Griya Yatim & Dhuafa

Sahabat Rasul, Sya’ban R.A. yang Menyesal Saat Sakaratul Maut

Donasiberkah.id- Seorang sahabat Rasulullah ﷺ, Sya’ban r.a. memiliki kebiasaan unik. Dia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok masjid pada setiapa shalat berjamaah dan I’tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid karena ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah sendiri.

Pada suatu pagi, saat shalat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah ﷺ merasa heran karena tidak mendapati Sya’ban r.a. pada posisi seperti biasanya. Rasulullah pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada seorang pun yang melihat Sya’ban r.a.

Shalat Subuh pun sengaja ditunda sejenak, untuk menunggu kehadiran Sya’ban. Namun yang ditunggu belum datang juga. Karena khawatir shalat Subuh kesiangan, Rasulullah pun memutuskan untuk segera melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Hingga shalat Subuh selesai pun Sya’ban belum datang juga.

10 Padang Gurun Pasir Paling Populer di Dunia

Selesai shalat Subuh Rasulullah pun bertanya lagi “Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Rasulullah pun bertanya lagi “Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban?” Seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia tahu persis dimana rumah Sya’ban. 

Rasulullah ﷺ sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap sahabatnya tersebut, memimnta diantarkan ke rumah Sya’ban.  Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu lama terlebih mereka menempuh dengan berjalan kaki.

Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat sampai di rumah Sya’ban pada waktu shalat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah Sya’ban, beliau mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.

Asyiknya Meluncur di Lima Gurun Terkeren Sedunia

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Tanya Rasulullah.

“Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” jawab wanita tersebut.

“Bolekah kami menemui Sya’ban, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?” ucap Rasul.

Dengan berlinangan air mata, istri Sya’ban ra menjawab “Beliau telah meninggal tadi pagi”.

“Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.

Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian, istri Sya’ban r.a. bertanya,

“Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia bertetiak tiga kali dengan masing-masing teriakan di sertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah.

“Di masing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” jawab istri Sya’ban.

Rasulullah ﷺ pun melantunkan ayat yang terdapat Al-Qur’an Surah Qaaf ayat 22:

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, Maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

“Saat Sya’ban r.a. dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain.

Kesaksian Hidup Menjelang Ajal - Pondok Pesantren Daarut Tauhiid

Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban r.a. melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjamaah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban r.a. diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,” ujar Rasulullah ﷺ.

Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh”. timbul penyesalan dalam diri Sya’ban r.a., mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah.

Beautiful Paradise Wallpapers - Top Free Beautiful Paradise Backgrounds -  WallpaperAccess

Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban r.a. melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju liuar dan shalat dengan baju yang lebih bagus.

Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.

Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya’ban r.a. pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi,

“Aduh! Kenapa tidak yang baru.”

Timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban r.a. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Orta Autumn Winter '13/14 Denim Collection | Denim inspiration, Denim  fashion, Denim workwear

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu.

Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukurang roti Arab (sekitar tiga kali ukuran  rata-rata roti Indonesia). ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan.

Melihat hal itu, Sya’ban r.a. merasa iba. Ia kemudian membagi dua rotu tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudain memperlihatkan Sya’ban ra dengan surga yang indah.

Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua !.”

Sya’ban r.a. kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis  tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. MasyaAllah, Sya’ban bukan menyesali perbuatanya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

Two halves of a strucia bread on marble background. high quality photo Free Photo

Seseungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda.

Bahkan ada yang memiunta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? “Kenapa tidak saat ini?.” Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Kisah Keteladanan Khalifah Umar Keadilan Untuk Rakyat, Walaupun Seorang Yahudi

Donasiberkah- Sejak menjadi Gubernur di Mesir, Amr bin ‘Ash menempati sebuah istana megah yang di depannya terdapat sebidang tanah kosong. Di tanah itu hanya ada gubuk reyot yang hampir roboh milik seorang Yahudi tua.

Selaku Gubernur, Amr menginginkan agar di atas tanah tersebut didirikan sebuah masjid yang indah dan megah, seimbang dengan istananya. Ia merasa tidak nyaman dengan adanya gubuk Yahudi tersebut di atas tanah itu. Oleh karenanya, si Yahudi tua pemilik gubuk tersebut dipanggil ke istana.

Old Arabic Painting Images, Stock Photos & Vectors | Shutterstock

“Wahai orang Yahudi, aku berencana membangun sebuah masjid di atas lahan yang saat ini kau tempati. Berapa engkau mau menjual tanah dan gubukmu itu?”

 “Tidak akan kujual, Tuan,” jawab si Yahudi sambil menggelengkan kepalanya.

“Bagaimana kalau kubayar tiga kali lipat dari harga biasa?” goda sang Gubernur.

“Tetap tidak akan kujual,” tegas si Yahudi.

“Jika kubayar lima kali lipat, apakah kau akan menjualnya?”

“Tidak, Tuan! Aku tetap tidak akan menjualnya, karena itulah satu-satunya harta yang kumiliki?”

“Apakah kau tidak akan menyesal nantinya?” ancam sang Gubernur.

“Tidak tuan” tegasnya mantap.

Begitu si Yahudi tua itu pergi dari hadapannya, Amr bin ‘Ash menetapkan kebijakan untuk membongkar gubuk reyot tersebut. Ia meminta supaya didirikan masjid besar di atas tanah itu dengan alasan demi kepentingan bersama dan memperindah pemandangan di tempat itu.

Hut 3 by artist Chandrashekhar P Aher | ArtZolo.com

Si Yahudi pemilik tanah dan gubuk reyot tersebut tidak bisa berbuat banyak atas kebijakan sang Gubernur. Ia hanya bisa menangis dan terus menangis. Namun, ia tidak putus asa, dan bertekad hendak mengadukan perihal itu kepada atasan gubernur, yaitu Khalifah Umar ibn al-Khathab, di Madinah.

Setibanya di Madinah, si Yahudi tersebut bertanya kepada orang-orang di sana, di mana letak istana sang Khalifah. Usai ditunjukkan, ia kaget bukan kepalang karena sang Khalifah tidak punya istana sebagaimana Gubernur Mesir yang punya istana sangat mewah. Bahkan, ia disambut oleh Khalifah di halaman Masjid Nabawi di bawah pohon kurma.

“Apa keperluanmu datang jauh-jauh dari Mesir?” tanya Umar sesudah mengetahui bahwa tamunya itu berasal dari negeri jauh.

Si Yahudi itu pun mengutarakan maksud dan tujuannya menghadap sang Khalifah. Dia membeberkan peristiwa yang menimpa dirinya serta kesewenang-wenangan Gubernur Mesir atas tanah dan gubuk satu-satu miliknya yang sudah reyot.

Bagaimana reaksi Umar? Ia marah besar.

Ketika Umar bin Khattab Tidak Setuju Rasul SAW Berdamai dengan Musuh di  Perjanjian Hudaibiyah - Islami[dot]co

“Kurang ajar si Amr bin ‘Ash! Dia sungguh sudah keterlaluan!” umpat sang Khalifah.

Lantas Umar lalu menyuruh si Yahudi itu untuk mengambil sepotong tulang unta. Tentu saja, si Yahudi itu menjadi bingung dan ragu dengan perintah sang Khalifah yang dianggapnya aneh dan tidak ada hubungannya dengan pengaduannya. Namun, akhirnya ia pun mengambil tulang itu dan kemudian diserahkan kepada Umar.

Kemudian Umar menggores huruf alif dari atas ke bawah, lalu membuat tanda palang di tengah-tengah tulang tersebut dengan pedangnya. Kemudian, tulang itu diserahkan kepada si Yahudi yang masih bengong dan tidak mengerti maksud dari Khalifah. Umar hanya berpesan,

“Bawalah tulang ini dan beritahukan kepada Gubernur Amr bin ‘Ash bahwa ini dariku!”

