Griya Yatim & Dhuafa

Anas bin Malik Khodim Rasulullah ﷺ

Donasiberkah.id – Anas bin Malik bin an-Nadhar al-Anshari al-Khazraji an-Najjari. Ia berasal dari Bani Adi bin an-Najjar. Sejak usia 10 tahun, ia dikhidmatkan ibunya, Ummu Sulaim, untuk mengabdi kepada Rasulullah ﷺ. Profesinya adalah pembantu. Bukan sesuatu yang mentereng dalam timbangan masyarakat kita. Tapi, ia bukan sembarang pembantu. Ia adalah pembantu manusia terbaik dari anak keturunan Adam. Sehingga apa yang ia lakukan adalah kebanggaan bagi diri dan keluarganya. Bahkan bagi kabilahnya.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu lahir 10 tahun sebelum hijrah. Dan kun-yahnya adalah Abu Hamzah. Rasulullah  sering memanggilnya dengan Unais (Anas kecil). Sebagai ekspresi kasih sayang padanya.

Baca Juga : Mengenal Zaid Bin Tsabit Radhiyallahu’anhu Sang Penulis Al-Qur’an

Ibu Anas adalah Ummu Sulaim binti Milhan radhiallahu ‘anha. Suami pertamanya adalah Malik bin an-Nadhar. Ayah dari Anas. Saat cahaya Islam datang, Ummu Sulaim memeluk Islam bersama kaumnya. Ia pun langsung mengajak sang suami agar bersama-sama memeluk agama yang mulia ini. Namun ia malah marah dan pergi menuju Syam. Ia pun wafat di sana. Setelah itu, Ummu Sulaim menikah dengan Abu Thalhah al-Anshari radhiallahu ‘anhu.

Pengaruh Pendidikan Nabi ﷺ Pada Anas

ancient street with different houses Vector outline illustration of ancient street with different houses and temple. Boho or bohemian modern art. house arabic vector stock illustrations

Selama 10 tahun Anas bin Malik menjalin kedekatan dengan Nabi ﷺ. Ia bersama Rasulullah tatkala sahabat yang lain tidak bersama beliau. Ia melayani Nabi tatkala di rumah. Interaksinya sangat intens dibanding sahabat yang lain. Tak heran hal ini menimbulkan berpengaruh besar pada diri Anas. Apalagi saat itu Anas masih kecil. Masih mudah dibentuk karakternya. Betapa beruntungnya, ia langsung dididik manusia terbaik dan teladan yang paling mulia.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanadnya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Anas berkata,

“Aku membantu Nabi ﷺ selama 10 tahun. Selama itu, beliau tidak pernah mengucapkan padaku “ah” sekalipun.

Beliau tidak pernah mengomentari sesuatu yang kulakukan dengan mengatakan, ‘mengapa kau lakukan ini’. Dan sesuatu yang tak kulakukan, ‘mengapa kau tinggalkan ini’.

Rasulullah ﷺ adalah orang yang terbaik akhlaknya. Aku tak pernah menyentuh sutra yang tebal maupun yang tipis, atau sesuatu yang lebih lembut dari tapak tangan Rasulullah ﷺ. Dan aku tak pernah mencium aroma parfum manapun yang lebih wangi dari keringat beliau ﷺ.”

Anak Yang Cerdas

Cute little boy reading book in bean bag Cute little boy reading book in bean bag. Child sitting in comfortable armchair. Education vector illustration isolated on white background. kid reading books stock illustrations

Saat ibu Anas membawa anaknya ke hadapan Rasulullah untuk menjadi pembantunya, ia juga memberi tahu bahwa anak kecilnya ini memiliki kemampuan menulis. Keunggulan yang tak biasa di zaman itu. Karena itu layak disebutkan. Saat itu, melek huruf adalah kemampuan istimewa. Tak banyak sahabat Nabi yang bisa. Sementara Anas mampu melakukannya terlebih ia masih begitu belia. Ini menunjukkan kecerdasan Anas dan potensi besar pada dirinya.

Tak heran, di masa Islam ia menjadi seorang penghafal hadits. Dan memilki keluasan ilmu. Bahkan ada yang menyebutkan Anas adalah orang ketiga dalam hafalan hadits setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar. Ia meriwayatkan hadits sebanyak 2286 hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim sejumlah 180 hadits. Al-Bukhari saja sejumlah 80 hadits dan Muslim saja 90 hadits.

Bersama Rasulullah ﷺ

Old arabic street graphic black white town landscape sketch illustration vector Old arabic street graphic black white town landscape sketch illustration vector house arabic vector stock illustrations

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu termasuk salah seorang punggawa di Perang Badar. Ia terus bersama Rasulullah dan membantunya. Padahal saat itu usianya baru 12 tahun.

Anas bin Malik berkata,

“Rasulullah ﷺ adalah seorang yang paling baik akhlaknya. Paling lapang dadanya. Paling luas kasih sayangnya. Beliau pernah mengutusku untuk suatu tugas. Lalu aku berangkat. Di jalan, kudapati anak-anak (sebayaku) bermain-main di pasar. Aku pun bermain bersama mereka. Dan tak jadi berangkat menunaikan perintah Rasulullah padaku.

Saat tengah bermain bersama mereka, aku merasa ada orang berdiri di belakangku. Orang itu menjimpit pakaianku. Aku menoleh. Ternyata Rasulullah ﷺ. Beliau tersenyum melihatku. Dan berkata,

‘Hai Unais, apakah kau sudah menunaikan perintahku’? Aku pun bersigap.

Kukatakan pada beliau, ‘Iya. Sekarang aku berangkat, Rasulullah’.

Demi Allah, aku telah berkhidmat membantu beliau selama 10 tahun. Tidak pernah beliau mengomentari apa yang kulakukan dengan mengatakan ‘mengapa kau lakukan ini’. Dan sesuatu yang kutinggalkan, ‘mengapa tak kau lakukan ini’.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

“Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu datang menemuiku. Ia baru saja bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu berkata, ‘Siapa yang bersaksi tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Ia ucapkan ikhlas dari hatinya. Pasti ia masuk surga’. (Mendengar itu) Aku berangkat menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kutanyakan pada beliau, ‘Hai Rasulullah, Muadz menyampaikan padaku bahwa Anda bersabda, ‘Siapa yang bersaksi tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Ia ucapkan ikhlas dari hatinya. Pasti ia masuk surga’. Beliau berkata, ‘Muadz benar. Muadz benar. Muadz benar.’.”

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Sejarah Baitul Maal dari Masa ke Masa (2) Baitul Maal di Masa Abu Bakar & Umar

Donasiberkah.id – Dalam dunia Islam terdapat satu lembaga atau instansi penaggulangan harta kaum muslimin yang disebut Baitul Maal, dari sana para mustahik menerima manfaat yang begitu berarti. Dengan adanya Baitul Maal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kepeduliaan ekonomi masyarakatnya. Apa saja yang bisa kita ambil dari Baitul Mall dalam Islam; Yuk kita pelajari bagia dari mozaik Islam ini.

2. Masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H/632-634 M)

Middle Eastern cityscape scene vector flat illustration. Man smoking hookah, camel. Desert landscape Middle Eastern cityscape scene vector flat illustration. Traditional Arabian houses with towers, brick stone fence wall with gates. Street life. Man smoking hookah, lead camel. Desert landscape arabic house stock illustrations

Keadaan seperti di atas terus berlangsung sepanjang masa Rasulullah ﷺ. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, keadaan Baitul Maal masih berlangsung seperti itu di tahun pertama kekhilafahannya (11 H/632 M).

Jika datang harta kepadanya dari wilayah-wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah, Abu Bakar membawa harta itu ke Masjid Nabawi dan membagi-bagikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Untuk urusan ini, Khalifah Abu Bakar telah mewakilkan kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah.

