Griya Yatim & Dhuafa

Kisah Keajaiban Sedekah Zaman Nabi Musa: Suami Istri Mendadak Kaya Karena Sedekah

Donasiberkah.id- Ada satu kisah penuh hikmah tentang sepasang suami istri yang senantiasa kaya di zaman Nabi Musa. Meskipun senantiasa dipakai untuk bersedekah.

Dikisahkan, pada zaman Nabi Musa hiduplah sepasang suami istri yang serba kekurangan selama bertahun-tahun. Kehidupan mereka tergolong sangat miskin namun mereka tetap sabar dan berupaya keluar dari belenggu kemiskinan.

Suatu hari saat mereka beristirahat di tempat tidur, sang istri berkata kepada suaminya, “Bukankah Musa itu Nabi Allah dan bisa berbicara dengan-Nya?.”

Sang suami menjawab: “Ya, benar.”

Sang istri berkata lagi: 

“Kalau begitu kenapa kita tidak pergi mendatanginya dan mengadukan keadaan kita kepadanya. Kita meminta padanya agar berbicara kepada Rabbnya tentang keadaan kita dan memintakan agar kita diberi kekayaan, agar kita bisa hidup senang dan berkecukupan selama menjalani sisa hidup kita.”

Fotografi Siluet Gunung

Esok harinya, keduanya mendatangi Nabi Musa dan menyampaikan keinginan tersebut. Nabi Musa pun bermunajat menghadap Allah dan menyampaikan keinginan keluarga tersebut. Sedangkan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, tidak ada sesuatu pun di langit dan bumi ini yang tersembunyi dari-Nya.

Allah menjawab permohonan Nabi Musa. Allah berfirman:

“Wahai Musa, sampaikan kepada mereka bahwa Aku telah mengabulkan permintaan mereka dan Aku akan memberi mereka kekayaan, tetapi selama satu tahun saja. dan setelah satu tahun, Aku akan kembalikan mereka menjadi orang miskin.”

Mendengar kabar dari Nabi Musa itu, pasangan suami istri ini sangat gembira luar biasa. Benar saja, beberapa hari kemudian, rezeki datang dari arah yang tidak mereka ketahui hingga menjadikan mereka kaya raya di tengah masyarakat.

Pria Yang Duduk Di Atas Gedung Sambil Melihat Sekilas

Kehidupan mereka pun berubah dan mereka hidup senang dan bahagia. Sang istri pun berkata kepada suaminya,

“Wahai suamiku, ingatlah kita diberi kekayaan ini hanya satu tahun dan setelah itu kita akan jatuh miskin lagi seperti sedia kala.”

Suami menjawab, “Ya, saya tahu”.

Sang istri berkata:

“Kalau begitu, kita gunakan saja kekayaan ini untuk membantu banyak orang. Selama setahun ini kita akan memberi makan orang-orang fakir dan menyantuni anak yatim mumpung kita masih punya.”

Jejak Kaki Manusia Berusia 120.000 Tahun Ditemukan di Arab Saudi - Tribun  Travel

Sang suami pun setuju dengan gagasan itu lalu mereka membangun rumah singgah untuk membantu para musafir. Rumah itu dibangun dengan tujuh pintu, masing-masing pintu menghadap ke jalan yang berjumlah tujuh persimpangan.

Keluarga ini pun mulai menyambut setiap musafir yang datang dan memberi mereka makan dan tempat singgah gratis, siang dan malam. Mereka terus sibuk melayani selama berbulan-bulan.

Baca Juga : Kisah Istri Nabi ﷺ Zainab Binti Jahsy “Panjang Tangan Suka Bersedekah”

Setahun berlalu sepasang suami istri ini tetap sibuk membantu para musafir dan memuliakan tamu yang berdatangan. Dan taukah apa yang terjadi pada mereka setela satu tahun?.

The Giving Tree Oil Painting By Abed Alem | absolutearts.com

 

Kehidupan mereka pun tetap kaya. Mereka lupa dengan tenggat waktu yang ditetapkan Allah tersebut.

Melihat itu, Nabi Musa pun heran, lalu bertanya kepada Allah seraya berkata: “Wahai Rabb, Engkau telah menetapkan syarat kepada mereka hanya satu tahun. Sekarang, sudah lewat satu tahun tetapi mereka tetap hidup kaya?.”

Allah berfirman:

“Wahai Musa, Aku membuka satu pintu di antara pintu-pintu rezeki kepada keluarga tersebut, lalu mereka membuka tujuh pintu untuk membantu hamba-hamba-Ku. Wahai Musa! Aku merasa malu kepada mereka. Wahai Musa! Apakah mungkin hamba-Ku lebih dermawan dari-Ku?.”

Surreal Door Installations by Nicole Evans and Pat Farrell | Colossal

Kemudian Nabi Musa menjawab:

“Maha Suci Engkau Ya Allah, betapa Maha Mulia urusan-Mu dan Maha Tinggi kedudukan-Mu.”

Dari kisah di atas dapat kita petik pelajaran berharga betapa dahsyatnya keutamaan bersedekah.

Dalam satu Hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada satu hari pun yang seorang hamba memasuki waktu pagi padanya, kecuali ada dua Malaikat yang turun dari langit dan salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah ganti untuk orang yang berinfak.’ Dan Malaikat yang lain berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan untuk orang yang menahan diri tidak berinfak dan mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita untuk bersedekah dan senang membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Aaamiin!

Maukah sahabat jadi bagian dari pensejahtera anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Zakat dan Kesehatan Jiwa 

Donasiberkah.id- Masalah kesehatan jiwa menjadi perhatian umat manusia dari abad ke abad.  Kesehatan jiwa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah rohani yang menghubungkan manusia dengan Allah Maha Pencipta dan bagaimana hubungan manusia dengan harta.  

Sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran, dunia mengenal ilmu psikiatri yang berkembang menjadi suatu bidang spesialisasi tersendiri di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebagaimana diakui oleh para ahli, agama memiliki peranan penting dan menjadi faktor penentu dalam membina kesehatan jiwa dan menyelamatkan manusia dari gangguan kejiwaan.

Bahkan, agama menjadi sumber inspirasi perkembangan ilmu kesehatan jiwa. Dalam ilmu kedokteran jiwa, sebagaimana dikemukakan oleh Prof. dr. Aulia, dikenal istilah Psikosomatik, yakni penyakit kejiwabadanan, di mana keluhan fisik bersumber dari gejala dalam jiwa. 

