Griya Yatim & Dhuafa

Nafsu Merupakan Bagian Ruhani

Kehidupan manusia itu terdiri dari dua komponen dasar, yaitu ruh dan jasad. Allah berfirman : “(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku’…” (QS. Shad : 72). Ruhani pun terbentuk dari berbagai komponen, bahkan Nafsu Merupakan Bagian Ruhani yang tidak dapat terpisahkan.

Manusia masih dianggap hidup jika masih terdapat ruh dalam jasadnya. Tanpa adanya ruh, jasad hanyalah sebuah benda yang dapat membusuk. Itulah eksistensi ruh dalam kehidupan.

Nafsu dalam ruhani

Dalam ruhani kita, terdapat suatu dinamika yang disebut sebagai dinamika ruhani. Dimana dinamika ruhani  adalah dinamika yang mempengaruhi atau menciptakan suatu tindakan seseorang. Dalam dinamika ruhani terdapat hati, akal (pikiran), dan juga nafsu. Ketiga hal tersebut lah yang mempengaruhi atau menciptakan suatu tindakan manusia.

Macam-macam Nafsu

Hati merupakan sisi positif, akal bisa dibilang netral, namun nafsu adalah sisi yang cenderung negatif. Tidak dibilang bahwa nafsu sudah pasti negatif, sebab nafsu dibagi menjadi 3 (tiga), antara lain :

  1.       Nafsu Muthma’innah

Apabila nafsu tenang dan tentram dengan senantiasa berzikir kepada Allah, rindu dengan perjumpaannya dengan Allah, serta jinak ketika dekat dengan Allah. Maka itulah yang disebut sebagai Nafsu Muthma’innah. Allah berfirman : “Wahai jiwa yang tenang (nafsu muthma’innah) ! Pulanglah kepada Rabbmu dengan penuh ridho dan diridhoi.” (Qs. Al-Fajr : 27-28).

Ibnu Abbas menafsirkan muthma’innah dengan mushaddiqah, yaitu membenarkan kebenaran. Sehingga diri akan tenang dan berpindah dari keraguan kepada keyakinan, dari kebodohan kepada ilmu, dari khianat kepada taubat, dari kedustaan kepada kejujuran, dari ujub kepada ketundukan. Ketika itulah nafsu telah tenang, muthma’innah.

Nafsu Merupakan Bagian Ruhani

  1.       Nafsu Lawwamah

Nafsu Lawwamah adaah nafsu yang selalu berubaah keadaan, sering tidak menentu, sering berbalik dan berubah warna. Kadang ia taat, kadang ia ingat kepada Allah. Namun kadang ia berpaling dan lupa kepada Allah. Dan nafsu inilah yang kelak akan menyesal.

Sebagian mendefinisikan bahwa Nafsu Lawwamah adalah nafsunya seorang mukmin. Hasan al-Bahsri berkata, “Seorang mukmin itu selalu mencela diri sendiri. Seperti selalu berkata,’mengapa kau lakukan ini?’ atau ‘Sungguh ini lebih bai daripada yang ini!’ atau ujaran yang semisalnya.”

Sebagian yang lain juga mengartikan nafsu lawwamah dengan celaan pada hari kiamat. Pada hari itu, setiap pribadi akan mencela dirinya sendiri sebagai penyesalan semasa hidupnya.

Terdapat 2 jenis Nafsu Lawwamah, yang tercela dan yang terpuji. Nafsu Lawwamah yang tercela merupakan nafsu yang bodoh dan senantiasa menganiaya dirinya sendiri. Dan Nafsu Lawwamah yang satunya adalah nafsu yang selalu mencela diri sendiri akibat kekurangtaatannya kepada Allah. Inilah Nafsu Lawwamah yang terpuji.

 Baca Juga : Selamatkan Hati dengan Lima Perkara

  1.       Nafsu Ammarah

Nafsu ammarah inilah yang merupakan nafsu tercela. Nafsu yang satu ini selalu mengajak kepada keburukan, dan itu memang tabiatnya. Tidak ada seorangpun yang dapat selamat dari kejahatan nafsu tercela ini. Kecuali orang-orang yang Allah beri petunjuk.

Allah berfriman : “Dan aku tidak berlepas tangan dari nafsuku. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyeru kepada kejahatan. Kecuali yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampunan lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf : 53).

Ketika nafsu yang mengendalikan hati dan akal, maka perbuatan yang akan tercipta akan cenderung negatif. Kejahatan itu tersimpan di dalam nafsu. Ia akan mengajak kepada amal-amal yang buruk. Jika Allah membiarkan seorang hamba bersama nafsunya, maka dia akan binasa.

Sahabat, setiap ruh atau setiap yang bernyawa, pasti memiliki nafsu. Nafsu merupakan bagian ruhani manusia. Maka jangan sampai akal dan hati kita terpengaruh oleh nafsu. Menjinakkan nafsu bukanlah perkara yang mudah. Maka mintalah pertolongan kepada Allah untuk menjauhi diri kita dari nafsu-nafsu yang buruk.

 

English EN Indonesian ID
Scroll to Top