Hal ini diketahui dari pernyataan Abu Ubaidah bin Al Jarrah saat Abu Bakar dibaiat sebagai Khalifah. Abu Ubaidah saat itu berkata kepadanya, ‘Saya akan membantumu dalam urusan pengelolaan harta umat.’ (Zallum, 1983).

Kemudian pada tahun kedua kekhilafahannya (12 H/633 M), Abu Bakar merintis embrio Baitul Maal dalam arti yang lebih luas. Baitul Maal bukan sekedar berarti pihak (al- jihat) yang menangani harta umat, namun juga berarti suatu tempat (al-makan) untuk menyimpan harta negara.

Abu Bakar menyiapkan tempat khusus di rumahnya berupa karung atau kantung (ghirarah) untuk menyimpan harta yang dikirimkan ke Madinah. Hal ini berlangsung sampai kewafatan beliau pada tahun 13 H/634 M.

Baca Juga : Sahabat Abu Bakar dan Jubah Tua  

Abu Bakar dikenal sebagai Khalifah yang sangat wara (hati-hati) dalam masalah harta. Bahkan pada hari kedua setelah beliau dibaiat sebagai Khalifah, beliau tetap berdagang dan tidak mau mengambil harta umat dari Baitul Maal untuk keperluan diri dan keluarganya. Diriwayatkan oleh lbnu Saad (w. 230 H/844 M), penulis biografi para tokoh muslim, bahwa Abu Bakar yang sebelumnya berprofesi sebagai pedagang, membawa barang-barang dagangannya yang berupa bahan pakaian di pundaknya dan pergi ke pasar untuk menjualnya.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khaththab. Umar bertanya,

“Anda mau kemana, hai Khalifah?”

Abu Bakar menjawab, “Ke pasar.”

Umar berkata, “Bagaimana mungkin Anda melakukannya, padahal Anda telah memegang jabatan sebagai pemimpin kaum muslimin?”

Abu Bakar menjawab, “Lalu dari mana aku akan memberikan nafkah untuk keluargaku?”

Umar berkata, “Pergilah kepada Abu Ubaidah (pengelola Baitul Maal), agar ia menetapkan sesuatu untukmu.”

Keduanya pun pergi menemui Abu Ubaidah, yang segera menetapkan santunan (tawidh) yang cukup untuk Khalifah Abu Bakar, sesuai dengan kebutuhan seseorang secara sederhana, yakni 4000 dirham setahun yang diambil dari Baitul Maal.

Menjelang ajalnya tiba, karena khawatir terhadap santunan yang diterimanya dari Baitul Maal, Abu Bakar berpesan kepada keluarganya untuk mengembalikan santunan yang pernah diterimanya dari Baitul Mal sejumlah 8000 dirham.

Ketika keluarga Abu Bakar mengembalikan uang tersebut setelah beliau meninggal, Umar berkomentar,

“Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Ia telah benar-benar membuat payah orang-orang yang datang setelahnya.”

Artinya, sikap Abu Bakar yang mengembalikan uang tersebut merupakan sikap yang berat untuk diikuti dan dilaksanakan oleh para Khalifah generasi sesudahnya (Dahlan, 1999).

3. Masa Khalifah Umar bin Khatthab (13-23 H/634-644 M)

Marrakech cityscape, city in Morocco, flat vector illustration Marrakech cityscape, city in Morocco, flat vector illustration arabic house stock illustrations

Setelah Abu Bakar wafat dan Umar bin Khatthab menjadi Khalifah, beliau mengumpulkan para bendaharawan kemudian masuk ke rumah Abu Bakar dan membuka Baitul Maal. Ternyata Umar hanya mendapatkan satu dinar saja, yang terjatuh dari kantungnya.

Akan tetapi setelah penaklukan-penaklukan (futuhat) terhadap negara lain semakin banyak terjadi pada masa Umar dan kaum muslimin berhasil menaklukan negeri Kisra (Persia) dan Qaishar (Romawi), semakin banyaklah harta yang mengalir ke kota Madinah.

Oleh karena itu, Umar lalu membangun sebuah rumah khusus untuk menyimpan harta, membentuk diwan-diwannya (kantor-kantornya), mengangkat para penulisnya, menetapkan gaji-gaji dari harta Baitul Mal, serta membangun angkatan perang.

Kadang-kadang ia menyimpan seperlima bagian dari harta ghanimah di masjid dan segera membagi-bagikannya.

Mengenai mulai banyaknya harta umat ini, Ibnu Abbas pernah mengisahkan :
‘Umar pernah memanggilku, ternyata di hadapannya ada setumpuk emas terhampar di hadapannya. Umar lalu berkata,
‘Kemarilah kalian, aku akan membagikan ini kepada kaum muslimin. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui mengapa emas ini ditahan-Nya dari Nabi-Nya dan Abu Bakar, lalu diberikannya kepadaku. Allah pula yang lebih mengetahui apakah dengan emas ini Allah menghendaki kebaikan atau keburukan’.

Selama memerintah, Umar bin Khattab tetap memelihara Baitul Maal secara hati-hati, menerima pemasukan dan sesuatu yang halal sesuai dengan aturan syariat dan mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya.

Baca Juga : Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu

Vector flat style illustration of treasure chest. vector art illustration

Dalam salah satu pidatonya, yang dicatat oleh lbnu Kasir (700-774 H/1300-1373 M), penulis sejarah dan mufasir, tentang hak seorang Khalifah dalam Baitul Mal, Umar berkat,

“Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik Allah ini melainkan dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seseorang di antara orang-orang Quraisy biasa, dan aku adalah seorang biasa seperti kebanyakan kaum muslimin.” (Dahlan, 1999).

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, infaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

8 Pintu Surga Memanggil Abu Bakar

Tidak diragukan lagi, Abu Bakar adalah sahabat Nabi ﷺ yang paling mulia. Ia adalah manusia paling mulia setelah para nabi dan rasul. Umat Muhammad ﷺ yang paling dalam ilmunya, paling kuat tekadnya dalam berjihad, paling bertakwa, dan paling banyak amalannya.

Dari Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu:

“Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Aku berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’ Kujawab, ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ lalu bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’.” (HR. Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

“Ketika Nabi ﷺ wafat, dan Abu Bakar menggantikannya. Banyak orang yang kafir dari bangsa Arab. Umar berkata: ‘Wahai Abu Bakar, bisa-bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasulullah ﷺ bersabda, aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan laa ilaaha illallah. Barangsiapa yang mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya, kecuali dengan hak (jalan yang benar). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah?’

Abu Bakar berkata, ‘Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah ﷺ, akan kuperangi dia’. Umar berkata, ‘Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran’.” (HR. Bukhari dan Mulim).

Abu Bakar adalah seorang yang pemaaf. Diriwayatkan dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

“Aku pernah duduk di sebelah Nabi ﷺ. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi ﷺ sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi ﷺ berkata, ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah’.

Lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang’.

Nabi ﷺ lalu berkata, ‘Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar (sebanyak tiga kali)’. Tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, ‘Apakah di dalam ada Abu Bakar?’ Namun keluarganya menjawab, tidak.

Umar segera mendatangi Rasulullah ﷺ. Sementara wajah Rasulullah ﷺ terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah (sebanyak dua kali)’.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, ‘Engkau pendusta wahai Muhammad’. Sementara Abu Bakar berkata, ‘Engkau benar wahai Muhammad’. Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku? (sebanyak dua kali)’. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti’.” (HR. Bukhari).

Ketika mendengar Rasulullah ﷺ mengbarkan tentang pintu-pintu surga, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu pun menanggapi, “Wahai Rasulullah, Tidaklah sulit bagi seseorang untuk dipanggil dari satu pintu itu. Adakah orang yang dipanggil dari semua pintu itu?”