Dewasa ini jumlah kasus schizophrenia makin meningkat di tengah masyarakat. Suatu keprihatinan bagi kita semua. Hal ini perlu menjadi perhatian dan tanggung jawab kita dalam konteks pembangunan kesejahteraan masyarakat. 

Waspada Schizophrenia | RS Karya Medika 2

Tokoh ilmuwan muslim dan Pelopor Psikologi Islam di Indonesia, Prof. Dr. Zakiah Daradjat (1929  2013), mengemukakan empat rumusan kesehatan jiwa, yaitu: 

Pertama, kesehatan jiwa adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).

Kedua, kesehatan jiwa adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat sera lingkungan tempat ia hidup. 

Ketiga, kesehatan jiwa adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain, serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa. 

Keempat, kesehatan jiwa adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif  kebahagiaan dan kemampuan dirinya.

Baca Juga : Hikmah Kedua Mengeluarkan Zakat: Mendapat Kesembuhan dari Berzakat

Dalam buku Zakat Pembersih Harta dan Jiwa (1992) Zakiah Daradjat  membahas hubungan zakat dengan kesehatan mental, disertai contoh yang terjadi dalam kehidupan nyata. Ibu Zakiah Daradjat pernah menceritakan kepada saya, latar belakang beliau menyusun buku dengan judul tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang mengeluh, cemas dan gelisah tanpa sebab, padahal orang itu kaya atau berkecukupan. Orang mengatakan, Mungkin selama ini dia tidak mengeluarkan zakat. Oleh karena itu Ibu Zakiah Daradjat menulis buku, Zakat Pembersih Harta dan Jiwa.   

Jual Buku Zakat Pembersih Harta Dan Jiwa di Lapak ARSYA SEJAHTERA | Bukalapak

Dalam buku itu, Zakiah Daradjat mengajak pembaca memetik hikmah dari berbagai kasus yang ditemukan pada kliennya. Seorang perempuan kaya di usia tuanya mengeluh kesehatannya terganggu. Selera makan hilang dan tidur tidak nyenyak. Dia telah berobat kepada beberapa dokter spesialis, namun tidak sembuh. Hampir tiap hari merasa penyakitnya bertambah berat. Seorang temannya berkata: Barangkali Anda tidak menunaikan zakat. Tentu saja ditangkisnya tuduhan itu. Dia merasa telah mengeluarkan zakat, hampir setiap hari dia berzakat. Namun dalam hati kecilnya timbul kegelisahan. Untuk menghilangkan kegelisahan, dia datang ke tempat praktik konsultasi Zakiah Daradjat. Terjadilah dialog sebagai berikut:

“Benarkah penyakit saya ini disebabkan karena tidak berzakat?,” tanyanya.  

“Mengapa Anda bertanya demikian?”

“Belakangan ini saya sering sakit. Macam-macam penyakit yang datang. Obat yang diberikan dokter, tidak ada yang menolong. Saya ceritakan kepada teman, justru saya dikatakannya tidak menunaikan zakat. Padahal saya selalu berzakat. Setiap ada orang minta sumbangan, selalu saya beri.”

“Bagaimana Anda menentukan berapa zakat yang wajib Anda keluarkan?”

“Yah, itu tidak saya hitung. Yang penting hampir setiap hari saya mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah, kadang-kadang lebih.”

“Yang Anda berikan kepada orang miskin atau peminta sumbangan dengan cara seperti itu, bukanlah zakat, akan tetapi shadaqah atau sumbangan sukarela. Anda berpahala dengan shadaqah atau sumbangan seperti itu. Akan tetapi, kewajiban Anda untuk mengeluarkan zakat dengan cara demikian, belum terlaksana.”

Wanita itu terdiam. Ia tersentak dan menyesali dirinya. Mengapa selama ini tidak menanyakan kepada orang yang mengerti masalah zakat. 

Menurut Zakiah Daradjat, pada dasarnya harta memang menunjang kehidupan manusia. Sebaliknya, harta dapat berubah menjadi penyebab kegelisahan, perselisihan, dan permusuhan. Karena harta, orang berkelahi. Karena harta, hubungan persaudaraan menjadi renggang, bahkan karena harta, hubungan keluarga menjadi putus. Tidak jarang, perselisihan anak dan orangtua terjadi disebabkan harta. Sebetulnya, bukan harta yang menjadi penyebab. Sebabnya mungkin cara mendapatkan harta itu yang tidak benar, atau sebagian kecil dari harta itu yang sesungguhnya milik orang lain, tidak dikeluarkan.         

Bertengkar dengan Suami, Ini 7 Hal yang Perlu Istri Lakukan

Di sinilah peranan zakat. Manfaat zakat bagi penerimanya sudah jelas, membantunya dalam memenuhi keperluan hidup yang tidak dapat dipenuhinya sendiri. Sedangkan manfaat zakat bagi yang menunaikannya cukup banyak, terutama dalam menjadikan hidup bersih dan sehat. Boleh jadi orang tidak pernah menyangka bahwa zakat mempunyai pengaruh terhadap kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Memang ada sementara orang yang menjadi kaya atau banyak harta, menjauh dari orang miskin dan kurang perhatian kepada kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia terasing dari lingkungannya.

Seringkali cinta kepada harta menyebabkan seseorang menahan zakat yang akan mengurangi harta atau pendapatannya. Sebuah kejadian tragis dialami seorang eksekutif muda berusia 38 tahun, seperti dikenang Zakiah Daradjat dalam bukunya di atas. Karirnya cukup bagus. Gajinya melebihi kebutuhan hidupnya. Punya rumah dan mobil pribadi. Anak-anaknya bersekolah di sekolah yang baik. Adapun tentang zakat pendapatan atau zakat profesi, dia mempunyai pendirian lain. Menurutnya, dia tidak wajib mengeluarkan zakat itu, karena di zaman Nabi hal demikian tidak diatur. 

Kehidupannya berjalan lancar tanpa menghiraukan zakat. Sampai beberapa tahun kemudian, ketika mencapai usia 45 tahun, kesehatannya menurun. Menurut diagnosa dokter, dia sebetulnya diserang psikosomatik, yakni gangguan kejiwaan yang mengakibatkan gejala fisik. Karir yang tadinya bersinar mulai redup. Di kantor, dia tidak lagi diberi jabatan pimpinan. 

