News

Ali bin Abi Thalib Dermawan Dalam Kekurangan

Ali bin Abi Thalib  bukan hanya mulia karena berasal dari keluarga Rasulullah SAW. Ali bin Abi Thalib yang merupakan putra dari paman Nabi juga merupakan suami dari Fatimah Az Zahra, putri Nabi. Selain itu, ‘Ali bin Abi Thalib adalah salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, beliau salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin surga oleh Allah ta’ala. Maka mari simak kisah Ali bin Abi Thalib Dermawan Dalam Kekurangan.

Salah satu sifat istimewa dalam diri Ali bin abi Thalib adalah kedermawanannya. Sejak muda, ia senantiasa bersedekah untuk kemurnian dan kebangkitan Islam, rela mengorbankan jiwa dan hartanya, rela berlelah-lelah dan berpayah-payah guna merengkuh indahnya Surga, yang belum pernah dilihat dengan mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit sedikit pun dalam sanubari.

Ali bin Abi Thalib Dermawan Dalam Kekurangan

Dikisahkan, awal menjelang Ashar, Ali bin Abi Thalib pulang kerumah, istrinya Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya. Sesudah melepas lelah, ‘Ali berkata kepada Fatimah. “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun.” Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.” “Terima kasih,” jawab Ali. Matanya memberat lantaran isterinya begitu tawakkal ‘Ali lalu berangkat ke Masjid untuk menjalankan shalat berjamaah. Sepulang dari Masjid, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?” Ali menjawab dengan keheranan. “Ya betul. Ada apa, Tuan?”. Orang tua itu mencari sesuatu didalam tasnya seraya berkata: “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.” Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Baca Juga : Kisah Sahabat Abdurrahman Bin Auf

Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka, ketika Ali menceritakan kejadian itu, ia menyuruh membelanjakannya untuk keperluan sehari-hari

Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya karena Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.”Tanpa berpikir panjang,’Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.

Pada waktu ia pulang, Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.

Fatimah,masih dalam senyum,berkata, “Keputusan engkau adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya.

Ketika Ali bin Abi Tholib  ditanya tentang sifat dermawan, ia menjawab: ”Sifat dermawan adalah seseorang yang mensedekahkan hartanya sejak awal dari niatnya. Jika dia memberikannya setelah diminta, maka kemungkinan besar ia memberikan harta tadi karena malu (dianggap pelit) atau karena dia memang berhati mulia.” (Taariikh Al-Khulafaa’ hal.17).

 

Semoga kisah mulia Ali bin Abi Thalib Dermawan Dalam Kekurangan ini, bisa kita petik hikmahnya yakni gemar bersedekah, tawakkal,dan yakin dengan janji Allah Subhanahu wata’ala

Share it on