Nabi ﷺ menjawab, “Ada. Dan aku berharap engkau termasuk dari mereka wahai Abu Bakar.” (HR. Bukhari, No. 3666).

Hands of God  paradise stock pictures, royalty-free photos & images

Subhanallah… Abu Bakar mengganggap mudah bagi seseorang untuk dipanggil dari satu pintu surga. Beliau mengucapkan ini bukan karena sombong dan menganggap remeh. Namun itulah standar beliau.

Menurut Abu Bakar, apabila seseorang hanya fokus pada satu amalan saja dalam mengisi hari-hari kehidupannya, maka itu adalah hal mudah.

Baca Juga : Sahabat Rasul, Sya’ban R.A. yang Menyesal Saat Sakaratul Maut

Seseorang yang fokus hanya memperbanyak ibadah shalat saja, atau sedekah saja, atau puasa saja. Itu adalah sesuatu yang ringan dalam pembagian waktunya menurut Abu Bakar. Sehingga beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang yang lebih hebat lagi. Tentang yang lebih tinggi lagi kedudukannya. Dan ternyata beliau adalah orangnya. Nabi ﷺ langsung yang mengabarkan kepadanya.

Muslim man is praying in mosque  muslim prayer stock pictures, royalty-free photos & images

Semoga Allah ﷻ mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya di surga kelak.

Duka Semeru Membawa Haru

Donasiberkah.id – Gunung Semeru yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur meletus. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut erupsi mengeluarkan guguran awan panas sekira pukul 15.00 WIB.

Koordinator Mitigasi Gunungapi Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kristianto membeberkan kronologi meletusnya Gunung Semeru. Kata Kristianto, sebelum erupsi, Gunung Semeru sempat mengeluarkan lahar pada pukul 13.30 WIB.

“Erupsi Semeru berupa awan panas guguran, tanggal 4 Desember 2021, diawali dengan kejadian laharan pada pukul 13:30 WIB,” kata Kristianto saat dikonfirmasi MNC Portal Indonesia, Sabtu (4/12/2021).

Update Minggu 5 Desember: Korban Tewas Erupsi Gunung Semeru Capai 13 Orang

Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur meletus. Letusan gunung setinggi 3.676 meter itu membuat panik warga yang berada di lereng Semeru.

Dalam rekaman video amatir yang beredar. Warga berusaha menyelamatkan diri dan mengungsi dari rumah mereka.

“Warga Desa Sumberwulung mengungsi, terjadi erupsi Gunung Semeru. Semua orang khawatir. Semua orang ketakutan mengungsi,” ujar seorang pria dalam video.

Duka Semeru Membawa Haru

6 Fakta dan Data Erupsi Semeru hingga Makan Korban Jiwa

Mari Haturkan Do’a dari Hati, atas Apa yang Menimpa Saudara kita. Tidak ada seorangpun yang mengharapkan terjadinya bencana. Namun, harapan itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.

Mari ulurkan tangan kita kepada saudara yang tengah dilanda duka dan musibah karena duka mereka, adalah duka kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya),  dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR. Muslim).

Shuhaib Bin Sinan Tinggalkan Semua Harta Demi Hijrah

Rasulullah ﷺ bersabda: “Empat orang pendahulu (yaitu) aku adalah yang paling awal dari kalangan Arab, Suhaib paling awal dari kalangan Romawi, Bilal paling awal dari orang-orang Habasyah, dan Salman yang paling awal dari orang Persia.”

Nenek moyang Shuhaib pindah ke Iraq jauh sebelum datangnya Islam. Di negeri ini, ayah Shuhaib diangkat menjadi hakim dan walikota oleh Kisra, Raja Persia . Shuhaib dan orangtuanya tinggal di istana yang terletak di pinggir sungai Eufrat ke arah hilir Jazirah dan Mosul. Mereka hidup dalam keadaan senang dan bahagia.

Suatu ketika datang orang-orang Romawi menyerbu dan menawan sejumlah penduduk, termasuk Shuhaib. Setelah ditawan, Shuhaib dijualbelikan sebagai budak dari satu saudagar ke saudagar lain. Ia menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remaja di Romawi sebagai budak. Akibatnya, dialeknya pun sudah seperti orang Romawi.

Pengembaraannya yang panjang sebagai budak akhirnya berakhir di Makkah. Majikannya yang terakhir membebaskan Shuhaib karena melihat kecerdasan, kerajinan, dan kejujuran Shuhaib. Bahkan, sang majikan memberikan kesempatan kepadanya untuk berniaga bersama.

Memeluk Islam

Perihal keislaman Shuhaib, diceritakan oleh sahabatnya, ‘Ammar bin Yasir. Suatu ketika, ‘Ammar berjumpa Shuhaib di muka pintu rumah Arqam bin Abu Arqam. Saat itu Rasulullah masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah tersebut.

“Kamu mau kemana?” tanya `Amar.

Shuhaib balik bertanya, “Dan kamu hendak kemana?”

“Aku mau menjumpai Rasulullah untuk mendengarkan ucapannya,” jawab ‘Ammar.

“Aku juga mau menjumpainya,” ujar Shuhaib pula.

Lalu mereka masuk ke dalam rumah Arqam menemui Rasulullah. Keduanya mendengar secara khidmat penjelasan tentang aqidah Islam hingga petang hari. Setelah itu, keduanya menyatakan diri memeluk Islam. Secara sembunyi-sembunyi mereka kemudian keluar dari rumah itu.

Menuju Hijrah

Hijrah Dengan Kesungguhan Mulia

Ketika Rasulullah ﷺ hendak berhijrah ke Madinah, Shuhaib ikut serta. Ada yang mencatat bahwa Shuhaib telah menyembunyikan segala emas, perak, dan kekayaan yang dimilikinya sebagai hasil perniagaan bertahun-tahun di Makkah sebelum pergi hijrah. Catatan lain menyebutkan bahwa harta tersebut hendak ia bawa ke Madinah.

Rencananya, Shuhaib akan menjadi orang ketiga yang akan berangkat ke Madinah setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Namun, orang-orang Quraisy telah mengetahui rencana tersebut. Mereka mengatur segala persiapan guna menggagalkannya.

Ketika hijrah akan dilakukan, pasukan Quraisy menyerbu. Malang nasib Shuhaib. Ia masuk perangkap dan tertawan. Akibatnya, kepergian Shuhaib ke Madinah tertunda, sementara para sahabat yang lain bisa meloloskan diri.

Saat orang-orang Quraisy lengah, Shuhaib langsung naik ke punggung unta dan memacu sekencang-kencangnya menuju gurun yang luas. Tentara Quraisy segera memburu dan hampir berhasil menyusulnya. Tiba-tiba Shuhaib berhenti dan berteriak:

“Hai orang-orang Quraisy, kalian mengetahui bahwa aku adalah ahli panah yang paling mahir. Demi Allah, kalian tak akan berhasil mendekatiku sebelum kulepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini. Dan setelah itu aku akan menggunakan pedang untuk menebas kalian sampai senjata di tangan ini habis semua. Nah, majulah ke sini kalau kalian berani! Tetapi kalau kalian setuju, aku akan tunjukkan tempat penyimpanan harta benda milikku asal kalian membiarkan aku pergi.”

Ibnu Mardaweh meriwayatkan dari Utsman an-Nahdiy dari Shuhaib bahwa pasukan Quraisy saat itu berkata, “Hai Shuhaib, dulu kamu datang kepada kami tanpa harta. Sekarang kamu hendak pergi hijrah sambil membawa pergi hartamu? Hal ini tidak boleh terjadi.”

“Apakah kalian menerima tawaranku?”