“Maaf Tuan, terus terang aku masih tidak mengerti. Aku datang jauh-jauh ke sini untuk meminta keadilan dari mu, bukan tulang yang tidak berharga ini,” protes si Yahudi.

Tulang Besar Burung Unta - Foto gratis di Pixabay

Sang Khalifah hanya tersenyum, tidak marah. Ia pun menegaskan,

“Wahai orang yang menuntut keadilan, sesungguhnya pada tulang itulah terletak keadilan yang engkau inginkan.”

Akhirnya, kendati pun hati si yahudi tersebut masih dongkol dan terus mengomel, dia pun pulang ke Mesir membawa tulang pemberian sang Khalifah.

Setibanya di Mesir, ia menyerahkan tulang dari Khalifah tersebut kepada sang Gubernur, Amr bin ‘Ash. Namun, anehnya, begitu sang Gubernur menerima tulang itu, mendadak tubuhnya menjadi menggigil dan wajahnya pucat ketakutan.

Lagi-lagi, si Yahudi tak mengerti terhadap situasi itu. Beberapa saat kemudian, sang Gubernur memerintahkan kepada bawahannya untuk membongkar masjid yang baru rampung dinbangun itu, dan supaya gubuk lelaki Yahudi tersebut dibangun kembali serta diserahkan kembali kepadanya.

Beberapa saat sebelum masjid baru itu akan dirobohkan, si Yahudi berkata,

“Maaf Tuan, tidak perlu dibongkar dulu masjid itu. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu?”

“Silakan, ada perlu apa lagi?” tanya Amr bin ‘Ash.

“Mengapa Tuan sangat ketakutan dan langsung menyuruh membongkar masjid baru itu, padahal Tuan hanya menerima sepotong tulang dari Khalifah Umar?”

“Wahai orang Yahudi, ketahuilah bahwa, tulang itu hanya tulang biasa. Akan tetapi, karena dikirimkan oleh Khalifah, tulang itu pun berubah menjadi peringatan keras bagiku.”  jawab Amr.

“Maksudnya?” potong si Yahudi masih tidak mengerti.

“Ya, tulang itu berisi ancaman dari Khalifah. Seolah-olah beliau berkata,

“Hai Amr bin ‘Ash, Ingatlah! siapa pun kamu sekarang dan betapa pun tinggi pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat nanti kamu pasti akan berubah menjadi tulang yang busuk. Oleh karena itu, bertindaklah adil seperti huruf alif yang lurus, adil ke atas dan juga adil ke bawah. Sebab, apabila kamu tidak bertindak lurus, pedangku nantinya yang akan bertindak dan memenggal lehermu!”

Rahasia Alif, Keheningan Menuju Kesempurnaan Ilahi

Si Yahudi tersebut tertunduk dan begitu terharu mendengar penuturan dari sang Gubernur. Ia sangat kagum atas sikap Khalifah yang tegas dan adil, serta sikap Gubernur yang sangat patuh dan taat kepada atasannya, hanya dengan menerima sepotong tulang unta kering. Sungguh mulia dan mengagumkan.!

Akhirnya, si Yahudi itu menyatakan memeluk Islam, lalu ia menyerahkan tanah dan gubuknya tersebut sebagai wakaf.

Mosque Of Ezbeck, Cairo, Egypt by Aloysius O'kelly Find more on :  https://www.facebook.com/pages/Islamska-arhitektura-i-umj… | Pinturas,  Artistas famosos, Artistas

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Abdurrahman Bin Auf Sahabat yang Sangat Derawan

Donasiberkah.id- Salah seorang Sahabat Nabi ﷺ yang mendapat kabar akan masuk surga adalah `Abdurrahmân bin `Auf bin `Abdi `Auf bin `Abdul Hârits bin Zahrah bin Kilâb bin al-Qurasyi az-Zuhri Abu Muhammad. 

Diilahirkan sepuluh tahun setelah tahun Gajah dan termasuk orang yang terdahulu masuk Islam. Dia berhijrah sebanyak dua kali dan ikut serta dalam perang Badar dan peperangan lainnya.

Saat masih jahiliyah, ia bernama `Abdul Ka`bah atau `Abdu `Amr; kemudian diberi nama `Abdurrahman oleh Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama Shafiyah. Sedangkan ayahnya bernama `Auf bin `Abdu `Auf bin `Abdul Hârits bin Zahrah.

Abdurrahmân bin `Auf adalah seorang Sahabat yang sangat dermawan dan yang sangat memperhatikan dakwah Islam, berikut ini adalah sebagian kisahnya:

`Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar, kemudian membagi-bagikan uang tersebut kepada para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan dan kepada Ummahâtul Mukminin (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Investasi Dinar, Kelebihan, dan Kekurangannya [Plus Tipsnya]

Al-Miswar berkata: “Aku mengantarkan sebagian dari dinar-dinar itu kepada Aisyah Radhiyallahu anhuma. Aisyah dengan sebagian dinar-dinar itu.”

Aisyah berkata: “Siapa yang telah mengirim ini?”

Aku menjawab: “`Abdurrahmân bin Auf”. 

Aisyah berkata lagi: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah bersabda : “Tidak ada yang menaruh simpati kepada kalian kecuali dia termasuk orang-orang yang sabar. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi minum kepada `Abdurrahmân bin Auf dengan minuman surga.”

Telaga Nabi Muhammad SAW di Padang Mashyar - Semua Tentang Islam

Dalam hadits lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ memberikan (sesuatu) kepada sekelompok Sahabat Radhiyallahu anhum yang di sana terdapat `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu ; namun Rasulullah ﷺ tidak memberikan apapun kepadanya. Kemudian `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu keluar dengan menangis dan bertemu Umar Radhiyallahu anhu . Umar Radhiyallahu anhu bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?.”

Ia menjawab: “Rasulullah ﷺ memberikan sesuatu kepada sekelompok Sahabat, tetapi tidak memberiku apa-apa. Aku khawatir hal itu akibat ada suatu keburukan padaku”.

Kemudian Umar R.a. masuk menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan keluhan Abdurrahmân Radhiyallahu anhu itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: Aku tidak marah kepadanya, tetapi cukup bagiku untuk mempercayai imannya.”

Keutamaan-Keutamaan Abdurrahmân bin Auf di antaranya: Abdurrahmân bin `Auf walaupun memiliki harta yang banyak dan menginfakkanya di jalan Allah Azza wa Jalla , namun dia selalu mengintrospeksi dirinya. `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu pernah mengatakan : “Kami bersama Rasulullah ﷺ diuji dengan kesempitan, namun kami pun bisa bersabar, kemudian kami juga diuji dengan kelapangan setelah Rasulullah ﷺ dan kami pun tidak bisa sabar”.

Belajar Dari Persaudaraan Abdurrahman Bin Auf Dan Sa'ad Bin Rabi' - Islampos

Naufal bin al-Hudzali berkata,

“Dahulu Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu teman bergaul kami. Beliau adalah sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang ke rumahnya dan mandi. Setelah itu dia keluar, ia datang kepada kami dengan membawa wadah makanan berisi roti dan daging, dan kemudian dia menangis. Kami bertanya, “ Wahai Abu Muhammad (panggilan `Abdurrahmân), apa yang menyebabkan kamu menangis?”

Plate with bread and meat Royalty Free Vector Image

Ia menjawab, “Dahulu Rasulullah ﷺ meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti syair. Aku tidak melihat kebaikan kita diakhirkan. 

Abdurrahmân bin `Auf Radhiyallahu anhu pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanqak 40.000 dinar. Kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan.

Ja`far bin Burqan mengatakan, “ Telah sampai kabar kepadaku bahwa `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu telah memerdekakan 3000 orang.