Korban PHK Akibat Pandemi Dianggap Paling Butuh Bantuan

Kesehatannya makin lama makin memburuk. Timbul penyesalan, mengapa salah satu Rukun Islam, yaitu mengeluarkan zakat, tidak ditunaikannya. Ia ingin membayar zakat yang telah terlalu banyak bertumpuk. Akan tetapi penghasilannya telah jauh berkurang, sementara harta yang ada harus dipertahankannya untuk biaya anak-anaknya yang telah menjadi remaja.    

Kegelisahan terus membebaninya. Zakat terhutang tidak mungkin dibayar lagi. Dia meninggal dunia membawa perasaan berhutang kepada Allah. Membawa utang zakat yang tidak akan pernah terbayar, kecuali bila anak-anaknya mau membayar utang zakat ayahnya. Ternyata ada hubungan zakat dan kesehatan, terutama kesehatan mental, demikian kesimpulan Zakiah Daradjat. 

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran,

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS At-Taubah [9]: 103).

Keharmonisan antara fungsi jiwa dan tindakan dapat dicapai antara lain dengan  menjalankan ajaran agama dan berusaha menerapkan norma-norma sosial, hukum, dan moral. Dengan demikian akan tercipta ketenangan batin yang menyebabkan timbulnya kebahagiaan dan ketenangan dalam menjalani kehidupan dengan segala problematikanya.  

Tenangkan Organ-organ Peka Halaman 1 - Kompasiana.com

Di sinilah pentingnya peran agama yang menggerakkan kesadaran untuk memberi dan berbagi sebagai faktor kesehatan jiwa.  Dalam hal ini diperlukan peran aktif ulama dan tokoh agama dalam pembangunan kesehatan, khususnya kesehatan jiwa dalam masyarakat Indonesia yang mengalami perubahan dalam segala aspek dan tatanan kehidupan.  

Zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh umat Muslim untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerima, yaitu fakir, miskin, amilin, muallaf, memerdekakan, perbudakan, gharimin, fisabilillah dan ibnu sabil (QS At-Taubah [9]: 60).  Zakat merupakan rukun Islam yang ke-4, selain syahadat, salat, puasa dan haji. Zakat merupakan kewajiban bagi seorang muslim yang mampu. Dari sisi bahasa zakat memiliki arti bersih, suci, berkat, subur, dan berkembang. 

Bukan harta yang sedikit menyebabkan susah. Bukan harta yang banyak menyebabkan gembira. Pokok gembira dan susah adalah jiwa yang gelisah atau jiwa yang tenang  dan damai. demikian kata Prof. Dr. Hamka.

Wallahu a’lam bis-shawab.

 

Materi di atas pernah disampaikan penulis dalam webinar Kajian Islam dan Psikologi Universitas Indonesia (UI), Jumat, 3 Juli 2020.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Yuk tunaikan zakat, inaq-sedekah maupun wakaf di link kebaikan di bawah ini:

Mengenal Zakat Profesi: Bagian Satu Pengertian dan Pensyariatan

 

Donasiberkah.id- Sahabat dermawan, sebagai seorang muslim pastinya kita menginginkan, agar harta yang kita peroleh menjadi harta yang mengandung keberkahan, sebagaimana kebanyakan di antara kita berprofesi sebagai mitra usaha yang menerima gaji atau penghasilan, di kesempatan kali ini yuk sama-sama kita belajar prihal seputar zakat penghasilan, yang bersumber dari buku Seri Fiqih Kehidupan Bagian 4 Karya Ahmad Sarwat. Lc, semoga menambah khazanah kita dalam memahami syariat mulia berupa zakat penghasilan.

A. Pengertian

 

 

 

 

Dalam bahasa Arab, zakat penghasilan dan profesi lebih populer disebut dengan istilah zakatu kasb al-amal wa al-mihan al- hurrah ( الحُرَّ ةِنِھَوالمِالعَمَلِ بِسْ كَزكاةُ ), atau zakat atas penghasilan kerja dan profesi bebas.

Istilah itu digunakan oleh Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam kitab Fiqhuz-Zakah-nya dan juga oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu. Berbeda dengan zakat-zakat sebelumnya, zakat profesi ini terkait dengan harta yang didapat oleh seseorang karena dia mendapatkan harta penghasilan dari pekerjaan yang digelutinya, bukan dari hasil pertanian, peternakan, atau barang-barang perdagangan, emas atau perak yang disimpan, barang yang ditemukan dan sejenisnya.

Zakat ini tidak terdapat secara eksplisit dalam kitab-kitab fiqih klasik, meski bukan berarti sama sekali tidak ada.

Baca Juga: Hikmah Kedua Mengeluarkan Zakat: Mendapat Kesembuhan dari Berzakat

B. Pensyariatan

Niat dan Tata Cara Membayar Zakat Fitrah Menurut Ajaran Islam, Catat! | Orami

Sesungguhnya baik Al-Quran maupun Sunnah tidak secara tegas menyebutkan tentang masyru’iyah zakat profesi. Oleh karena itu kita tidak menemukan istilah zakat profesi di dalam kitab-kitab fiqih yang disusun oleh para ulama sepanjang zaman, hingga sampai di abad ke-20 ini.

Kalau pun ada kajian tentang zakat profesi di dalam kitab-kitab klasik, tidak dalam bab khusus, kecuali hanya disebutkan secara sekilas. Namun para ulama yang mendukung adanya zakat profesi menggunakan ayat dan hadits yang bersifat umum, diantaranya :

يا أﹶيها الَّذِين آمنواﹾ أﹶنفِقﹸواﹾ مِن طﹶيباتِ ما كﹶسبتم

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik”. (QS. Al-Baqarah : 267).

Menurut mereka yang mendukung zakat ini, istilah al-kasbu termasuk di dalamnya adalah gaji bulanan yang diterima oleh seorang karyawan, buruh atau pegawai. 

Demikian Mengenal Seputar Zakat Profesi: Bagian Satu Pengertian dan Pensyariatannya. Nantikan tulisan berikutnya, semoga Allah menambah pemahaman kita tentang agama, karena itu merupakan kebaikan bagi kita selaku orang yang beriman.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa? Mari berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Apakah Pajak bisa Menggantikan Kewajiban Zakat?


