Griya Yatim & Dhuafa

Lawan Hawa Nafsumu

Griya Yatim Dhuafa
Lawan Hawa Nafsumu
                                                Lawan Hawa Nafsumu

Donasiberkah.org – Sahabat Dermawan, sudah menjadi ketetapan Allah bahwa setiap manusia memiliki hawa nafsu yang menjadi bagian dari dirinya. Oleh karena itu ketika nafsu tidak bisa dikendalikan maka manusia akan menjadi seenaknya sendiri tidak memperdulikan himbauan atau bahkan aturan. Yang dapat menjaga kenyaman dan keharmonisan hubungan atara manusia satu dengan yang lainnya. Inilah artikel tentang lawan hawa nafsumu, yuk kita simak artikelnya.

Baca Juga : Nafsu Merupakan Bagian Ruhani

Sahabat, maka perang melawan hawa nafsu menjadi amat sulit dan berat, karena musuh yang di perangi tidak terlihat, tidak tampak, dan tidak dirasakan. Seseorang tidak selalu mengetahui bahwa dirinya sedang memiliki musuh. Yang dimana sebenarnya musuh itu adalah dirinya sendiri. Dan hal ini menyebabkan seseorang beranggapan bahwa sesuatu yang benar dikatakan keliru dan yang salah dikatakan benar. Jika hal itu terus berlanjut, akan berakibat merugikan diri sendiri dan orang lain atau bahkan membuat celaka.

Jangan Kalah Dengan Hawa Nafsu 

Apabila seseorang telah menjadikan hawa nafsu sebagai sesuatu yang harus diikuti, maka yang bersangkutan telah mengalami kekalahan. Karena mereka tidak merasakan bahwa dirinya telah kalah perang, yaitu dengan dirinya sendiri. Akal berusaha untuk mempertimbangkan, tetapi nafsunya tidak bisa dikendalikan. Maka sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan panduan atau tuntunan yaitu berupa Al-quran dan Al-hadits dalam agama Islam.

Allah berfirman : “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,” (QS. Al-Furqan Ayat 43)

Kemudian Allah berfirman dalam ayat lain : “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. surah Yusuf Ayat 53 

Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya kita dapat menemukan orang yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Atau bahkan diri kita termasuk ke dalamnya. Ketika seseorang sudah memiliki jabatan, harta, kekayaan, kehormatan dan lain-lain. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mukmin yang paling utama keislamannya adalah umat Islam yang selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah.” (HR. Ahmad, Tirmizi, Abu Daud & Ibnu Hibban). 

Lawan Hawa Nafsumu
           Lawan Hawa Nafsumu

Dalam buku Mizan al-’amal karya imam al-ghazali menyebutkan bahwa ada 3 tingkatan manusia dalam menangani hawa nafsu :

  • Pertama 

Orang yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. Dengan begitu, ia sungguh telah mempertuhankan hawa nafsunya seperti dimaksud ayat ini: “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya.” (QS. Al-Jatsiyah Ayat 23).

  • Kedua 

Orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid.

Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ”Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.” Ini merupakan tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi dan wali-wali Allah.

  • Ketiga

Orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Menurut Ghazali, ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah. Dalam perjuangan melawan hawa nafsu, menurut Ghazali, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghurur). Kata Ghazali, banyak orang merasa telah bekerja dan berjuang untuk agama, nusa, dan bangsa, padahal sesungguhnya ia bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan untuk memuaskan egonya.

Sikap waspada juga diperlukan karena sering timbul kerancuan (iltibas) antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan.

Dalam situasi demikian, Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan dari pada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Kata Nabi Muhammad SAW: ”Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan. 

Tentu saja, upaya mengendalikan hawa nafsu ini bukan perkara gampang. Karakter nafsu yang abstrak dan kerap kali memantik kenikmatan dunia menjadikannya sebagai musuh yang sulit untuk ditandingi. Dan apabila kita semua ingin mencontoh dari salah satu dari tingkatan di atas, maka kehidupan kita terasa akan sejuk, damai dan tenang.

Kalau seseorang itu lemah melawan hawa nafsu, maka banyak ajaran islam yang terabaikan. Banyak perintah Allah yang dilalaikan. Jadi hanya dengan mujahadatun nafsi, barulah ajaran agama islam dapat kita amalkan. Dan perbuatan maksiat dapat kita tinggalkan. Karena nafsu yang menghalangi itu tidak ada lagi. Karena nafsu telah kita didik, kita kalahkan, dan sudah menjadi tawanan kita.

Baca Juga : Berbuatlah Kebaikan

Iringi Dengan Kebaikan 

Yuk Kak, iringi dengan kebaikan bersedekah untuk pemberdayaan adik-adik yatim & dhuafa melalui link kebaikan di bawah ini : 

Donasi Sekarang Griya yatim
               Donasi Sekarang Griya yatim
156 views