Griya Yatim & Dhuafa

English EN Indonesian ID

Apa Penyebab Hidup Terasa Sempit

Griya Yatim Dhuafa
Apa Penyebab Hidup Terasa Sempit
                                             Apa Penyebab Hidup Terasa Sempit

Donasiberkah.orgSahabat dermawan, mengapa ada orang yang mengalami stress bahkan ada yang sampai depresi. Tidak sedikit pula dari mereka yang gila hingga berujung bunuh diri. Sebenarnya apa sih masalah yang mereka hadapai? Sampai begitu beratnya dan mengganggu kejiwaan. Inilah artikel tentang penyebab hidup terasa sempit, yuk simak artikel berikut ini!

Baca Juga : Sifat Kikir & Akhlak Jelek Yang Harus Dihindari

Meskipun sebenarnya kita juga tahu bahwa setiap masalah memiliki bobot masing- masing yang tidak selalu sama. Seperti masalah ekonomi, utang piutang, konflik suami istri, urusan pekerjaan, hingga masalah hukum dan lain-lain.

Apa yang mempengaruhi hidup kita, hingga hati terasa sempit?

Semua itu bisa terjadi di dalam kehidupan kita. Yang dimana kondisi semua terasa serba sulit, rezeki terasa sempit, kebahagian yang diinginkan tidak terwujud. Bahkan seseorang menghujat dan mencela takdir kehidupan yang tengah kita jalani. Seakan-akan Allah tidak adil dalam kehidupan ini.

Hal inilah yang membuat kehidupan kita terasa sempit, tak ada gairah, energi dan motivasi untuk melakukan banyak hal. Rasanya sumpek, dan membosankan. Hidup menjadi tidak enak, tidak ada bekas perbaikan diri, dan kualitas keimanan yang tak kunjung membaik dan meningkat. Hidup begitu-begitu saja, dan dunia seolah enggan untuk menyapa.

Begitu pula halnya dengan amalan-amalan kebaikan menjadi sulit dilakukan. Jangankan yang sunnah, untuk yang fardu pun hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Semua kondisi ini sebenarnya telah Nabi sampaikan dalam haditsnya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Setiap amalan ada waktu semangat dan setiap masa semangat ada putusnya. Barang siapa yang masa putusnya itu kepada sunnahku maka telah mendapatkan petunjuk dan siapa yang masa putus (lemah) nya pada selainnya maka telah binasa.” (HR. Ibnu abi ‘Ashim & Ibnu Hibban).

Dalam hadits lain: Rasulullah Shalulahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bangun di pagi hari namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan 4 (empat) penyakit dalam dirinya: Kebingungan, yang tiada putusnya, Kesibukan, yang tidak ada ujungnya, Kebutuhan, yang tidak terpenuhi, dan Keinginan yang tidak tercapai.” (HR. Ath-Thabrani).

Ketika kita dihadapkan dengan kesibukan yang tiada henti. Semakin dikerjakan semakin tidak selesai, seakan-akan Allah terus membuat kita tak pernah punya waktu luang. Maka dari itu kita harus berhati-hati, jangan sampai ada hak Allah yang belum di tunaikan. Atau bahkan selalu bingung dalam menghadapi masalah. Yang tadinya hanya keinginan seolah-olah menjadi kebutuhan, dan terus menerus diperbudak hawa nafsu untuk memenuhi setiap keinginan. Karena bisa jadi semua itu timbul karena bentuk teguran Allah kepada kita yang melalaikan hak-haknya.

Bahwa Akan ada Sifat Malas Pada Diri Manusia

Sesungguhnya sudah menjadi sunnatullah bahwa kita akan bertemu pada titik malas beramal, enggan beribadah. Hanya saja bagi seorang mukmin masalah ini harus segera menyadari dan diatasi jangan sampai dinikmati atau bahkan membuat kita terlena. Pada kondisi ini sebenarnya ada penyebab yang membuat kita kurang semangat (futur) yaitu berasal dari maksiat kecil yang tidak terasa atau bahkan kita anggap tidak sederhana. Maka kita harus segera kembali dan bertaubat pada Allah, berlindung dari segala maksiat, baik kecil maupun besar.

Allah berfirman : Dan barangsiapa berpaling dari peringatanku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha : 124)

Dalam ayat diatas Allah telah menjelaskan dan memperingatkan kepada bahwa ada yang salah antara hubungan kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga  kehidupan kita dipenuhi banyak masalah dan kita merasa buntu untuk menyelesaikannya. Maka dari itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehingga hidup kita mendapatkan pencerahan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Dosa dan maksiat

Diibaratkan seperti sebuah titik noda yang menempel pada hati seseorang. Apabila ia melakukan dosa maka titik itu akan menempel pada hatinya. Apabila tidak segera beristighfar dan bertaubat, maka titik noda itu aka terus menerus melekat padanya. Semakin banyak titik itu memenuhi hatinya maka akan semakin sempit ruang kebaikan di hatinya. Baik dosa kecil ataupun besar semua itu bisa mempengaruhi hati seseorang.

Sebagaimana Allah berfirman : “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin :14).