Imam Bukhâri menyebutkan dalam kitab tarikhnya bahwa `Abdurrahmân pernah memberikan wasiat kepada semua Sahabat yang mengikuti perang badar dengan jumlah 400 dinar. Dan jumlah mereka ketika itu 100 orang.

Utsman meninggal dunia pada tahun 32 H. Dia berumur 72 tahun dan dia dikubur di pemakaman baqi` dan `Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu ikut menyolatkannya.

Demikian selintas kisah tentang seorang Sahabat Nabi ﷺ yang sangat kaya, seorang konglomerat pada jamannya, namun amat sangat dermawan. Semoga menjadi tauladan bagi kita semua.

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa seperti Abdurrahman bin auf? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Shuhaib Bin Sinan Tinggalkan Semua Harta Demi Hijrah

Rasulullah ﷺ bersabda: “Empat orang pendahulu (yaitu) aku adalah yang paling awal dari kalangan Arab, Suhaib paling awal dari kalangan Romawi, Bilal paling awal dari orang-orang Habasyah, dan Salman yang paling awal dari orang Persia.”

Nenek moyang Shuhaib pindah ke Iraq jauh sebelum datangnya Islam. Di negeri ini, ayah Shuhaib diangkat menjadi hakim dan walikota oleh Kisra, Raja Persia . Shuhaib dan orangtuanya tinggal di istana yang terletak di pinggir sungai Eufrat ke arah hilir Jazirah dan Mosul. Mereka hidup dalam keadaan senang dan bahagia.

Suatu ketika datang orang-orang Romawi menyerbu dan menawan sejumlah penduduk, termasuk Shuhaib. Setelah ditawan, Shuhaib dijualbelikan sebagai budak dari satu saudagar ke saudagar lain. Ia menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remaja di Romawi sebagai budak. Akibatnya, dialeknya pun sudah seperti orang Romawi.

Pengembaraannya yang panjang sebagai budak akhirnya berakhir di Makkah. Majikannya yang terakhir membebaskan Shuhaib karena melihat kecerdasan, kerajinan, dan kejujuran Shuhaib. Bahkan, sang majikan memberikan kesempatan kepadanya untuk berniaga bersama.

Memeluk Islam

Perihal keislaman Shuhaib, diceritakan oleh sahabatnya, ‘Ammar bin Yasir. Suatu ketika, ‘Ammar berjumpa Shuhaib di muka pintu rumah Arqam bin Abu Arqam. Saat itu Rasulullah masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah tersebut.

“Kamu mau kemana?” tanya `Amar.

Shuhaib balik bertanya, “Dan kamu hendak kemana?”

“Aku mau menjumpai Rasulullah untuk mendengarkan ucapannya,” jawab ‘Ammar.

“Aku juga mau menjumpainya,” ujar Shuhaib pula.

Lalu mereka masuk ke dalam rumah Arqam menemui Rasulullah. Keduanya mendengar secara khidmat penjelasan tentang aqidah Islam hingga petang hari. Setelah itu, keduanya menyatakan diri memeluk Islam. Secara sembunyi-sembunyi mereka kemudian keluar dari rumah itu.

Menuju Hijrah

Hijrah Dengan Kesungguhan Mulia

Ketika Rasulullah ﷺ hendak berhijrah ke Madinah, Shuhaib ikut serta. Ada yang mencatat bahwa Shuhaib telah menyembunyikan segala emas, perak, dan kekayaan yang dimilikinya sebagai hasil perniagaan bertahun-tahun di Makkah sebelum pergi hijrah. Catatan lain menyebutkan bahwa harta tersebut hendak ia bawa ke Madinah.

Rencananya, Shuhaib akan menjadi orang ketiga yang akan berangkat ke Madinah setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Namun, orang-orang Quraisy telah mengetahui rencana tersebut. Mereka mengatur segala persiapan guna menggagalkannya.

Ketika hijrah akan dilakukan, pasukan Quraisy menyerbu. Malang nasib Shuhaib. Ia masuk perangkap dan tertawan. Akibatnya, kepergian Shuhaib ke Madinah tertunda, sementara para sahabat yang lain bisa meloloskan diri.

Saat orang-orang Quraisy lengah, Shuhaib langsung naik ke punggung unta dan memacu sekencang-kencangnya menuju gurun yang luas. Tentara Quraisy segera memburu dan hampir berhasil menyusulnya. Tiba-tiba Shuhaib berhenti dan berteriak:

“Hai orang-orang Quraisy, kalian mengetahui bahwa aku adalah ahli panah yang paling mahir. Demi Allah, kalian tak akan berhasil mendekatiku sebelum kulepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini. Dan setelah itu aku akan menggunakan pedang untuk menebas kalian sampai senjata di tangan ini habis semua. Nah, majulah ke sini kalau kalian berani! Tetapi kalau kalian setuju, aku akan tunjukkan tempat penyimpanan harta benda milikku asal kalian membiarkan aku pergi.”

Ibnu Mardaweh meriwayatkan dari Utsman an-Nahdiy dari Shuhaib bahwa pasukan Quraisy saat itu berkata, “Hai Shuhaib, dulu kamu datang kepada kami tanpa harta. Sekarang kamu hendak pergi hijrah sambil membawa pergi hartamu? Hal ini tidak boleh terjadi.”

“Apakah kalian menerima tawaranku?”

Tentara Quraisy akhirnya tertarik dan sepakat untuk melepaskan Shuhaib sekaligus menerima imbalan harta. Reputasi Shuhaib sebagai orang jujur selama ini telah membuat tentara Quraisy itu percaya bahwa Shuhaib tak akan berbohong.

Setelah kaum Quraisy balik arah, lalu melanjutkan perjalanan seorang diri hingga menyusul Rasulullah yang sedang berada di Quba’.

Waktu itu Rasulullah ﷺ sedang duduk dikelilingi para sahabat. Ketika mendengar salam dari Shuhaib, Nabi ﷺ langsung berseru gembira, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!” Ucapan itu diulangnya sampai dua kali.

Berusia Ribuan Tahun, Inilah Satu-Satunya Sahabat Nabi Muhammad yang Masih Hidup - ERA.ID

Beberapa saat kemudian turunlah Surat Al-Baqarah ayat 207. Ibnu Abbas, Anas bin Musayyab, Abu Utsman an-Nahdiy, Ikrimah, dan yang lain berkata, ayat ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenaan dengan peristiwa yang menimpa Shuhaib. 

Sebuah catatan menunjukkan, Shuhaib baru mengetahui turunnya ayat mengenai dirinya setelah bertemu Umar bin Khattab dan kawan-kawannya di Tharf al-Hurrah. Mereka berkata pada Shuhaib, “Perniagaanmu beruntung.”

“Kalian sendiri bagaimana? Saya tidak merugikan perniagaanmu di jalan Allah. Apa yang kalian maksud dengan perniagaanku beruntung?” tanya Shuhaib.

Para sahabat kemudian memberitahu bahwa Allah telah menurunkan ayat yang berkaitan dengan dia.

Pendamping Setia

Sosok Sahabat yang Menjadi Pembantu Rasulullah Halaman 1 - Kompasiana.com

Setelah hijrah, Shuhaib menjadi pendamping setia Rasulullah ﷺ. Ia dikenal berani dan andal menggunakan lembing dan panah.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Shuhaib menyumbangkan baktinya kepada  Abu Bakar dan  Umar bin Khaththab ketika keduanya menjadi khalifah. Ketika Umar ditikam dari belakang saat memimpin shalat Shubuh, Shuhaib langsung ditunjuk sebagai pengganti imam.

Kata Umar, “Shalatlah kalian bersama Shuhaib.” Padahal saat itu kaum Muslimin belum memutuskan siapakah yang bakal menggantikan Umar sebagai khalifah.

