Griya Yatim & Dhuafa

English EN Indonesian ID

Kisah Uwais Al-Qarni, Pemuda yang Viral di Langit

admin

Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban setiap muslim. Allah berfirman : “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” (QS. Al-Isra : 23). Terdapat sebuah kisah yang menceritakan seorang pemuda yang amat berbakti kepada ibunya. Yakni kisah Uwais Al-Qarni, Pemuda yang viral di langit sebab baktinya kepada ibunya.

Bakti Uwais Al-Qarni Pada Ibunya

Uwais merupakan pemuda yatim yang berasal dari Yaman. Uwais memiliki penyakit sopak yang membuat kulitnya belang-belang. Uwais hidup dalam keluarga yang miskin, Ia tinggal berdua dengan ibunya yang lumpuh. Uwais selalu berbakti kepada ibunya, Ia selalu mengurus ibunya yang telah tua dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.Uwais selalu mengabulkan setiap keinginan ibunya, namun terdapat satu permintaan yang sulit baginya untuk mengabulkannya. Permintaan ibunya itu adalah untuk menunaikan haji.

Kisah Uwais Al-Qarni, Pemuda yang Viral di Langit

Mengetahui permintaan ibunya yang sangat berat, Uwais pun terdiam. Sebab, perjalanan dari Yaman ke Mekah sangatlah jauh, melewati padang pasir yang tandus dan panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta untuk membawa perbekalan. Sementara Uwais sangatlah miskin, Ia tidak memiliki kendaraan untuk pergi ke mekah.

Namun, Uwais tidak berputus asa, ia terus mencari jalan keluar untuk mengabulkan permintaan ibunya. Suatu saat, Uwais membeli seekor lembu, lalu ia membuat kandangnya di puncak bukit. Tiap hari Uwais menggendong lembu tersebut naik turun puncak bukit. Uwais melakukannya tiap hari, hingga ia dianggap gila sebab perbuatannya yang tidak masuk akal.

Tak pernah terlewatkan sehari pun ia menggendong lembu tersebut naik dan turun bukit. Hingga makin hari anak lembu itu semakin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi sebab latihan yang dilakukan tiap hari, anak lembu yang telah membesar itu tidak lagi terasa berat.

Baca Juga : Qais bin Sa’ad bin Ubadah

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais sudah sangat besar, begitu juga tenaga Uwais yang tiap hari menggendongnya naik dan turun bukit. Tidak disangka-sangka, latihan yang dilakukan oleh Uwais selama 8 bulan tersebut adalah untuk mewujudkan permintaan ibunya yaitu menunaikan haji.

Sebab latihan yang dilakukan oleh Uwais, Ia dapat menggendong ibunya dan berjalan kaki dari Yaman ke Mekah. Itulah bakti Uwais kepada ibunya yang sangat ingin untuk menunaikan haji. Ia rela menempuh perjalan yang sangat jauh melewati padang pasir yang panas. Alangkah besar cinta Uwais kepada ibunya itu.

Sesampainya di mekah, Uwais menggendong ibunya untuk wukuf di ka’bah. Ibunya yang amat terharu, bercucuran air mata karena bisa melihat Baitullah. Di hadapan ka’bah, Uwais dan ibunya berdoa. Uwais memintakan ampunan bagi Ibunya kepada Allah. Ibunya yang keheranan menanyakan bagaimana dengan dosa Uwais. Uwais dengan sabar menjawab bahwa dengan terampuninya dosa ibunya, maka ibu akan masuk surga. Maka cukuplah ridha dari ibunya yang akan membawa Uwais ke surga.

Pertemuan Uwais dengan Sang Khalifah

Setelah itu, Uwais pun sembuh dari penyakit sopaknya dan hanya meninggalkan bekas bulatan putih ditangannya. Bulatan putih itu adalah sebagai tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abu Thalib, untuk mengenali Uwais.

Sebab Rasulullah pernah bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.” Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Baca Juga : Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash

Waktu terus bergulir, hingga Rasulullah pun wafat. Dan kekhalifahan Abu Bakar telah digantikan oleh Umar bin Khattab. Pada suatu saat pun Umar ra. teringat sabda Rasulullah tentang pemuda yang ukan orang bumi. Umar ra pun mengingatkan kembali sabda Rasulullah tersebut kepada Ali bin Abu Thalib.

Sejak itulah, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Umar dan Ali selalu menanyakan tentang Uwais Al-Qarni seorang penggembala yang tidak dikenal siapapun. Rombongan kafilah pun silih berganti. Hingga datang rombongan kafilah baru yang datang dari Yaman. Umar ra dan Ali ra pun menanyai rombongan tersebut tentang Uwais Al-Qarni. Rombongan tersebut pun mengatakan bahwa Uwais bersama mereka, lalu Umar dan Ali pun bergegas mencari Uwais dan ditemuinya Uwais sedang shalat.

Setelah selesai shalat, Uwais mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Saat itulah terlihat tanda yang telah diceritakan oleh Rasulullah. Benarlah dia seorang pemuda penghuni surga yang telah diberitakan oleh Rasulullah. Umar ra dan Ali ra pun menanyakan namanya, lalu ia menjawab “Abdullah”. Mendegar jawaban tersebut, mereka pun menjawab, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu Sebenarnya?” Uwais pun menjawab, “Nama saya Uwais Al-Qarni.”

Baca Juga : Kisah Sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Setelah berbincang-bincang, Umar ra dan Ali ra pun meminta doa nya Uwais agar Allah mengampuni mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”.

Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

“viralkan dirimu di langit, dan semua yang ada di dunia mengenalmu. Dan jangan kau viralkan dirimu di dunia, dan kamu terasingkan di langit. Sehingga kamu terasingkan di dunia.”

itulah Kisah Uwais Al-Qarni, Pemuda yang Viral di Langit. Baktinya kepada orang tuanya dan sifat rendah hati nya meski kita jadikan teladan. Dengan begitu kita bisa menjadi penghuni surga. Aamiin.

307 views
English EN Indonesian ID