Donasiberkah.org – Apakah pajak bisa menggantikan kewajiban Zakat? Sahabat dermawan, Pajak tidak cukup untuk menggantikan zakat karena pajak tidak memenuhi syarat-syarat yang wajib dipenuhi untuk bisa menyamai fungsi zakat. Hal ini membuat kita jadi bertanya Apakah Pajak Bisa Menggantikan Zakat? Maka yuk kita simak agar kita paham sesuai dengan anjuran ulama kita.

Fatwa beberapa yang menyatakan pajak berbeda dengan zakat

1. Fatwa Syaikh Ulays

Dalam Fatawa asy-Syaikh Ulays ‘ala Madzhab al-imam Malik, Syekh Ulays dimintai fatwa mengenai orang yang memiliki unta dan telah mencapai nisab, lantas pemerintah mengharuskan membayar jumlah uang tertentu setiap tahunnya, tetapi bukan atas nama zakat, apakah orang itu boleh meniatkannya sebagai zakat agar kewajibannya gugur, atau tidak?

Syekh Ulays menjawab bahwa dia tidak boleh meniatkannya sebagai zakat. Sekalipun dia meniatkannya maka tetap tidak bisa menggugurkan kewajiban zakatnya. An-Nashir al-Laqani dan al-Hathab juga mengeluarkan fatwa demikian.( 1. Fath al-Aliy al-Malik, jilid I, hlm. 139-140. 2. Fatawa al-Imam Muhammad Rasyid Ridha, jilid I, hlm. 229-230).

2. Fatwa as-Sayyid Rasyid Ridha

As-Sayyid Rasyid Ridha pernah ditanya oleh salah seorang Muslim India tentang pungutan orang Kristen-maksudnya Inggris–dari tanah-tanah India yang nyaris mencapai separuh atau seperempat pemasukannya. Apakah itu bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajib dikeluarkan menurut syariat, yakni yang sepersepuluh atau yang seperdua puluh?

As-Sayyid Rasyid menjawab dalam Majalah al-Manar bahwa sepersepuluh atau seperdua puluh yang diwajibkan atas hasil bumi (panen) adalah bagian dari harta zakat yang wajib disalurkan kepada delapan golongan mustahik-sebagaimana yang disebutkan nash atau yang ada di antara mereka. Apabila amil imam di negara Islam memungutnya maka bebaslah tanggungan si pemilik tanah, lantas sang imam atau amilnya wajib menyalurkan pungutan itu kepada para mustahiknya.

Baca Juga: Zakat Bukan Hanya Sekedar Kewajiban

Apabila petugas amil tidak memungutnya, si pemilik tanah wajib menempatkannya di tempat yang diperintahkan Allah, Sedangkan yang dipungut orang Kristen dan selain mereka atas tanah yang mereka kuasai dianggap sebagai bagian dari pajak. Kewajiban zakat tidak gugur karenanya. Jadi, seorang Muslim tetap wajib mengeluarkan zakat atas hasil panennya—setelah dikurangi pajak itu-jika memenuhi syarat-syaratnya. (Fatawa al-Imam Muhammad Rasyid Ridha, jilid I, hlm. 229-230).

Syekh Yusuf al-Qaradhawi juga menyebutkan, “Pernyataan yang menguatkan pendapat bahwa zakat berbeda dengan pajak dalam fatwa ini meskipun berkenaan dengan pungutan pemerintah non-muslim adalah ucapan Syekh as – Sayyid Rasyid Ridha, ‘Sedangkan yang dipungut orang Kristen dan selain mereka atas tanah yang mereka kuasai dianggap sebagai bagian dari pajak . Kewajiban zakat tidak gugur dengannya’. Jadi , pengertiannya adalah apa saja yang merupakan bagian dari pajak tidak dianggap sebagai zakat.

3. Syekh Syaltut

Syekh Syaltut – mantan Syaikh al – Azhar – juga pernah ditanya tentang apakah pajak bisa dihitung sebagai zakat . Beliau menjawab dengan tegas bahwa hakikat zakat berbeda dengan pajak. Zakat sejak awal adalah ibadah dengan harta. Benar bahwa ia memiliki beberapa kesesuaian dengan pajak konvensional, tetapi berbeda dengan dalam banyak aspek. Selain itu, zakat berbeda dengan pajak dalam sumber hukum, dasar kewajiban, tujuan dan sasaran, ukuran serta pos-pos penyalurannya.

Baca Juga: Sejarah Awal Mulanya Diwajibkan Zakat

Kemudian Syekh Syaltut juga menguraikan , ” Zakat adalah ketentuan Allah sekaligus kewajiban yang dilandasi iman, baik dibutuhkan maupun tidak , sehingga bisa menjadi sumber dana bantuan bagi orang – orang miskin yang ada di setiap bangsa . Sementara pajak adalah bagian dari kebijakan pemerintah sesuai kebutuhan . Dengan demikian , jelaslah bahwa pajak dan zakat sama-sama dibutuhkan , tetapi keduanya adalah dua hal yang sama sekali berbeda dalam sumber hukumnya , tujuannya , ukurannya , dan masa berlakunya.

Seorang warga negara wajib membayar pajak yang telah ditetapkan. Jika hartanya telah dikurangi pajak dan ternyata sisanya mencapai nisab, dia wajib mengeluarkan zakatnya sebagaimana ditetapkan agama . Itu apabila telah memenuhi syarat – syaratnya yaitu kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi dan sudah melewati haul ( Al-Fatawa, hlm. 116-118 dan Fiqh az-Zakât, jilid II, hlm. 1115-1119).

Apakah Pajak bisa Menggantikan Kewajiban Zakat
Apakah Pajak bisa Menggantikan Kewajiban Zakat

Itulah artikel tentang Apakah Pajak bisa Menggantikan Kewajiban Zakat? Yuk kak, tunaikan zakat di Griya Yatim & Dhuafa insya allah harta kita jadi berkah dan insya allah akan kami distribusikan kepada yang membutuhkan.

Pahala Besar Bagi Orang Yang Membuat Bahagia Orang Lain

Donasiberkah.org –  Bahagia, apa sebenarnya yang terlintas di benak anda saat mendengar kata bahagia? Yah, tentunya setiap orang memiliki pandangan berbeda tentang apa dan bagaimana itu bahagia. Pada dasarnya, bahagia adalah kumpulan dari perasaan senang, tenang, nyaman dan indah yang lahir dari hati dan pikiran. Sebagai makhluk perasa, bahagia bisa menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam menentukan kondisi dan keadaan seorang manusia. Tak heran bila semua orang ingin bahagia seolah-olah kebahagiaan merupakan tujuan dari hidup mereka.

