Griya Yatim & Dhuafa

Bantu Pahlawan Keluarga Untuk Memenuhi Kebutuhan

Donasiberkah – Kak, di situasi pandemi ini, banyak masyarakat yang resah dengan kehadirannya virus ini. Bagaimana tidak, kehadirannya membuat ekonomi makin memburuk, tidak terkecuali mereka para pahlawan keluarga. Meski di tengah kondisi pandemi seperti ini, mereka para pejuang keluarga harus rela berjuang demi menghidupi keluarganya. Tidak banyak yang mereka harapkan, hanya untuk menafkahi kehidupannya sehari-hari. Inilah artikel tentang bantu pahlawan keluarga untuk memenuhi kebutuhan. Yuk, kita simak.

Perekonomian Semakin Sulit

Kak, salah satunya seperti yang dialami oleh Ibu Tati (70 thn). Di tengah serba kekurangan, ditambah lagi munculnya virus corona ini membuat kehidupan Ibu Tati sangatlah prihatin, akan tetapi Ibu Tati pantang menyerah untuk mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan cucunya (Erik). yang kini tinggal bersamanya yang kini tidak lagi memiliki orang tua.

Kini, Erik tinggal bersama neneknya, Ibu Tati (70 th) di sebuah kontrakan di Cilejet, Bogor – Jawa Barat berukuran 5×3 meter berdinding lusuh, tempat MCK dan dapur yang kumuh, serta jendela yang hampir roboh. Bahkan sudah 5 bulan nenek Tati menunggak bayar kontrakan.

Baca Juga : Bantuan Bina Lansia Griya Yatim & Dhuafa

Aku tidak pernah melihat wajah Ayah, aku kangen, apalagi kalau liat temen-temen lagi sama ayahnya”-Erik. Erik, sudah menjadi yatim saat usia masih bayi (9 bulan). Ayahnya meninggal dunia karena kecelakaan. Perasaan sedih Erik sedikit terobati karena masih ada curahan kasih sayang dari Ibunya, tetapi tidak berlangsung lama.

Bantu Pahlawan Keluarga Untuk Memenuhi Kebutuhan
               Bantu Pahlawan Keluarga Untuk Memenuhi Kebutuhan

Perasaan sedih hadir kembali dan semakin besar, karena di usianya yang ke-5, Erik kehilangan sosok yang paling ia cintai yaitu sang Ibu yang meninggal dunia karena sakit. “Sedih kehilangan Ibu, aku rindu sama Ibu. Jika Ibu ada disini, aku ingin memeluknya, ujarnya lirih-Erik. “Umur Erik sekarang 12 tahun, Erik pengen terus sekolah, meski sulit menuhin kebutuhan sekolah Erik, karena buat sehari-hari saja sudah susah, tapi saya harus terus berusaha” – Nenek Tati.

Baca Juga : Bantuan sembako yatim dan lansia Di Pelosok Cilejet

Neneknya kini menjadi tulang punggung Erik, neneknya setiap hari jalan menyusuri kampung untuk berjualan gorengan, dengan pendapatan rata-rata 35 ribu perhari, itupun bila dagangannya habis terjual. Saat berjualan seringkali nenek merasa kesakitan karena kondisi kesehatannya mulai melemah dan fisiknya pun tidak sekuat masa muda.

Nenek harus tetap berjualan, kalau nenek tidak jualan, kami makan apa. Selama puluhan tahun, Ibu Tati menggantungkan hidupnya dengan berjualan gorengan. “Kalo makan seadanya, kadang cuma nasi sama garem, kadang saos.” Kata Erik.

Baca Juga : Bantuan Sembako Untuk Pengayuh Becak Solo

Yuk Sama-sama Bantu Saudara Kita

Sahabat, yuk sama-sama kita bantu Nenek Tati untuk bisa menyekolahkan Erik, cucu yatim piatunya untuk bisa terus sekolah dan melanjutkan hidup dengan cara Klik

English EN Indonesian ID
Scroll to Top