan kasih sayang kepada rakyatnya.

Umar Takut Jika Menelantarkan Rakyatnya

Bedouins walk to Egypt pyramids at night desert Bedouins walk to Egypt pyramids on camel at night desert. Egyptian pharaoh tomb complex in Giza plateau illuminated with mystic moonlight under starry sky. Cartoon vector ancient african landmark arabic history stock illustrations

Muawiyah bin Hudaij radhiallahu ‘anhu datang menemui Umar setelah penaklukkan Iskandariyah. Lalu ia menderumkan hewan tunggannya. Kemudian keluarlah seorang budak wanita. Budak itu melihat penat Umar setelah bersafar.

Ia mengajaknya masuk. Menghidangkan roti, zaitun, dan kurma untuk Umar. Umar pun menyantap hidangan tersebut. Kemudian berkata kepada Muawiyah,

“Wahai Muawiyah, apa yang engkau katakan tadi ketika engkau mampir di masjid?”

“Aku katakan bahwa Amirul Mukminin sedang tidur siang”, jawab Muawiyah.

Umar berkata, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan dan alangkah jeleknya apa yang engkau sangkakan. Kalau aku tidur di siang hari, maka aku menelantarkan rakyatku. Dan jika aku tidur di malam hari, aku menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat malam). Bagaimana bisa tertidur pada dua keadaan ini wahai Muawiyah?”.

Mungkin Muawiyah bin Hudaij bermaksud kasihan kepada Umar. Ia ingin Umar beristirahat karena capek sehabis bersafar. Rakyat pun akan memaklumi keadaan itu dan juga kasihan kepada pemimpinnya, sehingga mereka rela jika Umar beristirahat. Tetapi Umar sendiri malah khawatir kalau hal itu termasuk menghalangi rakyatnya untuk mengadukan keinginannya mereka kepadanya.

Umar berkata, “Jika ada seekor unta mati karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah memintai pertanggung-jawaban kepadaku karena hal itu.

Karena unta tersebut berada di wilayah kekuasaannya, Umar yakin ia bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya. Ketika unta itu mati sia-sia; karena kelaparan, atau tertabrak kendaraan, atau terjerembab di jalanan karena fasilitas yang buruk, Umar khawatir Allah akan memintai pertanggung-jawaban kepadanya nanti di hari kiamat.

Subhanallah… kalau rasa tanggung jawab kepada hewan pun sampai demikian, bagaimana kiranya kepada manusia? Semoga Allah meridhai dan senantiasa merahmati Anda wahai Amirul Mukminin…

Berkaca pada keadaan kita jalan berlubang sehingga banyak yang celaka, banjir, macet, tidak aman di jalanan, dan lain sebagainya. Diklaim sebagai pemimpin yang adil dan amanah. Memang standarnya berbeda.

sketch of Kaaba in Mecca United Arab Emirates vector sketch of Kaaba in Mecca United Arab Emirates kabah stock illustrations

Pada saat haji terakhir yang ia tunaikan dalam hayatnya, Umar radhiallahu ‘anhu duduk bersimpuh kemudian membentangkan rida’nya. Ia mengangkat tinggi kedua tangannya ke arah langit. Ia berucap,

“Ya Allah.. sungguh usiaku telah menua dan ragaku kian melemah, sementara rakyatku semakin banyak (karena wilayah Islam meluas pen.), cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak disia-siakan.”

Baca Juga : Keutamaan Umar bin al-Khattab

Perhatian Terhadap Rakyat

Middle Eastern cityscape scene vector flat illustration. Man smoking hookah, camel. Desert landscape Middle Eastern cityscape scene vector flat illustration. Traditional Arabian houses with towers, brick stone fence wall with gates. Street life. Man smoking hookah, lead camel. Desert landscape arabic house stock illustrations

Perhatian Umar terhadap rakyatnya benar-benar membuat kita kagum dan namanya pun kian mengharum, mulia bagi mereka pembaca kisah kepemimpinannya. Doa-doa rahmat dan ridha untuknya begitu deras mengalir. Siang-malam ia pantau keadaan rakyatnya. Ia benar-benar sadar kepemimpinan itu adalah melayani. Kepemimpinan bukan untuk menaikkan status sosial, menumpuk harta, yang akan menghasilkan kehinaan di akhirat semata.