Sementara dalam islam, salah satu cara meningkatkan iman dan takwa adalah kita juga dianjurkan untuk senantiasa berbagi kebahagiaan pada orang lain. Mengapa? karena terdapat 7 keutamaan membuat orang lain bahagia dalam islam. Apa sajakah itu? Simak ulasannya sebagai berikut:

  • Disukai oleh Allah SWT.

Adakah yang lebih pantas dan patut diinginkan/didambakan oleh setiap manusia selain mendapatkan kecintaan dan keridhoan dari sang maha pencipta, Allah swt.? Tentunya dalam mendapatkan kecintaan dan keridhoan Allah swt serta mewujudkan fungsi Iman kepada Allah swt, kita sebagai umat muslim dan muslimah harus melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Tak hanya itu, kita juga sepatutnya melakukan hal-hal yang terpuji baik menurut pandangan Allah swt. maupun pandangan hamba-hamba-Nya yang lain. Salah satunya yang bisa dilakukan adalah dengan membahagiakan orang lain.

  • Diampuni Dosanya

Sama halnya dengan keutamaan dzikir pagi dalam islam, keutamaan membuat orang lain bahagia dalam islam yang lain adalah mendapatkan pengampunan dosa dari Allah swt. Hal ini terdapat dalam kitab Al ‘Athiyyatul Haniyyah yang berbunyi : “Barang siapa yang membahagiakan orang mukmin lain, Allah Ta’ala menciptakan 70.000 malaikat yang ditugaskan memintakan ampunan baginya sampai hari kiamat sebab ia telah membahagiakan orang lain.”

  • Berumur Panjang

Orang yang senantiasa membuat orang di sekitarnya bahagia tentunya memiliki tali silaturahmi yang erat pada sesamanya. Menjaga tali silaturahmi termasuk hal terpuji yang sangat dimuliakan oleh Allah swt. Bahkan dalam hadis dijelaskan bahwa orang yang senantiasa menyambung tali silaturahmi akan dikaruniai baginya umur yang panjang.

Baca Juga : Tumbuhkan Pahala Dengan Sedekah

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah yang berkata : “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Ya’qub Al-Kirmaaniy[1] : Telah menceritakan kepada kami Hassaan[2] : Telah menceritakan kepada kami Yunus[3] : Telah berkata Muhammad – ia adalah Az-Zuhriy[4] – , dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2067].

Selain itu anda juga harus memahami hukum memutuskan tali silahturahmi menurut islam serta hukum menyakiti hati orang lain dalam islam.

  • Diberi Kemudahan Hidup

Keutamaan orang membuat orang lain bahagia dan mengangkat kesulitan orang lain akan diberi kemudahan hidup dan senantiasa mendapat pertolongan dari Allah swt. Hal itu disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).”

  • Mendapatkan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Jika anda membuat orang lain bahagia tentu saja hal itu akan memberikan efek positif pada diri anda sendiri, salah satunya adalah ketenangan hati. Hati yang tenang akan melahirkan perilaku-perilaku terpuji yang tentunya bisa menganugerahkan anda kebahagiaan tak hanya di dunia saja tapi juga di akhirat.

  • Mendapat Pahala

Orang yang membuat orang lain bahagia tentunya akan mendapat pahala dari Allah swt. karena telah melakukan perbuatan terpuji kepada sesama. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa membuat orang lain bahagia merupakan akhlak terpuji yang dicintai oleh Allah swt.

  • Diringankan Beban Pikirannya

Memberikan kebahagiaan kepada orang lain bisa meringankan beban yang ada di pikiran anda. Hal itu dikarenakan oleh energi positif yang lahir dari hati saat menyenangkan orang lain akan ikut mempengaruhi pikiran anda sehingga beban yang ada di dalam pikiran anda akan menjadi lebih ringan dari sebelumnya.

Itulah 7 keutamaan membuat orang lain bahagia dalam islam yang perlu anda ketahui. Yuk bahagiakan anak-anak yatim dan dhuafa dengan berdonasi melalui link di bawah ini.

Pelanggaran-Pelanggaran Yang Dikenakan Kafarat

Donasiberkah.org – Setiap manusia pasti nya pernah melakukan dosa dan pelanggaran syariat. Dan sesungguhnya Allah menyukai para hambaNya yang gemar bertaubat. Namun tidak semua dosa bisa diselesaikan dengan istighfar saja, ada beberapa pelanggaran yang dikenakan kafarat. Karena taubat harus diiringi dengan kafarat.

Pelanggaran Apa Saja Yang Harus Diiringi Dengan Kafarat? 

Dalam al-Qamus al-Fiqhiy karya Sa’diy Abu Jayb menjelaskan makna kafarat adalah “Sesuatu yang dapat menutupi dari perbuatan dosa seperti bersedekah, berpuasa dan lain-lain”. Dan dalam bahasa Arab “kafarat” Artinya yang menutupi, menghapuskan atau yang membersihkan.

Sedangkan menurut istilah kifarat adalah denda yang harus dibayar karena telah melanggar suatu ketentuan syari’. Dengan tujuan menghapuskan, membersihkan atau menutupi dosa tersebut.

  • Membunuh seorang muslim secara tidak sengaja

Kesalahan ini selain harus membayar diyat (+ 3 miliar 357 juta), orang yang melakukan pembunuhan juga harus membayar kafarat yaitu dengan memerdekakan hamba sahaya. Bila ia tidak mampu, ia wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Ulama Syafi’iyah menambahkan, jika seorang yang melakukan pembunuhan itu sudah tua atau sangat lemah sehingga ia tidak kuat berpuasa, maka ia dapat menggantikannya dengan memberi makanan untuk 60 orang miskin masing-masing 1 mud (675 gr atau 3/4 liter) atau jika dinominalkan kurang lebih sebesar 2.400.000.

  • Orang yang sengaja melanggar sumpahnya

Seseorang yang melakukan sumpah palsu. Misalnya seseorang bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan datang lagi ke rumah si Fulan”. Kemudian hari ia mendatanginya, maka wajiblah ia menjalankan kafarat. Maka pelaku sumpah palsu ini harus membayar kafarat.

