Griya Yatim & Dhuafa

English EN Indonesian ID

Sosok Umar bin Khattab Tegas, tapi Diam Kala Dimarahi Istri

Griya Yatim Dhuafa

Donasiberkah.id– Sikap tegas Umar bin Khattab sangat kental. Beliau dikenal sebagai satu-satunya sahabat Rasulullah ﷺ yang paling memiliki jiwa keras nan tegas. Namun di balik ketegasannya tersebut, ada fakta menarik yaitu tentang bagaimana beliau dimarahi istrinya.

Umar bin Khattab dikenal sebagai assadullah (singanya Allah), begitu julukan beliau bagi kaum Muslim.

Ketegasannya dalam menegakkan syariat Islam tak perlu dipertanyakan lagi. Beliau merupakan seorang hamba yang tidak akan bertoleransi terhadap kemungkaran sedikit pun. Tapi ketika Umar bin Khattab dimarahi istrinya, nggak satu pun beliau nyaut-nyautin (beradu argumen) dengan istrinya. Beliau diam, mendengarkan, nunduk. Bayangkan, ini amirul Mukminin.

Menarik, Ini Kisah Waria yang Masuk Rumah Nabi Muhammad Saw

Suatu ketika ada sepasang suami-istri yang bertengkar hebat di masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Sang suami kemudian berniat mengadukan permasalahan rumah tangganya kepada Umar sambil ingin mengeluh tentang istrinya yang kerap marah-marah.

Setibanya di teras rumah Umar, si suami tadi berhenti dan mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Dia menghentikan langkahnya di teras rumah lantaran mendengar Sayyidina Umar dimarahi istrinya tanpa menjawab sepatah pun kata.

Keesokannya, si suami itu datang kembali kepada Umar dan menceritakan perihal niatnya untuk berkeluh kesah. “Lantas mengapa tidak jadi ke rumahku untuk bercerita?” kata Umar. Si suami itu pun menjawab: “Sebab aku mendengar engkau sedang dimarahi istrimu, wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau tak menjawabi istrimu ketika dimarahi?”.

Mendengar hal ini, Umar pun menjawab:

“Istriku adalah sumber kebahagiaan yang diberikan Allah kepadaku. Darinya, aku diberikan keturunan. Dari rahimnya, dia mengandung anakku. Ia lahirkan anakku, ia susui anakku. Ia layani aku, ia bahagiakan aku dengan segala kebutuhan yang aku perlukan. Pantaskah aku memarahinya? Pantaskah aku beradu argumen dengannya? Bagiku tidak.”

Peran Istri yang Dimuliakan Umar

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Arab woman coming to mosque building muslim religion ramadan kareem holy month Premium Vector

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Muslimah, Kau Mulia Jika Kembali Pada Fitrah - Islampos

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya.

Baca Juga : Kisah Istri Nabi ﷺ Zainab Binti Jahsy “Panjang Tangan Suka Bersedekah”

Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Rack of clothes in store Free Photo

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek.

Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

4. Pengasuh Anak-anak

Cute mother and daughter moslem celebrating eid mubarak cartoon vector icon illustration. people religion icon concept isolated premium vector. flat cartoon style Free Vector

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.?

Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

A mother cooking and prepares foods at kitchen Premium Vector

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Baca Juga: Berbakti Kepada Orang Tua

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

Demikianlah kemuliaan yang dimiliki oleh seorang muslimah, semoga kita bisa memuliakan seorang istri atau ibu yang telah merawat kita.

Maukah sahabat jadi bagian dari GYD (Generasi Yang Dermawan) untuk mensejahterakan anak-anak yatim dan dhuafa dengan berdonasi di link kebaikan di bawah ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

133 views
English EN Indonesian ID