Tentara Quraisy akhirnya tertarik dan sepakat untuk melepaskan Shuhaib sekaligus menerima imbalan harta. Reputasi Shuhaib sebagai orang jujur selama ini telah membuat tentara Quraisy itu percaya bahwa Shuhaib tak akan berbohong.

Setelah kaum Quraisy balik arah, lalu melanjutkan perjalanan seorang diri hingga menyusul Rasulullah yang sedang berada di Quba’.

Waktu itu Rasulullah ﷺ sedang duduk dikelilingi para sahabat. Ketika mendengar salam dari Shuhaib, Nabi ﷺ langsung berseru gembira, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!” Ucapan itu diulangnya sampai dua kali.

Berusia Ribuan Tahun, Inilah Satu-Satunya Sahabat Nabi Muhammad yang Masih Hidup - ERA.ID

Beberapa saat kemudian turunlah Surat Al-Baqarah ayat 207. Ibnu Abbas, Anas bin Musayyab, Abu Utsman an-Nahdiy, Ikrimah, dan yang lain berkata, ayat ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenaan dengan peristiwa yang menimpa Shuhaib. 

Sebuah catatan menunjukkan, Shuhaib baru mengetahui turunnya ayat mengenai dirinya setelah bertemu Umar bin Khattab dan kawan-kawannya di Tharf al-Hurrah. Mereka berkata pada Shuhaib, “Perniagaanmu beruntung.”

“Kalian sendiri bagaimana? Saya tidak merugikan perniagaanmu di jalan Allah. Apa yang kalian maksud dengan perniagaanku beruntung?” tanya Shuhaib.

Para sahabat kemudian memberitahu bahwa Allah telah menurunkan ayat yang berkaitan dengan dia.

Pendamping Setia

Sosok Sahabat yang Menjadi Pembantu Rasulullah Halaman 1 - Kompasiana.com

Setelah hijrah, Shuhaib menjadi pendamping setia Rasulullah ﷺ. Ia dikenal berani dan andal menggunakan lembing dan panah.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Shuhaib menyumbangkan baktinya kepada  Abu Bakar dan  Umar bin Khaththab ketika keduanya menjadi khalifah. Ketika Umar ditikam dari belakang saat memimpin shalat Shubuh, Shuhaib langsung ditunjuk sebagai pengganti imam.

Kata Umar, “Shalatlah kalian bersama Shuhaib.” Padahal saat itu kaum Muslimin belum memutuskan siapakah yang bakal menggantikan Umar sebagai khalifah.

Selanjutnya, Umar berkata, “Jangan kalian takut kepada Shuhaib karena dia seorang maula (hamba yang dimerdekakan). Dia tidak akan memperebutkan jabatan khalifah ini.”

Maukah sahabat jadi bagian dari Generasi yang Dermawan untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Pengertian Anak Yatim dan Kewajiban Mendidik Mereka Sampai Mandiri

Donasiberkah.id- Jumlah anak yatim semakin bertambah dalam masyarakat. Hal ini  dikarenakan banyaknya jumlah kematian orangtua, seperti karena ayah atau orang tuanya meninggal dunia, sakit, atau sebab semacamnya.

Islam adalah agama universal yang ajarannya meliputi berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam ajaran Islam, terdapat keberpihakan yang besar dan jelas kepada nasib kaum dhuafa dan anak-anak yatim.

Keberpihakan Islam ini secara nyata dapat dilihat dan dikaji dalam kitab suci Al-Qur’an dan As-Sunnah, dalam realitas sejarah masa Khulafaur Rasyidin, dan generasi seterusnya.

Keberpihakan Islam ini bukan sebatas pada aktivitas yang memecahkan berbagai masalah sosial dan kemanusiaan bagi kaum dhuafa dan anak yatim, melainkan lebih dari itu bagaimana menyelamatkan mereka dari  bahaya kesesatan dan kekafiran, kemudian membawa mereka menuju keselamatan, kedamaian dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Yatim menurut bahasa adalah orang yang ditinggal mati ayahnya. Sedangkan menurut istilah, yatim dikhususkan bagi seseorang yang ditinggal mati ayahnya dalam keadaan belum dewasa. Seperti disebutkan dalam hadits  Nabi yang artinya: “Tidak disebut yatim jika sudah dewasa”.

 Kata yatim yang digunakan untuk menamakan orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan. Seperti kata syair :

“Orang yatim itu bukanlah orang yang tidak memiliki ayah dan ibu, tetapi orang yatim itu adalah orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan dan budi  pekerti”.

Cirebon dan Sekitarnya Diprediksi Diguyur Hujan, Cek Prakiraan Cuaca  Selengkapnya di Sini - Tribunjabar.id

Orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan disebut juga yatim karena orang-orang bodoh selalu dalam kesulitan dan kesusahan. Ilmu  pengetahuan akan menjadi penolong bagi seseorang layaknya seorang ayah menjadi penolong anaknya.

Baca Juga : Rasulullah ﷺ dan Kisah Haru Anak Yatim

 Anak yatim tercatat dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Mereka disebut-sebut, baik dengan sebutan “yatim” (tunggal), maupun yatama (jamak). Mereka mendapatkan perhatian yang begitu besar dari Allah swt. begitu pula, nama mereka banyak tertera di dalam hadits.

Ways to Help Your Child Love the Quran, Quran for kids- Madinah Media

Allah dan Rasul-Nya memang tidak menjelaskan dan memberikan definisi secara khusus tentang anak yatim. Namun dari berbagai keterangan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan dalam Sunnah Rasulullah saw. dapat dijumpai  beberapa makna dan arti anak yatim. Salah satunya, seperti yang dinyatakan dalam firman Allah sehubungan dengan kisah Nabi Khidir a.s. ketika memberikan penjelasan kepada Nabi Musa a.s. yang berguru kepadanya. Lihat Surah Al-Kahfi ayat: 82.

Kewajiban Mendidik Mereka Menjadi Mandiri

5 Pieces of Advice for Those Who Haven't Been Blessed With Children

Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan amanah berupa merawat anak-anak yatim dengan kasih sayang hingga sampai masa dimana mereka menjadi pribadi yang mandiri, bisa mencari dan memenej harta untuk mereka, hingga mereka masuk ke jenjang pernikahan

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serehkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari makan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka.Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu)”

(QS. An-Nisa 4 Ayat: 6 ).

Ayat ini menegaskan bahwa wali hendaknya memperhatikan keadaan mereka ( anak yatim ), sehingga bila para pemilik itu telah dinilai mampu mengelola harta dengan baik, maka harta mereka harus segera diserahkan. Selanjutnya, karena dalam rangkaian ayat-ayat yang lalu anak yatim yang  pertama disebut ( ayat 2 ) sebab merekalah yang paling lemah, maka disini mereka pun yang pertama disebut.

7 Ways To Instill Love For Islam In Your Children's Hearts

Kepada para wali diperintahkan : ujilah anak yatim itu dengan memperhatikan keadaan mereka dalam hal penggunaan harta, serta latihlah mereka sampai hampir mencapai umur yang menjadikan mereka mampu memasuki gerbang perkawinan.

Maka ketika itu, jika kamu telah mengetahui, yakni pengetahuan yang menjadikan kamu tenang karena adanya pada mereka kecerdasan, yakni kepandaian memelihara harta serta kestabilan mental, maka serahkanlah kepada mereka harta-harta mereka, karena ketika itu tidak ada lagi alasan untuk menahan harta mereka.

Boleh jadi ada diantara wali yang tamak, maka ayat ini melanjutkan tuntunannya dengan menegaskan bahwa janganlah kamu, para wali, memakan, yakni memanfaatkan untuk kepentingan kamu harta anak yatim dengan kamu yang mengelolanya sehingga memanfaatkannya lebih dari batas kepatutan, dan jangan juga kamu membelanjakan harta itu dalam keadaan tergesa-gesa sebelum mereka dewasa, karena kamu khawatir bila mereka dewasa kamu tidak dapat mengelak untuk tidak menyerahkannya.