Selanjutnya, Umar berkata, “Jangan kalian takut kepada Shuhaib karena dia seorang maula (hamba yang dimerdekakan). Dia tidak akan memperebutkan jabatan khalifah ini.”

Maukah sahabat jadi bagian dari Generasi yang Dermawan untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Perjalanan Hidup Salman Al Farisi R.A. Memeluk Islam

Donasiberkah.id- Salman al Farisi, adalah seorang lelaki Persia dari Negeri Ashfahan. Ia sangat total dengan ajaran Majusiah, sampai bertugas sebagai penjaga sulutan api, yang selalu menyalakannya, tidak membiarkannya padam meskipun sejenak. Orang tuanya seorang kepala distrik, mempunyai ladang yang luas.

Suatu hari, lantaran kesibukannya, sang ayah berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, aku sedang sibuk membangun tempat ini hari ini, hingga tak sempat memeriksa ladang. Pergilah engkau dan lihat”. Salman pun pergi menuju ladang keluarganya. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah gereja Nashara.

Di situ, ia mendengar suara-suara mereka saat mengerjakan shalat. Pemuda Salman tidak mengerti apa yang mereka kerjakan, lantaran ayahnya menahannya di dalam rumah. Begitu melihat cara shalat mereka, benar-benar membuat Salman terkagum-kagum. Akhirnya, tertarik dengan tingkah-laku mereka.

rumah, ladang jagung, kapel, berdoa, iman, heiligenhäuschen, gereja, agama,  dewa, arsitektur semak | Pxfuel

Salman berkata: “Demi Allah, ini lebih baik dari ajaran agama yang sedang kami peluk. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam”.

Ladangnya pun tidak ia pedulikan, tidak jadi mendatanginya. “Dari mana asal agama ini?” tanya Salman kepada mereka.

Mereka menjawab,”Di Syam.”

Kemudian Salman pulang ke rumah. Ternyata sang ayah telah mengutus seseorang untuk mencarinya. Kontan saja, ketika Salman sampai rumah, ayahnya bertanya: “Kemana saja engkau? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk melakukan sesuatu?.”

Salman menjawab,”Tadi aku melewati sejumlah orang sedang mengerjakan shalat di sebuah gereja. Pemandangan praktek agama yang aku lihat membuatku takjub. Sungguh, aku di sana terus bersama mereka sampai matahari terbenam.”

Ayahnya berkata, ”Anakku, tidak ada kebaikan pada agama itu. Agamamu dan agama nenek-moyangmu lebih baik darinya.”

Salman menolak anggapan ayahnya: “Sekali-kali tidak, demi Allah. Sesungguhnya agama itu lebih baik dari agama kita”. Kemudian ayahnya mengancam anaknya itu, mengalungkan rantai di kaki dan menahan Salman tetap di dalam rumah.

Dalam keadaan seperti itu, Salman meminta seseorang untuk menemui orang-orang Nashara, untuk menyampaikan, jika datang rombongan pedagang Nashara dari Syam kepada mereka, agar memberitahukan kepadanya. Kemudian ia pun mendapat berita yang ia inginkan. Ketika para pedagang Nashara ini hendak pulang kembali ke negeri mereka, maka rantai besi yang melilitnya, ia putuskan dan kemudian Salman pergi bersama mereka, dan akhirnya sampai ke Syam. 

Duh, Terpaksa Pasung Anak dengan Rantai karena Sering Ngamuk -  radarcirebon.com

Sesampainya di Syam, Salman bertanya: “Siapakah orang yang terbaik dari para pemeluk agama ini?.”

Mereka menjawab: “Uskup yang berada di dalam gereja”.

Salman pun mendatangi orang yang dimaksud, lantas berkata: “Sesungguhnya aku menyukai agama ini dan ingin hidup bersamamu. Melayanimu di gereja, belajar denganmu dan mengerjakan shalat bersamamu”.

Uskup itu menjawab: “Masuklah!”

Akan tetapi, ternyata pendeta tersebut seorang yang berperangai buruk; menyuruh orang bersedekah dan menganjurkannya. Bila barang-barang telah terkumpul padanya, pendeta itupun menyimpannya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk para fakir-miskin. Bahkan pendeta itu berhasil mengumpulkan tujuh tempayan berisi emas dan perak. Serta merta, kebencian kepada lelaki tersebut menyelinap pada diri Salman, begitu menyaksikan perbuatan sang pendeta.

Hingga saatnya kematian menjemput sang pendeta. Orang-orang Nashara berkumpul untuk menguburnya. Salman pun membuka kedok pendeta ini.

Salman berkata,”Sesungguhnya ini orang yang buruk. Memerintahkan kalian untuk bersedekah dan menganjurkannya. Bila kalian sudah menyerahkan kepadanya, ia menyimpannya untuk kepentingannya sendiri, tidak memberi kaum miskin apapun.”

Orang-orang bertanya: “Darimana engkau tahu?” 

“(Mari) aku tunjukkan simpanan hartanya,” jawab Salman.

Mereka menjawab,”Tunjukkan kami.”

Salman menuju tempat penyimpanan harta si pendeta itu. Orang-orang pun akhirnya berhasil mengeluarkan dari tempat itu sebanyak tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Setelah menyaksikan, mereka berseru: “Demi Allah, kami tidak akan menguburnya selama-lamanya,” maka mereka lantas menyalib lelaki tersebut dan melemparinya dengan bebatuan. 

BANYAK YANG MENGATAKAN BAHWA HARTA ITU SEGALANYA

Baca Juga : Sa’ad bin Ubadah Sahabat yang Gemar Sedekah

Kemudian, orang-orang mengangkat lelaki lain sebagai penggantinya. Keadaan lelaki ini lebih baik dari yang terdahulu, lebih zuhud terhadap dunia dan sangat memperhatikan masalah akhirat. Tidak ada orang yang lebih menjaga malam dan siangnya dari orang ini. Salman sangat mencintainya. Untuk beberapa lama, ia hidup bersama pendeta ini. Hingga saat ajal mendatangi pendeta itu, Salman berkata kepadanya.

“Wahai Pendeta, aku telah bersamamu, dan benar-benar mencintaimu dengan kecintaan yang besar. Sementara itu, telah datang kepadamu keputusan Allah yang telah engkau saksikan (kematian). Kepada siapakah engkau berpesan bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?.”

Ia menjawab,”Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui ada seseorang yang berada di atas kami, kecuali seorang lelaki di daerah Nashibin, yaitu Fulan. Temuilah ia!.”

Ketika lelaki ini meninggal dan telah dikuburkan, Salman melaksanakan wasiat itu. Setelah berhasil menjumpai lelaki yang dimaksud, Salman pun menceritakan tentang dirinya dan wasiat yang disampaikan oleh pendeta sebelumnya.

Laki-laki menjawab: “Hiduplah bersamaku!.”

Sosok laki-laki ini pun sama dengan dua kawannya. Dan tidak berapa lama kemudian, kematian mendatanginya. Ketika ia sedang sakaratul maut, Salman berkata kepadanya: “Wahai fulan, sesungguhnya Fulan (pendeta pertama), berpesan kepadaku untuk menjumpainya Fulan (pendeta kedua). Lalu ia berpesan kepadaku untuk menemuimu. Kepada siapa engkau berwasiat untukku? Apa yang engkau perintahkan?.”

 Ia menjawab: “Wahai anakku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seseorang yang tetap berada di atas ajaran kami yang aku perintahkan engkau menemuinya, kecuali seseorang di daerah ‘Amuriyyah. Ia masih sama dengan ajaran kami. Jika engkau mau, datangilah, sesungguhnya ia masih berada di atas ajaran kami!”