Orang hari ini kenal belusukan sebagai ciri pimpinan peduli, Umar telah melakukannya sejak dulu dengan ketulusan hati. Ia duduk bersama rakyatnya, mengintipi keadaan mereka, dan menanyai hajat kebutuhan. Kepada yang kecil atau yang besar. Kepada yang kaya atau yang miskin. Ia tidak pernah memberikan batas kepada mereka semua.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Setiap kali shalat, Umar senantiasa duduk bersama rakyatnya. Siapa yang mengadukan suatu keperluan, maka ia segera meneliti keadaannya. Ia terbiasa duduk sehabis shalat subuh hingga matahari mulai naik, melihat keperluan rakyatnya. Setelah itu baru ia kembali ke rumah”.

Sebagian rakyat ada yang merasa enggan mengadukan permasalahannya. Mereka segan karena betapa wibawanya Umar. Kemudian beberapa orang sahabat; Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Saad bin Abi Waqqash ingin memberi tahu Umar tentang hal ini. Dan majulah Abdurrahman bin Auf yang paling berani untuk membuka pembicaraan dengan Umar.

Serombongan sahabat ini berkata, “Bagaimana jika engkau (Abdurrahman) berbicara kepada Amirul Mukminin. Karena ada orang yang ingin dipenuhi kebutuhannya, namun segan untuk berbicara dengannya karena wibawanya. Sehingga ia pun pulang menahan keperluannya.

Abdurrahman pun menemui Umar dan berbicara kepadanya. “Amirul Mukminin, bersikaplah lemah lebut kepada orang-orang. Karena ada orang yang hendak datang menemuimu, namun suara mereka untuk memberi tahu kebutuhan, tercekat oleh wibawamu. Mereka pun pulang dan tidak berani bicara”, kata Abdurrahman.

Umar radhiallahu ‘anhu menanggapi, “Wahai Abdurrahaman, aku bertanya kepadamu atas nama Allah, apakah Ali, Utsman, Thalhah, az-Zubair, dan Saad yang memintamu untuk menyampaikan hal ini?” “Allahumma na’am”, jawab Abdurrahman.

“Wahai Abdurrahman, demi Allah, aku telah bersikap lemah lembut terhadap mereka sampai aku takut kepada Allah kalau berlebihan dalam hal ini. Aku juga bersikap tegas kepada mereka, sampai aku takut kepada Allah berlebihan dalam ketegasan. Lalu, bagaimana jalan keluarnya?” Tanya Umar. Abdurrahman pun menangis. Lalu mengusapkan rida’nya menghapus titik air mata. Ia berucap, “Lancang sekali mereka. Lancang sekali mereka”.5

Middle East-physical map Highly detailed physical map of Middle East in vector format,with all countries, major cities and all the relief forms . map of arab stock illustrations

Adapun bagi masyarakat yang tinggal jauh dari Kota Madinah; seperti penduduk Irak, Syam, dll. Umar sering bertanya tentang keadaan mereka, kemudian memenuhi kebutuhan mereka. Umar mengirim utusannya untuk meneliti keadaan orang-orang di luar Madinah.

Terkadang, Umar juga mengadakan kunjungan langsung. Melihat sendiri keadaan rakyat di bawah kepengurusan gubernurnya. Umar memenuhi kebutuhan mereka dengan sungguh-sungguh. Sampai-sampai ia berkeinginan janda-janda yang tidak memiliki orang yang menanggung merasa cukup dengan bantuannya sehingga tidak butuh kepada laki-laki lainnya.6

Penutup

Inilah seorang pemimpin yang memerankan kepemimpinan dalam arti sebenarnya. Ia memberikan teladan dalam perkataan dan perbuatan. Seorang yang shaleh secara pribadi dan cakap dalam kepemimpinan.

