Griya Yatim & Dhuafa

English EN Indonesian ID

Kisah di Qishasnya Nabi ﷺ oleh ‘Ukasyah r.a.

Griya Yatim Dhuafa

 

Donasiberkah.id – Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya adzan. Memanggil manusia untuk sholat berjama’ah. Maka berkumpulah kaum Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah .

 

Setelah selesai shalat dua raka’at yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kemudian beliau membacakan khutbahnya yang sangat berkesan, yang membuat hati para  terharu dan menangis mencucurkan air mata.

Raudhah, Taman Surga yang Ada di Masjid Nabawi - MOESLIM.ID

Beliau berkata antara lain :

”Sesungguhnya aku ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan bapak yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishash kepadaku sebelum ia melakukannya di hari Kiamat nanti”.

Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan pada ketiga kalinya barulah berdiri seorang laki-laki bernama ‘Ukasyah Ibnu Muhsin’.

 

Ia berdiri di hadapan Nabi sambil berkata :

“Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasulullah. Kalau bukan karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenalkannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga unta ku berdampingan sekali dengan unta mu, maka aku pun turun dari atas unta ku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul lambung-sampingku, aku tidak tahu apakah itu dilakukan engkau dengan sengaja atau tidak, ya Rasulullah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak melecut untamu sendiri ?”.

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah, ”Supaya Fatimah memberikan kepadaku cambukku ” kata beliau.

Baca Juga: Kisah Uwais Al-Qarni, Pemuda yang Viral di Langit

Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkannya di atas kepalanya. Ia heran dan tak habis pikir, “Inilah Rasulullah memberikan kesempatan mengambil qishas terhadap dirinya!”.

Napak Tilas Rumah Nabi Muhammad SAW Sebelum Menjadi Masjid Nabawi | Rumah123.com

Diketuknya pintu rumah Fatimah, lalu menyahut dari dalam : “Siapakah diluar?”, “Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasulullah”. jawab Bilal.

 

”Duhai Bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?”. Tanya Fatimah kepada Bilal.

“Ya Fatimah ! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya”. Bilal menegaskan.

“Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati hendak mengqishas Rasulullah?”. Tukas Fatimah keheranan. “Biarlah hamba saja yang menjadi ganti untuk dicambuk”.

Kisah Nabi Ayub Cambuk Istrinya 100 Kali - Islampos

Namun Bilal pun pergi sambil mengambil cambuk itu dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan ‘Ukasyah.

 

Suasana mulai tegang. Semua sahabat bergerak. Semua berdiri. Jangankan dicambuk, dicolek saja, ia akan berhadapan dengan kami. Mungkin begitu mereka bicara dalam hati. Semua mata melotot memandang Ukasyah dan sebilah cambuk.

Daftar Lima Sahabat Nabi yang Super Tajir! : Okezone Muslim

Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, “Hai ‘Ukasyah ! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qisas-lah kami berdua, dan jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah !”.

 

Mungkin saat itu Umar pun meraba pedangnya. Seandainya saja, diizinkan akan aku penggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah.

 

Rasulullah menahan dua sahabatnya itu. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini : “Duhai sahabatku, Duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!”.

 

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Thalib sambil berkata. Kali ini lebih garang dari sahabat Abu Bakar : ”Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi ﷺ. Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishash memukul Rasulullah. Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!”.

Masjid Nabawi Zaman Rasulullah - Nusagates

Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya untuk sosok yang. Ia tak rela sang Rasul tersakiti. Ia merelakan punggungnya untuk menggantikan qishash itu.

 

Nabi pun menahan. ” Allah Subhanahu Wa Ta’ala  telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali !”.

 

Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. ”Hai Ukasyah !  Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishash kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri !”

 

Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata “Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku!”.

 

Dan akhirnya Nabi berkata : “Hai ‘Ukasyah ! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishash!”.

 

“Ya Rasul Allah ! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak melekatkan kain di badanku”. Kata Ukasyah. kembali suasana semakin panas dan tegang. Semua orang berpikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, ia malah meminta Rasul membuka baju. “Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya ini orang…”.

 

Tanpa bicara. Tanpa kata. Rasulullah membuka bajunya. Semua yang hadir menahan napas. Banyak yang berteriak sambil menangis. Tak terkecuali. Termasuk Ukasyah. Ada yang tertahan di dadanya. Ia segera maju melangkah, melepas cambuknya, kemudian..

Ini Alasan Perempuan Suka Melihat Pria Menangis - Citizen6 Liputan6.com

Kejadian selanjutnya tatkala ‘Ukasyah melihat putih tubuh Rasulullah dan tanda kenabian di punggungnya, ia segera mendekap tubuh Nabi sepuas-puasnya sambil berkata : “Tebusanmu adalah Rohku ya Rasulallah, siapakah yang tega sampai hatinya untuk mengambil kesempatan mengqishas engkau ya Rasulallah ? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka”.

 

Akhirnya berkatalah Nabi “Ketahuilah wahai para sahabat ! barangsiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah kepada pribadi laki-laki ini!”.

 

Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium ‘Ukasyah di antara kedua matanya. Rasa curiga berubah cinta. Buruk sangka berubah bangga. Berkatalah mereka : “Berbahagialah engkau yang telah mencapai derajat yang tinggi dan menjadi teman Rasulullah di surga kelak!”.

3D air terjun air wallpaper kustom hd indah lotus wallpaper untuk ruang tamu stiker non woven wallpaper gulungan|lotus wallpaper|wallpapers for living roomwater wallpaper - AliExpress

Demikian Kisah di Qishasnya Nabi ﷺ oleh ‘Ukasyah r.a. Dala kisah ini kita bisa melihat betapa cintanya para sahabat kepada Nabi, maka sudah sepatutnya kita yang mengaku sebagai ummat Nabi untuk mencintai dan mengikuti langkah-langkah beliau.

Yuk Jadi bagian dari “GYD” (Generasi Yang Dermawan) dengan meng-klik link kebaikan di bawah ini:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

155 views
English EN Indonesian ID