Usai penguburan, Salman pun pergi untuk menjumpai pendeta di ‘Amuriyah dan menyampaikan kepadanya tentang dirinya.

Pendeta itu pun berkata: “Menetaplah bersamaku!”

Laeacco Green Grassland Farm Sheep Goat Mountain Scenic Photographic  Backgrounds Photography Backdrops For Photo Studio|Background| - AliExpress

Salman hidup bersama dengan insan yang selaras dengan petunjuk dan tindak-tanduk kawan-kawannya. Ia pun dapat bekerja, sampai memiliki sapi-sapi dan kambing. Hingga kemudian datang juga keputusan Allah, yaitu kematian mendatangi pendeta ini. Ketika si pendeta mengahadapi sakaratul maut, Salman berkata kepadanya:

“Dulu aku bersama Fulan, kemudian ia berwasiat kepadaku untuk menjumpai Fulan. Dan lantas ia berpesan kepadaku untuk menemui Fulan. Dan selanjutnya berwasiat untuk mendatangimu. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Dia menjawab,”Wahai anakku. Aku tidak mengetahui ada orang yang masih berada di atas ajaran kami yang aku memerintahkan kepadamu untuk menjumpainya. Akan tetapi, telah datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekah. Di antara dua pundaknya terdapat tanda kenabian. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!”

Di ‘Amuriyah, cukup lama Salman menghabiskan waktu di sana, hingga datanglah rombongan pedagang dari Bani Kalb, dan Salman pun berkata kepada mereka: “Maukah kalian membawaku ke Negeri Arab dan aku akan memberi kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”

Mereka menjawab,”Baiklah!”

Kisah Salman al Farisi yang Menjadi Kuli Angkut Barang - Kisah Inspirasi

Salman memberikan itu semua kepada mereka dengan imbalan tumpangan sampai ke tanah Arab. Akan tetapi, mereka berbuat kenistaan kepadanya, dengan menjual dirinya kepada seorang lelaki Yahudi, layaknya seorang budak belian. Maka, Salman pun tinggal bersama lelaki Yahudi itu. Dan ternyata, Salman menyaksikan adanya pepohonan kurma di situ. Dia pun berharap, inilah tempat yang digambarkan kawannya (pendeta), tetapi ia belum merasa yakin.

Hingga suatu saat, datanglah kemenakan lelaki Yahudi itu dari Madinah. Yaitu dari Bani Quraizhah. Dia membeli Salman dari pamannya dan membawanya ke Madinah. Di kota Madinah ini, Salman menemukan kesesuaian dengan yang digambarkan pendeta terakhir yang ia jumpai. Salman akhirnya menghabiskan waktunya sebagai budak dengan majikan yang baru.

Berita tentang hijrah Nabi yang dibangkitkan di tanah Arab ke Madinah sudah tersiar. Saat pertama kali mendengar berita itu, Salman sedang berada di atas pohon kurma milik majikannya. Sedangkan majikannya sedang duduk.

Pohon buah kurma Stok Foto, Pohon buah kurma Gambar Bebas Royalti |  Depositphotos®

Tiba-tiba kemenakan sang majikan ini datang dan berdiri di hadapannya, sambil berkata: “Semoga Allah memerangi Bani Qailah. Demi Allah, mereka sekarang berkumpul di Quba, mengelilingi seorang lelaki yang datang dari Mekkah hari ini, yang mengaku dirinya seorang Nabi”.

Ketika Salman mendengarnya, seluruh tubuhnya gemetar, sampai mengira hampir jatuh menimpa majikan yang berada di bawahnya. Lalu Salman turun dari pohon kurma, dan bertanya kepada kemenakan si majikan: “Apa yang engkau katakan?”

Apa yang engkau katakan?”

Sang majikan marah dan menampar pipinya dengan pukulan yang sangat keras, lantas berkata,”Apa urusanmu dengannya? Teruslah bekerja!”

Salman menjawab, ”Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui ucapannya saja.”

Sebelumnya, Salman telah mempunyai sesuatu (kurma) yang telah ia kumpulkan. Saat sore harinya, ia pergi menemui Rasulullah ﷺ, yang sedang berada di Quba.

Kata Salman, ”Telah sampai kepadaku berita, kalau engkau orang yang baik, (datang) bersama para sahabatmu dan memerlukan bantuan. Ini ada sesuatu sebagai sedekah. Aku melihat kalian sangat berhak daripada orang lain,” maka aku pun mendekatkan (sedekah itu) kepada Rasulullah ﷺ.

Rasulullah berkata kepada para sahabat: “Makanlah,” tetapi beliau ﷺ sendiri menahan tangannya dan tidak mau makan.

Salman berkata dalam hati: “Ini tanda pertama”.

Pada kesempatan berikutnya, Salman mengumpulkan sesuatu dan Rasulullah telah tinggal di Madinah. Salman berkata,”Aku melihatmu tidak mau makan sedekah. Ini adalah hadiah, aku ingin memuliakan dirimu dengannya,” maka Rasulullah ﷺ pun memakannya, dan menyuruh para sahabat ikut makan bersama beliau.

8 Manfaat Mengonsumsi Buah Kurma Halaman all - Kompas.com

Dalam hati, Salman berkata: “Ini tanda kedua”.

Berikutnya, Salman mendatangi Rasulullah ﷺ ketika berada di Baqi Gharqad, yaitu ketika sedang melayat jenazah salah seorang sahabatnya. Beliau mengenakan dua kain, duduk di antara para sahabat.

Maka, Salman datang dan melontarkan salam kepada beliau. Setelah itu, ia berputar ke belakang untuk melihat punggung Rasulullah ﷺ, untuk memastikan tanda kenabian yang disebutkan oleh pendeta. Ketika Rasulullah menyadari keingintahuan Salman, maka beliau ﷺ melepaskan kain atasnya dari punggung, dan Salman menyaksikan tanda kenabian tersebut, sebagaimana ia mengenalnya dari cerita yang pernah ia dengar.

Kemudian, Salman segera mendekati Rasulullah ﷺ, menciumi tanda itu dan menangis. Akhirnya penantian Salman terjawab. Beliau ﷺ berkata kepada Salman: “Kemarilah,” maka aku ke depan beliau, dan aku bercerita kepada Rasulullah ﷺ.

 

Perang Khandaq merupakan perang pertama kali yang diikuti oleh sahabat mulia ini. Karena sebelumnya ia masih terkungkung oleh perbudakan. Sampai akhirnya Rasulullah ﷺ memobilisasi para sahabat agar membantu Salman, yaitu untuk menebusnya. Setelah itu, Salman al Farisi tidak pernah absen menyertai Rasulullah dalam peperangan-peperangan selanjutnya.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Usamah Bin Zaid Pemuda yang Dicintai Rasulullah ﷺ

Dengan takbir Allah Akbar, Rasulullah dan para sahabatnya beserta seluruh pasukan Muslimin memasuki Kota Makkah dengan penuh keharuan dan kegembiraan karena kemenangan yang baru dicapai.

Rasulullah berjalan bersama Usamah bin Zaid bin Haritsah di sebelah kirinya, sedang Bilal bin Rabah berada di sebelah kanannya.

Rasulullah sengaja menempatkan kedua orang ini sebagi suatu jawaban sekaligus proklamasi kepada para penduduk Makkah akan berakhirnya perbedaan sosial dan warna kulit. Hanya ketaatan kepada Allah-lah yang membedakan seseorang dengan lainnya.

Jangan Sombong, Allah SWT Berkuasa Cabut Kekuasaan - Cakrawala Rafflesia

Siapakah Bilal bin Rabah dan Usamah itu? Bilal bin Rabah adalah bekas budak Umayyah bin Khalaf dan Usamah adalah anak hasil perkawinan Zaid bin Haritsah seorang hasby berkulit hitam dengan Ummu Aiman, bekas hamba sahaya dan pengasuh Rasulullah ﷺ.