Sesuatu yang perlu kita sadari, pemimpin adalah kader dari masyarakatnya. Umar bin al-Khattab adalah kader dari masyarakatnya. Dan setiap masyarakat akan mengkader pemimpin mereka sendiri. Masyarakat yang baik akan melahirkan kader yang baik, sehingga sekumpulan kader-kader yang baik ini akan menunjuk yang terbaik di antara mereka untuk memimpin mereka. Dan masyarakat yang jelek akan melahirkan kader yang serba kekurangan. Lalu mereka menunjuk pemimpin berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Keutamaan Umar bin al-Khattab

Donasiberkah.id – Setelah membahas tentang keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq, kiranya perlu juga kita membahas tentang kemualiaan Umar bin Khattab. Ia adalah seorang khalifah yang sangat terkenal, perjalanan hidupnya adalah teladan yang diikuti, dan kepemimpinannya adalah sesuatu yang diimpikan. Banyak orang saat ini memimpikan, kiranya Umar hidup di zaman ini dan memipin umat yang tengah kehilangan jati diri.

Ada beberapa gelintir orang yang tidak menyukai khalifah yang mulia ini, mereka mengatakan al-Faruq telah mencuri haknya Ali. Menurut mereka, Ali bin Abi Thalib lebih layak dan lebih pantas dibanding Umar untuk menjadi khalifah pengganti Nabi. Berangkat dari klaim tersebut, mulailah mereka melucuti kemuliaan dan keutamaan Umar. Mereka buat berita-berita palsu demi rusaknya citra amirul mukminin Umar bin Khattab. Mereka puja orang yang memusuhinya dan pembunuhnya pun digelari pahlawan bangsa.

 

Berikut ini kami cuplikkan kabar-kabar ilahi yang bercerita tentang keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan Umar bin Khattab, karena seperti itulah ia layak untuk diceritakan.

Baca Juga : Abu Bakar Inspirasi Bagi Umar

Nasab dan Ciri Fisiknya

Alasan Strategis Khalifah Umar Menguasai Persia dan Syam

Ia adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai, Abu Hafsh al-Adawi. Ia dijuluki al-Faruq.

Ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah. Ibunya adalah saudari tua dari Abu Jahal bin Hisyam.

Ia adalah seseorang yang berperawakan tinggi, kepala bagian depannya plontos, selalu bekerja dengan kedua tangannya, matanya hitam, dan kulitnya kuning. Ada pula yang mengatakan kulitnya putih hingga kemerah-merahan. Giginya putih bersih dan mengkilat. Selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan inai (daun pacar) (Thabaqat Ibnu Saad, 3: 324).

Amirul mukminin Umar bin Khattab adalah seorang yang sangat rendah hati dan sederhana, namun ketegasannya dalam permasalahan agama adalah ciri khas yang kental melekat padanya.

Ia suka menambal bajunya dengan kulit, dan terkadang membawa ember di pundaknya, akan tetapi sama sekali tak menghilangkan ketinggian wibawanya. Kendaraannya adalah keledai tak berpelana, hingga membuat heran pastur Jerusalem saat berjumpa dengannya. Umar jarang tertawa dan bercanda, di cincinnya terdapat tulisan “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar.”

Baca Juga : Sosok Umar bin Khattab Tegas, tapi Diam Kala Dimarahi Istri

Keistimewaan dan Keutamaannya

Kisah Sahabat Nabi Umar bin Khattab: Jarang Tidur Demi Ibadah

Umar adalah Penduduk Surga Yang Berjalan di Muka Bumi

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,

“Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (surga), maka aku pun bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’

Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.”

Umar radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata, “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah.”

Subhanallah! Kala Umar masih hidup di dunia bersama Rasulullah dan para sahabatnya, namun istana untuknya telah disiapkan di tanah surga.

Mulianya Islam dengan Perantara Umar

Ketika Umar bin Abdul Aziz 'Work from Home' di Tengah Pandemi | NU Online

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah pernah mengabarkan betapa luasnya pengaruh Islam di masa Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Beliau bersabda,

“Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’ala mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khattab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk onta-onta mereka.”

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Kami menjadi kuat setelah Umar memeluk Islam.”

Kesaksian Ali bin Abi Thalib Tentang Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, “Umar radhiallahu ‘anhu ditidurkan di atas kasurnya (menjelang wafatnya), dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya mendoakan sebelum dipindahkan –ketika itu aku hadir di tengah orang-orang tersebut-. Aku terkejut tatkala seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib.