Barang siapa diantara para pemelihara itu yang mampu, maka hendaklah ia menahan diri, yakni tidak menggunakan harta anak yatim itu dan mencukupkan dengan anugerah Allah yang diperolehnya, dan siapa yang miskin hendaklah boleh ia makan dan memanfaatkan harta itu, bahkan mengambil upah atau imbalan menurut yang  patut.

Viral Pria Nabung Uang Koin di Galon, Hasilnya Bisa Beli Mobil

Lalu apabila kamu menyerahkan harta mereka yang sebelumnya ada dalam kekuasaan kamu kepada mereka, maka hendaklah kamu  mempersaksikan atas mereka tentang penyerahan itu bagi mereka. Dan cukuplah Allah menjadi Pengawas atas persaksian itu.

Ulama sepakat bahwa ujian yang dimaksud adalah dalam soal  pengelolaan harta, misalnya dengan memberi yang diuji itu sedikit harta sebagai modal. Jika dia berhasil memelihara dan mengembangkannya, maka ia dapat dinilai telah lulus dan wali berkewajiban menyerahkan harta miliknya itu kepadanya. Ujian itu dilaksanakan sebelum yang bersangkutan dewasa. Ada yang berpendapat sesudahnya.

Sebagian Ulama menambahkan diuji yakni diamati juga pengamalan agamanya. Mayoritas Ulama berpendapat bahwa anak yatim yang telah dewasa tidak otomatis diserahkan kepadanya hartanya, kecuali setelah terbukti kemampuannya mengelola harta.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Mengenal Pemimpin Umar bin Abdul Aziz

 

Donasiberkah.id- Dalam sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

 

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

 

“Sesungguhnya Allâh akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun.” (HR. Abu Dawud, al-Hakim, dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath”.  Dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267) dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 599).

Salah seorang tokoh sejarah yang disebut-sebut oleh para ulama sebagai ‘orang yang akan memperbaharui (urusan) agama’ pada seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz.

 

Nasab dan Kelahirannya

 

Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abul Ash bin Umayyah. Ibunya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Al-Khatab.

Umar bin Abdul Aziz lahir pada 26 Safar 63 H/2 November 682 M. Tumbuh besar di Madinah Al-Munawarah atas keinginan ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam (saat menjadi Gubernur Mesir), agar Umar tumbuh besar di tengah paman-paman dan saudara-saudaranya yang kebanyakan anak cucu Umar bin Khattab.

 

Sang Periwayat Hadits

Kisah Umar bin Abdul Aziz dan Padamnya Lampu Istana

Ia meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik, Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib, As-Sa’ib bin Yazid, Sahl bin Sa’ad, Yusuf bin Abdullah bin Salam, Sa’id bin Al-Musayyib, Urwah bin Az-Zubair, Abu Salamah bin Abdurrahman, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khatab, dan Abdullah bin Ubaidillah bin Utbah bin Mas’ud.

Baca Juga : Kisah Sulitnya Mencari Orang Miskin di Zaman Umar bin Abdul Aziz

Seorang yang Faqih

Ini Sosok di Balik Naiknya Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

Umar bin Abdul Aziz juga seorang ahli fikih yang mujtahid. Ia menjadi rujukan para ulama. Imam Ahmad berkata, “Aku tidak menemukan pendapat seorang tabi’in pun yang menjadi dalil, kecuali pendapat Umar bin Abdul Aziz.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 9: 192)

 

Karena kefaqihan, ijtihad, dan kesalehannya, guru-guru Umar bin Abdul Aziz bahkan meriwayatkan hadits darinya, contoh: Abu Salamah bin Abdurrahman. Maka, Umar digelari mu’allimul ‘ulama (gurunya ulama). Maimun bin Mahran berkata, “Kami menemui Umar bin Abdul Aziz. Saat itu kami mengira ia membutuhkan kami. Ternyata kami bersamanya tidak lain sebagai murid-muridnya.” (Siyar A’lam Nubala, 5: 120)

 

Sekilas Perjalanan Hidupnya

Kebijakan Ekonomi Khalifah Umar bin Abdul Aziz Setelah Dilantik -  Islami[dot]co

Umar bin Abdul Aziz tinggal di Madinah hingga ayahnya wafat pada tahun 85 H (704 M), ia kemudian dibawa pamannya, Khalifah Abdul Malik bin Marwan, ke Damaskus untuk tinggal bersama putra-putrinya. Bahka ia dinikahkan oleh Abdul Malik dengan Fathimah putrinya.

Setelah itu ia diangkat menjadi kepala daerah Khanashirah di wilayah Allepo hingga Khalifah Abdul Malik wafat tahun 86 H (705 M).

Ketika Al-Walid bin Abdul Malik menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Gubernur Madinah, tahun 87 H (706 M). Saat itu ia membentuk majelis syura yang beranggotakan para ulama:

 

Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq

Sulaiman bin Yasar

‘Urwah bin az-Zubair bin ‘Awwam

Kharijah bin Zaid bin Tsabit

‘Ubaidallah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah

Abu Bakar bin ‘Abdur-Rahman al-Makhzumi

Abu Bakar bin Sulaiman bin Abi Hatsmah

Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Khattab

‘Abdullah bin ‘Abdullah bin ‘Umar

‘Abdullah bin ‘Amin bin Rabiah.

 

Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai kepala daerah Madinah selama 6 tahun. Pada tahun 93 H (712 M), Al-Walid bin Abdul Malik mencopot Umar bin Abdul Aziz dari jabatannya atas permintaan Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi (Gubernur Irak) dengan alasan perlindungan Umar atas kaum pemberontak Irak.

 

Pada masa kekhalifahan Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Penasihat. Setelah khalifah Sulaiman bin Abdul Malik wafat pada tahun 99 H/717 M, Umar bin Abdul Aziz dibaiat menjadi khalifah.

Umar bin Abdul Aziz dan Kekhalifahan

Kisah Menangisnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz Ketika Diangkat Menjadi  Pemimpin - Kompasiana.com

Jabatan khalifah begitu berdampak kepada kejiwaan Umar bin Abdul Aziz. Ia menjadi orang yang benar-benar Zahid dan jauh dari perhiasan dunia.

Pada masa sebelumnya, ia sudah terbiasa hidup mewah, berpakaian terbaik, mengkonsumsi makanan enak, dan berpenampilan menarik; karena uniknya munculah sebutan gaya al-umariyyah.

Umar kemudian cenderung bersikap keras terhadap dirinya karena merasa sebelumnya telah berlebih-lebihan dalam kemewahan: Ia menolak kendaraan dinas (berupa kuda-kuda berkualitas tinggi dan mahal) dan tidak mau tinggal di istana kekhalifahan. Kendaraan dinas dijualnya dan hasil penjualannya dimasukkan ke baitul mal.

Meskipun bukan sesuatu yang haram, namun Umar bin Abdul Aziz cenderung menentang gaya hidup semacam itu.

Politik Dalam Negeri

Indonesia Di Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz – Lintas Batas

Umar bin Abdul Aziz melakukan reformasi dalam urusan kenegaraan, stabilitas keamanan, pemerataan kesejahteraan, dan penegakan keadilan di semua lapisan masyarakat.

 

Ia melakukan penjagaan harta umat Islam, kecepatan penanganan urusan, penyederhanaan birokrasi, penyeleksian pejabat (hakim, kepala daerah), dan dialog persuasif dengan kalangan oposisi.