Contoh lain, seorang suami melakukan ‘ila (yaitu bersumpah tidak akan mencampuri istrinya). Setelah 4 bulan suami yang meng-‘ila istrinya harus memilih, kembali mencampuri istrinya dengan membayar kafarat sumpah atau menceraikan istrinya. Dan kafarat ini bersifat pilihan. Artinya, boleh dipilih sesuai dengan kemampuan bentuk kafaratnya sebagai berikut :

  1. Memberi makanan kepada sepuluh orang miskin masing-masing 1 mud (4 liter atau makanan dengan nominal 40 ribu).
  2. Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin.
  3. Memerdekakan budak, pilihan ini sangat sulit dilakukan, selain biaya menebus seorang budak sangatlah mahal juga perbudakan sekarang sudah tidak ada di sekitar kita secara umum.
  4. Yang terakhir, pelaku sumpah palsu kafaratnya adalah berpuasa selama tiga hari.
  • Tidak Mampu Memenuhi Nazar

Menurut beberapa ulama, nazar hukumnya adalah makruh. Karena pada dasarnya, nazar adalah tindakan berjanji melakukan sebuah kebaikan apabila mereka berhasil memenuhi suatu hal yang menjadi dasar janji tersebut. Sementara itu, kebaikan seharusnya tidak perlu dilakukan karena sebuah keinginan yang terpenuhi. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

Ada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernazar, beliau bersabda: ‘Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’.” (HR. Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)

Namun jika nazar sudah terucap, maka wajib ditunaikan. Allah menyebutkan di antara ciri penduduk surga adalah orang-orang yang menunaikan nazarnya (QS. Al-Mu’minun 23 ayat: 8).

Nazar atau janji adalah hutang kepada Allah dan menjadi janji yang wajib dipenuhi oleh seseorang. Bahkan jika pun seseorang yang memiliki nazar itu kemudian meninggal tanpa sempat menunaikan nazarnya, maka nazarnya wajib disempurnakan oleh wali atau pewarisnya. 

Baca Juga: Inilah Kriteria Harta Yang Wajib di Tunaikan Zakatnya

  • Men-zhihar (mengharamkan) istri

Yaitu seorang suami yang telah menyerupakan punggung istrinya dengan punggung ibunya sendiri (mengharamkan untuk digauli). Sehingga ia enggan untuk menggauli istrinya. Kafaratnya adalah dengan memerdekakan budak. Jika tidak menemukan budak, ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu maka ia harus memberi makan kepada 60 fakir miskin masing-masing sebanyak 1 mud.

Sebagaimana Allah berfirman : “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.”(QS. Al-Mujadilah : 3-4)

Baca Juga: Ayo Berzakat Untuk Penghafal Quran & Guru Ngaji

  • Berjima’(bersetubuh) dengan istri di siang hari di Bulan Ramadhan

Pasangan suami-istri yang melakukan hubungan suami istri pada siang hari di Bulan Ramadhan. Harus membatalkan puasanya, mengqadha puasa yang batal itu dan wajib membayar kifarat. Bentuk kafaratnya adalah kafarat ‘uzhma (kifarat besar), yaitu ia harus memerdekakan hamba sahaya perempuan yang beriman tak boleh yang lain. Sahaya itu juga harus bebas dari cacat yang mengganggu kinerjanya. Jika tidak mampu, ia harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, ia harus memberi makanan kepada 60 orang miskin, masing-masing sebanyak 1 mud. Sanksi kafarat ini hanya dikhususkan bagi suami yang merusak puasanya dengan jima’, sedangkan bagi istrinya, ia hanya wajib mengqadha puasa yang dibatalkan.

Yuk, Perbanyak Muhasabah Diri Sendiri 

Mari kita perbanyak perbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah atas dosa dan maksiat yang kita lakukan, baik disengaja atau yang tidak di sengaja. Dan alhamdulillah LAZNAS Griya yatim & Dhuafa menerima kafarat dari sahabat yang nantinya akan kami salurkan kepada orang-orang miskin. Sebagaimana ketentuan Allah dan RasulNya.

Yuk #Sahabat Dermawan Kunjungi dan Berbagi Kebaikan melalui link :

Kapankah Mengucapkan Jazakallah Khairan?

Kapankah Mengucapkan Jazakallah Khairan ?

Kapankah Mengucapkan Jazakallah Khairan?
                                    Kapankah Mengucapkan Jazakallah Khairan?

Donasiberkah.orgJazakallah khairan’, para sahabat dermawan Griya Yatim dan Dhuafa, yang telah memberikan sebagian rezekinya kepada adik-adik Yatim dan dhuafa. Dan semua itu dapat terlaksana atas izin Allah, sehingga cita-cita mulia ini untuk memakmurkan para yatim & dhuafa dapat terlaksana. Allah Maha Baik yang telah mengirimkan orang-orang baik seperti sahabat dermawan. Dan sekali lagi maki ucapkan “Jazakallah khairan”. Dan tentunya para sahabat pun bertanya kenapa harus mengucapkan kalimat ini. Maka inilah artikel tentang kapan mengucapkan jazakallah khoiron. 

Baca Juga : Jumat Berkah, Yuk  Memberi Kebaikan Bagi Sesama

Kapan Kita Mengucapkan Jazakallah Khairan?

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan umat Islam untuk selalu berbuat kebaikan. Dan seseorang akan mengucapkan ‘Jazakallah Khairan’ ketika mendapat kebaikan yang biasa diucapkan seseorang ketika menerima kebaikan dari orang lain. Dan hal ini juga termasuk salah satu tanda bersyukur manusia kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak bersyukur kepada Allah seorang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR. Abu Daud)

Kapankah Mengucapkan Jazakallah Khairan?
Kapankah Mengucapkan Jazakallah                                      Khairan?

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang diperlakukan baik, lalu ia mengatakan kepada pelakunya, ‘Jazakallahu khairan. (artinya :Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Maka sungguh ia telah sangat menyanjung nya.” (HR.Tirmidzi no.2035 & An-Nasai no.180, Ath-Thabrani no.148)

Lantas apa balasan dari ucapan ‘Jazakallahu Khairan’? Tidak ada riwayat yang menjelaskan jawaban ‘Jazakallah Khairan’. Tetapi, beberapa ulama mengatakan untuk menjawab “Wa Jazakallahu khairan” Artinya: Dan semoga Allah membalas juga dengan kebaikan. Selain itu ada juga yang mengatakan dengan jawaban ‘Jazakallah Khairan’ adalah mengucapkan ‘Waiyyaka’ (untuk laki-laki), ‘Wa Iyyaki’ (untuk perempuan), dan ‘Waiyyakum’ (jamak) ‘dan kepadamu/kalian juga”. 