Kemudian Ali berkata (memuji dan mendoakan Umar seperti orang-orang lainnya), “Engkau tidak pernah meninggalkan seseorang yang dapat menyamai dirimu dan apa yang telah engkau lakukan. Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, aku sangat yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar).

Aku sering mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

“Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.”

Umar adalah Seorang yang Mendapat Ilham

To Benefit from the Qur'an - IslamOnline

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapakannya, maka Umarlah orangnya.”

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi. Jika salah seorang dari umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya.”

Wibawa Umar

Dari Aisyah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.” (HR. Tirmidzi dalam al-Manaqib, hadits no. 3791)

Demikianlah di antara keutamaan Umar bin al-Khattab yang secara langsung diucapkan dan dilegitimasi oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah meridhai Umar bin al-Khattab.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Abu Bakar Inspirasi Bagi Umar

Donasiberkah.id – Pada masa Khulafaur Rasyidin radhiallahu ‘anhum, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan dan menolong orang yang teraniaya. Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhuma termasuk orang yang gigih bersaing di dalam amal kebaikan yang mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak pahala di akhirat.

Baca Juga : Abu Bakar Ash Shiddiq Teladan Bahkan Semasa Jahiliyah

Ada sebuah kisah yang terjadi pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Pada saat itu Umar mengawasi apa yang dilakukan oleh Abu Bakar. Lalu dia melakukan dua kali lipatnya sehingga dia mendapatkan kebaikan dan berbuat lebih dari Abu Bakar dalam hal kebaikan.

Suatu hari, Umar mengawasi Abu Bakar di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat itu Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat subuh.

Outback Hut Seen is an abandoned hut in the Australian outback near the town of Middleton hut in the desert stock pictures, royalty-free photos & images

Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia urusan gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan, Abu Bakar tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar masih belum mengetahui apa yang dilakukan Abu Bakar di sana.

 

Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan mata kepalanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya di situ.

Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu.

Life Door Woman - Free photo on Pixabay

Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya, dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.

Baca Juga : Kisah Keteladanan Khalifah Umar Keadilan Untuk Rakyat, Walaupun Seorang Yahudi

Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?”

Nenek itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.”

Umar menekuk kedua lututnya dan kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh, engkau telah membuat lelah khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.”

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Harits

Donasiberkah.id- Ummul mukminin Juwairiyah binti al-Harits adalah seorang bangsawan dari bani Musthaliq. Nama dan nasabnya adalah Juwairiyah binti al-Harits bin Abi Dhirar bin Habib bin ‘A-idz bin Malik bin Jadzimah.

Jadzimah inilah yang disebut Musthaliq. Ia berasal dari kabilah Khuza’ah. Nabi menikahinya usai Perang Muraisi’. Yaitu peperangan antaran kaum muslimin dengan Bani Musthaliq yang terjadi pada tahun ke-5 H. Ada pula yang mengatakan tahun ke-6 H. Sebelum menikah dengan Rasulullah, ia merupakan istri dari Musafi’ bin Shafwan al-Mushthaliq.

Ibnu Ishaq mengatakan,

“Juwairiyah binti al-Harits, dulu namanya adalah Barrah binti al-Harits bin Abi Dhirar bin Habib bin ‘A-idz bin Malik bin Jadzimah dari kabilah Khuza’ah. Ia merupakan istri dari anak pamannya, Musafi’ bin Shafwan bin Dzi al-Syafr.

Dari Zainab binti Abu Salamah dari Juwairiyah binti al-Harits, ia menceritakan bahwa namanya dahulu adalah Barrah. Nabi mengganti namanya menjadi Juwairiyah. Alasannya karena beliau tidak suka kalau sehabis berjumpa dengannya dikatakan, “Beliau keluar dari Barrah (kebaikan).” Riwayat ini sesuai dengan syarat Muslim, walaupun ia tidak meriwayatkannya.

Di Masa Jahiliyah

karpet dan karpet buatan tangan di maroko - madinah potret stok, foto, & gambar bebas royalti

Ummul mukminin Juwairiyah adalah tokoh di tengah kaumnya. Ayahnya adalah kepala kabilah Bani Musthaliq. Sampai kabar kepada Rasulullah bahwa Bani Musthaliq telah sepakat untuk menyerang beliau dan dipimpin oleh al-Harits bin Abi Dhirar.