Kebijakan Umar bin Abdul Aziz:

Pengangkatan Khalifah Umar bin Abdul Aziz – Jalan Sirah

Ia meminta Abu Bakar bin Hazm (Gubernur Madinah) untuk efisien dalam penggunaan kertas untuk kepentingan dinas.

Ia sering bekerja lembur karena pekerjaannya, ia tidak mau menunda pekerjaan hari ini hingga hari esok.

Ia menegur pejabat yang tidak cekatan. Melakukan pemecatan pejabat yang bergaya sewenang-wenang, termasuk memecat Yazid bin Al-Malhab yang diangkat oleh Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Ia meringankan pajak bagi mereka yang tidak mampu. Ia mengembalikan seluruh hadiah ke baitul mal, serta melakukan investigasi harta kepada kaum kerabatnya, apa-apa yang dianggapnya diperoleh secara  tidak sah harus dikembalikan ke baitul mal.

Ia menghapuskan kebiasaan buruk yang tidak sesuai syariat dalam pemerintahan sebelumnya, yaitu  penarikan jizyah dari orang yang baru masuk Islam.

Karena terwujud kesejahteraan, pada masanya tidak ada seorang pun dari masyarakat yang mau menerima sedekat/zakat.

Dinasti Umayyah Pelopor Kemajuan Peradaban 3 | Sejarah Kebudayaan Islam  Kelas VII

Ia menawarkan tunjangan kepada para guru dan mendorong pendidikan.

Melalui teladan pribadinya, dia menanamkan kesalehan, ketabahan, etika bisnis, dan kejujuran di masyarakat.

Memperketat larangan minum-minuman keras, melarang ketelanjangan di publik, menghapus pemandian umum campur laki-laki dan perempuan.

Ia memerintahkan pembangunan infrastruktur di Persia, Khurasan, dan Afrika Utara, seperti pembangunan kanal, jalan, dan klinik kesehatan.

Ia memerintahkan pengumpulan secara resmi hadits-hadits nabi untuk pertama kalinya lantaran adanya kekhawatiran akan hilangnya sebagian hadits. Mereka yang diperintahkan ‘Umar melaksanakannya antara lain Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm dan Ibnu Syihab Az-Zuhri.

Politik Luar Negeri

Palestina, Sejarah Panjang Negeri Anbiya (2-Habis) - Islampos

Umar bin Abdul Aziz mengambil kebijakan untuk membatasi penaklukan-penaklukan wilayah. Ia fokus pada penyelesaian permasalahan daerah di wilayah kekuasaan, memperkenalkan Islam lebih rinci, serta memberikan keteladanan. Hal ini dianggapnya lebih efektif dan efesien.

 

Dengan kebijakannya itu terjadi gelombang masyarakat yang masuk Islam. Maka Umar bin Abdul Aziz mengirimkan para juru dakwah dan ulama guna mengajarkan Islam (lihat: Futuh Al-Buldan, Al-Baladzuri, hal. 540)

Umar bin Abdul Aziz berkorespondensi dengan para raja dan amir mengajak mereka masuk Islam. Diantaranya para amir di wilayah Asia Tengah dan para raja Sindh. Mereka dipersilahkan tetap berkuasa di negeri mereka dan memperoleh hak dan kewajiban yang sama dengan muslim lainnya. Bahkan Umar bin Abdul Aziz juga mengirimkan surat kepada kaisar Byzantium.

 

Surat dari Kerajaan Sriwijaya

Bukti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Saat Ini Masih Ada - Masandy.com

Tercatat Raja Sriwijaya pernah dua kali mengirimkan surat kepada khalifah Bani Umayyah. Surat pertama dikirim kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan yang kedua kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Surat kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (860-940 M) dalam karyanya Al-Iqdul Farid.

Potongan surat tersebut berbunyi:

“Dari Rajadiraja…; yang adalah keturunan seribu raja … kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan yang lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.” (Azyumardi Azra, 2004, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (dalam bahasa Indonesia). Prenada Media. hlm. 27–28)

Kebijakan Militer

Constantinople, 1493 - Stock Image - C044/4259 - Science Photo Library

Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar pasukan muslim yang dikomando oleh Maslamah bin ‘Abdul-Malik segera ditarik dari pengepungan Konstantinopel dan mundur ke Malatya di kawasan Anatolia Timur/Armenia Barat. Penarikan ini karena kondisi pasukan kaum muslimin mengalami kelaparan akibat tipu daya Leo The Isaurian, Gubernur Anatolia, sesaat sebelum pengepungan Konstantinopel.

Pada suatu waktu pada tahun 717 M, ‘Umar pernah mengirim pasukan ke Azerbaijan selatan di bawah kepemimpinan Ibnu Hatim bin Nu’man al-Bahili untuk menumpas sekelompok bangsa Turki yang melakukan perusakan di kawasan tersebut.

Pada 718 M, dia mengerahkan berturut-turut pasukan Iraq dan Syria untuk menekan pemberontakan Khawarij di Iraq, meski sebagian sumber menyatakan bahwa gerakan perlawanan ini diredam dengan diplomasi.

Pada masa kekuasaannya, pasukan Muslim yang berpusat di Al-Andalus menaklukkan kota Narbonne (Barat Daya Perancis) di kawasan Franka selatan (cikal bakal Jerman dan Perancis).

Wafatnya Umar bin Abdul Aziz

Ia wafat sebelum melampaui usia 40 tahun. Ia nampaknya terlalu memorsir tenaganya dalam menangani urusan umat Islam. Sering begadang dan kurang memperhatikan makan dan minumnya.

Umar bin Abdul Aziz wafat pada 20 Rajab 101 H / 5 Februari 720 M, meninggalkan 14 orang anak. Ia digantikan oleh sepupunya Yazid bin Abdul Malik (Yazid II), sebagai Khalifah.

 

Demikian lah sekilas info tentang tokoh yang fenomenal dalam Islam, seorang yang jujur dan disiplin, pemimpin yang sederhana dan zuhud, yang di dalam kepemimpinannya yang begitu singkat, 2,5 tahun telah memakmurkan seluruh rakyatnya.

 

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Abu Bakar Ash Shiddiq Teladan Bahkan Semasa Jahiliyah

 

Donasiberkah.id – Siapakah Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu?

Dia adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay Al Quraisy At Taimi, Abu Bakar ash Shiddiq bin Abi Quhafah. Dia dilahirkan di Mina, nasabnya bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Murrah.

Di masa Jahiliyyah dia menikah dengan dua wanita: Qutailah binti Abdil Uzza dan Ummu Ruman binti Amir. Dan di masa Islam dia menikah dengan dua wanita: Asma’ binti Umais dan Habibah binti Kharijah bin Zaid.

Teladan Bahkan Semasa Jahiliyah

Pasar Rasulullah untuk Kemandirian Umat - Laman 2 dari 2 - SUARAISLAM.ID

Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah teladan dalam segala bidang –hingga pada masa Jahiliyyah sekalipun- maka jangan heran kalau setelah dia masuk Islam, dia adalah orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Sebaik-baik kalian di masa Jahiliyyah adalah sebaik-baik kalian di masa Islam jika mereka memahami agamanya.” 

Ibnu Ishaq rahimahullah berkata, “Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang disukai dan dicintai oleh kaumnya. Dia adalah orang Quraisy yang paling tahu nasab Quraisy, orang Quraisy yang paling mengenal Quraisy dan paling mengenal kebaikan dan keburukan yang ada pada Quraisy. Dia adalah laki-laki pemilik akhlak yang baik. Para petinggi Quraisy mendatanginya dan menyukainya karena ilmu dan perniagaannya serta kepandaiannya dalam bergaul. Orang-orang dari kaumnya yang dia percaya, yang bergaul dan berkawan dengannya dia ajak kepada Allah dan kepada Islam.” 

