Griya Yatim & Dhuafa

Bermanfaat Bagi Orang Lain

Manusia adalah makhluk sosial. Dengan artian manusia tidak bisa hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya. Eksistensi seorang manusia sebenarnya ditentukan oleh kebermanfaatannya terhadap orang lain. Apakah diri kita telah bermanfaat bagi orang lain? atau malah sebaliknya, kita malah menjadi benalu bagi orang lain.

Setiap perbuatan yang kita lakukan, pasti akan kembali kepada diri kita. Jadi setiap kita berbuat baik dan memberi manfaat untuk orang lain, maka kita juga telah berbuat baik dan bermanfaat bagi diri sendiri. Begitu pula jika kita berbuat kejahatan dan keburukan, pasti akan berdampak pada diri kita sendiri nantinya.

Allah berfirman : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…” (QS. Al-Isra : 7).

Bermanfaat tentunya memiliki artian yang luas. Kita mesti bermanfaat bagi orang lain, setidaknya dalam bidang yang kita kuasai. Kata manfaat ini memiliki makna apapun, seperti ilmu, harta benda, tenaga, hingga sifat yang baik. Sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk memiliki pribadi yang bermanfaat.

Kisah Abu Hurairah ra

Sahabat dermawan, suatu hari, sepeninggal Rasulullah, Abu Hurairah ra beri’tikaf di masjid Nabawi. Ia tertarik ketika mengetahui ada seseorang di masjid yang sama, duduk bersedih di pojok masjid. Abu Hurairah pun menghampirinya. Menanyakan ada apa gerangan hingga ia tampak bersedih.

 Setelah mengetahui masalah yang menimpa orang itu, Abu Hurairah pun segera menawarkan bantuan. “Mari keluar bersamaku wahai saudara, aku akan memenuhi keperluanmu,” ajak Abu Hurairah. “Apakah kau akan meninggalkan i’tikaf demi menolongku?” tanya orang tersebut terkejut. ”Ya, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda : ‘Sungguh berjalannya seseorang diantara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan.’”

Bermanfaat Bagi Orang Lain

 

Muslim adalah pribadi yang bermanfaat

Sebagaimana Abu Hurairah, seorang muslim seharusnya juga memiliki keterpanggilan untuk menolong saudaranya, memiliki jiwa dan semangat memberi manfaat kepada sesama. Kebaikan seseorang, salah satu indikatornya adalah kemanfaatannya bagi orang lain. Keterpanggilan nuraninya untuk berkontribusi menyelesaikan problem orang lain.

Bahkan manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad).

Seorang muslim, setelah ia membingkai kehidupannya dengan misi ibadah kepada Allah semata, sebagaimana petunjuk Allah dalam surat Adz Dzariyat ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Maka orientasi hidupnya adalah memberikan manfaat kepada orang lain dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.

Baca Juga : Jangan Berhenti Berbuat Baik

Ikhlas dalam kebaikan

Tantangan terbesar untuk menjadi pribadi yang bermanfaat adalah hati yang ikhlas. Setiap kebaikan memang harus dibarengi dengan keikhlasan. Namun, hati yang ikhlas itu bukanlah persoalan yang mudah. Belum tentu hati kita benar-benar ikhlas ketika kita berbuat kebaikan, sebab hanya Allah yang benar-benar mengetahui isi dalam hati kita.

Oleh karena itu, persoalan ikhlas tidak perlu dijadikan alasan untuk menunda-nunda kebaikan. Cukup Allah yang menilai keikhlasan dalam hati kita. Pola pikir yang mendahulukan ikhlas sebelum beramal harus kita ubah. Sebab kita tidak tahu kapan hati kita akan ikhlas. Tapi jika kita beramal terlebih dahulu, hati kita akan terbiasa untuk ikhlas.

Sahabat dermawan, ayo jadikan diri kita pribadi yang bermanfaat bagi orang lain dengan memperbanyak sedekah. Semoga setiap kebaikan sahabat diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin… 

 

English EN Indonesian ID
Scroll to Top