“Usamah adalah orang yang paling saya cintai, sebagimana saya mencintai ayahnya,” kata Rasulullah. Begitu cintanya Rasulullah kepada ayah Usamah, sampai orang menyebutnya ”Zaid bin Muhammad”. Namun sebutan ini ditegur oleh Allah lewat Surat Al Ahzab.

Begitu bangganya Rasulullah kepada Usamah, dalam usia dua puluh tahun pemuda itu telah diangkat sebagai Panglima Perang untuk memimpin 700 tentara Islam menyerbu Syiria.

Mengemban perintah langsung Rasulullah, Panglima Perang Usamah berangkat menuju Syiria menghadapi pasukan Romawi di bawah pimpinan Raja Heraclius.

Sebagai seorang panglima muda yang masih berusia dua puluh tahun, anak seorang budak. Wajarlah jika pengangkatannya menimbulkan pro dan kontra. Protes yang diterima Rasulullah dari para sahabat senior, termasuk Umar bin Khattab.

“Sebelum ini mereka juga tidak menyetujui ayahnya menjadi panglima, padahal Zaid cukup layak menjadi panglima sebagimana anaknya yang juga layak untuk jabatan itu. Ia adalah orang yang paling saya kasihi setelah ayahnya. Dan saya berharap ia termasuk salah seorang yang utama diantara kalian. Maka bantulah dia dengan memberikan nasihat yang baik,” kata Rasulullah meredam protes para sahabat.

Ketika Sahabat Menghindari Nabi - Majalah Nabawi

Usamah bin Zaid menyadari situasi itu, namun perintah Rasulullah adalah sebuah amanat yang harus dilaksanakan. Dengan 700 pasukannya ia berangkat menuju Syiria. Ketika beberapa kilometer di sebelah utara Kota Madinah, Usamah bersama pasukannya beristirahat, tiba-tiba terdengar berita duka, Rasulullah wafat.

“Pengiriman pasukan ke Syiria harus ditunda. Sangat tidak layak dalam suasana duka tetap mengirim pasukan tentara. Usamah adalah anak kesayangan Rasulullah, beri kesempatan dia untuk memberi penghormatan terakhir, “ kata Umar bin Khattab.

Para sahabat banyak yang menyetujui pendapat Umar, namun tidak demikian dengan pendapat Abu Bakar yang baru saja dibaiat sebagai Khalifah.

“Pesan Rasulullah menjelang wafatnya, teruskan pengiriman Usamah. Ini amanat yang tidak bisa ditawar lagi dan harus dilaksanakan,” kata Abu Bakar.

“Menjaga Madinah lebih penting daripada menyerang ke luar,” sahut Umar bin Khattab.

“Demi Allah meskipun aku akan dikeroyok srigala, aku akan tetap akan melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah. Dan aku tidak sekali-kali akan melanggar putusan yang telah ditetapkannya,” jawab Abu Bakar tegas.

Kemudian ditemuinya Usamah di perkemahannya yang saat itu sedang menaiki kuda putihnya yang gesit dan gagah. Begitu melihat kehadiran Khalifah Abu Bakar, Usamah langsung meloncat turun dari kuda untuk menjemputnya, namun Khalifah mencegahnya.

Tatkala Usamah, Pemuda yang Berusia 18 Tahun Diangkat Menjadi Panglima

“Teruskan tugasmu sesuai perintah Rasulullah. Dan izinkan aku tinggal di Madinah bersama Umar untuk urusan sepeninggal Rasulullah,” kata Khalifah Abu Bakar menghormati Usamah selaku panglima.

Dengan perasaan galau karena berpisah dengan Rasulullah, Usamah meninggalkan Madinah bersama pasukannya menuju Syiria untuk melaksanakan amanah Rasulullah. Pertempuran itu berlangsung selama empat puluh hari dengan kemenangan di pihak Usamah dan pasukannya.

“Tanpa Muhammad, panglimanya mampu membawahi pasukan segigih itu, apalagi ketika masih bersama pimpinannya yang dulu,” kata Heraclius yang kagum melihat semangat pasukan Muslimin.

Keberanian Usamah di medan perang sangat mengagumkan, ia mirip ayahnya, Zaid bin Haritsah.

Di saat Rasulullah masih hidup, kemenangan demi kemenangan dicapai Usamah di medan perang. Diceritakan pengalaman-pengalamannya, termasuk kematian seorang lawan yang sebelumnya banyak menewaskan pasukan Muslimin.

Apakah Ada Kaitan Antara Jihad dengan Terorisme? – Majelis Ulama Indonesia

Usamah berhasil menangkap lawan itu. Dalam keadaan terpepet dengan pedang masih dalam genggamannya, tiba-tiba musuhnya itu mengucapkan kalimat syahadat. Namun Usamah tetap mengayunkan  pedangnya dan menebasnya hingga ia tewas.

Saat itu Rasulullah benar-benar marah. “Mengapa kau bunuh juga orang yang telah mengucapkan kalimat Laa ilaha ilallah?” tanya Beliau.

Rasulullah sangat menjunjung tinggi kalimat tauhid, sehingga tidak menghalalkan darah seseorang yang telah mengucapkan kalimat syahadat. Terlepas apakah itu diucapkan dari lubuk hatinya atau Cuma sekedar lisannya saja, seperti yang dilakukan orang kafir yang dibunuh Usamah itu.

Peristiwa itu sangat membekas di hati Usamah. Ia merasa sangat menyesal sekali, yang tak mungkin dilupakan seumur hidupnya. Karena itulah ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib memintanya maju ke medan perang menghadapi Muawiyah, Gubernur Negeri Syam, Usamah menolaknya.

Ali bin Abi Thalib, sebagai Khalifah ingin menggantikan Muawiyah sebagai Gubernur Syam dengan Suhail bin Hunaif. Namun Muawiyah menolak hingga terjadi perselisihan dan berkembang menjadi peperangan sesama pasukan Muslim. Celakanya, perselisihan itu melibatkan Aisyah, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaillah yang menuntut balas kepada Ali atas kematian Khalifah Ustman bin Affan.

Khalifah Ali kemudian minta bantuan kepada Usamah, yang tak mungkin mengabulkannya. Usamah masih diliputi perasaan trauma sejak membunuh orang kafir yang mengucapkan syahadat di medan perang waktu dulu, ia tak mungkin bisa melupakannya.

Akhir Kasus Baju Besi Ali bin Abi Thalib Bikin Ahlu Dzimmah Masuk Islam :  Okezone Muslim

“Wahai Khalifah Ali, seandainya aku harus menyertai Anda sampai ke mulut singa sekalipun, aku akan tetap setia. Tetapi urusan ini, maaf sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya,” kata Usamah menolak permintaan Ali. Dan Khalifah Ali pun sangat memahami dan menyadari sikap Usamah itu.

 

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Sa’ad bin Ubadah Sahabat yang Gemar Sedekah

Donasiberkah.id- Sa’d bin Ubadah adalah sahabat Anshar pada angkatan pertama, ia memeluk dan mengukuhkan keislamannya di hadapan Nabi ﷺ pada Bai’at Aqabah kedua. Ia seorang tokoh dari suku Khazraj, putra dari Ubadah bin Dulaim bin Haritsah, seorang tokoh yang terkenal kedermawanannya di masa jahiliah.

Ubadah bin Dulaim selalu menyediakan makanan bagi tamu dan musafir siang dan malam, pada siang hari ia menugaskan orang untuk mengundang siapa saja untuk makan dirumahnya. Dan pada malam harinya ia menyuruh seseorang lainnya menyalakan api sebagai petunjuk jalan, sekaligus mengundang orang untuk makan malam di rumahnya. Tidak heran jika sifat dan sikap tersebut menurun pada diri anaknya, Sa’d bin Ubadah.