Baca Juga: Sahabat-sahabat Rasulullah yang Kaya dan Dermawan

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengharamkan khamr (minuman keras) atas dirinya pada masa Jahiliyyah. Dia tidak meminumnya sekalipun, tidak pada masa Jahiliyyah, apalagi ketika dia masuk Islam. Hal itu karena pada suatu hari dia melewati seorang laki-laki yang sedang mabuk. Orang mabuk itu meletakkan tangannya pada kotoran manusia lalu mendekatkan tangannya ke hidungnya. Jika dia mencium bau busuknya maka dia menjauhkan tangannya dari hidungnya, maka Abu Bakar mengharamkan khamr atas dirinya.

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu Tidak Pernah Sujud Kepada Berhala Sekalipun.

Ayah-Bunda Nabi SAW. Bukan Penyembah Berhala – Sirr al-Asrar

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata di hadapan beberapa orang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku tidak pernah sujud kepada berhala sekalipun. Ketika itu usiaku mendekati baligh. Ayahku Abu Quhafah, membawaku ke sebuah ruangan miliknya, disana ada berhala-berhala miliknya. Dia berkata kepadaku, ‘Ini adalah tuhan-tuhanmu yang tinggi lagi mulia.’ Lalu dia pergi meninggalkanku. Aku mendekat kepada sebuah berhala, lalu aku berkata, ‘Aku lapar, berilah aku makan.’ Berhala itu tidak menjawab. Aku berkata, ‘Aku tidak berpakaian, berilah aku pakaian.’ Berhala itu tetap tidak menjawab. Maka aku mengambil sebuah batu dan menghantamkan batu itu kepadanya dan ia pun tersungkur.” 

Demikian sekilas tentang Sahabat yang paling mulia ini, di depan akan ada banyak sekali teladan yang akan membuat kita mencintai Abu Bakar ini.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

    

 Kisah Islami di Masa Tabi’in: Karena Tidak Menunaikan Zakat

Donasiberkah.id- Sekelompok tabi’in (mereka yang berguru pada sahabat Nabi ) mengunjungi seorang tabiin lainnya yang bernama Abu Sinan. Tetapi belum sempat berbincang, Abu Sinan berkata,

“Mari ikut bersamaku bertakziah pada tetanggaku yang saudaranya meninggal !”.

Mereka segera beranjak ke rumah tetangga Abu Sinan, dan mendapati lelaki itu menangis mengeluhkan keadaan saudaranya yang telah meninggal dan dimakamkan. Paratabiin itu berusaha menghibur dan menyabarkannya dengan berkata, ”Tidakkah engkau tahu bahwa kematian itu adalah sebuah jalan dan kepastian yang tidak bisa dihindarkan ?”

Lelaki itu berkata, “Memang benar, tetapi aku menangisi saudaraku yang kini menghadapi siksa kubur !”

Sesaat mereka saling berpandangan, kemudian berkata, “Apakah Allah memperlihatkan kepadamu tentang berita ghaib?”

Larangan Memakai Alas Kaki di Kuburan – Attaubah Institute

Ia berkata, “Tidak, tetapi saat selesai memakamkannya dan orang-orang meninggalkan kuburnya, aku duduk sendirian meratakan tanah kuburan sambil mendoakannya, tiba-tiba terdengar suara dari dalam tanah : “…aakh, mereka meninggalkan aku sendirian menghadapi siksa ini, padahal aku benar-benar telah berpuasa, aku benar-benar telah melaksanakan shalat….”

Sesaat lelaki itu terdiam berusaha menahan isak tangisnya, lalu berkata lagi,

“Mendengar perkataan itu, aku jadi menangis dan menggali lagi kuburannya untuk melihat apa yang sedang dihadapinya. Aku melihat api menjilat-jilat di sana, dan di lehernya melingkar sebuah kalung dari api. Rasa sayang dan kasihan membuatku ingin mengurangi deritanya, maka aku mengulurkan tangan untuk melepas kalung api itu, tetapi tangan dan jari-jemariku justru tersambar api sebelum sempat menyentuhnya..!”

Ia menunjukkan tangannya yang tampak menghitam bekas terbakar, dan berkata lagi,

“Aku segera menutup kembali kuburnya, dan terus menerus bersedih, menangis dan menyesali keadaan dirinya….!”

Beautiful eye of a man of Arab nationality close-up. The man is crying Stock Video Footage - Storyblocks

Mereka berkata, “Sebenarnya apa yang telah dilakukan saudaramu di dunia hingga mendapat siksa kubur seperti itu ?”

Ia berkata, “Dia tidak mengeluarkan zakat hartanya !”

Salah seorang dari para tabiin itu yang bernama Muhammad bin Yusuf al Qiryabi berkata, “Peristiwa itu membenarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Ali Imran 180) …Sedangkan saudaramu itu disegerakan siksanya di alam kubur hingga hari kiamat tiba….”.

Para tabi’in itu berpamitan, dan mereka mengunjungi sahabat Nabi , Abu Dzar al- Ghifari. Mereka menuturkan kisah lelaki tetangga Abu Sinan itu, dan menutup ceritanya dengan pertanyaan, 

Al-Ula, Kota Hantu di Arab Saudi yang Bikin Penasaran : Okezone Haji

“…. Kami telah banyak melihat orang-orang Yahudi, Nashrani dan Majusi mati, tetapi kami tidak pernah mendengar cerita yang seperti ini!”

Baca Juga: Hikmah Keenam Mengeluarkan Zakat “Zakat itu Ungkapan Syukur”

Abu Dzar berkata, “Mereka (kaum Yahudi, Nashrani dan Majusi) telah jelas tempatnya di neraka, adapun Allah memperlihatkan keadaan orang-orang yang beriman (yang mengalami siksa) itu kepada kalian, agar kalian dapat mengambil ibarat (pelajaran). Bukankah Allah telah berfirman : Sesungguhnya telah datang dari Rabbmu bukti-bukti yang terang; maka Barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara kamu”. (QS. Al-An’am Ayat 104).

Semoga kita bisa mengambl ibrah (pelajaran) dari kisah ini, ketika kita telah Allah titipkan kemampuan harta, maka di waktu yang sama kita pun berkewajiban untuk menunaikan zakatnya. Wallahu a’lamu bis showab.

Yuk tunaikan zakat melalui link kebaikan di bawah ini:

Hadits-Hadis Nabi yang Membuat Kita Ingin Berzakat

Donasiberkah.id Allah yang Maha Pengasih memberikan kita ancaman agar kita bisa melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Karena pada dasarnya bukan Allah yang membutuhkan ibadah kita, tapi kita lah yang membutuhkan ibadah agar Allah akan meridhoi kita nantinya.

Ancaman dan nasihat itu seperti halnya obat, terasa begitu pahit, tetapi bisa memberi kebaikan. Begitupun dalam tulisan pada kali ini, penulis akan menyuguhkan hadits-hadits Nabi kita yang mulia Muhammad seorang yang jujur yang kata-katanya dapat kita yakini baik saat ini maupun di masa nanti (akhirat).