Hal ini juga diperkuat dengan hadits Rasulullah : Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. at Tirmidzi)

Mengonsumsi Barang yang Haram

Terdapat sebuah kisah dari salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Sa’ad bin Abi Waqash, beliau pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, doakan saya kepada Allah agar doa saya terkabul.” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu, maka doamu akan terkabulkan.” (HR. At-Thabrani).

Apa Penyebab Hidup Terasa Sempit
Apa Penyebab Hidup Terasa Sempit

Bahwasanya rasul telah mengajarkan kepada umatnya, untuk selalu menjaga apa yang dimakannya. Karena bisa mempengaruhi terkabulnya sebuah doa. Maksud dari menjaga makanan adalah bukan hanya dari segi kesehatan namun harus terjaga dari kehalalnya. Hal ini pun diperkuat dengan hadits Nabi :

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : ”Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, mukanya berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan, “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Padahal makanannya haram dan mulutnya disumpal dengan yang haram, maka bagaimanakah akan diterima doa itu?” (HR. Muslim).

Amalan Kemusyrikan

Kemusyrikan adalah pelecehan terbesar terhadap kekuasaan dan keesaan Allah Swt. Terdapat kisah antara orangtua dan anaknya yang diabadikan dalam Alquran. Salah satunya adalah saat Luqman memberikan nasihat kepada anaknya.

Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Perbuatan musyrik sendiri terdapat dalam berbagai macam bentuk. Ada yang musyrik dengan mengagungkan batu, gunung, patung, jimat, pohon, kepala kerbau, bunga-bunga, kuburan, dan benda-benda mati atau hewan-hewan tertentu. Beberapa di antara orang yang musyrik tersebut juga ada yang masih percaya Allah Swt. Namun, mereka juga meyakini adanya kekuatan lain yang bisa melindungi mereka bahkan memberikan rezeki. Hingga akhirnya membuat mereka ketergantungan terhadap sesuatu tersebut.

Kemusyrikan inilah yang membuat hati seseorang menjadi sempit karena takut tidak pada tempatnya. Dan membuat hatinya jauh dari Allah Swt. Sebaliknya, orang yang selalu mengesakan Allah dan menjauhi kemusyrikan akan selalu mendapatkan ketenangan hati.

Allah berfirman : “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82).

Rasa Dendam dan Dengki

Dendam dan dengki merupakan dua hal buruk yang seringkali menghinggapi seseorang meski hanya sedikit. Padahal, meski sedikit, keduanya merupakan penyakit yang bisa menggerogoti hati seseorang. Karena hati yang sempit inilah nantinya tidak akan bisa melihat dan menerima hidayah dan petunjuk serta nikmat Allah yang diberikan untuk orang lain.

Rasulullah saw bersabda : “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu) kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut, melainkan mencukur agama.” (HR. Tirmidzi).

Sehingga kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan pun juga akan bisa diperburuk dengan adanya rasa dengki. Dalam riwayat lain disebutkan pula Rasulullah Saw bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (HR. Bukhari).

Sikap Munafik

Orang-orang munafik adalah kaum pengecut. Karena mereka akan selalu mencari celah dan membuat aman posisi diri mereka sendiri. Namun, bisa dengan tega mereka bisa membuat orang lain celaka karena perkataan atau perbuatan dari si orang munafik tersebut.

Rasulullah Saw bersabda : “Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati.” (HR. Bukhari).

Tercatat dalam sejarah bahwa ada sebuah sebuah kisah dari Rasulullah saat terjadinya perang Uhud. Saat itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan kaum muslimin menyongsong musuh di luar Madinah. Hingga sampailah mereka pada sebuah tempat bernama as-Syauth. Dan diantara pasukanya ada seorang tokoh munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul, diikuti oleh 300 orang munafik lainnya memilih untuk kembali dan tidak berperang. Karena mereka beralasan dengan berkata bahwa perang tidak akan terjadi. Pembelotan ini terjadi sebagai bentuk protes kepada Rasulullah yang memilih untuk menyambut kedatangan musuh di luar Madinah. Begitu pengecutnya mereka. Berdalih dengan berbagai alasan demi mengamankan diri mereka sendiri

Sebagaimana tercatat dalam Al-quran : “Ketika dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. (QS. Ali Imron: 122)

Baca Juga : Inilah Akhlak Seorang Muslim

Yuk kembali kepada sang pencipta dan pengatur

Setelah kita mengetahui berbagai macam masalah yang sering kita hadapi dalam kehidupan ini. Maka dari itu hanya ada satu cara untuk mengembalikan hati yang sempit menjadi lapang dan tenang. Kita harus memaksa diri yang lemah ini untuk kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan yang lain, bukah harta, tahta, anak , atau pun istri. Mulai  kembalikan semua urusan, masalah, dan keinginan kepada Allah dan menyebut asma nya. Berharap rahmat kasih sayangnya.

Yuk, sahabat kita bantu mereka para yatim & dhuafa yang membutuhkan, dengan cara klik gambar bibawah ini:

Donasi Sekarang Griya yatim
          Donasi Sekarang Griya yatim
89 views
English EN Indonesian ID