Baca Juga : Kenikmatan Memberi Sedekah 

Yuk, Jangan Lupa Untuk Selalu Bersyukur

Dan untuk adik-adik asrama Griya Yatim dan Dhuafa. Jangan lupa doakan kami juga yah sahabat, semoga kami tumbuh dewasa menjadi muslim-muslimah yang baik seperti sahabat dermawan. agar kelak kami juga bisa menjadi Sahabat Dermawan yang selalu memakmurkan adik-adik Yatim dan Dhuafa di masa depan. 

Dan bagi sahabat dermawan, yang ingin mendonasikan sebagian hartanya. Untuk berbagi kebahagiaan bersama para yatim & dhuafa bisa melalui link gambar di bawah ini !

Donasi Sekarang Griya yatim
              Donasi Sekarang Griya yatim
Bagaimana Cara Memaksimalkan Wakaf ?

Bagaimana Cara Memaksimalkan Wakaf ? 

Bagaimana Cara Memaksimalkan Wakaf ?
                                      Bagaimana Cara Memaksimalkan Wakaf 

Donasiberkah.org – Sahabat dermawan, wakaf merupakan bagian dari ibadah maliyah dalam agama Islam. Dimana tujuan wakaf, sama halnya dengan zakat, infak, dan sedekah dalam upaya mendorong kesejahteraan masyarakat. Zaman dahulu, pandangan mengenai wakaf identik dengan aset yang berbentuk tanah, yang selanjutnya dijadikan sarana ibadah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan, dan lain-lain. Maka inilah artikel yang membahas tentang bagaimana cara memaksimalkan wakaf. 

Baca Juga : Berwakaf Semudah Belanja Online

Bagaimanakah Caranya ? 

Pemikiran yang menganggap bahwa wakaf hanya dimanfaatkan untuk pembangunan masjid, mushala, madrasah, pondok pesantren, pemakaman, dan lain-lain. Merupakan pemikiran yang tentunya tidaklah salah. Akan tetapi jika merujuk kepada perkembangan teknologi informasi seperti saat ini. Maka ada banyak sekali potensi-potensi wakaf yang dapat dikembangkan selain dari aset yang berbentuk tanah. 

Secara dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh yang berdoa baginya.” (HR. Muslim)

Baca Juga : Alirkan Pahala Dengan Wakaf Al-quran

Dengan ini wakaf dinilai sebagai sebuah amalan jariyah, yaitu amalan yang tidak akan terputus pahalanya walaupun orang yang berwakaf (mawaqif) telah meninggal dunia. Dari hadits diatas sesungguhnya masih terbatas pada makna kata saja. Akan tetapi secara praktik kesadaran masyarakat untuk berwakaf masih belum dapat dioptimalkan. 

Beberapa Penyebab Orang Enggan Untuk Wakaf 

  1. Pertama, tingkat kesadaran masyarakat masih minim, seiring dengan minimnya literasi tentang wakaf itu sendiri. Faktor ini secara tidak langsung berkontribusi terhadap masih rendahnya wakaf (wakaf uang) yang terkumpul. Data BWI per 20 Januari 2021, menyebutkan bahwa wakaf uang yang terkumpul baru Rp. 819,36 miliar dari potensi Rp. 180 triliun setiap tahunnya.
  2. Kedua, rendahnya minat untuk melakukan penelitian dengan tema wakaf. Sehingga wakaf masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Seorang peneliti menjelaskan bahwa sepanjang 15 tahun terakhir hampir tidak ada penelitian dengan tema wakaf yang diindeks scopus. 
  3. Ketiga, pengelolaan wakaf masih belum terintegrasi dengan baik. Sehingga mengelola tanah wakaf masih secara parsial. Dan masih dikelola secara tradisional. Disamping itu permasalahan lain pun muncul, yaitu masih banyaknya aset wakaf yang belum tersertifikasi. 
Bagaimana Cara Memaksimalkan Wakaf ?
    Bagaimana Cara Memaksimalkan Wakaf 

Upaya Meningkatkan Produktivitas Wakaf 

Cara untuk meningkatkan produktivitas wakaf, maka MUI mendorong masyarakat untuk berwakaf dengan dikeluarkannya fatwa wakaf uang. Dimana fatwa itu menyebutkan tentang kebolehan berwakaf dengan uang, termasuk didalamnya surat-surat berharga lainya. 

Dengan kemunculan fatwa wakaf uang ini, seolah menjadi pendorong baru bagi masyarakat untuk pemberdayaan wakaf agar lebih produktif. Ditambah dengan terus dipromosikannya wakaf melalui platform-platform yang mudah diakses oleh generasi milenial. Seperti berwakaf melalui web, aplikasi, dan lain-lain sehingga para wakif menjadi mudah untuk berwakaf dalam nominal yang kecil. 

Baca Juga : Kumpulkan Keberkahan Dengan Wakaf Peralatan Klinik 

Menggali Potensi Wakaf Supaya Lebih Produktif 

Untuk menggali potensi wakaf di masyarakat, maka harus menguatkan wakaf dengan cara kelembagaan. Hal ini penting dilakukan karena di beberapa daerah peran lembaga masih terbatas pada pendataan wakaf-wakaf yang telah tersertifikasi. Sementara itu, aset wakaf yang belum tersertifikasi masih belum terdata secara rapi. Sehingga,  pemberdayaannya pun belum dapat secara optimal dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ditambah bentuk promosi wakaf masih belum seintensif promosi ZIS. 

Jika hal ini bisa diakomodir melalui komunikasi yang intensif sehingga problem pengelola wakaf dapat diatasi. Artinya, pengelolaan wakaf dapat dilakukan lebih baik lagi, bahkan sangat dimungkinkan untuk terus berkembang. 