Kabar tersebut segera direspon oleh Rasulullah. Beliau menyiapkan pasukan dan keluar untuk menghadapi mereka. Kedua pasukan bertemu di sebuah mata air yang disebut al-Muraisi’. Bani Musthaliq berhasil dikalahkan. Al-Harits bin Abi Dhirar tewas dalam perang tersebut.

Imbasnya, kaum wanita dan anak-anak Bani Musthaliq menjadi tawanan. Mereka diserahkan kepada para sahabat. Di antara tawanan tersebut terdapat Juwairiyah binti al-Harits, tokoh wanita Bani Musthaliq.

Memeluk Islam

Desert Dune Nighttime In The Ramadan 3D illustration Background for advertising and wallpaper in nature and advertising scene. 3D rendering in decorative concept Islamic civilization stock pictures, royalty-free photos & images

Abdullah bin Umar mengatakan,

“Muhammad bin Yazid mengabarkan kepadaku dari neneknya. Neneknya adalah budak dari Juwairiyah binti al-Harits. Bahwa Juwairiyah radhiallahu ‘anha berkata, “Rasulullah menikahiku saat aku berusia 20 tahun.” Neneknya mengatakan, “Juwairiyah wafat pada tahun 50 H. Saat itu beliau berusia 65 tahun. Dan yang menjadi imam shalatnya adalah Khalifah Marwan bin al-Hakam.”

Usai perang Bani Musthaliq, Juwairiyah binti al-Harits menjadi tawanan perang. Suaminya terbunuh dalam perang ini. Ia berada di tangan sahabat Tsabit bin Qais bin asy-Syammas radhiallahu ‘anhu.

Menjadi tawanan, tidak membuat Juwairiyah nyaman. Ia pun ingin menebus dirinya agar bebas. Karena ia adalah seorang tokoh dari kaumnya.

Namun, ia tak memiliki apapun yang bisa digunakan untuk menebus dirinya. Lalu ia pergi menuju Rasulullah ﷺ. Berharap agar beliau mau membantu. Ternyata Rasulullah memberikan tawaran yang jauh lebih baik dan lebih utama dari apa yang ia inginkan.

Nabi melamarnya dan menanggung pembebasannya. Juwairiyah menerima tawaran tersebut dan sekaligus memeluk Islam.

Baca Juga : Kisah Ummu Sulaim yang Begitu Penyabar

Wanita Yang Banyak Keberkahannya

Yusuf Hamdani Sufi shrine, Merv, Turkmenistan Merv, Mary Region, Turkmenistan: Yusuf Hamdani Sufi shrine, a Khwajagan (Master) dervish of the Naqshbandi order - mausoleum and minaret - ancient Merv - UNESCO World Heritage Site. Islamic civilization stock pictures, royalty-free photos & images

Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan,

“Saat Rasulullah menawan orang-orang Bani Musthaliq, Juwairiyah binti al-Harits berada pada tangan sahabat Tsabit bin Qays bin asy-Syammas radhiallahu ‘anhu atau pada anak pamannya. Juwairiyah berkeinginan membebaskan dirinya. Ia adalah seorang wanita yang cantik dan memesona.

Hampir-hampir tak ada seorang pun yang melihatnya kecuali jatuh hati padanya. Ia datang menemui Rasulullah, dengan maksud meminta tolong kepada beliau untuk membebaskan dirinya. Demi Allah, tatkala aku melihat ia berdiri di depan pintu rumahku, aku tidak menyukai hal itu. Karena aku tahu, Rasulullah akan melihat apa yang aku lihat (melihat kecantikannya).

Juwairiyah berkata, ‘Hai Rasulullah, aku memiliki masalah yang telah Anda ketahui. Aku ingin membebaskan diriku. Dan aku datang kepadamu agar kau menolongku’.

Rasulullah menanggapi, ‘Atau kau ingin yang lebih baik dari itu?’

‘Apa itu, Rasulullah?’ tanya Juwairiyah.

Rasulullah berkata, ‘Aku menikahimu dan kutunaikan pembebasanmu’.

Juwairiyah menjawab, ‘Tentu mau’.