Baca Juga: Hikmah Keenam Mengeluarkan Zakat “Zakat itu Ungkapan Syukur”

 Hadits-Hadits Nabi Ganjaran Bagi Mereka yang Enggan Berzakat                                           

ﻣﻦ ﺁﺗﺎﻩ ﺍﻟﻠﱠﻪ ﻣﺎﻻﹰ ﻓﹶﻠﹶﻢ ﻳﺆﺩ ﺯﻛﹶﺎﺗﻪ ﻣﺜﱢﻞﹶ ﻟﹶﻪ ﻣﺎﻟﹸﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﹾﻘِﻴﺎﻣﺔِ ﺷﺠﺎﻋﺎ ﺃﹶﻗﹾﺮﻉ ﻟﹶﻪ ﺯﺑِﻴﺒﺘﺎﻥِ ﻳﻄﹶﻮﻗﹸﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﹾﻘِﻴﺎﻣﺔِ ﺛﹸﻢ ﻳﺄﹾﺧﺬﹸ ﺑِﻠِﻬﺰِﻣﺘﻴﻪِ ﻳﻌﻨِﻲ ﺑِﺸِﺪﻗﹶﻴﻪِ ﺛﹸﻢ ﻳﻘﹸﻮﻝﹸ ﺃﹶﻧﺎ ﻣﺎﻟﹸﻚ ﺃﹶﻧﺎ ﻛﹶﻨﺰﻙ ﺛﹸﻢ ﺗﻠﹶﺎ  )ﻻ ﻳﺤﺴِﺒﻦ ﺍﻟﱠﺬِﻳﻦ ﻳﺒﺨﻠﹸﻮﻥﹶ  ( ﺍﻵﻳﺔﹶ   

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda,“Barangsiapa diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan zakatnya, pada hari kiamat hartanya dijadikan untuknya menjadi seekor ular jantan aqra’ (yang kulit kepalanya rontok karena di kepalanya terkumpul banyak racun), yang berbusa dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Ular itu memegang dengan kedua sudut mulutnya, lalu ular itu berkata,’Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu’. Kemudian beliau membaca,’Sekali-kali janganlah orang orang yang bakhil menyangka … .” (HR Bukhari).

1. Siapakah Nama Ular yang menyiksa kuburan ? 2. Ceritakan kisah Saja'ul  'Aqra yang bernama Ular - Brainly.co.id

 Pada hadis lain, Rasulullah bersabda :

 ﻻﹶ ﺻﺎﺣِﺐِ ﻛﹶﻨﺰٍ ﻻ ﻳﻔﹾﻌﻞﹸ ﻓِﻴﻪِ ﺣﻘﱠﻪ ﺇِﻻﱠ ﺟﺎﺀَ ﻛﹶﻨﺰﻩ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﹾﻘِﻴﺎﻣﺔِ ﺷﺠﺎﻋﺎ ﺃﹶﻗﹾﺮﻉ ﻳﺘﺒﻌﻪ ﻓﹶﺎﺗِﺤﺎ ﻓﹶﺎﻩ ﻓﹶﺈِﺫﹶﺍ ﺃﹶﺗﺎﻩ ﻓﹶﺮ ﻣِﻨﻪ ﻓﹶﻴﻨﺎﺩِﻳﻪِ ﺧﺬﹾ ﻛﹶﻨﺰﻙ ﺍﻟﱠﺬِﻱ ﺧﺒﺄﹾﺗﻪ ﻓﹶﺄﹶﻧﺎ ﻋﻨﻪ ﻏﹶﻨِﻲ ﻓﹶﺈِﺫﹶﺍ ﺭﺃﹶﻯ ﺃﹶﻥﹾ ﻟﹶﺎ ﺑﺪ ﻣِﻨﻪ ﺳﻠﹶﻚ ﻳﺪﻩ ﻓِﻲ ﻓِﻴﻪِ ﻓﹶﻴﻘﹾﻀﻤﻬﺎ ﻗﹶﻀﻢ ﺍﻟﹾﻔﹶﺤﻞِ  

 

“Tidaklah pemilik harta simpanan yang tidak melakukan haknya padanya, kecuali harta simpanannya akan datang pada hari kiamat sebagai seekor ular jantan aqra’ yang akan mengikutinya dengan membuka mulutnya. Jika ular itu mendatanginya, pemilik harta simpanan itu lari darinya. Lalu ular itu memanggilnya,“Ambillah harta simpananmu yang telah engkau sembunyikan! Aku tidak membutuhkannya.” Maka ketika pemilik harta itu melihat, bahwa dia tidak dapat menghindar darinya, dia memasukkan tangannya ke dalam mulut ular tersebut. Maka ular itu memakannya sebagaimana binatang jantan memakan makanannya”. (HR Muslim).

Selain ancaman siksa neraka dalam bentuk ular, juga ada bentuk siksaan yang lain, yaitu disetrika dengan menggunakan logam yang panas, lalu logam-logam itu ditempelkan pada tubuh mereka, seperti di punggung, dahi dan lambung (perut) mereka. 

Besi Meleleh Perapian - Foto gratis di Pixabay

Simaklah hadits berikut ini :

 ﻣﺎ ﻣِﻦ ﺻﺎﺣِﺐِ ﺫﹶﻫﺐٍ ﻭﻻﹶ ﻓِﻀﺔٍ ﻻ ﻳﺆﺩﻱ ﻣِﻨﻬﺎ ﺣﻘﱠﻬﺎ ﺇِﻻﱠ ﺇِﺫﹶﺍ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﹾﻘِﻴﺎﻣﺔِ ﺻﻔﱢﺤﺖ ﻟﹶﻪ ﺻﻔﹶﺎﺋِﺢ ﻣِﻦ ﻧﺎﺭٍ ﻓﹶﺄﹸﺣﻤِﻲ ﻋﻠﹶﻴﻬﺎ ﻓِﻲ ﻧﺎﺭِ ﺟﻬﻨﻢ ﻓﹶﻴﻜﹾﻮﻯ ﺑِﻬﺎ ﺟﻨﺒﻪ ﻭﺟﺒِﻴﻨﻪ ﻭﻇﹶﻬﺮﻩ ﻛﹸﻠﱠﻤﺎ ﺑﺮﺩﺕ ﺃﹸﻋِﻴﺪﺕ ﻟﹶﻪ ﻓِﻲ ﻳﻮﻡٍ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﻣِﻘﹾﺪﺍﺭﻩ ﺧﻤﺴِﲔ ﺃﹶﻟﹾﻒ ﺳﻨﺔٍ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﹾﻀﻰ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﹾﻌِﺒﺎﺩِ ﻓﹶﻴﺮﻯ ﺳﺒِﻴﻠﹶﻪ ﺇِﻣﺎ ﺇِﻟﹶﻰ ﺍﻟﹾﺠﻨﺔِ ﻭﺇِﻣﺎ ﺇِﻟﹶﻰ ﺍﻟﻨﺎﺭِ  

Baca Juga: Hikmah Kedua Mengeluarkan Zakat: Mendapat Kesembuhan dari Berzakat

“Tidaklah pemilik emas dan pemilik perak yang tidak menunaikan haknya (perak) darinya (yaitu zakat), kecuali jika telah terjadi hari kiamat (perak) dijadikan lempengan lempengan di neraka, kemudian dipanaskan di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarlah dahinya, lambungnya dan punggungnya. Tiap-tiap lempengan itu dingin, dikembalikan (dipanaskan di dalam Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Itu dilakukan pada hari kiamat), yang satu hari ukurannya 50 ribu tahun, sehingga diputuskan (hukuman) di antara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau: akan diperlihatkan) jalannya, kemungkinan menuju surga, dan kemungkinan menuju neraka”. (HR Muslim).

Kerasnya ancaman siksa di neraka tentunya bukan sekedar untuk menakut-nakuti. Tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat serius mewajibkan kita membayar zakat dan bersahadaqah di jalan-Nya.

Semua ini tentu menunjukkan betapa besarnya kedudukan zakat dalam syariah Islam. Maka tidak ada jalan lain kecuali kita bersegera melaksanakan apa yang telah menjadi beban (taklif) di pundak kita.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu menjadi hamba-Nya yang taat beribadah dengan sebaik-baiknya. Dan semoga kita dihindarkan dari pedihnya api neraka di kemudian hari. Amien.

Yuk tunaikan zakat di Griya Yatim dan Dhuafa, kami siap menjadi perpanjangan tangan sahabat dalam menunaikan zakat melalui link ini:

English EN Indonesian ID