Baca Juga : Mari Berwakaf Untuk Pembangunan Ponpes Yatim Dhuafa

Yuk, Raih Surgamu Dengan Berwakaf

Yuk Sahabat dermawan, bersama Laznas Griya Yatim & Dhuafa (GYD), kita saling berbagi kebahagiaan untuk membantu mereka yang membutuhkan dengan memberikan wakaf terbaik yang dapat kita berikan. Semoga setiap bantuan Sahabat, dapat menjadi amal shalih terbaik yang kelak dapat menyelamatkan dari panasnya matahari di hari kiamat. Mari tunaikan wakaf mu melalui link dibawah ini !

Donasi Sekarang Griya yatim
            Donasi Sekarang Griya yatim

Efek Sedekah Bagi Psikologi Seseorang

Efek Sedekah Bagi Psikologi Seseorang 

Efek Sedekah Bagi Psikologi Seseorang
                                       Efek Sedekah Bagi Psikologi Seseorang

Donasiberkah.org – Sahabat dermawan, ketika kita bersedekah atau memberikan sesuatu kepada seseorang. Secara psikologis kita telah mengaktifkan bagian otak yang terkait dengan kesenangan, yaitu hubungan sosial dan kepercayaan. Di bagian otak tersebut, akan tercipta “efek hangat”. Sehingga sedekah dapat mempengaruhi psikologi seseorang. Maka inilah artikel tentang efek sedekah bagi psikologi seseorang. 

Baca Juga : Sedekah Dulu Bahagia Kemudian

Mengapa Sedekah Mempengaruhi Psikologi ? 

Para ilmuwan juga percaya bahwa “perilaku memberi dapat memicu terlepasnya endorfin di otak yang efeknya akan menimbulkan perasaan positif.”

Tristen Inagaki dari University of Pittsburgh dan Naomi Eisenberger dari University of California dalam studi mereka yang berjudul “The Neurobiology of Giving Versus Receiving Support: The Role of Stress-Related and Social Reward-Related Neural activity.” Menjelaskan tentang FMRI (Fungsional Magnetic Resonance Imaging) untuk memonitor kinerja saraf saat seseorang memberi dan menerima. Ternyata, otak lebih memancarkan citra positif saat memberi.

Efek Sedekah Bagi Psikologi Seseorang
    Efek Sedekah Bagi Psikologi Seseorang

Dengan ini kegiatan berbagi atau memberi akan menyebar layaknya efek domino. Berdasarkan penelitian, kebaikan kecil terkadang membawa efek besar dan menyebar sepeti virus. Dan orang yang menerima kebaikan atau bahkan hanya melihat aksi kebaikan, akan terinspirasi untuk melakukan hal yang baik juga. Meskipun ukurannya tidak sama, tapi yang pasti akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan juga.

Baca Juga : Sedekah Apakah Yang Utama 

Dan kabar baiknya, dalam Islam seorang yang mencontohkan kebaikan lalu diikuti oleh seorang, maka tanpa disadari hal ini menjadi ladang pahala.

Dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, berkata bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no.1893)

Baca Juga : Jangan Merasa Malu Untuk Bersedekah Walaupun Sedikit

Yuk, Perbaiki Hidup Dengan Sedekah

Sahabat dermawan, mari kita aktifkan otak kita untuk membiasakan berbagi. Agar kebiasaan terbentuk dan menjadi habit yang baik bagi kita. Salah satunya berbagi kebahagiaan bersama para anak yatim & dhuafa. Yuk berdonasi melalui link gambar dibawah ini !

Donasi Sekarang Griya yatim
             Donasi Sekarang Griya yatim
Sedekah Dulu, Bahagia Kemudian

Sedekah Dulu Bahagia Kemudian

Sedekah Dulu, Bahagia Kemudian
                                            Sedekah Dulu, Bahagia Kemudian

Donasiberkah.org – Sahabat dermawan, sedekah adalah sumber kebaikan yang menghubungkan kemanusiaan dengan rasa empati, kasih sayang, dan persaudaraan. Dimana memberi adalah sumber kebahagiaan, dan seorang Muslim merasa bahagia jika dapat membahagiakan orang lain dengan apa yang ada pada dirinya. Yuk sedekah dulu bahagia kemudian. 

Baca Juga : Kenikmatan Memberi Sedekah 

Dengan bersedekah, maka akan mendatangkan banyak rezeki bagi siapa saja yang rajin untuk bersedekah. Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan banyak keajaiban sedekah untuk umat muslim yang melakukannya. Sedekah memiliki makna amal yang muncul dari hati yang penuh dengan iman yang benar, niat yang shahih dan bertujuan untuk mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Kenapa Sedekah Dulu Baru Bahagia ? 

Kebaikan bersedekah sangat luar biasa dampaknya. Karena dengan sedekah, banyak orang yang akan menerima manfaatnya dan juga pada orang yang memberikannya. Maka dari itu orang yang mampu memberikan kebaikan kepada orang lain tentu mendapatkan kebahagiaan bukan. Karena orang yang bersedekah akan mendapatkan kesempatan untuk masuk kedalam surga, yang luasnya seluas langit dan bumi. 

Baca Juga : Sedekah Apakah Yang Utama 

Allah berfirman : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran : 133)

Sedekah Dulu, Bahagia Kemudian
           Sedekah Dulu, Bahagia Kemudian

Sehingga suatu kebahagiaan tersendiri bagi orang yang bersedekah, saat melihat orang-orang yang telah dibantunya tersenyum bahagia. Ditambah bersedekah juga akan menenangkan jiwa.

Baca Juga : Inilah Macam-macam Sedekah Serta Keutamaanya

“Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : ”Siapakah manusia yang paling baik?”, Rasulullah hanya menjawab, ”Orang yang sanggup memberi manfaat kepada sesamanya! ”Selanjutnya Rasulullah ditanya, ”Amal apa yang paling utama?” Rasulullah menjawab, ”Memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman.” (HR. Thabrani). 

Allah berfirman : “Dan kebaikan apa saja yang engkau perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil : 20)

Baca Juga : Kenikmatan Memberi Sedekah 

Yuk Berbagi Kebahagiaan

Sahabat, mari sisihkan sebagian harta yang kita miliki untuk bersedekah, tebarkan kebahagiaan demi hidup yang bahagia. Insya Allah sedekah yang dikeluaarkan menjadi bekal untuk kita di akhirat kelak. Aamiin. Tunggu apa lagi? Sedekah aja dulu, biar bahagia kemudian, yuk sedekah melalui link di bawah ini !

Donasi Sekarang Griya yatim
             Donasi Sekarang Griya yatim
English EN Indonesian ID