Nabi menjawab, ‘Aku telah melakukannya’.”

Aisyah melanjutkan, “Kabar ini pun tersebar di tengah kaum muslimin. Mereka berkata, ‘(tawanan kita ini) ipar-ipar Rasulullah!’. Mereka pun membebaskan semua tawanan Bani Musthaliq.

Tawanan yang dibebaskan karena pernikahan Juwairiyah ini berjumlah 100 orang Bani Musthaliq. Aku tidak mengetahui wanita yang paling besar berkahnya terhadap kaumnya dibanding Juwairiyah.”

Kisah Ibunda Juwairiyah ini sungguh menarik. Kita semakin sadar bahwa hati manusia itu dalam genggaman Allah. Dan hidayah itu benar-benar milik Allah. Juwairiyah sebelumnya adalah wanita kafir yang menjadi tawanan (menjadi budak). Kedudukan yang hina di dunia dan akhirat.

Kemudian ia memeluk Islam dan menikahi manusia terbaik yang pernah ada. Statusnya berubah menjadi wanita mulia di dunia dan kedudukan yang tinggi di akhirat. Dalam sekejap saja keadaan tersebut berubah. Berbalik dari keadaan paling hina menjadi amat sangat mulia. Menjadi ibu dari semua orang-orang yang beriman.

Kemudian keberkahan dirinya dan pernikahannya juga dirasakan oleh sejumlah besar kaumnya. Mereka semua terbebas. Setelah sebelumnya menjadi tawanan.

Pernikahan Ummul Mukminin Juwairiyah dengan Nabi Muhammad ﷺ juga membantah perkataan orang-orang yang berlebihan yang mengatakan bahwa Nabi hanya menikahi janda-janda tua saja.

Bimbingan Rasulullah ﷺ

Teman Bermain Rasulullah SAW sejak Kecil Sempat Enggan Memeluk Islam |  MalangTIMES

Rasulullah adalah seorang suami yang pandai menanamkan pengaruh kepada manusia. Dan tentu saja terhadap istrinya. Setelah memeluk Islam, Juwairiyah menjadi seorang wanita yang rajin beribadah. Ia banyak mengerjakan puasa sunnah. Saat ia berpuasa sunnah di hari Jumat saja, Nabi perintahkan dia untuk membatalkannya. Di antara kebiasaannya adalah berdzikir mulai dari usai shalat subuh hingga terbit matahari.

Dari Abu Ayyub dari Juwairiyah binti al-Harits radhiallahu ‘anha, Nabi ﷺ pernah menemuinya di hari Jumat. Saat itu Juwairiyah sedang berpuasa.

Nabi bertanya, “Apakah kau kemarin berpuasa?”

Juwairiyah menjawab, “Tidak.”

Nabi melanjutkan, “Besok kau akan berpuasa?”

“Tidak”, jawab Juwairiyah.

“Jika demikian, batalkanlah”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Ibnu Abbas, dari Ibunda Juwairiyah yang nama aslinya adalah Barrah. Namun Nabi menggantinya menjadi Juwairiyah, karena beliau tidak suka kalau dikatakan, ‘Beliau keluar dari Barrah (kebaikan)’.

Juwairiyah berkata, “Nabi keluar dari rumahku. Saat itu aku sedang berada di mushalla rumahku. Beliau kembali lagi saat siang, sementara aku masih di tempat itu. Beliau berkata, ‘Engkau tidak meninggalkan mushallamu sedari aku keluar tadi?’ ‘Iya’, jawabku.

Beliau ﷺ bersabda,

لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ اليَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ : سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ ، وَرِضَا نَفْسِهِ ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Sungguh, aku telah mengucapkan setelahmu empat kalimat sebanyak tiga kali. Jika ditimbang dengan yang kau ucapkan sejak tadi tentu akan menyamai timbangannya yaitu, “SUBHAANALLOHI WA BI-HAMDIH, ‘ADADA KHOLQIH, WA RIDHOO NAFSIH, WA ZINATA ‘ARSYIH, WA MIDAADA KALIMAATIH. (artinya: Mahasuci Allah. Aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya).” (HR. Muslim, no. 2726).