Pada masa awal hijrah di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan orang-orang Muhajirin, yang kebanyakan dalam keadaan miskin, karena meninggalkan harta kekayaannya di Makkah, Rasulullah mempersaudarakan para Muhajirin dengan seorang sahabat Anshar. Umumnya para sahabat Anshar menjamin dan melayani dua atau tiga orang sahabat Muhajirin, tetapi Sa’d bin Ubadah membawa 80 orang Muhajirin ke rumahnya. Karena kebiasaan sejak nenek moyangnya yang sulit atau tidak bisa ditinggalkannya itu, Sa’d pernah berdoa, “Ya Allah, tiadalah (harta) yang sedikit ini memperbaiki diriku, dan tidak pula baik bagiku.”

Nabi ﷺ mendengar doanya, dan beliau memahami bahkan sangat memuji sifat dermawannya tersebut. Maka beliau ikut mendoakannya, “Ya Allah, berilah keluarga Sa’d bin Ubadah, karunia dan rahmat-Mu yang tidak terbatas !.”

Karena doa Rasulullah tersebut, Sa’d bin Ubadah beserta keluarganya selalu dilimpahi kelebihan harta sehingga “tradisi” kedermawanan seolah menjadi “brandmark” keluarga besar ini. Putranya, Qais bin Sa’d juga mempunyai “kegemaran” yang sama, bahkan cenderung berlebihan dalam bersedekah pada usianya yang masih sangat muda. Sa’d tidak pernah melarang atau mencegahnya, sehingga Abu Bakar dan Umar pernah memperbincangkan “gaya hidup” pemuda tersebut dengan berkata, “Kalau kita biarkan pemuda ini dengan kedermawanan dan kemurahan nya, pastilah akan habis tandas kekayaan orang tuanya….!”

Sungguh Dahsyat, Ini Kekuatan dan Hikmah dari Bersedekah : Okezone Tren

Ketika pembicaraan tersebut sampai kepada Sa’d bin Ubadah, ia berkata, “Siapakah yang dapat membela/memberi hujjah diriku atas Abu Bakar dan Umar? Diajarkannya kepada anakku bersikap kikir dengan memakai namaku !.”

Sa’d bin Ubadah juga terkenal sebagai tokoh Madinah yang sering memberikan perlindungan dan menjamin keamanan perdagangan dari mereka yang lewat atau berkunjung di Madinah, termasuk kafilah dagang kaum Quraisy. Ada peristiwa menarik yang terjadi pada Ba’iatul Aqabah kedua.

Sekitar tujuh puluh lima atau lebih orang Yatsrib yang berba’iat kepada Nabi ﷺ sebenarnya hanya sebagian saja dari rombongan haji (tradisi jahiliah) dari kota tersebut yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika ba’iat yang dilakukan pada sepertiga malam akhir di salah satu hari tasyriq telah selesai, tiba- tiba ada orang yang memergoki pertemuan tersebut dan berteriak memanggil kaum Quraisy. Nabi ﷺ segera menyuruh mereka kembali ke perkemahannya, berbaur dengan kaum musyrikin Yatsrib lainnya dan pura-pura tidur.

Mau Hilangin Stres? Camping Aja!

Pada pagi harinya ketika kaum Quraisy mendatangi perkemahan orang Yatsrib untuk mengecek kebenaran berita tentang pertemuan (sebagian) mereka dengan Nabi ﷺ, dan tentu saja Abdullah bin Ubay menolak dengan keras ‘tuduhan’ tersebut. Memang, selama ini penduduk Yatsrib selalu memberitahukan kepada Abdullah bin Ubay, tindakan dan keputusan yang mereka ambil, mereka tidak berani melangkahinya begitu saja. Tetapi pada peristiwa ini, untuk pertama kalinya mereka menyembunyikan sikapnya dari pemimpinnya tersebut, yang kemudian hari menjadi pimpinan dan tokoh dari kaum munafik. Kaum kafir Quraisy tidak bisa berbuat banyak dengan penolakannya itu, tetapi diam-diam mereka melakukan penyelidikan.

Ketika musim haji telah selesai dan para peziarah telah pulang ke daerahnya masing-masing, kaum kafir Quraisy memperoleh bukti dan saksi kuat bahwa orang-orang Yatsrib memang terlibat dalam pertemuan tersebut. Mereka melakukan pengejaran, tetapi terlambat, hanya saja mereka mendapati dua orang yang tertinggal, yakni Sa’d bin Ubadah dan Mundzir bin Amir. Mereka melepaskan Mundzir karena tampak lemah, sedang Sa’d diikat dan dibawa kembali ke Makkah.

Sampai di Makkah, Sa’d dikerumuni, lalu dipukul dan disiksa layaknya kalangan miskin di Makkah yang memilih memeluk Islam, padahal ia adalah tokoh terpandang dan dermawan yang sangat dihormati di Yastrib. Inilah sahabat Anshar pertama yang disiksa karena keislamannya, atau bisa jadi Sa’d satu-satunya sahabat Anshar yang “menikmati” pengalaman pahit sahabat muhajirin yang memeluk Islam, yakni penyiksaan tokoh-tokoh kaum kafir Quraisy.

Ketika penyiksaan makin memuncak dan ia mulai tampak lemah, ada seseorang yang berkata kepadanya, “Tidak adakah kalangan di antaramu yang mengikat jaminan perlindungan dengan salah seorang Quraisy?.”

“Ada..!!” Kata Sa’d bin Ubadah.

“Siapa orang Quraisy itu?”

“Jubair bin Muth’im dan Harits bin Harb bin Umayyah…!”

Sa’d bin Ubadah memang pernah memberikan jaminan perlindungan kepada kafilah dagang mereka berdua ketika melewati Madinah, bahkan menjamu mereka dengan baik. Lelaki itu menghubungi kedua tokoh Quraisy tersebut dan mengabarkan tentang lelaki Khazraj bernama Sa’d bin Ubadah yang disiksa. Segera saja keduanya datang ke tempat penyiksaan dan membebaskan Sa’d dari tangan-tangan jahat orang kafir Quraisy.

Sa’d segera meninggalkan Makkah menyusul rombongan haji Yatsrib, khususnya sekelompok orang yang telah memeluk Islam. Mereka ini harap-harap cemas menunggu kedatangan Sa’d dan berembug untuk kembali ke Makkah menyusul Sa’d. Tetapi belum sempat mereka mewujudkan niat tersebut, terlihat Sa’d datang dalam keadaan luka dan lemah.

Mungkinkah Mengubah Gurun Menjadi Hutan? Halaman all - Kompas.com

Baca Juga : Sa’ad Bin Abi Waqash Antara Ibu dan Aqidah

Sa’d bin Ubadah adalah seorang yang mempunyai karakter keras dan teguh pendirian, tidak mudah digoyahkan oleh pendirian dan pendapat orang lain.

Pengalaman pahit setelah Ba’iatul Aqabah kedua tersebut makin mengukuhkan kekerasan sikapnya dalam membela Nabi ﷺ dan Islam, terkadang terlihat menjadi ekstrim seperti yang terjadi saat Fathul Makkah.

Fathul Makkah, berawal dari pelanggaran kaum Quraisy atas perjanjian Hudaibiyah. Bani Bakr yang menjadi sekutu Quraisy menyerang Bani Khuza’ah yang menjadi sekutu Nabi ﷺ di Madinah, bahkan kaum Quraisy diam-diam memberikan dukungan senjata dan personal kepada Bani Bakr. Ketika orang-orang Bani Khuza’ah berlindung ke tanah suci Makkah yang memang diharamkan menumpahkan darah di sana, mereka tetap membunuhnya, dan kaum Quraisy sebagai “pengelola” tanah suci Makkah membiarkan itu terjadi.