Wafat

The medina of Tetouan in Morocco. A view of the Tetouan cemetery. The ancient tombs are drowned in greenery Islamic civilization stock pictures, royalty-free photos & images

Ibnu Umar mengatakan, “Abdullah bin Abu al-Abyadh bercerita bahwa ayahnya menyampaikan, ‘Juwairiyah binti al-Harits, istri Nabi, wafat di bulan Rabiul Awal tahun 56 H. Ia wafat di masa pemerintah Muawiyah. Yang menjadi imam shalat jenazahnya adalah Marwan bin al-Hakam yang saat itu menjabat gubernur Madinah’.”

Dalam riwayat yang berbeda, Abdullah bin Umar berkata, “Aku dikabari oleh Muhammad bin Yazid dari neneknya yang merupakan budak dari Juwairiyah binti al-Harits bahwa Juwairiyah radhiallahu ‘anha berkata, ‘Rasulullah menikahiku saat aku berusia 20 tahun’.”

Neneknya mengatakan, “Juwairiyah wafat pada tahun 50 H. Saat itu usianya 65 tahun. Imam shalat jenazahnya adalah Marwan bin al-Hakam.

Pendapat yang lebih tepat adalah Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Harits wafat di bulan Rabiul Awal tahun 56 H, Allahu a’lam.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Tabi’in Mulia Hasan al-Bashri (2)

Donasiberkah.id- Menginjak usia 14 tahun, ketika memasuki usia remaja, beliau berpindah bersama kedua orang tuanya ke Bashrah dan menetap di sana. Dari sinilah muncul julukan al-Bashri, yang dinisbahkan pada kota Bashrah. Lalu keutamaan beliau mulai dikenal orang-orang di Bashrah.

Baca Juga : Kisah Tabi’in : Kelahiran Hasan al-Bashri

Di saat Hasan al-Bashri menjadi imam, kota Bashrah merupakan benteng Islam yang terbesar dalam bidang ilmu pengetahuan. Masjidnya yang agung penuh dengan para sahabat dan tabi’in yang hijrah ke sana dan halaqah-halaqah keilmuan dengan beraneka ragam dan coraknya memakmurkan masjid-masjid dan suraunya.

Pin on A R T ~ Chυяchєs ✞ ϻσsquєs ✞ Tєϻplєs ƒαcα∂єs

 

Hasan al-Bashri tinggal di masjid itu dan menekuni halaqah Abdullah bin Abbas, Habru umati Muhammad (Ustadnya umat Muhammad). Dia mengambil pelajaran tafsir, hadits, qiraah, fiqih, adab, bahasa dan sebagainya. Hingga beliau menjadi seorang ulama besar dan fuqaha yang terpercaya.

Maka, umat banyak menggali ilmunya, mendantangi majelisnya serta mendengarkan ceramahnya yang mampu melunakkan jiwa-jiwa yang keras dan mencucurkan air mata orang-orang yang terlanjur berbuat dosa. Banyak orang terpikat dengan hikmahnya yang mempesona.

Baca Juga : Toleransi Hasan Al-Bashri Dengan Tetangga Nasrani

Nama Hasan al-Bashri telah menyebar di seluruh daerah dan dikenal di mana-mana.

Para gubernur dan khalifah menanyakan dan mengikuti beritanya.

Khalid bin Shafwan bercerita. “Aku bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di daerah Hirah, beliau berkata, ‘Wahai Khalid, ceritakan kepadaku tentang Hasan al-Bashri, aku rasa engkau lebih mengenalnya dari yang lain.”

Aku berkata, “Semoga Allah menjaga Anda. Saya sebaik-baik orang yang akan memberikan keterangan tentang Hasan al-Bashri wahai Amir, karena saya adalah tetangga sekaligus muridnya yang setia. Saya lebih mengenal beliau daripada orang Bashrah lainnya’.”

Beliau berkata, “Ceritakan apa yang Anda ketahui tentangnya.”

Saya berkata, ‘Beliau adalah orang yang hatinya sama dengan lahiriyahnya, perkataannya serasi dengan perbuatannya. Jika menyuruh perkara yang ma’ruf, maka beliau pula yang paling sanggup melakukannya. Jika melarang yang mungkar, beliau pula yang paling mampu meninggalkannya. Saya mendapatinya sebagai orang yang tidak memerlukan pemberian; dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan orang lain. Sebaliknya saya dapati betapa orang-orang memerlukan dan menginginkan apa yang dimilikinya.”