 

Beberapa orang Bani Khuza’ah pergi melaporkan peristiwa tersebut kepada Nabi ﷺ di Madinah. Beliau-pun menghimpun pasukan besar berbagai kabilah, dan masing-masing dipimpin oleh tokoh kabilahnya.

Dan bendera kaum Anshar diserahkan kepada Sa’d bin Ubadah. Ketika mulai memasuki Kota Makkah, terbayanglah di pelupuk matanya bagaimana Nabi ﷺ dan para sahabat pada masa awal mengalami berbagai siksaan dan ancaman dari kaum kafir Quraisy. Terbayang juga bagaimana perilaku mereka ketika merusak dan menyayat jenazah para syahid di medan perang Uhud.

Bahkan masih jelas terasa siksaan yang dialaminya ketika ia selesai mengikuti Ba’iatul Aqobah kedua. Karena itu ia berkata, “Hari ini hari berkecamuknya perang, hari ini dihalalkan hal yang disucikan, hari ini Allah akan menghinakan Quraisy !.”

Sejarah Kota Makkah di Masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail – Risalah Tour

Perkataannya ini terdengar oleh Abu Sufyan yang merupakan pucuk pimpinan kaum Quraisy, walau saat itu ia telah mulai tertarik untuk memeluk Islam, dan melaporkannya kepada Nabi ﷺ. Utsman dan Abdurrahman bin Auf juga mengkhawatirkan sikapnya, bahkan Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulullah, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Sa’d bin Ubadah, saya khawatir kalau-kalau ia akan menyerang kaum Quraisy hingga tumpas !.”

Mendengar pendapat-pendapat tersebut, Nabi ﷺ bersabda, “Justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah, dimuliakannya kaum Quraisy…”

Setelah itu Nabi ﷺ mengirim utusan untuk memerintahkan Sa’d menyerahkan bendera Anshar kepada anaknya, Qais bin Sa’d. Sebagian riwayat menyebutkan bendera tersebut diserahkan kepada Ali atau Zubair bin Awwam. Tentu saja dengan senang hati Sa’d memenuhi perintah Nabi ﷺ tersebut, karena apa yang dikatakannya, hanyalah ekspresi dirinya dalam rangka membela Nabi ﷺ dan Islam, bukan sikap dendam pribadi.

Sikap tegas dan jauh dari kemunafikan tampak pada diri Sa’d bin Ubadah seusai perang Hunain. Pada pertempuran tersebut, banyak sekali ghanimah (rampasan perang) yang diperoleh pasukan muslim, tetapi Nabi ﷺ mendahulukan membagikannya kepada orang-orang Quraisy yang baru memeluk Islam, bahkan ada yang masih menunda memeluk Islam, padahal pada awal peperangan mereka ini sempat meninggalkan arena pertempuran. Sementara kepada kaum Anshar, beliau tidak menyisakan sedikitpun dari ghanimah tersebut, padahal justru mereka yang banyak berperan melindungi Nabi ﷺ dan akhirnya berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan pertempuran.

Para sahabat Anshar hanya berbisik-bisik memperbincangkan sikap beliau tanpa berani menyampaikannya kepada Nabi ﷺ. Keadaan ini tidak disukai oleh Sa’d, karena itu ia menghadap Nabi ﷺ dan berkata, “Ya Rasulullah, golongan Anshar merasa kecewa atas sikap engkau dalam hal harta rampasan (ghanimah) yang kita peroleh. Engkau membagi-bagikan kepada kaummu dan pemimpin-pemimpin Quraisy secara berlebih, sementara kepada kaum Anshar engkau tidak memberikan sedikitpun…”

Nabi ﷺ tersenyum mendengar perkataan Sa’d yang terus terang tersebut, dan bersabda, “Bagaimana dengan dirimu (sikapmu) sendiri wahai Sa’d?”

“Ya Nabiyallah, aku ini tidak lain hanyalah salah satu dari kaumku saja !.”

Nabi ﷺ memerintahkan Sa’d mengumpulkan kaum Anshar di suatu tempat. Sa’d melaksanakan perintah beliau, beberapa orang Muhajirin ingin ikut serta tetapi Sa’d menolaknya, tetapi pada sebagian yang lain Sa’d membolehkan mereka hadir dalam kumpulan kaum Anshar tersebut. Setelah semua berkumpul, Sa’d menjemput Nabi ﷺ.

Di majelis kaum Anshar ini Nabi ﷺ berbicara panjang lebar mengenai apa yang menjadi ganjalan dan beban terpendam dalam diri mereka soal ghanimah, beliau juga mengingatkan tentang masa jahiliah dan keislaman mereka. Terlalu panjang untuk dijabarkan pada kisah Sa’d ini, tetapi pada ujungnya, Nabi ﷺ seolah menetapkan bagaimana sebenarnya ketinggian dan keutamaan kaum Anshar di mata Allah dan Rasul-Nya, dan itu semua tidak terlepas dari “keberanian” Sa’d berterus terang kepada beliau walaupun tampaknya kurang sopan.

Antara lain Nabi ﷺ bersabda, “….Tidakkah kalian rela, wahai kaum Anshar, mereka pulang membawa unta, domba dan harta lainnya, sedang kalian pulang membawa Rasulullah ke tanah tumpah darah kalian. Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kalau tidaklah karena hijrah, tentulah aku ini termasuk kaum Anshar. Jika orang-orang menempuh jalan di celah gunung, dan orang Anshar menempuh jalan di celah lainnya, tentulah aku mengikuti jalan yang ditempuh orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak orang-orang Anshar, cucu orang-orang Anshar, generasi demi generasi”.

Ini Alasan Perempuan Suka Melihat Pria Menangis - Citizen6 Liputan6.com

Orang-orang Anshar, termasuk Sa’d menangis sesenggukan mendengar penjelasan Nabi ﷺ tersebut, hingga air mata membasahi jenggot-jenggot mereka. Dengan haru mereka berkata, “Kami ridha dengan pembagian Allah dan Rasul-Nya !.”

Ketika Nabi ﷺ wafat, dan para tokoh muslimin bertemu di Saqifah Bani Saidah untuk menentukan khalifah pengganti beliau, Sa’d berdiri pada kelompok sahabat Anshar yang menuntut agar kekhalifahan dipegang kaum Anshar. Tetapi ketika musyawarah mengarah kepada dipilihnya Abu Bakar, yang memang sudah sangat dikenal keutamaannya di sisi Rasulullah ﷺ, ia bersama kaum Anshar yang mendukungnya dengan ikhlas hati berba’iat kepada Abu Bakar dan melepaskan tuntutannya.

Ketika Abu Bakar wafat dan Umar terpilih sebagai khalifah, Sa’d ikut berba’iat kepadanya. Hanya saja ia sadar, Umar mempunyai watak keras dan teguh pendirian seperti dirinya juga, yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi perbenturan yang berakibat buruk. Sangat mungkin terjadi perpecahan karena kaum Anshar pasti akan berdiri di belakangnya menghadapi Umar, karena itu, ia bermaksud pindah dari tanah kelahiran yang dicintainya. Namun seolah tidak ingin kehilangan sikap terus terangnya dan takut dihinggapi kemunafikan, ia mendatangi Umar dan berkata, “Demi Allah, sahabat anda, Abu Bakar lebih aku sukai daripada anda !.”

Simak Kisah Sahabat Rasulullah dalam Acara Omar di MNC TV, Tayang untuk  Menemani Sahur - Tribunnews.com Mobile

Setelah itu Sa’d pergi ke Syria (Syam), tetapi ketika ia singgah di Hauran (sudah termasuk wilayah Syam), ia sakit dan meninggal dunia di sana.

English EN Indonesian ID