Maslamah berkata, “Cukup wahai Khalid, cukup. Bagaimana kaum itu bisa sesat, bila ada orang semisal dia di tengah-tengah mereka?”

Allah Menyelamatkan Hasan Al-Bashri Sebagaimana Allah Menyelamatkan NabiNya Ibrahim

Kisah Nabi Ibrahim As Mencari Tuhan dan Dibakar Raja Namrud

Ketika Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi berkuasa di Irak, bertindak sewenang-wenang dan kejam di wilayahnya, Hasan al-Bashri adalah termasuk dalam bilangan sedikit orang yang berani menentang dan mengecam keras akan kezaliman penguasa itu secara terang-terangan.

Suatu ketika, Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Ketika pembangunan selesai, diundangnya orang-orang untuk melihat dan mendoakannya. Hasan al-Bashri tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik di mana banyak orang sedang berkumpul. Dia tampil memberikan ceramah, mengingatkan mereka agar bersikap zuhud di dunia dan menganjurkan manusia untuk mengejar apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitulah, ketika Hasan al-Bashri tiba di tempat itu dan melihat begitu banyak orang-orang mengelilingi istana yang megah dan indah dengan halamannya yang luas, beliau berdiri untuk berkhutbah. Di antara yang beliau sampaikan adalah:

“Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir’aun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun kemudian Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya…”

Beliau terus mengkritik dan mengecam hingga beberapa orang mengkhawatirkan keselamatannya dan memintanya berhenti: “Cukup Wahai Abu Sa’id, cukup.”

Namun Hasan al-Bashri berkata, “Wahai saudaraku, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tak boleh menyembunyikannya.”

Keesokan harinya Hajjaj menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya dengan memendam amarah dan berkata keras:

“Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorang pun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai para pengecut!”

Hajjaj memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan al-Basri.

Dibawalah Hasan al-Basri, semua mata mengarah kepadanya dan hati mulai berdebar menunggu nasibnya. Begitu Hasan al-Basri melihat algojo dan pedangnya yang terhunus dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca sesuatu.

ArtStation - Arabian Sword , Fady Nashaat

Lalu berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan seorang muslim, dan kehormatan seorang da’i di jalan Allah.

Demi melihat ketegaran yang demikian, mental Hajjaj menjadi ciut. Terpengaruh oleh wibawa Hasan al-Basri, dia berkata ramah: “Silahkan duduk di sini wahai Abu  Sa’id, silahkan..”

Seluruh yang hadir menjadi bengong dan terheran-heran melihat perilaku amirnya yang mempersilahkan Hasan al-Basri duduk di kursinya. Sementara itu, dengan tenang dan penuh wibawa Hasan al-Basri duduk di tempat yang disediakan. Hajjaj menoleh kepadanya lalu menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab Hasan al-Basri dengan jawaban-jawaban yang menarik dan mencerminkan pengetahuannya yang luas.

Merasa cukup dengan pertanyaan yang diajukan, Hajjaj berkata,

“Wahai Abu Sa’id, Anda benar-benar tokoh ulama yang hebat.” Dia semprotkan minyak ke jenggot Hasan al-Basri lalu diantarkan sampai di depan pintu.

Sesampainya di luar istana, pengawal yang mengikuti Hasan al-Basri berkata,

“Wahai Abu Sa’id sesungguhnya Hajjaj memanggil Anda untuk suatu urusan yang lain. Ketika Anda masuk dan melihat algojo dengan pedangnya yang terhunus, saya lihat Anda membaca sesuatu, apa sebenarnya yang Anda lalukan ketika itu?”

Beliau berkata, (Aku berdoa)

“Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”

Praying hands Praying with hands isolated on dusk background. Vector, illustration. muslim hand prayer stock illustrations

Kejadian serupa sering dialami Hasan al-Basri berhubungan dengan para wali negeri dan amir, di mana beliau selalu lolos dari setiap kesulitan tanpa menjatuhkan wibawanya di mata para penguasa tersebut dengan lindungan dan pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

English EN Indonesian ID